
***POV DIANA***
"Lucas menangis?!" Baru kali ini aku melihat sosok Lucas yang sangat frustasi seperti ini. Karena biasanya dia selalu menunjukkan wajah yang menyebalkan.
"Wow Lucas bisa menangis juga rupanya," ucap Erez terkejut.
"Tentu saja Lucas bisa menangis. Dia juga manusia," balasku.
"Manusia apanya? Memang ada manusia yang tidak memiliki perasaan seperti dia?"
"Lucas bukan tidak memiliki perasaan tapi dia mematikan perasaan itu."
Erez mengernyitkan dahinya. "Hmm? Ah kamu pasti membacanya dari novel itu, kan?"
Aku mengangguk.
"Apa yang membuat Lucas mematikan perasaannya itu? Apakah karena seorang wanita? Tapi sepertinya tidak mungkin."
"Hahaha ya. Dia mematikan perasaannya karena gurunya. Dia tidak sanggup menahan perasaan sedih akibat kematian gurunya dan memilih untuk mematikan perasaannya itu."
"Tapi karena kau, perasaan Lucas kembali lagi."
Aneh. Menurut novel, perasaan Lucas kembali karena Athanasia tapi kenapa kali ini perasaannya kembali karena aku? Tanyaku dalam hati.
Krek!!! Erez tidak sengaja menginjak ranting.
"Siapa itu?!" tanya Lucas.
"Erez!" geramku.
"Maafkan aku. Aku tidak sengaja," bisiknya.
Lucas mendekat ke arah aku dan Erez.
"Kita harus segera pergi dari sini," ucapku.
"Tapi kalau kamu menggunakan sihir teleportasi sekarang, Lucas akan merasakan manamu."
"Tidak apa-apa. Daripada aku langsung ketahuan di sini saat ini juga. Lebih baik Lucas hanya merasakan manaku saja."
Aku dan Erez segera pergi dari tempat ini menggunakan sihir teleportasi.
***POV LUCAS***
Aku mendekati sumber suara yang tidak sengaja aku dengar tadi. Tapi ternyata kosong. Tidak ada siapapun di sini.
"Apa aku salah dengar?" tanyaku.
Saat ingin pergi, aku merasakan mana Diana sekilas. "Kenapa aku merasakan mana Diana di sini?! Apakah Diana ada di sekitar sini?"
Aku pun menggunakan sihirku untuk melihat dengan jelas jejak mananya dan benar saja, terlihat jejak mana Diana walaupun hanya samar-samar. Tapi yang kulihat bukan hanya jejak mana Diana saja, ada jejak mana orang lain juga yang artinya Diana tidak sendirian tadi. Mana itu terasa sangat kuat. Siapa sebenarnya dia? Apakah dia yang selama ini menyembunyikan Diana?
"Jejak mana siapa ini? Aku belum pernah melihat jejak mana yang seperti ini."
Aku segera kembali ke menara sihir dan mencari buku yang berisi informasi tentang penyihir di seluruh dunia. Tapi aku tidak menemukan petunjuk apapun.
***POV DIANA***
Akhirnya aku dan Erez sampai di menara.
"Untung saja kita tidak ketahuan," ujarnya merasa lega.
"Iya, tapi setelah ini Lucas akan menyadari keberadaanku. Kenapa sih kamu segala menginjak ranting itu?!" omelku.
"Maaf, aku tidak sengaja."
Aku memijat pelipisku. "Ughh aku harap Lucas tidak menemukan kita secepat itu."
Erez menjawab dengan santai. "Tidak akan, tenang saja."
Serius, saat ini ingin sekali aku memukul kepala Erez.
"Jadi informasi apa yang telah kamu dapatkan?" tanyanya.
"Kamu benar, Erez."
"Aku memang selalu benar," ucapnya bangga.
"Aku serius!"
"Aku juga serius."
"Apa kamu tau kenapa aku mengatakan kalau kamu benar?"
Erez menggeleng.
"Aeternitas telah bertindak. Dia melarikan diri dengan tubuh keponakanku."
"Kemana dia melarikan diri?"
"Aku tidak tau, Erez. Kalau aku tau, aku pasti sudah menghampirinya."
"Sebenarnya bagaimana cara mereka mendidik keponakanmu itu? Kenapa dia bisa memiliki sifat iri dan cemburu pada sepupunya sendiri?" tanyanya bingung.
"Itu hal yang wajar, Erez. Sebagai anak remaja, perasaan seperti itu adalah hal yang lumrah," jawabku.
"Kalau sudah seperti ini sulit untuk kita menemukannya."
"Sulit kenapa?"
