
Keesokkan harinya, kami bertiga sarapan bersama.
"Diana," panggil Claude.
"Iya?"
"Setelah aku pikir-pikir, sepertinya kita semua butuh liburan."
"Liburan? Tiba-tiba begini? Apakah ini karena aku bertingkah seperti semalam? Kalau iya karena aku, lebih baik tidak usah Claude. Kau sudah cukup sibuk mengurus kerajaan. Tidak perlu menambah pekerjaanmu itu hanya untuk membahagiakan aku."
"Apa yang kamu katakan? Tentu saja sudah tugasku untuk membahagiakanmu. Lagi pula aku sudah memikirkan hal ini dari lama. Aku rasa aku juga membutuhkan istirahat sebentar dari semua urusan ini dan Athanasia juga belum pernah pergi jalan-jalan ke luar istana, kan? Athanasia sudah cukup besar untuk kita ajak jalan-jalan keluar. Ini adalah waktu yang tepat untuk kita pergi jalan-jalan sekeluarga. Jadi jangan khawatir," jelasnya.
"Tapi Claude, pekerjaanmu bagaimana?" tanyaku.
"Tenang saja. Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku untuk beberapa hari ke depan jadi tidak perlu mengkhawatirkannya," jawabnya.
"Apa kita akan pergi jalan-jalan?" tanya Athy senang.
"Iya, apakah Athanasia mau pergi jalan-jalan dengan ayah dan ibu?" tanya Claude
Athanasia mengangguk senang. "Iya, Athy mau!"
"Lihat, Athanasia juga ingin pergi jalan-jalan. Bagaimana Diana? Kita juga belum pernah liburan sekeluarga."
Sejujurnya perasaanku tidak enak tapi melihat Athanasia yang sangat senang karena mendengar rencana ini akhirnya aku pun setuju. "Iya, ayo kita jalan-jalan."
"Wah jalan-jalan!" seru Athanasia.
"Kau sangat senang Athanasia. Apakah kamu sangat menginginkan jalan-jalan?" tanyaku.
Athanasia mengangguk cepat. "Iya, ibu. Athy ingin sekali jalan-jalan keluar. Athy sering membaca di buku kalau jalan-jalan bersama keluarga sangat menyenangkan jadi Athy tidak sabar ingin jalan-jalan bersama kalian. Ayah, kemana kita akan pergi?"
"Kita akan ke Meita. Ke rumah paman dan bibimu dan kita akan menginap selama beberapa hari di sana," jawab Claude.
"Jadi kita pergi jalan-jalannya lama?"
Claude mengangguk. Athanasia tambah senang mendengarnya. "Athy akan pergi dengan ibu dan ayah dalam waktu yang lama."
"Di sana juga ada sepupumu, jadi bersikap baiklah dengannya dan bermain dengan akur ya Athanasia," ucapku.
"Siap ibu."
"Omong-omong kapan kita akan pergi?" tanyaku.
"Siang ini," jawab Claude singkat.
Aku menggebrak meja. "Siang ini?! Bukankah itu terlalu mendadak? Kita bahkan belum menghubungi kak Anas dan Penelope kalau kita akan berkunjung dan menginap di sana."
"Aku sudah menghubunginya dan mereka senang mendengar kalau kita akan berkunjung ke sana," kata Claude santai.
"Kalau begitu aku harus kembali ke kamar untuk membereskan barang-barang kita yang akan dibawa nantinya."
"Tidak perlu. Aku sudah menyuruh pelayan untuk melakukan itu."
Selesai sarapan, aku dan Athanasia bersiap untuk pergi. Seperti yang kalian tau kalau wanita sangat lama untuk bersiap itulah mengapa kami sudah siap-siap dari setelah sarapan. Sedangkan Claude, dia sedang bertemu dengan para menteri terlebih dahulu.
Siang harinya, aku, Claude, Athanasia, Felix, dan Lily pun pergi ke Meita. Aku dan Claude memutuskan untuk mengajak Felix dan Lily. Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai di Meita karena Meita terletak di pinggir kota dekat pantai.
Sesampainya di Meita, kak Anas dan Penelope langsung menyambut kami dengan baik. "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Kami memberi salam pada keluarga kerajaan. Selamat datang di rumah kami yang sederhana ini,"
"Jangan seperti itu, kita ini keluarga," ucapku.
"Sudah, jangan bercanda lagi sayang!" peringat kak Anas.
"Ibu, mereka siapa?" tanya Athanasia.
"Mereka adalah paman dan bibi Athanasia, ayo beri salam pada paman dan bibi," jawabku.
