Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
5


__ADS_3

"Claude kenapa kau menyuruh Felix untuk menjauh?" tanyaku.


"Karena dia terlalu mengganggu," jawabnya.


" Tidak boleh seperti itu lain kali!"


Claude menunjukkan raut wajah tak suka.


"Hmm? Apakah raja Obelia sedang merajuk? Lucunya," ucapku sambil mencolek lengan Claude.


"Jangan goda aku, Diana!" kesalnya.


Aku terkekeh.


"Bagaimana kalau kita berdansa? Kita belum pernah berdansa semenjak hari pernikahan kita, kan?" ajakku.


Claude menghampiri Felix. "Jaga Athanasia. Jangan sampai ada lalat yang menghampirinya!"


Felix menggendong Athanasia. "Baik, yang mulia. Bolehkah saya mengajak putri Athanasia ke balkon? Di sini terlalu ramai, saya rasa putri butuh udara segar."


Claude mengangguk. "Boleh, tapi jangan terlalu lama di luar karena anginnya tidak baik untuk Athanasia."


"Baik, yang mulia."


Setelah itu Claude mendekatiku dan mengulurkan tangannya. "Apakah anda berkenan dansa dengan saya yang mulia permaisuri?"


Aku tersenyum melihat perilaku Claude. "Tentu yang mulia, dengan senang hati."


Aku menerima uluran tangan Claude. Kami berjalan ke tengah aula dan berdansa di sana. Para tamu sengaja memberi ruang untuk kami berdansa. Mereka memperhatikan kami.


"Claude, aku malu," ucapku sambil menyembunyikan wajah di dada bidangnya.


"Hmm? Malu kenapa?" tanyanya.


"Kenapa mereka semua memperhatikan kita? Kenapa mereka tidak ikut berdansa dengan kita juga?" tanyaku.


"Mereka menghormati kita sebagai keluarga kerajaan. Itulah mengapa mereka menghindar dan memberikan ruang untuk kita berdansa," jawabnya.


"Tapi ruangan ini cukup besar untuk kita semua berdansa bersama."


"Sudahlah, jangan pikirkan mereka. Fokuslah padaku, Diana." Claude menarik tubuhku supaya lebih dekat dengannya.


Kami pun mulai berdansa, tapi aku terlalu gugup hingga tak sengaja menginjak kaki Claude. "Ma-maafkan aku, Claude."


Claude terkekeh. "Tak apa, itu tidak sakit."


"Benarkah? Akhir-akhir ini berat badanku naik loh."


"Iya sayang."


Kami pun melanjutkan dansanya. Saat lagu hampir selesai, tiba-tiba saja terjadi keributan. Aku dan Claude menghentikan dansanya.


"Ada keributan apa ini?!" tanya Claude.


Salah satu bangsawan menjawab, "A-ada penyusup di sebelah sana yang mulia. Dia melukai salah satu bangsawan."


Aku pun terkejut. "Penyusup?!"


"Kemana penyusup itu pergi?" tanya Claude.


"Dia pergi ke arah sana. Para ksatria sudah mengejarnya," jawabnya sambil menunjuk ke arah balkon.


"Balkon? Bukankah Felix mengajak Athanasia ke balkon tadi?" tanyaku khawatir.


"Evakuasi para tamu. Arahkan mereka ke tempat yang aman!" perintah Claude pada bangsawan itu.


Claude langsung berlari ke arah balkon. "Sial, semoga Athanasia baik-baik saja."


Aku mengikuti Claude ke arah balkon.


Sesampainya di balkon, aku terkejut melihat Athanasia yang menangis di gendongan Felix. Para ksatria kerajaan juga sudah banyak yang tumbang.


Claude mendekat tapi Felix menghentikannya. "Jangan mendekat yang mulia, berbahaya!"


"Kau gila Felix?! Putriku dalam bahaya!" marah Claude.


"Putri Athanasia aman bersama saya yang mulia. Saya akan menjaga beliau walaupun harus kehilangan nyawa."


"Kau masih berbicara begitu walaupun sudah terkepung oleh musuh?!"


"Saya bisa menyelesaikan ini yang mulia."


"Jangan gila Felix! Biarkan yang mulia membantumu," ucapku marah.


Tiba-tiba penyusup itu menangkapku dari belakang. "DIANA!"


"Apa yang kalian mau?!" tanya Claude pada penyusup itu.


"Yang kami mau adalah anda mati yang mulia. Dengan itu kami akan pergi dari sini," jawabnya.