"Aeternitas pasti sudah menyatu sempurna dengan tubuh keponakanmu itu."
__ADS_1
"Tunggu Erez, bisakah kamu memanggil namanya saja? Jangan selalu menyebut keponakanmu keponakanmu, itu terlalu panjang."
"Aku lupa namanya."
Aku menghela nafas. "Zenith."
"Nah iya itu. Hal paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah menemukan Zenith."
"Tapi bagaimana caranya?"
"Aku akan memikirkannya nanti. Sekarang kembalilah ke kamarmu Diana, ini sudah malam. Kita akan lanjutkan pembicaraan ini besok."
"Bagaimana aku bisa beristirahat di saat Zenith belum ditemukan."
"Kamu seperti ini pun tidak membuat Zenith ketemu. Percayalah, aku akan memikirkan cara untuk menemukannya."
"Baiklah." Aku pun kembali ke kamar. Walaupun sulit untukku beristirahat tapi aku terus memejamkan mata berharap akan tertidur.
"Ini semua karena kamu!"
"Bibi Diana, kenapa harus Zenith yang menerima ini semua?"
"Keberadaanmu tidak diterima di sini, Diana! Kamu harusnya mati saja!"
Aku langsung terbangun dengan nafas yang terengah-engah.
"Diana, kamu baik-baik saja?!" tanya Erez yang tiba-tiba saja ada di kamarku.
"Erez? Apa yang kamu lakukan di kamarku?" tanyaku heran.
"Aku merasakan manamu tidak beraturan dan langsung bergegas ke kamarmu. Saat aku tiba, raut wajahmu seperti orang yang sedang tersiksa," jawabnya.
"A-aku bermimpi buruk," aduku.
"Itu hanya mimpi, jangan dipikirkan."
"Tapi mimpi itu terasa sangat nyata."
Erez duduk di sampingku dan menggenggam tanganku. "Tarik nafas pelan-pelan dan hembuskan." Aku mengikuti apa yang dikatakan Erez.
Tiba-tiba aku mendapatkan penglihatan yang menunjukkan keberadaan Zenith.
"Erez..."
"Iya?"
"A-aku sepertinya tau Zenith dimana."
Mata Erez menyipit. "Apa?!"
"Aku tau sekarang Zenith ada dimana, Erez!" ucapku mengulanginya.
"Tidak, Erez. Ini nyata. Aku mendapatkan penglihatan."
"Kalau tidak salah kamu pernah diserang oleh sihir hitam, kan?" tanyanya tiba-tiba.
"Iya, kenapa?"
Erez terdiam sejenak.
"Ada apa, Erez?!" tanyaku geram.
"Aku pernah baca kalau seseorang yang pernah diserang oleh sihir hitam jiwanya akan terikat dengan sihir itu," jawabnya.
Dahiku mengkerut. "Maksudnya?"
"Singkatnya kamu bisa merasakan aura sihir hitam lebih kuat dari yang lain sampai kamu bisa menemukan orang-orang yang menggunakan sihir hitam dengan mudah," jelasnya.
"Benarkah? Itu bagus, kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita ke sana sekarang," ucapku.
"Tunggu."
"Apa lagi, Erez?"
"Manamu baru saja pulih dari kejadian beberapa tahun yang lalu. Kalau kamu bertarung dengan sihir hitam itu lagi bisa bisa kamu tidak selamat kali ini."
"Ada kamu di sisiku. Aku tidak melawannya seorang diri. Lagi pula aku tidak berniat melawannya sekarang, kita harus membawanya ke istana terlebih dahulu."
"Lalu persembunyian kamu selama ini akan sia-sia."
"Tidak apa-apa, lagi pula aku juga awalnya tidak mau bersembunyi selama ini tapi kamu yang selalu menahanku."
"Tapi Dia—"
Aku merasa gemas dengan Erez karena dia selalu menahanku. "Apa lagi, Erez?!Waktu kita tidak banyak, kita harus saling percaya untuk menyelesaikan ini."
"Baiklah, tapi jangan bertindak gegabah. Tetap di dekatku!" peringatnya.
"Iya iya." Aku dan Erez pergi ke tempat Zenith berada.
***POV ATHANASIA***
Aku terbangun secara tiba-tiba karena merasakan sesuatu. Perasaan apa ini? Rasanya aku seperti berada di tempat yang sangat sunyi tapi menenangkan.
"Sepertinya aku tau tempat seperti ini ada dimana." Aku pun berteleportasi ke tempat yang aku pikirkan.
Sesampainya di tempat itu, aku melihat seorang gadis berambut cokelat panjang sedang berdiri sendirian. Aku mengamati gadis itu. "Zenith?!"