"Halo paman dan bibi, nama aku adalah Athanasia," sapa Athanasia.
Penelope mendekat ke arah Athanasia dan mengelus rambutnya. "Hai Athanasia. Semoga betah ya selama tinggal di sini,"
Athanasia mengangguk.
"Halo Athanasia, nanti main yang akur sama anak paman ya," kata kak Anas.
"Anak paman?"
"Iya. Paman mempunyai seorang putri, namanya Zenith. Saat ini dia sedang bermain di luar bersama teman-temannya, nanti kamu akan bertemu dengannya," jelasnya.
__ADS_1
Athanasia mengangguk. "Baik, paman."
"Nahh ayo masuk, kami sudah menyiapkan banyak makanan untuk kalian," ajak Penelope.
Kami semua masuk ke rumahnya. Walaupun rumahnya tidak besar tapi terasa sangat nyaman.
"Maaf kalau kalian tidak nyaman dengan rumah kami."
Aku menggeleng. "Tidak tidak. Rumah kalian sangatlah nyaman. Aku suka."
Di meja makan ada banyak sekali makanan.
Aku terkejut melihat makanan yang banyak itu. "Wah banyak sekali makanannya."
"Iya, saya sengaja memasak banyak makanan untuk kalian. Ini semua adalah makanan khas Meita," jelas Penelope.
"Seharusnya kamu tak perlu repot-repot melakukan ini," ujarku merasa tak enak.
"Tidak apa-apa, keluarga kami akan berkunjung tentu saja kami harus menyajikan makanan terbaik," balas Penelope.
"Terima kasih dan tolong berbicaralah dengan santai pada kami," ucapku.
"Bagaimana bisa aku melakukan itu pada keluarga kerajaan," jawab Penelope.
"Saat ini kami hanyalah seorang Diana dan Claude, bukan yang mulia raja dan yang mulia permaisuri," ucap Claude.
Athanasia langsung mendekat ke arah meja makan dan memperhatikan semua makanan yang ada di meja itu. "Ibu, ada banyak sekali makanan di meja ini dan semuanya terlihat enak. Apakah Athy boleh makan ini semua?"
Kak Anas menggendong Athy. "Tentu saja, kamu bisa memakan semuanya karena ini semua memang disiapkan untuk kalian."
Athanasia memandang kak Anas dengan mata yang berbinar. "Benarkah paman? Athy boleh makan semuanya?"
Kak Anas mengangguk. "Makanlah sebanyak yang kamu mau. Makanan yang dimasak oleh bibi Penelope sangat enak dan semua makanan ini berasal dari bahan-bahan yang masih segar."
Mata Athanasia berbinar. "Wah Athy jadi tidak sabar ingin memakannya."
"Athanasia mau makan sekarang?"
Athy mengangguk. "Mauuu! Athy sudah lapar sekali."
Kak Anas tertawa mendengar perkataan Athanasia. "Hahaha perjalanan ke sini sangat jauh ya? Athanasia pasti lelah, kan?"
"Ini belum seberapa. Ada banyak hal menyenangkan yang akan kita lakukan nanti, tapi sekarang kamu harus makan dulu ya. Biar paman yang menyuapi dirimu.
"Tidak perlu, tuan. Biar saya saja yang menyuapi tuan putri," ucap Lily.
"Kamu siapa?" tanya kak Anas.
Lily memperkenalkan diri. "Perkenalkan saya Lilian York, pengasuh tuan putri Athanasia."
"Tidak apa-apa, biar aku saja yang menyuapi Athanasia. Kamu makanlah dengan nyaman bersama yang lain."
"Tidak tuan, saya bisa makan nanti jadi biar saya yang menyuapi tuan putri karena itu sudah tugas saya."
"Biarkan si tua itu yang melakukannya. Kau istirahat saja," ucap Claude.
Aku mencubit pinggang Claude. "Perhatikan cara bicaramuz sayang. Bersikaplah sopan pada kak Anas"
Claude merintih dan mengusap pinggangnya yang aku cubit tadi. "Sakit sayang"
"Kita sedang bertamu ke rumah orang lain, jadi jaga sopan santunmu!" omelku.
"Biarkan saja, Diana. Claude memang seperti itu orangnya," ucap kak Anas.
"Seperti itu gimana?" tanya Claude tak terima.
"Tidak tau sopan santun," jawab kak Anas.
"Kau juga tidak tau sopan santun!" hardik Claude.
