
***POV AUTHOR***
Athanasia menghampiri Zenith yang ada di taman sendirian dan memberikan kue kesukaannya. "Zenith, ternyata kau ada di sini. Lihatlah ada kue kesukaanmu. Paman Anas dan bibi Penelope sengaja memesan kue ini supaya ada di pesta debutante kita."
Zenith menghempas piring berisi kue itu.
"Ada apa Zenith? Kenapa kau melempar kuenya?" tanya Athanasia.
"Aku tidak menyukainya," jawab Zenith.
Athanasia menghela nafasnya. "Kau tinggal bilang kalau tidak suka, tidak perlu dilempar seperti itu karena bahaya untukmu dan orang lain."
"Apakah kamu akan mendengarkan jika aku berkata tidak menyukainya?"
Dahi Athanasia mengkerut. "Tentu saja. Aku selalu mendengarkan kamu, kan?"
"Tidak. Kamu tidak pernah mendengarkan aku sekali pun."
Athanasia mulai merasa aneh dengan Zenith. "Kamu kenapa Zenith?"
"Kenapa? Kamu yang kenapa?!"
Athanasia mulai merasa bingung dan takut.
"Kenapa kamu selalu merebut semuanya dariku, Athanasia?!" tanya Zenith dengan nada tinggi.
Athanasia? Zenith tidak pernah memanggil aku seperti itu. Pikir Athanasia.
"Aku selalu diam tapi tidak selamanya aku akan terus diam! Ayahmu dan kamu sama-sama perebut hak orang lain!" hina Zenith.
"Zenith? Tidak, kamu bukan Zenith?!"
"Apa maksudmu? Aku Zenith, sepupumu."
"Tidak! Zenith tidak pernah berbicara hal jahat seperti itu dan Zenith selalu memanggilku Athy." Athanasia pun lari tapi Zenith menahannya. "Mau kemana kamu?"
Athanasia memberontak. "Lepaskan aku!"
"Lepaskan? Tidak akan!"
"Siapa kamu dan apa mau kamu?! Kenapa kamu berada di dalam tubuh Zenith?!" tanya Athanasia.
"Aku berada di dalam tubuhnya atas kemauan dia sendiri," jawabnya.
"Bohong! Kamu pasti melakukan sesuatu padanya!" ucap Athanasia tak percaya.
"Kamu yang melakukan sesuatu padanya sehingga dia menyerahkan tubuhnya secara sukarela seperti ini."
Athanasia mengernyitkan dahinya. "Aku? Aku tidak pernah melakukan apapun padanya. Kami selalu akur dan bermain bersama."
"Dasar anak bodoh! Kau terlalu dimanjakan oleh permaisuri itu tapi untunglah permaisuri itu sudah mati hahaha."
"Ibuku masih ada! Dia hanya sedang pergi karena urusan pekerjaan," bentak Athanasia.
"Astaga seberapa bodoh anak ini?! Kau yakin ibumu hanya pergi? Apakah kau tidak pernah memikirkan kenapa semua orang selalu mengelak saat kau menanyakan tentang ibumu itu? Karena permaisuri itu sudah mati. Semua orang bersedih atas kematian permaisuri itu. Itulah alasannya tidak ada yang membahas permaisuri itu lagi dan raja selalu mengurung dirinya di kamar. Selama ini Anastasius yang menggantikannya melakukan pekerjaan, kan?"
"Iya tapi sekarang ayah sudah tidak mengurung dirinya di kamar. Ayah sudah kembali mengerjakan pekerjaannya bersama paman Anastasius."
"Anastasius bodoh! Seharusnya dia mengambil kesempatan itu untuk merebut tahta yang seharusnya menjadi miliknya!"
Athanasia terkejut. "Jadi ayah merebut tahta paman Anas?"
"Iya, ayahmu yang keji itu merebut tahta saudaranya sendiri begitu juga denganmu! Kau merebut posisi yang seharusnya menjadi miliknya."
Athanasia berhenti memberontak. Dia sangat terkejut dengan ini semua. "La-lalu bagaimana ibu bisa pergi?"
"Ibumu tidak pergi. Dia mati dan ayahmu yang telah membunuhnya."
"Ayah?! Tidak mungkin! Ayah pasti juga bersedih atas kepergian ibu."