Aku berlari ke arahnya tapi seseorang menarik lenganku dan menutup mulutku.
"Jangan dekati dia," ucap orang itu.
__ADS_1
Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh tudung jubah. Aku meronta dan berhasil lepas darinya.
"Siapa kamu?!" tanyaku.
"Sssttt tenanglah ini ibu, Athanasia," jawabnya sambil membuka tudung jubah itu.
"I-ibu?"
"Iya sayang, ini ibu."
Aku terdiam.
"Ada apa sayang? Kamu tidak mau memeluk ibumu ini?"
"Ini benar ibu?"
"Iya, kenapa kamu terlihat ragu seperti itu, Athanasia?"
"Bu-bukankah ibu telah...tiada?" tanyaku ragu.
Ibu nampak terkejut dengan perkataanku dan setelah itu ibu tersenyum. "Orang-orang di istana mengatakan seperti itu?"
Aku mengangguk.
"Bagaimana ibu menjelaskannya ya? Ibu memang hampir saja pergi dari dunia ini tapi ada seseorang yang menolong ibu sampai akhirnya ibu bisa selamat."
"Jadi yang ada di hadapanku sekarang benar ibu?"
"Iya, Athanasia. Aku Diana, ibumu."
Aku langsung memeluk ibu dan menangis di pelukannya.
"Kenapa kamu menangis putriku?" tanya ibu sambil mengelus rambut pirangku.
"Athy merindukan ibu."
"Ibu juga."
"Lalu ibu dimana aja selama ini?"
Ibu tidak menjawabnya dan hanya meminta maaf. "Maaf, Athanasia. Ibu tidak bisa memberitahu itu sekarang."
"Diana, maaf menganggu pertemuanmu dengan putrimu tapi bisakah dilanjutkan nanti saja," ujar seseorang.
Aku melihat ke arah orang yang baru saja berbicara tadi. Betapa terkejutnya aku saat melihat orang itu adalah orang yang pernah aku lihat saat aku mencari ibu dengan sihirku. Aku langsung menarik ibu untuk berdiri di belakangku.
"Ada apa Athanasia?" tanya ibu bingung.
"Ibu, tetaplah di belakang Athy. Dia adalah orang jahat."
"Jahat? Siapa yang kamu maksud orang jahat?" tanya ibu.
"Pria itu," ucapku sambil menunjuk ke arah pria berambut pirang itu.
"Wow tunggu dulu nona, sepertinya ada kesalahpahaman di antara kita."
"Tidak ada kesalahpahaman di antara kita. Aku tidak bodoh sampai melupakan wajah seseorang yang kulihat saat itu!"
"Erez, kamu pernah bertemu dengan Athanasia?" tanya ibu pada pria itu.
"Hmm ya bisa dibilang seperti itu," jawabnya.
"Ibu jangan bicara padanya," larangku.
"Sebentar Athanasia, kenapa kamu waspada sekali terhadap Erez?"
"Wah wah sungguh pertemuan yang sangat mengharukan." Kami semua menoleh ke arah sumber suara.
"Zenith?! Zenith kamu kemana aja sih? Aku khawatir kamu menghilang tiba-tiba," ucapku sambil mendekat ke arah Zenith.
"Jangan dekati dia, nona. Saat ini tubuhnya dikendalikan oleh sihir hitam," ucap pria itu sambil menahanku.
"Berdiri dibelakang ibu, Athanasia!" perintah ibu.
Aku menuruti perkataan ibu.
"Halo bibi, sudah lama sekali kita tidak bertemu ya?"
"Jangan panggil aku bibi!"
"Lohh kenapa? Kau kan memang bibiku."
"Keluarlah dari tubuh keponakanku, Aeternitas!"
"Wow ternyata kamu sudah mengetahui identitasku. Lumayan juga. Tapi percuma karena aku akan membunuhmu dengan benar kali ini."
"Coba saja kalau bisa."
"Selamat dari ambang kematian membuatmu menjadi orang yang sombong sepertinya tapi tidak masalah karena aku akan memusnahkan orang sombong sepertimu."
Zenith mulai menyerang ibu tapi ibu berhasil menahannya.
"Erez!" Pria itu langsung mengeluarkan rantai sihir dan mengikat Zenith.
"Apa-apaan ini?! Lepaskan!" amuk Zenith.
"Anak baik tidak boleh tidur larut malam," kata pria itu dan dia pun memukul tengkuk Zenith hingga pingsan.
"Kita ke istana sekarang," ucap ibu.
Aku, ibu, Zenith, dan pria itu pergi menuju istana.
__ADS_1