"Aku kakakmu, umurku lebih tua darimu jadi tidak masalah kalau aku bersikap tidak sopan padamu."
"Kau yang mengakui sendiri kalau kau sudah tua."
Dan terjadilah adu mulut antara Claude dan kak Anas. Aku dan Penelope langsung menghentikan mereka berdua.
"Cukup Claude!"
"Cukup Anastasius!"
__ADS_1
Seketika mereka berhenti berdebat.
"Apakah kamu tidak malu dilihat oleh Athanasia, Claude?!" tanyaku.
Claude berusaha membela diri. "Bukan aku yang mulai, dia yang duluan."
"Anastasius, apakah sopan seperti itu pada tamu?"
"Tamu apanya? Dia hanya adik yang sedang berkunjung ke rumah"
"Tetap saja Claude adalah tamu kita, jadi perlakukan dia dengan baik."
"Dengar tuh!" ucap Claude.
"Claude! Udah jangan mulai lagi!" omelku.
Felix yang menyaksikan itu pun tertawa.
"Apa yang kau tertawakan?!" tanya kak Anas dan Claude bersamaan.
"Hahaha kalian berdua masih saja lucu. Masih suka berdebat hal yang tidak penting tapi sangat menyenangkan melihat kalian berdua berdebat," jawab Felix sambil tertawa.
"Oh lucu ya?" ucap kak Anas sambil tersenyum.
"Sayang, tolong gendong Athanasia sebentar. Ada sesuatu yang harus aku urus," kak Anas menyerahkan Athanasia pada Penelope.
"Kamu mau ngapain?" tanya Penelope bingung.
"Aku hanya ingin mengajak Felix main," jawabnya.
"Aku ikut," pinta Claude.
"Kalian makanlah duluan, kami akan pergi keluar sebentar," ucap kak Anas dan setelah itu mereka berdua menyeret Felix keluar.
Aku, Penelope, dan Lily hanya terkekeh melihatnya.
"Baiklah biarkan mereka bermain. Ayo kita makan. Athanasia mau makan apa sayang?" tanya Penelope.
"Athy tidak mau makan," ucap Athy.
"Loh kenapa? Tadi katanya Athanasia udah sangat lapar waktu melihat semua makanan ini," tanya Penelope bingung.
"Athy emang udah lapar,"
"Terus kenapa tidak mau makan?"
"Athy maunya disuapin sama paman. Tadi katanya paman mau suapin Athy tapi dia malah keluar main sama Felix dan ayah," jelas Athanasia.
"Athanasia, jangan seperti itu sayang. Paman Anas kan lagi keluar dulu sama ayah dan Felix tadi. Athanasia makan ya? Biar ibu suapin" bujukku.
Athy menggeleng.
Penelope yang merasa gemas dengan Athanasia pun terkekeh. "Ya ampun jadi Athanasia maunya disuapin sama paman ya? Lucunya, tapi pamannya lagi keluar dulu jadi sekarang Athanasia disuapin sama bibi dulu ya? Masih ada nanti lagi buat disuapin sama paman."
Athanasia mengangguk. "Yaudah, sekarang Athy disuapin sama bibi dulu. Bibi, Athy mau ikan bakar itu."
"Siap, tuan putri." Penelope mengambilkan makanan untuk Athanasia.
"Biar aku saja, Penelope," ucapku.
"Tidak apa, Diana. Kau makanlah dulu, Athanasia biar aku yang suapin."
"Maaf telah merepotkanmu, Penelope."
"Santai saja, kita ini keluarga." Penelope mulai menyuapi Athanasia dan Athanasia menerima makanan itu.
"Bagaimana Athanasia? Apakah makanannya enak?" tanya Penelope.
"Enak! Athy suka. Bibi sangat pintar masak," puji Athanasia.
"Syukurlah kalau Athanasia suka, nanti bibi buatkan lagi ya ikan bakarnya. Kebetulan anak bibi juga suka sekali dengan ikan bakar buatan bibi ini."
"Iyaa, buatnya yang banyak ya bibi."
"Tentu. Diana, Lily, bagaimana dengan makanannya? Apakah sesuai dengan selera kalian?" tanya Penelope.
"Tentu saja Penelope, masakanmu sangat enak," jawabku.
"Iya, nyonya Penelope. Kalau boleh tolong ajari saya cara membuatnya," ujar Lily.
__ADS_1
"Baiklah, nanti kita masak sama sama ya." Setelah itu kami semua menyantap makanannya sambil berbincang-bincang. Karena ini bukan di istana jadi tidak masalah untuk makan sambil berbicara.