
***POV AUTHOR***
Semuanya hampir menyerah karena kondisi Diana belum juga membaik sampai detik ini. Bahkan tubuh Diana menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
"Ini saatnya merelakan yang mulia permaisuri," tutur Felix.
"Tidak! Tidak ada yang boleh menyentuh Diana!" bentak Claude.
"Yang mulia, ini sudah 1 tahun sejak kejadian itu. Tuan putri akan terus bersedih kalau anda seperti ini," timpal Lily.
"Aku bilang tidak ya tidak! Siapapun yang berani menyentuh Diana akan menemui ajalnya sekarang!" ancam Claude.
Athanasia mendekati ayahnya dan memegang lengannya. "Ayah, Athy merelakan ibu pergi."
Claude menatap Athanasia dengan tatapan marah. "Apa yang kamu bicarakan?! Kamu menyerah atas ibumu?!"
"Bukan be—"
"Benar-benar tidak habis pikir. Ibumu tidak pernah menyerah akan dirimu, Athanasia! Dia selalu memperjuangkanmu tapi kamu menyerah dengan mudahnya?!" potong Claude.
"Lalu Athy harus apa ayah?! Athy juga tidak mau ibu pergi tapi kalau kita terus menahan ibu maka ibu juga tersiksa!" ucap Athanasia dengan nada tinggi.
"Tersiksa apa?! Ibumu hanya tertidur, Athanasia."
Anastasius berusaha menenangkan Claude karena emosinya mulai tak stabil. "Claude, tenangkan dirimu. Buka matamu lebar-lebar, Claude."
"Diamlah Anastasius! Aku tidak butuh ocehan tidak pentingmu itu. Lagi pula karena siapa Diana seperti ini hah?!"
"Paman, maafkan Zenith. Zenith bersalah karena membuat bibi Diana seperti ini. Zenith akan melakukan apapun untuk menebus semuanya," ucap Zenith merasa bersalah.
"Yang mulia, nona Zenith tidak tau apa-apa. Dia juga dikendalikan oleh sihir hitam itu," bela Lily.
"Hei raja, lepaskanlah Diana. Dia sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik di sini. Jangan menahannya lagi," ucap Erez.
"DIAMLAH KALIAN SEMUA!" teriak Claude.
Tiba-tiba cahaya putih yang sangat terang memenuhi ruangan ini. Semua orang menutup matanya karena cahaya itu sangat menyilaukan. Saat cahayanya menghilang, mata Diana mulai terbuka secara perlahan.
"Dimana aku?" tanyanya lemah.
Semua orang yang mendengar suara yang sangat dirindukannya itu langsung mendekat.
"Diana?"
"Claude? Itu kamu?"
Claude langsung memeluk Diana dengan erat dan menangis.
"Kenapa kamu jadi sekurus ini?" tanya Diana prihatin.
Claude tidak menjawabnya dan hanya menangis. Diana memperhatikan sekitarnya. Semua orang memandangnya dengan terkejut.
"Kenapa kalian semua memandangku seperti itu?" tanya Diana bingung.
"Yang mulia permaisuri? A-anda sudah sadar," ucap Lily.
"Iya. Aku sudah sadar, Lily. Buktinya aku bisa melihat kalian semua," balas Diana.
__ADS_1
Detik itu juga semua yang ada di ruangan itu menangis. Bahkan Anastasius, Lucas, dan Erez pun menangis. Diana yang bingung saat ini memilih untuk diam dan membiarkan mereka semua menangis. Cukup lama sampai tangisan mereka mereda. Diana mulai meminta penjelasan dan Anastasius menjelaskannya.
"1 tahun?!" Diana sangat terkejut saat mengetahui kalau dirinya tak sadarkan diri selama itu.
"Benar, Diana. Kamu tidak sadarkan diri selama satu tahun," jawab Anastasius.
Pantas saja aku merasa lemas. Ucap Diana dalam hati.
"Kami semua sempat menyerah denganmu tapi Claude terus bersikeras kalau kamu akan bangun," sambung Anastasius.
Athanasia menggenggam tangan Diana. "Maafkan Athy, ibu."
Diana mengernyitkan dahi saat mendengar permintaan maaf Athanasia. "Kenapa kamu minta maaf, Athanasia?"
"Ka-karena Athy juga sempat menyerah dengan ibu. Athy berpikir kalau lebih baik merelakan ibu daripada ibu terus tersiksa dan ayah terus bersedih setiap melihat ibu jadi..."
Diana mengelus rambut pirang Athanasia.
"Tidak apa-apa, Athanasia. Itu hal yang wajar. Ibu mengerti dan ibu tidak marah. Kamu melakukan hal yang benar agar ayah tidak terus bersedih."
"Tapi kalau tadi Athy benar-benar melakukanya, maka ibu—"
"Iya, ibu tau. Maafkan ibu ya?"
Athanasia menggeleng. "Ibu tidak salah jadi tidak perlu minta maaf."
"Untunglah ibu bangun tepat waktu."
"Maafkan Zenith, bibi Diana. Karena Zenith, bibi Di—"
Zenith menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana bisa Zenith seperti itu. Karena hal itu bibi Diana hampir...pergi."
"Benar, Diana. Aku berterima kasih sekaligus meminta maaf padamu," timpal Penelope.
"Sudahlah, Penelope. Ini sudah tugasku sebagai permaisuri Obelia dan bibinya Zenith. Aku merasa bangga karena bisa berguna."
"Kamu melakukannya dengan baik, Diana," ujar Erez sambil tersenyum.
