Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
25


__ADS_3

Saat Athanasia tersadar, dia memuntahkan darah lagi.


"Apa yang telah terjadi ibu? Apakah sihir hitam itu sudah hilang?" tanya Athanasia.


"Jangan banyak bicara dulu Athanasia, kamu sedang terluka."


"Hahaha memang lebih nyaman di tubuh ini. Yah walaupun tubuh ini tidak memiliki mana sebanyak Athanasia tapi tubuh ini lebih mudah dikendalikan," ucap Aeternitas.


"Erez, bawa Athanasia pergi dari sini!" perintahku pada Erez.


"Tidak bisa. Tidak mungkin aku meninggalkanmu," tolaknya.


"Athanasia tidak boleh di sini terlalu lama, Erez. Bawalah Athanasia ke tempat yang aman terlebih dahulu, setelah itu kembalilah lagi ke sini."


"Baiklah. Jangan mati, Diana!" peringatnya.


"Tentu saja." Erez pun pergi bersama Athanasia.


***POV EREZ***


Aku membawa Athanasia ke tempat evakuasi.


"Astaga tuan putri apa yang telah terjadi pada anda?" tanya salah satu pelayan.


"Aku tidak apa-apa, Lily," jawab Athanasia.


"Anda membuat saya khawatir, tuan putri."


"Maafkan aku, Lily."


Claude berlari ke arah Athanasia dan memeluknya. "Athanasia."


Athanasia membalas pelukan ayahnya itu. "Ayah."


"Kamu melakukan hal yang berbahaya kali ini! Ayah akan menghukum kamu setelah ini semua selesai."


"Maafkan Athanasia, ayah."


"Sudahlah yang penting kamu selamat."


"Dia selamat tapi dalam tubuhnya terluka," ucapku.


"Kamu terluka, Athanasia?" Athanasia hanya mengangguk menjawab pertanyaan ayahnya itu.


Aku memanggil seseorang yang memiliki rambut berwarna merah terang. "Hei kamu yang rambut merah."


Orang itu menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"


"Iya."


Dia pun menghampiriku. "Ada apa, tuan?"


"Kamu bisa sihir, kan? Gunakanlah sihir penyembuhan untuk menyembuhkan luka dalamnya!" perintahku.


"Tidak perlu. Kalau hanya sihir penyembuhan aku juga bisa melakukannya," ucap Claude.


"Ya siapapun itu aku tidak peduli. Lukanya cukup parah tapi masih bisa diobati dengan sihir penyembuhan. Aku harus pergi sekarang. Obati dia dengan benar." Aku pun pergi dari tempat itu.


***POV DIANA***


Aeternitas semakin mengamuk dan menyerang secara brutal. Aku dan Lucas mati-matian menahan serangan terus-menerus dari Aeternitas, tapi Lucas lengah dan terkena serangan itu.


"Sialan," umpat Lucas.


Aku langsung menghampiri Lucas. "Kamu terluka?!"


"Aku baik-baik saja."

__ADS_1


"Baik-baik saja darimana?! Aeternitas mengenai titik vital. Aku akan menyembuhkanmu." Aku mencoba menyembuhkan Lucas dengan sihir penyembuhan. Anehnya luka itu tak kunjung membaik.


"Kenapa lukanya tidak membaik juga?" tanyaku terkejut.


"Kenapa? Lukanya tidak kunjung membaik ya?" tanya Aeternitas meledek.


Aeternitas tertawa. "Hahaha tidak sia-sia aku menyerap mana Athanasia tadi."


Aku terkejut. "Kau menyerap mana anakku?!"


"Iya. Walaupun tidak banyak tapi cukup untuk membunuh Lucas. Buktinya baru aku serang sedikit saja, lukanya sulit untuk disembuhkan sekarang. Mana milik putrimu memang tidak perlu diragukan lagi."


"Kenapa kamu sangat terobsesi untuk membunuhnya?! Ayahmu tidak akan senang melihatmu seperti ini, Aeternitas."


"Berisik kau! Jangan sebut-sebut ayahku!"


"Pikirkanlah ayahmu juga."


"Tau apa kamu?! Kamu tidak akan mengerti rasa sakitnya ditolak bahkan direndahkan oleh seseorang yang sangat kita kagumi."


"Aku mengerti, Aeternitas. Sangat mengerti. Tapi dengan kita membalaskan dendam pun tidak akan mengubah apa-apa."


Aeternitas terdiam.


"Berhentilah sebelum terlambat. Kembalilah ke tempat seharusnya kamu berada, aku akan membantu."


"Tidak akan! Aku tidak akan pergi sebelum Lucas mati." Setelah itu Aeternitas kembali menyerang kami.


Aku berusaha untuk menahan serangannya. Aeternitas lebih kuat dari sebelumnya, mungkin karena dia menyerap mana Athanasia.


"Diana," panggil Lucas.


"Diamlah, Lucas. Jangan banyak bicara. Simpan tenagamu." ucapku sambil menahan serangan dari Aeternitas.


"Biarkan Aeternitas membunuhku. Lagi pula tidak masalah kalau aku mati."


"Tidak, Lucas! Aku tidak akan membiarkanmu mati."


"Aku hanya perlu menahan ini sampai Erez datang."


"Dengarkan, Lucas. Berhentilah menahan seranganku ini untuknya," ucap Aeternitas.


"Diam kamu, Aeternitas!" bentakku.


"Kenapa kau sangat berusaha melindunginya? Dia saja tidak apa-apa kalau harus mati."


"Aku tidak akan pernah membiarkan Lucas mati."


"Kenapa? Dia bukan siapa-siapa bagimu. Kehilangannya tidak akan berpengaruh besar untukmu."


"Kata siapa? Dia adalah teman terbaikku. Dia berharga bagiku!" tegasku.


