Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
23


__ADS_3

"Dimana aku harus tidur?" tanya Erez.


"Ah iya aku melupakanmu. Pergilah bersama Lucas ke menara sihir."


"Tidak mau," tolaknya.


"Lalu kau mau tidur dimana?"


"Sediakan kamar untukku. Istana ini memiliki banyak kamar, kan?"


Daripada berdebat dengannya, akhirnya aku menuruti keinginannya. "Felix, tolong antarkan dia ke kamar yang kosong."


"Baik, yang mulia permaisuri." Felix dan Erez pun pergi.


Kini tersisa aku dan Claude di ruangan ini.


"Claude," panggilku.


"Iya sayang?"


"Jangan terlalu dipikirkan oke? Aku akan baik-baik saja."


"Tapi aku tetap mengkhawatirkanmu, apalagi kamu baru saja kembali ke sisiku. Aku tidak ingin kamu pergi lagi."


Aku mengerti ketakutan Claude. Aku mencoba membujuknya dan menenangkannya. "Sudah kubilang kalau kali ini aku pasti bisa menanganinya. Tenang dan percayakan padaku oke?"


Claude mengangguk pelan.


"Saat itu tiba, pergilah ke tempat yang aman bersama Athanasia dan yang lainnya ya? Jagalah Athanasia agar dia tidak berkeliaran kemana-mana."


Sekali lagi Claude mengangguk.


Aku pun memeluknya. "Anak baik."


Tanpa aku sadari, ternyata ada seseorang yang mendengarkan dari luar.


Malam hari esoknya. Sesuai permintaanku, kak Anas mengevakuasi semua orang yang ada di istana. Sebelum semua orang benar-benar pergi, mereka semua memintaku untuk berhati-hati.


"Berhati-hatilah, Diana. Aku dan Athanasia akan menunggumu."


"Tentu. Tolong jaga Athanasia."


"Ayo Diana, waktu kita tidak banyak. Kita harus berada di sana sebelum Zenith bangun dari tidurnya," ucap Erez.


"Iya." Sebelum pergi, aku memeluk Claude dan Athanasia. Anehnya Athanasia hanya diam saja biasanya dia akan menangis dan merengek supaya aku tidak pergi. Tapi baguslah jadinya hatiku tidak melemah karenanya.


Aku dan Erez segera pergi ke kamar Zenith. Saat ini istana telah kosong, hanya ada aku, Erez, dan Zenith. Zenith masih dalam keadaan tertidur karena pengaruh sihir.


"Bangunkan dia, Erez!" perintahku.


"Baik." Erez menghilangkan sihir tidurnya pada Zenith.


Tak lama kemudian, Zenith membuka matanya.


Zenith melihat ke sekelilingnya dan pandanganya jatuh ke hadapanku. Dia nampak terkejut melihat aku yang ada di hadapannya sekarang. "Bibi Diana?! Ini benar bibi Diana?"


Zenith? Dimana Aeternitas?


"Halo Zenith, bagaimana perasaanmu sekarang?" tanyaku yang masih berusaha bersikap biasa saja.


Bukan menjawab pertanyaanku, Zenith malah memelukku dan menangis. "Bibi Diana kemana saja selama ini? Zenith dan Athy sangat merindukan bibi Diana."


Aku membalas pelukannya dan mengelus kepalanya. "Bibi juga merindukan kalian berdua."


"Bibi sudah bertemu dengan Athy dan yang lainnya?" tanya Zenith.


Aku mengangguk. "Bibi sudah bertemu dengan yang lainnya semalam."


"Tunggu. Bukankah aku ada di taman saat itu? Mengapa sekarang aku berada di kamar? Bagaimana dengan pesta debutantenya? Ah iya saat itu aku meninggalkan tuan Alpheus sendirian," ucap Zenith.

__ADS_1


"Apa yang kamu ingat, Zenith?" tanyaku.


"Saat itu Zenith meminta izin untuk pergi sebentar pada tuan Alpheus dan..." Zenith tidak melanjutkan ucapannya.


"Dan apa?"


