
Di dapur.
"Kenapa pesta debutante dihentikan tiba-tiba ya?" tanya seorang pelayan.
"Kamu tidak tau?" tanya temannya itu.
"Tidak. Aku sedang bertugas di dapur tadi jadi tidak tau keadaan di luar," jawabnya.
" ama. Aku juga tadi sedang melayani para tamu," ucap temannya yang lain.
"Yang aku dengar, mana tuan putri meledak lagi," jawabnya.
"Mana tuan putri meledak?!" tanyanya terkejut.
"Iya seperti kejadian beberapa tahun lalu itu."
"Saat itu bertepatan dengan yang mulia permaisuri hilang, kan?"
dia mengangguk. "Iya."
"Ah aku jadi merindukan yang mulia permaisuri."
"Sama, aku juga merindukan permaisuri."
"Sudahlah, kita berdoa saja semoga yang mulia permaisuri cepat ditemukan."
"Tapi sudah belasan tahun yang mulia mencarinya dan belum ada tanda-tanda yang mulia permaisuri ditemukan."
"Sebenarnya apa yang terjadi saat itu?"
"Tidak ada pelayan yang tau selain Lily. Tapi Lily menutup mulutnya rapat-rapat."
"Tentu saja. Lily adalah pelayan setianya yang mulia permaisuri jadi dia tidak akan menyebarkan berita yang merugikan."
Mendengar percakapan itu, aku pun terkejut.
Mana Athanasia meledak lagi?! Apa penyebabnya kali ini? Batinku.
"Adakah dari kalian yang sedang tidak sibuk sekarang?" tanya salah satu pelayan.
"Ada apa Selly? Kenapa kamu tampak panik seperti itu?"
"Lily menyuruhku membuat susu untuk tuan putri tapi menurut rumor yang beredar, saat ini mana tuan putri sedang tidak stabil. Aku takut kalau itu akan membahayakanku," jawabnya takut.
Aku langsung mengajukan diri untuk mengantarkan susu itu. "Biar aku saja."
Pelayan yang bernama Selly itu dengan senang hati memberikan nampan berisi segelas susu. "Terima kasih banyak. Aku serahkan tugas ini padamu. Tolong antar susu ini ke kamar tuan putri. Kamu tau letak kamar tuan putri, kan?"
"Iya, aku tau."
"Hati-hati ya!" peringatnya.
Tanpa terduga seorang pelayan menahanku. "Tunggu."
"Iya? Ada apa ya? Aku harus segera mengantarkan susu ini ke tuan putri selagi susu ini masih hangat."
__ADS_1
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Kamu pelayan darimana?" tanyanya dengan mata meneliti.
Aku tidak menyangka kalau akan ada yang mencurigaiku. Ucapku dalam hati.
"Aku adalah pelayan nona Zenith," jawabku.
"Ah pantas saja aku tidak pernah melihatmu, ternyata kau pelayan dari anak perempuan rendahan itu," ucapnya remeh.
"Hei, nona Zenith adalah keluarga kerajaan. Kalau yang mulia tau, kamu akan dihukum," ucapku.
"Yahh yang mulia tidak akan peduli. Semenjak hilangnya yang mulia permaisuri, beliau tidak pernah memperhatikan siapapun bahkan putrinya sendiri," ucapnya santai.
"Yang mulia hanya masih bersedih dengan hilangnya yang mulia permaisuri. Bukan tidak peduli dengan tuan putri ataupun yang lain."
"Sudah pergi sana. Nanti tuan putri itu menunggu terlalu lama. Dia akan merengek kalau menunggu terlalu lama."
"Tuan putri tidak seperti itu. Dia adalah anak yang manis," sanggahku.
"Iya tapi itu sebelum yang mulia permaisuri menghilang. Sekarang tuan putri itu menjadi anak yang menyebalkan. Tidak, semua orang yang ada di istana ini menjadi sangat menyebalkan setelah hilangnya permaisuri itu. Sebenarnya apa bagusnya permaisuri itu? Dia hanyalah wanita dari kalangan rendah. Aku pernah dengar kalau dulunya dia adalah seorang penari jalanan dan orang seperti itu tidak cocok menjadi permaisuri Obelia," hinanya.
"Jaga ucapanmu! Kalau yang mulia tau, kamu akan dihukum mati!" bentakku.
"Tidak akan. Raja itu menjadi bodoh setelah kehilangan wanita murahan itu," hinanya lagi.
"Cukup! Ucapanmu sudah keterlaluan! Aku akan memberitahu yang mulia tentang ini semua!" ancamku.
"Beritahu saja. Kamu tidak punya bukti," balasnya santai.