"Kalian dasar orang jahat gila! Harusnya kalian bersyukur memiliki pemimpin yang bisa memimpin kerajaan ini dengan baik!" ucapku.


"Diamlah permaisuri. Kau tidak mau anakmu dan ksatria itu mati, kan?"


"Jangan sentuh putriku!"


"Itu tergantung anda."


"Baiklah, serahkan pedangnya padaku," ucap Claude.


"Claude?! Kau gila?" Claude menghiraukan perkataanku.


Apa Claude serius? Masa aku jadi janda muda? Tidak, tidak boleh! Batinku.


Penjahat itu memberikan pedang pada Claude. Tapi di luar perkiraan, bukannya menusuk dirinya dengan pedang itu ternyata Claude menusuk pedangnya ke penyusup itu.


"Diana, kemarilah!" perintah Claude.


Aku menggigit tangan penjahat yang menangkapku. Tapi bukannya menghampiri Claude, aku menerobos para penyusup yang mengepung Felix dan berlari ke arahnya.


"DIANA APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Claude.


Aku mengambil Athanasia dari Felix dan menggendongnya. "Cup cup anak cantik, ini ibu sayang. Berhentilah menangis."


Penyusup yang aku gigit tangannya itu pun marah, dia mengeluarkan sihir dan menyerangku. Untunglah Felix menangkis sihir itu.


"Tetap berdiri di belakang saya yang mulia permaisuri," ucap Felix.


Aku melihat tubuh Felix penuh dengan luka. "Felix?! Tubuhmu terluka parah!"


"Saya tidak apa-apa yang mulia permaisuri. Terima kasih telah mengkhawatirkan saya."


"Tidak apa-apa bagaimana? Darah terus keluar dari tubuhmu."


"Yang mulia permaisuri maafkan saya karena memberi anda perintah, tapi saya mohon dengarkanlah saya. Saya akan menyerang para penyusup itu dan saat ada celah larilah ke tempat yang aman."


"Tapi Felix, bagaimana kau bisa menyerang mereka? Jumlah mereka sangat banyak dan kau terluka parah."


"Tidak apa-apa, saya bisa menyelesaikan ini yang mulia permaisuri. Percayalah pada saya. Saya pasti akan menjaga anda."


Aku akhirnya mengangguk. Felix mulai menyerang penyusup itu dengan brutal. Saat ada celah, aku langsung berlari dan mencari tempat aman untuk bersembunyi. Tapi belum sempat aku menemukan tempat yang aman untuk sembunyi, ada penyusup lain yang siap membunuh kami. Athanasia pun mulai menangis lagi. Aku berusaha menenangkan Athanasia.


"Cup cup Athanasia, ibu di sini. Ibu akan melindungimu." Tapi tangis Athanasia tak kunjung berhenti.


"Anakmu sangat berisik yang mulia permaisuri," ucap penyusup itu.


"Wajar jika anak-anak menangis saat mereka merasa tidak aman," jawabku.


"Tapi tangisannya membuat telingaku sakit. Oh haruskah kubunuh anakmu itu supaya tidak berisik lagi?" tanyanya sambil mengeluarkan pedang.


Aku mundur perlahan. "Jangan macam-macam!"


"Saya tidak macam-macam kok, tapi hanya satu macam. Berikanlah anakmu dan kau akan aku biarkan selamat."

__ADS_1


"Tidak akan! Jangan berani menyentuhnya bahkan sehelai rambutnya!"


Aku melihat ada pedang di dekatku dan mengambilnya. Ternyata pedang lebih berat dari perkiraanku apalagi aku mengangkatnya dengan satu tangan karena tanganku yang lain sedang menggendong Athanasia.


"Apa yang ingin anda lakukan dengan pedang itu yang mulia permaisuri?"


"Tentu saja membunuhmu!"


Penyusup itu tertawa kencang. "Hahaha membunuhku? Lucu sekali. Anda bahkan terlihat keberatan mengangkat pedang itu."


Aku diam.


"Menyerah saja yang mulia permaisuri, saya akan mengirim anda ke surga tanpa rasa sakit."


"Kau banyak omong!" ucapku sambil mengarahkan pedangnya ke penyusup itu.


Pedang itu melukai pergelangan tangan penyusup itu sedikit.


"Cih merepotkan. Kalau ingin melukaiku, lakukan dengan benar. Luka seperti ini tidak ada rasanya bagiku."