"Dan Zenith menangis di taman sendirian. Tapi sihir menemui Zenith dan menemani Zenith saat itu," sambungnya.


"Lalu apa yang terjadi setelahnya?"


"Zenith tidak ingat. Saat Zenith sadar, Zenith sudah berada di kamar."


Aku menatap Erez dan bertanya, "Bagaimana ini, Erez? Aku juga tidak merasakan sihir hitam itu di tubuh Zenith."


Erez berdecak. "Dia melarikan diri."


"Sihir hitam? Apa yang bibi bicarakan? Dan siapa pria ini?" tanya Zenith.


Aku pun menjelaskannya pada Zenith. Zenith juga perlu tau apa yang terjadi dengannya. "Zenith, sihir yang selama ini ada di tubuhmu adalah sihir hitam. Sihir hitam itu mengambil alih tubuhmu malam itu dan membuatmu lepas kendali."


"Lepas kendali? Apakah Zenith menyakiti seseorang malam itu?" tanya Zenith khawatir.


"Kamu tidak menyakiti siapapun tapi perkataan yang kamu ucapkan saat itu membuat Athanasia kehilangan kendali. Mananya tak beraturan dan meledak."


Zenith terkejut mendengarnya. "Lalu bagaimana keadaan Athy sekarang? Zenith ingin bertemu dengan Athy sekarang."


Zenith berusaha bangun dan aku menahannya. "Tidak ada siapapun di sini, Zenith. Semua orang yang ada di istana telah di evakuasi ke tempat yang aman."


"Kenapa?"


"Karena dirimu," jawab Erez.


"Karena aku? Memang apa yang aku lakukan?"


"Aku dan Diana berniat menghilangkan sihir hitam yang ada di dalam tubuhmu malam ini. Karena kita tidak tau apa yang akan terjadi, Diana menyuruh yang lain untuk pergi ke tempat yang aman," jelas Erez.


"Yang dikatakan Erez itu benar. Erez akan membantuku untuk melepaskan sihir hitam itu dari tubuhmu," timpalku.


Aku menggeleng. "Sayangnya sihir hitam itu tidak ada di dalam tubuhmu sekarang. Bibi tidak tau kemana sihir hitam itu pergi."


"Apakah sihir hitam itu berbahaya bibi? Tidak bisakah kalian membiarkan sihir hitam itu? Karena sihir hitam itu yang selalu menemani Zenith selama ini," ucap Zenith.


"Tentu saja sihir hitam itu berbahaya. Kau bisa melukai seseorang tanpa sadar," ucap Erez sedikit membentak.


"Erez!" tegurku.


"Apa? Aku hanya menjawab pertanyaannya saja."


"Tapi tidak perlu dibentak, jelaskan secara pelan-pelan."


"Terserah, daripada aku berlama-lama di sini lebih baik aku mencari keberadaan sihir hitam itu." Erez pun pergi.


"Apakah yang dikatakan pria itu benar? Sihir hitam berbahaya?" tanya Zenith dengan raut wajah sedih.


"Benar. Sihir hitam adalah hal yang berbahaya, Zenith. Tidak seharusnya kamu memilikinya," jawabku.


"Tapi sihir hitam itu tidak menyakiti Zenith. Malah sihir hitam itu selalu membantu Zenith saat sedang kesulitan. Bibi, apakah tidak bisa kita membiarkan sihir hitam itu?" ucap Zenith memohon.


"Kenapa Zenith ingin mempertahankan sihir hitam itu?" tanyaku.


"Karena akhirnya Zenith bisa menggunakan sihir dan mempunyai teman," jawabnya.


"Zenith tidak perlu sihir hitam itu untuk bisa menggunakan sihir. Setelah ini semua selesai, bibi akan mengajarkan sihir pada Zenith ya? Dan untuk masalah teman, bukankah sekarang Zenith memiliki Athy dan juga tuan muda Alpheus? Mereka berdua akan selalu berteman dengan Zenith."