"Kau kira kenapa selama ini tidak ada lukisan ibumu satu pun? Karena ayahmu itu tidak mencintai ibumu. Dan kau dilahirkan agar Claude bisa menjadi raja."
__ADS_1
"Bohong! Kalau ayah tidak mencintai ibu, kenapa ayah selalu mengurung dirinya di kamar ibu?"
"Itu hanya pencitraan oke? Supaya dia terlihat berduka atas kematian permaisuri. Jangan terlalu naif Athanasia."
Kini pikiran Athanasia kosong. Dia tidak tau harus darimana mengerti ini semua. Athanasia ingat kalau saat itu dia merasakan bahwa ibunya masih hidup. Sebenarnya apa yang telah terjadi dulu? Kenapa ibunya pergi?
"Bagaimana? Kau pasti sangat terkejut, kan?"
Athanasia mulai menitikkan air mata.
"Seperti inilah kehidupan. Penuh dengan kebohongan. Ksatria dan para pelayan itu pasti mengatakan kalau Claude sangat mencintai permaisuri, kan? Itu semua bohong. Claude tidak mencintainya!"
"Tidak mungkin..." lirihnya.
"Apa yang tidak mungkin? Jangan mengelak lagi Athanasia. Inilah kebenarannya."
"TIDAK! KAU BOHONG!" bentak Athanasia.
"Kenapa kau sangat keras kepala?!"
"AYAH MENCINTAI IBU!"
"Tidak Athanasia! Ayahmu tidak mencintai ibumu!"
"DIAM! DIAM KAU!" Nafas Athanasia mulai tak beraturan. Mana nya saling bertabrakan di dalam tubuhnya.
"Hahaha bagus. Inilah yang aku inginkan. Teruslah mengamuk Athanasia dan ledakan mana yang kedua akan terjadi. Sebelumnya kau selamat karena permaisuri itu tapi kali ini kau tidak akan lolos."
"ATHANASIA," teriak Claude.
"Bagaimana raja itu bisa di sini?! Padahal aku berniat membunuh putrinya terlebih dahulu sebelum dia mengetahuinya," gumam sihir itu.
Tapi tidak apa-apa, raja itu juga tidak bisa menyelamatkan Athanasia. Pikir sihir itu.
Sihir itu pergi dengan tubuh Zenith.
Claude yang hendak berlari ke arah Athanasia langsung ditahan oleh Felix. "Berbahaya yang mulia! Anda bisa terseret ke dalam pusaran mana tuan putri!"
"Ksatria lain sedang memanggil tuan Lucas. Mohon tenanglah yang mulia."
Anastasius dan Penelope datang. "Apa yang sedang terjadi?"
"Saya tidak tau tapi kemungkinan tuan putri mengalami ledakan mana," jawab Felix.
"Lagi?!"
Felix mengangguk.
Penelope menutup mulutnya. "Ya ampun bagaimana kita bisa menghentikannya kali ini."
"Tenang saja nyonya Penelope, di istana ini kami memiliki penyihir hebat. Beliaulah yang menghentikan ledakan mana tuan putri beberapa tahun yang lalu," jelas Felix.
Claude terlepas dari genggaman Felix. Claude langsung menerjang pusaran mana itu.
"YANG MULIA," teriak Felix.
Felix yang hendak mengikuti tuannya itu langsung ditahan oleh Lucas. "Kau mau mengikuti tuanmu yang bodoh itu hah?!"
"Tuan Lucas, tolong tuan putri dan yang mulia."
"Aku akan menolongnya. Kau amankan para tamu. Pergilah sejauh mungkin dari sini!" perintah Lucas.
"Baik, tuan Lucas. Saya serahkan di sini pada anda." Lucas mengangguk.
Lucas mulai menenangkan mana Athanasia yang meledak. Pusaran mana itu perlahan menghilang.
"Anda sangat bodoh yang mulia!" omel Lucas.
Claude tertawa. "Hahaha baru kali ini ada yang berani memarahiku selain Diana. Kau beruntung karena aku tidak menghukummu, penyihir."
"Saya tidak peduli kalau anda menghukum saya," balas Lucas.
__ADS_1
Athanasia mulai membuka matanya. "A-ayah."
"Iya, ayah di sini."
Athanasia memeluk Claude dan menangis. "Ayahh."
"Iya sayang, ayah di sini." Claude mengelus rambut panjang Athanasia.
"Athy takut..." lirih Athanasia.