Aku pun mencoba menyerangnya lagi tapi penyusup itu menangkisnya dan alhasil pedang yang aku pegang pun terlempar.


"Sudah cukup main-mainnya yang mulia permaisuri," ucapnya.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" tanyaku.


"Orang yang akan mati tidak usah banyak tanya."


Buntu. Aku tidak tau lagi apa yang harus dilakukan.


Huh kalau tau akan ada penyerangan seperti ini harusnya aku belajar pedang sebelumnya. Aku harap masih bisa mengucapkan selamat tinggal kepada Claude dan Lucas. Ucapku dalam hati.


Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku mengambil sesuatu dari kantong gaunku dan melemparkannya ke lantai hingga hancur. Dalam hitungan detik Lucas pun muncul.


"Lama sekali kau menggunakan permata itu. Aku lelah mencarimu di istana yang sangat besar ini!" omel Lucas.


"Mencari aku?"


"Tentu saja bodoh. Tidak mungkin aku tidak tau kalau terjadi sesuatu di aula pesta tapi aku tidak bisa menemukanmu dimana pun. Aku hanya melihat yang mulia dan si rambut merah itu yang sedang bertarung."


"Apakah Claude dan Felix baik-baik saja?" tanyaku khawatir.


"Tentu, aku membantunya sebelum akhirnya kau menggunakan permata itu untuk memanggilku," jawabnya.


Aku menghela nafas lega. "Syukurlah kalau mereka baik-baik saja."


"Jadi si bodoh mana yang berani menyerangmu?" tanya Lucas sambil meneliti sekitar.


Penyusup yang mengenali Lucas langsung berusaha untuk kabur tapi sayangnya dia tertangkap oleh Lucas. Yah tidak ada yang bisa kabur dari Lucas.


"DIANA, ATHANASIA," teriak Claude.


Claude dan Felix berlari ke arahku.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Claude sambil memeriksa keadaanku dan Athanasia. Dia menggendong Athanasia dan menenangkannya. "Ayah di sini Athanasia, semuanya aman sekarang."


Perlahan tangis Athanasia pun berhenti.


"Kami baik-baik saja, Claude. Bagaimana denganmu dan Felix?"


"Saya baik-baik saja yang mulia permaisuri. Terima kasih telah mengkhawatirkan saya," jawab Felix.


"Dia tidak mengkhawatirkanmu Felix, dia hanya khawatir padaku," ujar Claude.


"Tapi tadi saya dengar yang mulia permaisuri menyebut nama saya juga," balas Felix.


"Kau salah dengar."


Felix melihat ke arahku dan memasang wajah memelas. "Benarkah itu yang mulia permaisuri? Apakah saya salah dengar? Anda tidak mengkhawatirkan saya?"


"Tidak Felix. Kamu tidak salah dengar, aku mengkhawatirkanmu juga," jawabku.


"Diana," rengek Claude.


"Jangan mengkhawatirkan laki-laki lain."


"Felix sudah aku anggap seperti adik laki-lakiku sendiri."


"Sebuah kehormatan bagi saya yang mulia permaisuri," ucap Felix.


"Diamlah Felix! Mundur sepuluh langkah!" perintah Claude.


Felix menurutinya.


"Yang mulia permaisuri," teriak Lily.


"Lily? Apakah kau baik-baik saja?" tanyaku.


"Ya ampun yang mulia permaisuri, anda masih mengkhawatirkan saya? Saya baik-baik saja tapi saya kesal," jawab Lily.


Dahiku mengkerut. "Kesal kenapa? Siapa yang berani membuat Lily-ku yang cantik ini kesal?"


"Para ksatria menahan saya saat ingin mencari anda dan putri Athanasia," jawab Lily.


"Tentu saja ksatria akan menahanmu. Di luar berbahaya, tetaplah berada di tempat yang aman," jelasku.


"Bagaimana dengan anda? Saat saya sedang di evakuasi, saya tidak melihat keberadaan anda."


"Hmm itu..." Aku tidak melanjutkan perkataanku, aku tidak tau alasan apa yang harus kuberikan.


"Sudah sudah, si rambut merah itu akan mati kalau kita semua tetap berbincang di sini," ucap Lucas.


"Betul. Felix harus diobati terlebih dahulu Lily. Bawalah dia ke kamarnya, aku akan memanggil dokter kerajaan!" perintahku.