Aeternitas tertawa. "Hahaha dia saja tidak pernah menganggapmu sebagai temannya."


"Aku tidak peduli. Asalkan dia terus ada di sisiku maka itu cukup."


"Hmm sepertinya kamu benar. Membunuh Lucas tidak akan cukup untuk membalaskan dendamku padanya."


"Jangan macam-macam Aeternitas! Bunuh saja aku dan pergilah ke neraka! " ucap Lucas.


"Membunuhmu itu tidak seru karena tidak akan ada yang menderita. Ah iya kamu sangat menyayangi permaisuri ini, kan?" tanya Aeternitas.


"Jangan sentuh Diana seujung jari pun!" peringat Lucas.


"Tidak, aku tidak akan melakukannya. Tapi aku akan melakukan hal yang lebih seru. Permaisuri yang kamu sayangi itu sangat mencintai putrinya dan suaminya. Sebenarnya banyak sih yang dia sayangi tapi dua orang itu pastinya di urutan pertama. Jadi bagaimana kalau aku membunuh putrinya dan raja bodoh itu? Pasti akan sangat menyenangkan."


"Otakmu bermasalah hah?! Apa hubungannya dengan mereka berdua?!"

__ADS_1


"Kamu sangat bodoh, Lucas. Baiklah aku akan menjelaskannya. Kau menyayangi permaisuri ini, kan? Kau akan menderita kalau permaisuri ini terpuruk. Jadi aku akan membuat permaisuri ini merasa terpuruk dengan membunuh putri dan suaminya. Bukankah itu akan lebih menyiksamu? Dan tentu saja semua orang akan bersedih karena itu. Raja dan tuan putri itu adalah kesayangan bagi seluruh warga Obelia. Hahaha ide yang sangat cemerlang bukan? Ah aku tidak sabar menantikan hal itu," jelasnya.


Gila. Bagaimana Aeternitas bisa berpikir sejauh itu? Pikirku.


"Hmm dimana mereka berada ya? Aku harus mencarinya." Setelah itu Aeternitas pergi.


"Sial, aku harus mengejarnya," gumamku.


"Kejarlah dia, Diana. Tapi berhati-hatilah," ucap Lucas.


"Tapi aku tidak bisa membiarkanmu sendirian di sini. Kita tidak tau kapan Aeternitas kembali ke sini."


"Dia tidak akan menyerangku lagi. Seperti yang dia katakan tadi, dia akan mengubah targetnya."


"Tapi Lu—"


"Cepatlah, Diana. Putri dan suamimu dalam bahaya. Bukan hanya mereka berdua tapi semua orang dalam bahaya."


"Biarkan aku mencoba menyembuhkanmu lagi. Siapa tau kali ini akan berhasil."


"Tidak, Diana. Percuma," tolak Lucas.


"Jangan melarangku, Lucas. Lukamu semakin parah karena dari tadi kamu banyak bicara dan bergerak!" omelku.


"Seperti kata Aeternitas tadi, luka ini akan sulit untuk disembuhkan karena dia menggunakan sihir suci untuk menyerangku," ucap Lucas.


"Kenapa bisa seperti itu?" tanyaku tidak mengerti.


"Mana milikku tercampur dengan sihir hitam jadi saat terluka karena sihir suci, itu akan sulit disembuhkan," jawab Lucas.


Ah aku ingat. Lucas pernah menggunakan sihir hitam di masa lalu untuk membekukan hatinya dari perasaan-perasaan yang menyiksanya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan Lucas? Aku tidak mungkin membiarkanmu di sini,"


"Pergilah. Mereka semua membutuhkanmu."


Aku menggeleng. "Aku tidak bisa meninggalkan kamu sendirian."


Tiba-tiba Erez datang. "Diana."


Aku merasa lega melihat kedatangan Erez. "Astaga syukurlah kamu datang tepat waktu."


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Lucas terluka parah seperti ini?" tanya Erez.


"Lucas terluka karena Aeternitas. Aku tidak bisa menyembuhkan lukanya. Apa yang harus aku lakukan, Erez?" tanyaku frustasi.


"Kenapa lukanya tidak bisa disembuhkan dengan sihir penyembuhan?" tanya Erez bingung.


"Lucas bilang karena mana dia tercampur dengan sihir hitam jadi saat dia terluka karena sihir suci maka luka itu akan sulit disembuhkan," jelasku.


Erez nampak sedang berpikir. "Aku ingat. Aku pernah membaca kalau mana yang tercampur dengan sihir hitam terluka akibat sihir suci maka sihir sucilah yang bisa menyembuhkannya juga."


"Tapi manaku tidak tercampur dengan sihir hitam. Aku tidak pernah menggunakan sihir hitam sedikit pun tapi kenapa aku tidak bisa menyembuhkannya?"


"Aku juga tidak tau. Tapi bagaimana Aeternitas memiliki sihir suci?"


"Dia menyerapnya dari Athanasia."


"Tapi bukankah itu artinya mana Aeternitas juga campuran?"


"Aku juga tidak mengerti, Erez."


"Aeternitas bisa mengontrol sihirnya agar tidak tercampur. Dia bisa menggunakan sihir hitam dan sihir suci secara terpisah," jelas Lucas.


"Kalau begitu mungkin saja Athanasia bisa menyembuhkan Lucas. Kita harus menemuinya sekarang," balas Erez.


"Tapi tidak memungkinkan untuk kita membawa Lucas."

__ADS_1


Erez memberikan sihir pada Lucas dan pendarahan di luka Lucas pun berhenti. "Aku hanya bisa menghentikan pendarahannya. Sebaiknya kita cepat menemui Athanasia."


Aku, Erez, dan Lucas pun berteleportasi ke tempat Athanasia berada.


__ADS_2