"Tidak apa-apa, ayah sudah di sini."
"Sebenarnya apa yang telah terjadi tuan putri?" tanya Lucas.
Athanasia langsung mencari Zenith. "Dimana Zenith?"
"Zenith tidak ada. Kau hanya sendirian di sini, Athanasia." Athanasia terkejut.
"Ada apa Athanasia? Kenapa kamu mencari Zenith dengan raut panik seperti itu?" tanya Claude.
"Ayah, ini bukan ledakan manaku yang pertama, kan? Aku pernah merasakan ini sebelumnya, aku benarkan ayah?" tanya Athanasia.
Claude diam. Setelah mengetahui kalau Athanasia melupakan ingatannya tentang apa yang terjadi di Meita, semuanya memutuskan untuk tidak memberitahunya dan sampai sekarang Athanasia hanya tau kalau Diana pergi karena pekerjaan.
"Ayah jawab aku!" desak Athanasia.
Claude mengangguk. "Iya."
"Alasan mana aku meledak adalah aku secara tidak sengaja pernah menggunakan sihirku?" tanya Athanasia lagi.
"Iya."
"Tapi apa alasan utama semua itu bisa terjadi?"
Claude bingung harus menjawab apa. Dia tidak ingin putrinya membenci sepupunya itu setelah mengetahui yang sebenarnya.
"Ayah jawab Athy. Yang dibilang sihir itu tidak benar, kan?"
Claude terkejut.
"Sihir itu berkata kalau ayah yang membunuh ibu. Sihir itu bilang ayah tidak mencintai ibu dan aku lahir supaya ayah bisa naik tahta," sambung Athanasia.
Claude langsung memeluk Athanasia. "Tidak sayang, itu tidak benar. Ayah mencintai ibumu dan kamu. Kamu lahir karena cinta kami berdua."
"Lalu kenapa ibu pergi, ayah?"
Claude akhirnya menjelaskan semuanya. "Saat kamu berumur lima tahun, kita semua pergi ke Meita untuk mengunjungi paman dan bibimu. Kamu bertemu dengan Zenith dan selalu bermain bersamanya tapi ada sihir yang menguasai tubuh Zenith. Zenith menyerang ibu dan secara tidak sengaja kamu menggunakan sihirmu untuk menyelamatkan ibu. Karena kamu belum mempelajari sihir jadinya mana milikmu bertabrakan dan meledak. Ibu memaksakan dirinya untuk menggunakan sihir teleportasi supaya bisa membawamu kembali ke istana dan menemui Lucas. Lalu—" Claude tidak sanggup melanjutkan ceritanya.
Mata Athanasia mulai berkaca-kaca. "Ja-jadi ibu tidak pergi karena pekerjaan?"
Claude mengangguk. "Maafkan ayah, Athanasia. Terlalu berat untuk ayah menceritakan yang sebenarnya kepadamu."
"Ayah keterlaluan! Ayah membiarkan aku hidup dalam kebohongan ini! Aku selalu mempercayai bahwa ibu masih ada. Aku bahkan belajar sihir mati-matian dengan Lucas untuk menemukan ibu tapi itu tidak ada gunanya karena ternyata selama ini ibu telah tiada."
Claude terkejut mendengar ucapan Athanasia. "Jadi selama ini kamu berusaha mencari Diana?"
"Tentu saja. Aku merindukan ibu dan kalian semua tidak pernah memberitahuku tentang keberadaan ibu."
"Maaf, Athanasia. Maafkan ayah. Ayah bersalah padamu," ucap Claude menyesal.
"Athy kecewa pada ayah. Athy ingin marah sama ayah tapi ada hal penting yang harus Athy katakan."
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Claude.
"Sihir itu menguasai tubuh Zenith lagi. Sihir itu mengatakan banyak hal buruk sehingga tanpa sadar aku mengamuk dan mana ku bertabrakan. Tapi bukan itu intinya. Kita harus menemukan Zenith secepatnya, ayah karena itu bisa membahayakan Zenith dan lainnya," jawab Athanasia.
"Jadi ini yang kau bicarakan saat itu, yang mulia?" tanya Lucas.
"Iya. Sudah kuduga kau mendengarnya saat itu."
"Kita bicarakan di dalam." Claude, Athanasia, dan Lucas masuk. Pesta debutante terpaksa dihentikan.
__ADS_1