Aku bukannya tidak punya bukti, hanya saja masalah sihir hitam itu lebih penting daripada ini. Aku akan menyelesaikan masalah ini saat masalah sihir hitam itu telah selesai. Aku pun pergi mengantarkan segelas susu ini kepada Athanasia.
"Masuklah," jawab Athanasia dari dalam kamarnya.
Aku masuk ke kamarnya dan menaruh segelas susu itu di atas meja samping kasurnya. "Ini susu anda, tuan putri."
"Terima kasih."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Saat aku hendak keluar, Athanasia menahanku. "Tunggu."
"Iya? Apa ada yang bisa saya bantu, tuan putri?" tanyaku sopan.
"Tidak sopan sekali kamu," ucap Athanasia.
Aku tidak paham dengan perkataan Athanasia. "Tidak sopan? Apa maksud tuan putri?"
"Kamu tidak memberi salam saat masuk ke kamarku dan pergi sebelum aku mengizinkanmu. Dimana sopan santunmu terhadap keluarga kerajaan?!" ujarnya marah.
Aku terkejut melihat Athanasia yang seperti ini. Selama ini aku hanya mengetahui kalau Athanasia adalah anak yang manis dan berhati lembut. Tapi sekarang yang aku lihat hanyalah Athanasia dengan tatapan tajam. Mirip seperti Claude yang sedang marah.
Aku segera membungkuk dan meminta maaf. "Ampuni saya, tuan putri. Saya bersalah."
"Apakah kamu juga meremehkanku seperti pelayan lainnya?!"
Aku menggeleng cepat. "Tidak, tuan putri. Saya sama sekali tidak bermaksud meremehkan anda. Saya salah karena tidak memberi salam pada keluarga kerajaan."
__ADS_1
"Keluarlah! Kalian semua sama saja. Setelah kepergian ibu, sikap para pelayan menjadi kurang ajar."
"Tolong ampuni saya, tuan putri."
"Aku bilang keluar! Aku sudah sangat pusing memikirkan Zenith yang menghilang dan sekarang ditambah lagi sikap kurang ajar dari pelayan sepertimu."
"Nona Zenith menghilang?!" tanyaku terkejut.
"Kamu tidak mengetahuinya? Bukankah para pelayan suka bergosip?" tanya Athanasia.
"Tidak ada yang mau mengajak saya bicara karena saya adalah pelayan nona Zenith," jawabku bohong.
Athanasia langsung menoleh ke arahku. "Kamu pelayannya Zenith?"
"Iya, tuan putri."
"Kalau begitu Zenith pasti pernah menceritakan sesuatu padamu. Zenith pasti pernah menceritakan alasan dia iri dan cemburu padaku."
"Tidak. Nona Zenith tidak pernah menceritakan apa-apa pada saya. Nona Zenith adalah anak yang pemalu," jelasku.
"Kalau begitu keluarlah. Aku lelah."
"Baik, tuan putri. Berkat dan kemuliaan di atas matahari. Semoga anda tidur dengan nyenyak malam ini." Setelah itu aku keluar dari kamar Athanasia. Aku segera teleportasi ke taman pribadiku untuk menjemput Erez.
Di taman pribadiku.
Erez yang melihat kedatanganku langsung berlari ke arahku. "Lama sekali!"
"Maaf maaf. Tadi ada sedikit keributan di dapur."
"Kamu harusnya fokus dengan tujuan awal kita ke sini."
"Maaf Erez."
"Sudahlah, jadi informasi apa yang telah kamu dapatkan?"
"Kita kembali ke menara dulu sekarang. Di sini bukanlah tempat yang tepat untuk membicarakan ini." Saat kita ingin pergi, tiba-tiba Lucas datang. Aku dan Erez langsung bersembunyi di antara semak-semak.
***POV LUCAS***
"Menyebalkan. Kenapa semuanya menjadi sangat rumit sekarang?!"
"Aku belum menemukan Diana dan sekarang gadis itu menghilang dengan sihir hitam di tubuhnya."
Aku mengacak rambut frustasi. Aku sangat bingung masalah mana yang harus aku selesaikan terlebih dahulu.
Saat sedang berpikir, aku mencium aroma bunga. Aku pun melihat sekitarku.
Ah ternyata tanpa sadar aku berjalan ke taman pribadi Diana. Pikirku.
Aku memetik bunga mawar yang sedang mekar dan menghirup aromanya.
"Setiap menghirup aroma bunga, aku selalu teringat padamu, Diana," gumamku.
"Kau itu seperti bunga, cantik tapi mudah hancur." Aku terdiam sejenak.
__ADS_1
"Dimana kamu sebenarnya Diana? Aku merindukanmu," ucapku. Tanpa sadar ada air mata yang menetes dari mataku.