Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
18


__ADS_3

Di ruangan Claude. Claude, Athanasia, Anastasius, Penelope, Lucas, Felix, dan Lily sedang berkumpul di sana.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Anastasius.


Penelope mencari keberadaan putrinya. "Dimana Zenith?"


"Zenith menghilang," jawab Athanasia.


Mata Penelope terbuka lebar. "Menghilang?!"


"Iya, sekarang tubuhnya dikendalikan oleh sihir hitam itu dan sihir itu kabur dengan tubuh Zenith." Penelope terkejut mendengarnya. Anastasius langsung memeluk Penelope.


"Kita harus mencari Zenith secepatnya, sayang," pinta Penelope.


"Para ksatria sudah ditugaskan untuk mencari Zenith tapi belum ada kabar sampai sekarang. Sepertinya untuk menemukan Zenith akan menghabiskan waktu yang sangat lama mengingat dia dipengaruhi oleh sihir hitam," jelas Claude.


"Sebenarnya kenapa Zenith bisa dipengaruhi oleh sihir hitam itu lagi? Bukankah waktu itu Diana sudah memurnikannya?" tanya Anastasius.


"Memurnikan bukan berarti menghilangkan selamanya. Sihir hitam itu hanya lepas dan hilang sementara dari tubuh anakmu itu. Saat tubuh anakmu mengalami emosi yang sama maka sihir hitam itu akan kembali," jelas Lucas.


"Emosi apa yang bisa membuat Zenith bisa dipengaruhi sihir hitam?" tanya Penelope.


"Rasa cemburu dan iri," jawab Lucas.


"Sepertinya ini semua karena Athy..." lirih Athanasia.


"Apa maksudnya?" tanya Anastasius.


"Sebelum mana Athy tak beraturan, sihir hitam itu sempat mengatakan sesuatu. Sihir hitam itu bilang kalau ini semua salah Athy. Athy membuat Zenith tidak merasakan kasih sayang. Zenith juga merasa iri karena semua orang hanya memberi salam pada Athy padahal Zenith juga bagian dari keluarga kerajaan," jelas Athanasia.


Lily mendekati Athanasia dan mengatakan sesuatu, "Tuan putri, nona Zenith memang pernah bilang kalau dia merasa iri dengan tuan putri tapi nona Zenith berkata kalau dia baik-baik saja selama tuan putri tidak melupakan nona Zenith."


"Tapi perasaan yang menumpuk itu pasti akan meledak suatu saat, Lily dan mungkin ini lah waktunya perasaan yang tertumpuk itu meledak. Ayah, apa tidak bisa ayah melepaskan tahta ayah untuk paman Anas? Athy tidak masalah kalau tidak menjadi tuan putri."


"Tidak, Athanasia. Paman tidak menginginkan tahta itu." ucap Anastasius tegas.


"Tapi paman, Athy tidak mau kalau Zenith merasa iri pada status yang Athy miliki sekarang."


"Athanasia, dengarkan paman. Paman dan bibi sudah sepakat untuk menjadi rakyat biasa dan kami sudah menjelaskannya pada Zenith. Zenith pun menyetujuinya," jelas Anastasius.


"Yang dikatakan oleh pamanmu itu benar, Athanasia. Yang Zenith pikirkan dan katakan saat itu mungkin karena pengaruh sihir hitam," timpal Penelope.


Mata Athanasia mulai berkaca-kaca. "Ta-tapi Athy merasa kalau itu adalah isi hati Zenith yang sebenarnya."


"Cukup Athanasia! Kamu sudah lelah. Kembalilah ke kamarmu dan istirahat. Felix dan Lily, antarkan tuan putri ke kamarnya dan jangan biarkan dia berkeliaran!" perintah Claude.


"Baik, yang mulia." Felix dan Lily membawa Athanasia ke kamar Athanasia.


***POV DIANA***


"Hari ini pesta debutante Athanasia dan Zenith akan diadakan tapi aku malah tidak bisa datang gara-gara si tua itu mengurungku di menara ini," keluhku.


Saat itu aku kabur dari menara dan hampir bertemu dengan Lucas. Untungnya aku bisa melarikan diri dari Lucas dan manaku tidak dapat dirasakan oleh Lucas. Karena kejadian itulah, dia mengurungku lebih ketat dari sebelumnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya seseorang.


"Apa lagi? Aku sedang meratapi nasib karena tidak bisa datang pesta debutante putriku sendiri dan ini semua karena kamu!" jawabku kesal.


"Salah siapa yang waktu itu kabur dari menara dan hampir tertangkap oleh Lucas?" sindirnya.

__ADS_1


"Aku tidak tau kalau akan bertemu Lucas di tempat umum itu karena yang aku tau Lucas itu orangnya tidak suka berada di tempat yang ramai," jelasku.


"Kalau saja aku tidak menyembunyikan aura jiwamu, maka saat itu kamu akan tertangkap oleh Lucas."


"Sebenarnya kenapa aku tidak boleh keluar? Dan kenapa kau mati-matian menyembunyikanku seperti ini, Erez? Aku sudah lelah bersembunyi dan berniat menemui mereka."