"Ta—"


"Zenith, dengarkan bibi. Sihir hitam itu sebenarnya adalah manusia tapi karena tubuhnya sudah lama mati, akhirnya dia berkeliaran dengan wujud seperti itu. Bibi harus mengembalikan dia ke alamnya supaya dia bisa lahir kembali di alam selanjutnya. Kalau Zenith terus melarang bibi untuk melakukannya maka sihir itu tidak bisa menjalani kehidupan selanjutnya. Zenith tidak kasihan dengan dia? Dia di sini pun pasti akan selalu menderita," jelasku.


"Menderita? Menderita kenapa bibi? Apakah ada seseorang yang menyakitinya sehingga dia menderita?"

__ADS_1


"Menurut Zenith mengapa dia tidak langsung lahir kembali ke alam selanjutnya dan malah berkeliaran di sini?" tanyaku meminta pendapatnya.


Zenith menggeleng. "Zenith tidak tau."


"Itu karena dia masih memiliki perasaan benci di jiwanya. Itu yang membuatnya tidak bisa lahir kembali tapi bibi akan membantunya untuk menghilangkan perasaan itu. Jadi Zenith, izinkan bibi untuk melakukannya ya? Kita bantu supaya dia bisa kembali ke alamnya dan terlahir lagi."


Zenith pun mengangguk.


"Sekarang kita cari sihir hitam itu bersama-sama ya?"


"Iya."


Aku dan Zenith pun mencari keberadaan sihir hitam itu di istana.


***POV CLAUDE***


"Semua sudah di evakuasi, kan?" tanyaku pada Felix.


"Sudah, yang mulia," jawabnya.


"Kerja bagus, Felix."


"Claude, Athanasia dimana?" tanya Anastasius.


"Athanasia sedang bersama pelayannya. Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan Athanasia?"


"Entahlah, perasaanku tidak enak saja tapi syukurlah kalau Athanasia sedang bersama pelayannya."


"Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya memberi salam pada yang mulia dan yang mulia terdahulu."


"Lily? Ada apa anda ke sini?" tanya Anastasius.


"Saya hanya sedang berjalan-jalan dengan tuan putri dan kebetulan bertemu dengan yang mulia di sini jadi saya berniat untuk memberi salam," jawabnya.


Aku yang melihat Athanasia diam saja pun bertanya pada pelayan itu. "Kenapa Athanasia hanya diam saja?"


"Saya juga tidak tau, yang mulia. Sejak tadi tuan putri selalu diam. Mungkin tuan putri khawatir dengan yang mulia permaisuri," jawab pelayan itu.


Aku mendekati Athanasia dan mengelus kepalanya. "Tenang saja, Athanasia. Ibumu akan baik-baik saja."


Tidak ada respon dari Athanasia.


Tiba-tiba penyihir itu datang dengan raut wajah panik.


"Ada apa, tuan Lucas? Kenapa anda terlihat panik seperti itu?" tanya Felix.


"Dimana tuan putri?!" tanya penyihir itu.


"Tidakkah anda melihatnya? Tuan putri ada di sini, tuan Lucas," jawab pelayan itu.


Penyihir itu mendekati Athanasia dan menyentuh kepalanya. "Bodoh. Dia bukanlah tuan putri!"


"Apa yang anda maksud?" tanya Anastasius.


"Ini doppelganger," jawab penyihir itu.


"Doppelganger?"


"Iya. Tuan putri yang ada di hadapan kalian saat ini adalah tiruan yang dibuat oleh sihir pemiliknya," jelasnya.


"Pantas saja saya merasa ada yang berbeda dari aura tuan putri," celetuk Felix.


"Lalu dimana Athanasia?!" tanyaku khawatir. Pasalnya Diana memintaku untuk menjaga Athanasia tapi saat ini aku malah kehilangan Athanasia.


"Jangan-jangan...tuan putri ada di istana?!"


"Aku akan ke istana sekarang," ucapku.


Felix langsung menahanku. "Tunggu yang mulia, berbahaya kalau anda ke istana sekarang."

__ADS_1


"Biar saya saja yang mencari tuan putri, yang mulia. Anda tetaplah di sini bersama yang lain," ujar penyihir itu.


Penyihir itu pun pergi.


__ADS_2