"Baiklah, yang mulia permaisuri. Tuan Robane mari saya antar ke kamar." Saat Felix hendak berjalan, tiba-tiba saja tubuhnya oleng. Beruntung Lily menangkapnya sebelum Felix terjatuh. Akhirnya Lily memapah Felix sampai ke kamar Felix.


"Ayo kita obati lukamu Claude," ucapku.


"Tidak perlu. Aku baik-baik saja," tolaknya.


Athanasia mengucapkan kata pertamanya. "Yah"


Claude terkejut. "Apakah barusan Athanasia memanggilku ayah?"


Aku mengangguk. "Iya. Ah kenapa kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah kau. Kenapa bukan aku?"


Athanasia kembali berucap, "Bu"


Kali ini aku yang terkejut. Aku mengambil Athanasia dari Claude dan menggendongnya. "Iya sayang, ini ibu."


Athanasia memeluk leherku. Aku pun memeluknya juga.


"Ini sangat mengharukan tapi tanganmu harus diobati," celetuk Lucas.


Claude melihat ke arah tanganku yang ternyata penuh dengan luka. "Diana, kau terluka?! Tadi kau bilang baik-baik saja."


Aku melihat tanganku. "Ah ternyata luka, kukira baik-baik saja saat memegang pedang tadi."


"Pedang?"


"Iya, tadi ada pedang di dekatku. Jadi aku gunakan untuk melawan penyusup itu tapi tetap saja tidak berhasil," jelasku.


"Berikan Athanasia padaku. Penyihir, obati yang mulia permaisuri!" perintah Claude.


"Baik, yang mulia." Lucas mengobati luka di tanganku dan luka itu hilang dalam sekejap.


"Terima kasih, Lucas."


"Sama-sama. Kalau begitu saya kembali ke kamar," pamit Lucas.


"Tunggu dulu Lucas." Aku menahan lengannya.


"Ada apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku mau menanyakan sesuatu padamu," jawabku.


Lucas mengernyitkan dahinya. "Tentang apa?"


"Sebelum itu...Claude bisakah kau kembali ke kamar bersama Athanasia? Aku rasa dia sudah sangat lelah jadi tidurkan dia lebih awal."


Claude mengernyitkan dahinya. "Kenapa kau tiba-tiba mengusirku? Apa yang ingin kau tanyakan pada penyihir itu?"


"Bukan apa-apa dan aku tidak mengusirmu, Claude. Aku kasihan melihat Athanasia yang sudah mengantuk."


Claude melihat ke arah Athanasia. "Ah iya. Kalau begitu jangan lama-lama, cepatlah kembali ke kamar."


Aku mengangguk. Setelah itu Claude pergi.


"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Lucas.


"Lucas, apakah aku bisa belajar sihir?" tanyaku.


"Hmm? Tentu, asalkan kau memiliki mana yang cukup untuk belajar sihir," jawabnya.


"Lalu apakah aku memilikinya?" tanyaku lagi.


"Iya, kau punya tapi tidak sebesar milik anakmu," jawabnya.


"Itu cukup. Yang penting aku bisa belajar sihir. Kalau begitu tolong ajarkan aku sihir pertahanan, Lucas," pintaku.


Lucas yang merasa aneh dengan permintaanku pun bertanya "Kenapa kau tiba-tiba ingin belajar sihir?"


"Setelah kejadian ini, aku berpikir alangkah baiknya kalau aku bisa sihir setidaknya untuk menjaga Athanasia," jelasku.


"Tanpa kau belajar sihir, suamimu dan si rambut merah itu akan menjagamu."


"Kita tidak tau kapan waktunya harus menggunakan kemampuan sendiri. Aku tidak ingin menjadi beban mereka. Tolonglah ajari aku sihir ya?" pintaku.


"Baiklah."


"Terima kasih, Lucas. Jadi kapan kita akan mulai belajarnya?" tanyaku tak sabar.


"Nanti," jawabnya singkat.


"Jangan nanti-nanti, secepatnya."


"Kau ini sangat tidak sabaran. Lusa."


"Tapi Lucas, aku punya satu permintaan."


"Apa lagi?"


"Tolong rahasiakan ini dari semua orang. Cukup kau dan aku yang tau."


"Baiklah." Setelah itu Lucas pergi. Aku pun kembali ke kamar. Tapi sebelum kembali ke kamar, aku memanggil dokter kerajaan untuk mengobati Felix.


Saat aku masuk ke kamar, Claude sedang membaca dokumen. "Claude, kenapa kau belum tidur?"