"Iya, Erez," jawab Diana.
"Saya senang anda kembali, yang mulia permaisuri," ucap Lily dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya, Lily. Terima kasih karena telah menjaga Athanasia selama ini. Dan terima kasih juga untukmu, Felix."
Felix menggelengkan kepala. "Saya tidak pantas mendapatkan terima kasih dari anda, yang mulia permaisuri."
"Tidak. Kamu pantas mendapatkannya. Banyak hal yang telah kamu lakukan untuk Obelia," puji Diana.
"Aku merasa sangat tidak berguna," celetuk Lucas.
"Lucas? Oh jangan seperti itu. Sebagai penyihir kerajaan, kamu melakukan tugasmu dengan baik," balas Diana.
"Tugas apa?! Aku tidak melakukan apapun, Diana!"
"Tidak, Lucas. Kamu telah melakukan semua yang kamu bisa dan aku menghargai itu."
__ADS_1
Lucas menunduk diam.
"Kak Anas," panggil Diana.
"Ya Diana?"
"Terima kasih untuk semuanya."
Kak Anas menggeleng. "Aku tidak melakukan apapun, Diana."
"Tidak. Untuk kedua kalinya, kak Anas mengambil alih kerajaan dan menjalankannya dengan baik."
"Benar, Anastasius. Kamu lebih cocok menjadi raja Obelia dibandingkan aku," timpal Claude.
"Kalian berdua bicara apa sih?" kesal Anastasius saat mendengar ucapan Claude yang mengatakan kalau dirinya lebih cocok menjadi raja.
"Kamu lebih kompeten dan bisa mengendalikan perasaanmu untuk tidak terlibat dengan hal pribadi. Padahal anakmu juga tidak sadarkan diri tapi kamu masih bisa mengerjakan semua dokumen memusingkan itu dengan baik."
"Aku bisa melakukan itu karena ingin melupakan semuanya, Claude."
"Apapun itu tapi kamu melakukannya dengan baik."
"Terima kasih atas pujiannya tapi aku tetap tidak mau mengambil alih tahta."
"Kamu tidak mengambilnya dan menerimanya yang seharusnya milikmu."
"Claude, kita sudah membicarakan ini sebelumnya. Aku tetap berpegang teguh pada pendirianku. Claude, Diana, kalian ditakdirkan untuk memimpin kekaisaran ini. Aku akan menganggap pembicaraan ini tidak pernah ada. Sekarang ayo semuanya keluar, Diana butuh istirahat." Semuanya keluar dari ruangan itu termasuk Claude.
***POV DIANA***
Sejak saat itu kak Anas mulai menyerahkan lagi kepemimpinannya pada Claude. Bagaimana pun cara kami membujuknya itu tidak pernah berhasil. Akhirnya aku dan Claude memutuskan untuk memberikan gelar pada kak Anas sebagai Duke. Awalnya dia dan keluarga menolak tapi Claude memaksanya dengan membawa hukum. Ya aku setuju dengan itu karena bagaimana pun kak Anas tidak bisa hanya menjadi rakyat biasa dan semua bantuan dari kak Anas perlu diapresiasi.
Tubuhku mulai pulih berkat bantuan dan perhatian dari orang-orang. Aku mulai bekerja sedikit-sedikit untuk mengatur hal yang aku biarkan selama 1 tahun ini. Mulai dari mengatur ulang semua pelayan di istana. Oh iya aku mengangkat Lily menjadi kepala pelayan. Aku juga mulai membangun ulang desa-desa yang pernah di serang oleh Aeternitas.
3 tahun lamanya aku memperbaiki semuanya. Sampai datanglah dimana waktunya Athanasia dinobatkan sebagai putri mahkota secara sah. Semua bangsawan dari berbagai negara datang untuk mengikuti acara penobatan Putri mahkota. Untunglah acara berjalan dengan lancar tanpa gangguan apapun. Setelah penobatan selesai, Athanasia, Claude, dan aku mengelilingi kota. Para rakyat berkumpul untuk melihat putri mahkota Obelia. Mereka bersorak senang dan banyak yang memberikan bunga pada Athanasia.
"Terima kasih, yang mulia permaisuri."
Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata itu adalah orang-orang yang desanya aku selamatkan. Aku tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka.
Malam harinya. Kami semua mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan penobatan Athanasia yang berjalan lancar hari ini.
"Selamat atas penobatannya, tuan putri. Ah atau saya harus memanggil anda putri mahkota?" goda Felix.
"Itu sama saja tapi aku lebih suka dipanggil tuan putri," jawab Athanasia.
"Baiklah, tuan putri."
"Tuan putri kecil saya sudah menjadi putri mahkota sekarang," tutur Lily sambil menatap Athanasia bangga.
"Ini berkatmu, Lily. Terima kasih telah menjaga Athanasia dengan baik dan menyayanginya selama aku tidak ada," balasku.
"Itu bukanlah apa-apa, yang mulia permaisuri."
"Entah harus mengucapkan berapa kali tapi aku benar-benar sangat berterima kasih pada kalian. Kalian selalu membantuku. Mungkin kata terima kasih saja tidak cukup jadi kalau kalian mengalami kesulitan di masa depan, datanglah ke istana. Kami akan selalu membantu kalian."
"Tidak, Diana. Kami yang berterima kasih padamu. Kamu selalu mengorbankan diri demi kami. Kamu tidak pernah ragu untuk menolong kami semua walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Aku tidak akan pernah lupa kebaikanmu yang selalu menolong putriku."
__ADS_1