Iya, orang yang menyelamatkanku saat aku hampir mati adalah Erez. Dia merupakan penyihir hebat sama seperti Lucas tapi kekuatan Erez melebihi Lucas.


"Aku tau siapa kamu sebenarnya," ujarnya tiba-tiba.


Aku tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Erez. "Hah?"


"Jiwamu bukan berasal dari sini, benarkan Park Bomi?"


Aku terkejut mendengarnya. "Bagaimana kamu bisa tau nama asli aku?!"


"Kau terkejut karena aku tau lebih banyak dibandingkan Lucas? Sudah aku bilang kalau aku ini lebih hebat dibandingkan Lucas. Aku tau keberadaan kamu di sini juga ada tujuan, kan? Kamu tidak semata-mata hanya bereinkarnasi ke sini."


Aku terdiam.


"Kenapa diam? Aku benar ya?"


Aku mundur secara perlahan.


Erez mendekatiku. "Hei kenapa kamu mundur seperti itu?"


"Jangan dekati aku! Siapa kamu sebenarnya?!"


"Kenapa pertanyaanmu sangat bodoh? Bukankah kamu sudah tau kalau aku adalah penyihir sama seperti Lucas hanya saja kekuatanku lebih kuat dibandingkan dia."


"Apakah sesederhana itu?"


"Kamu tau kalau aku ada tujuan di sini, apa tujuanku?"


"Hmm? Kamu belum percaya kalau aku lebih hebat dari Lucas ya. Dewa itu memberitahumu kalau akan ada masalah besar yang terjadi dan hanya kamu yang bisa menyelesaikannya, kan?"


Mataku membelalak. "Kamu tau tentang dewa itu?"


"Hmm tidak juga, aku hanya melihat ada seorang dewa yang menghampirimu."


"Erez bicaralah yang jelas! Aku semakin tidak mengerti dirimu."


"Kau ingin aku menceritakannya tentang diriku? Apa keuntungannya bagiku?"


"Apa juga keuntunganmu menyelamatkan aku?"


"Kaulah yang bisa menyelesaikan masalah yang akan terjadi nanti. Kalau aku tidak menyelamatkanmu, lalu siapa yang akan menyelamatkan dunia ini?"


"Sebenarnya masalah apa yang akan terjadi? Apakah masalah itu sangat besar?" tanyaku tak mengerti.


"Kamu tidak tau?"


Aku menggeleng. "Tidak, dewa itu tidak memberitahuku."


"Kalau begitu biar aku perlihatkan saja padamu apa yang akan terjadi di masa depan. Lihatlah dengan mata kepalamu sendiri, Diana." Erez menutup mataku dan mengucapkan mantra sihir.


"Bukalah matamu, Diana!" perintahnya.


Saat aku membuka mata, hanya ada kegelapan, kesedihan, dan kesengsaraan dimana-mana.

__ADS_1


"I-ini Obelia?"


"Iya, ini adalah Obelia di masa depan."


Aku menutup mulut tak percaya. Banyak suara orang meminta tolong.


"A-aku mau keluar dari sini," pintaku dengan suara gemetar.


Setelah itu aku kembali ke dunia nyata.


"Bagaimana?" tanya Erez.


"I-tu sangat mengerikan, Erez," jawabku dengan suara yang masih bergetar. Aku masih bisa merasakan penderitaan orang-orang di sana.


"Itulah mengapa aku menyelamatkanmu, Diana."


"Sebenarnya masalah apa yang akan terjadi? Masalah apa yang membuat Obelia bisa seperti itu?"


"Sihir hitam."


"Sihir hitam?"


"Iya. Sihir hitam itu berhasil menemukan wadah yang kuat dan menjadikannya tidak terkalahkan. Bahkan Lucas dan aku tidak bisa mengalahkannya."


"Kenapa?"


"Karena kami tidak mampu."


"Kalau kalian tidak bisa, bagaimana denganku?! Kalian yang kuat saja tidak bisa mengalahkannya."


"Kami berbeda denganmu, Diana!"


"Apa yang beda, Erez?! Mana yang kalian miliki lebih besar tapi kalian tidak bisa mengalahkannya."


"Kau bisa!" tegas Erez.


"Tidak!"


"Bisa, Diana!"


"Bagaimana caranya Erez?!"


"Dekati sihir hitam itu dan cari tau masa lalunya."


"Itu akan membuka luka di hatinya."


"Tapi itu satu-satunya cara untuk mengalahkannya."


"Tapi itu akan menyakitinya."


"Dia akan terus merasakan sakit kalau tetap berada di sini, Diana. Kita harus mengembalikannya ke tempat dia berasal."


"Dimana tempat dia berasal?"


"Di alam selanjutnya."


"Alam selanjutnya?"


"Iya. Dia seharusnya bereinkarnasi ke alam lain tapi karena kebencian di hatinya itu membuat dia tidak bisa lahir kembali dan kamu yang bisa menolongnya," jelas Erez.

__ADS_1


__ADS_2