"Aku menunggumu. Kau lama sekali. Apa yang kau bicarakan dengan penyihir itu?"


"Bukan apa-apa."


"Kau tidak mau bilang padaku?"


"Serius bukan apa-apa, Claude. Omong-omong aku punya permintaan padamu."


"Apa itu?"


"Aku ingin belajar pedang."


Claude menatapku dengan aneh. Kenapa semua orang menatapku dengan aneh saat mendengar permintaanku? Apakah seaneh itu permintaanku? Kurasa tidak.


"Kenapa kau ingin belajar pedang?" tanyanya heran.


"Untuk menjaga diri sendiri," jawabku.


"Kau punya Felix sebagai pengawal pribadimu. Walaupun aku malas memberitahu ini tapi aku mengakui kalau Felix adalah ksatria hebat yang ada di dunia ini."


"Iya aku tau. Bukannya aku meragukan kemampuan Felix, tapi Felix tidak mungkin selalu bersamaku kan? Ada kala nya dia tidak di dekatku. Bagaimana kalau terjadi penyerangan lagi saat Felix tidak ada di dekatku?"


"Haruskah aku memilihkan satu lagi ksatria untukmu?"


"Tidak perlu. Aku hanya ingin belajar pedang Claude. Aku mohon ya?"


"Baiklah, tapi kau akan diajari langsung olehku. Aku tidak mengizinkanmu diajarkan oleh orang lain."


"Iya, terima kasih sayang" ucapku sambil memeluk Claude.


"Di saat seperti ini kau baru memanggilku sayang," sindir Claude.


"Hei aku sering memanggilmu sayang!" sanggahku.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Kau yang tidak memperhatikannya." Claude mengeratkan pelukannya.


Dari tadi aku penasaran dengan dokumen yang dibaca oleh Claude. "Apa yang sedang kau baca, Claude?"


"Panggilanmu berubah lagi."


"Oke oke. Apa yang sedang kamu baca, sayang?" ucapku mengulang pertanyaan.


"Aku sedang melihat anggaran rumah tangga sambil menunggumu tadi."


"Apakah ada yang salah dengan itu?"


"Tidak ada, tapi aku merasa heran."


"Kenapa?"


"Kenapa pengeluaran dari istana permaisuri sangat sedikit? Apa kau tidak pernah berbelanja sesuatu, Diana?"


"Iya, aku terlalu malas untuk berbelanja. Lagian tidak ada yang ingin aku beli."


"Kamu aneh. Para nona bangsawan di luar sana berlomba-lomba membeli barang yang sedang trend tapi kamu tidak. Padahal kamu adalah permaisuri kerajaan ini."


"Aku tidak terlalu tertarik mengikuti trend. Lebih baik uangnya disimpan saja dan ditabung."


"Ditabung? Aku tidak akan miskin walaupun kamu membeli 20 mansion di Obelia."


"Aku juga malas berbelanja. Kamu tau kalau aku tidak memiliki teman, kan? Terlalu membosankan untuk berbelanja sendirian."


"Kalau begitu ajaklah salah satu nona bangsawan. Mereka pasti mau kalau kau mengajaknya."


"Iya sih tapi aku tidak suka dengan mereka semua."


"Kenapa?"


"Mereka semua munafik. Aku tidak suka dengan orang munafik."


"Apakah pernah terjadi sesuatu denganmu dan para nona bangsawan?"


"Tidak juga. Sudahlah aku mengantuk. Ayo tidur, Claude." ajakku.


"Iya sebentar lagi. Kamu tidur aja duluan."


"Tidak mau. Aku mau tidur sambil memeluk dirimu."


"Baiklah, aku akan merapikan dokumen-dokumen ini terlebih dahulu."


Saat menunggu Claude membereskan dokumennya, tiba-tiba aku teringat dengan Athanasia. Dia menangis sangat kencang tadi. "Omong-omong apakah Athanasia baik-baik saja? Dia menangis sangat kencang tadi. Aku khawatir kalau dia terluka di suatu tempat."


"Dia baik-baik saja. Sepertinya dia terkejut dengan semua yang terjadi tadi. Tapi tenang saja, aku sudah menidurkannya dan sekarang dia sedang tertidur pulas," jelas Claude.


Aku merasa lega. "Syukurlah."


Claude pun selesai membereskan dokumennya. "Ayo kita tidur."

__ADS_1


Aku masuk ke dalam pelukannya dan tertidur lelap.


__ADS_2