Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
2


__ADS_3

Aku pergi ke taman dan menangis. "Bagaimana bisa yang mulia mengatakan hal kejam seperti itu? Aku harus bertahan demi bayi ini, aku tidak mau bayi ini bernasib sama dengan yang di novel."


"Bagaimana? Apakah kau sudah membacanya sampai habis?" tanya seseorang.


Aku menoleh ke arah sumber suara. " Tuan Lucas?!"


"Sepertinya kau sudah membacanya sampai habis. Jangan panggil aku tuan, panggil saja Lucas. Aku tidak suka dengan sebutan tuan."


"Baiklah, Lucas."


"Jadi sudah percaya kalau aku pemimpin menara?"


Aku mengangguk.


"Lain kali bacalah hal yang lebih bermanfaat, bodoh!" ketusnya.


Aku kembali menangis. Lucas yang melihat itu kelabakan. "Hei hei jangan menangis. Sebenarnya kau tidak sebodoh itu kok, tapi tetap saja kau bodoh."


Aku menangis semakin kencang.


"I-iya iya kau tidak bodoh. Maka dari itu berhentilah menangis."


"Lucas, tolong bantulah aku," pintaku dengan memohon.


Dia segera menyetujuinya. "Iya iya, aku akan membantumu tapi berhentilah menangis."


"Benarkah?! Kau akan membantuku?"


Dia mengangguk. Aku menghentikan tangisku dan memeluknya. "Terima kasih, Lucas"


Lucas yang tiba-tiba dipeluk olehku pun terkejut. "Hei le-lepaskan!"


Aku melepaskan pelukannya dan terkekeh.


"Jadi aku harus melakukan apa?" tanya Lucas.


"Aku tidak tau. Bukankah kamu yang tau solusinya?"


"Ah jadi ini masih masalah yang kemarin?"


Aku mengangguk.


"Apa yang dilakukan orang-orang bodoh itu di menaraku? Mereka hanya makan gaji buta."


"Menaramu? Bukankah kau hanya pemimpin mereka?" tanyaku.


"Aku adalah pemimpin sekaligus pemilik menara sihir itu" jawabku.


"Tidak aku sangka kalau aku akan bertemu orang hebat sepertimu," gumamku.


"Anak inilah yang mengundang perhatianku," kata Lucas sambil menunjuk perutku


"Aku harap kau bisa berteman dengan anak ini nanti" kataku sambil terkekeh.


Lucas melihat ke arah lain. "Huh siapa juga yang mau berteman dengan anakmu."


Aku hanya terkekeh.


Tak terasa hari kelahiran Athanasia sebentar lagi. Semua orang gugup, apalagi Claude. Dia semakin sering menghindar dan menjauh dariku. Padahal harusnya dia lebih sering bersamaku karena kita tidak tau kapan anak ini akan lahir. Aku kesal dengannya yang selalu menjauhiku akhir-akhir ini. Aku pun menghampirinya ke ruang kerjanya.


Sesampainya di depan ruang kerja Claude, para penjaga memberi salam padaku. "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia."


Aku bertanya pada mereka. "Apakah yang mulia ada di dalam?"


"Iya, yang mulia permaisuri," jawab mereka.


"Tolong sampaikan padanya kalau aku ingin bertemu." Salah satu dari mereka masuk dan menyampaikan niatku. Tak lama kemudian dia keluar dan memberitahu kalau Claude sedang tidak mau menemui siapapun.


Aku yang kesal pun membuka pintunya dan masuk. "Hei Claude apakah kamu tidak peduli lagi dengan anakmu ini?!"


Claude menjawab tanpa melihat ke arahku."Sejak kapan aku peduli dengannya?"


Mendengar itu aku mengepalkan tangan. "Jadi reaksimu saat tau aku hamil itu hanya kebohongan?"


"Begitulah," jawabnya.


Aku pun menangis. "Kau jahat Claude!"


Claude langsung bangun dari tempat duduknya dan menghampiriku. "Di-diana berhentilah menangis."


Huh ternyata dia masih lemah dengan air mataku. Batinku.


Claude menghela nafasnya. "Oke oke aku minta maaf. Sejujurnya aku selalu menyayangi anak ini tapi anak ini akan merebut hidupmu."


"Makanya dengarkan penjelasanku dulu!"


"Apa yang perlu aku dengarkan? Paling hanya rengekanmu yang meminta agar aku memilih anak ini!"


"Bukan begitu Claude," sanggahku.


"Bukan gimana?! Kalau kamu tetap memaksaku untuk seperti itu, lebih baik aku mati saja daripada hidup di dunia ini tanpamu!" tegasnya.


Dadaku sakit mendengar itu. Aku pun memeluknya dan Claude membalas pelukanku. "Kumohon jangan memaksaku untuk melakukan itu, Diana."


"Claude, aku sudah menemukan solusinya. Aku bisa melahirkan anak kita dengan selamat."


Claude melepaskan pelukannya dan menatap mataku. "Solusi?"


Aku mengangguk. "Aku telah bertemu dengan pemilik menara sihir dan dia berjanji akan menolongku."


"Lucas? Bukankah Lucas telah mati beberapa tahun yang lalu? Apa kamu yakin kalau itu dia? Mungkin kamu berhalusinasi, Diana," ucapnya.


"Aku juga berpikir seperti itu tapi dia benar-benar masih hidup. Dia akan membantuku saat aku melahirkan anak ini," jawabku.


Claude meneteskan air mata. "Sungguh? Ja-jadi anak ini dan kamu bisa selamat?"


Aku tersenyum. "Tentu."


Claude kembali memelukku "Aku mencintaimu, Diana."


Mendengar itu, perasaanku menghangat. "Aku juga mencintaimu, Claude."


Tiba-tiba Felix masuk ke ruang kerja Claude. "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya membawa penyihir terhebat di dunia ini yang mulia."


Claude melepaskan pelukannya. "Bawa dia masuk."


Penyihir itu pun masuk. Betapa terkejutnya aku saat melihat penyihir itu. "Lucas?!"


"Lucas?" ucap Claude dan Felix barengan.


Aku mengangguk. "Iya. Ini adalah pemilik menara sihir yang aku maksud, Lucas. Bagaimana kamu bisa ada di sini?"


"Tiba-tiba saja si rambut merah ini menarikku," jawab Lucas sambil menunjuk Felix.


Felix langsung merasa bersalah. "Ah ma-maafkan saya tuan Lucas. Saya terlalu senang saat melihat anda."

__ADS_1


"Jadi apa solusi yang kamu pikirkan?" tanya Claude.


"Haruskah aku menjelaskannya? Merepotkan sekali. Kalian tinggal terima beres nanti, yang penting anak dan ibunya selamat, kan? Jadi tidak usah banyak bertanya" jawab Lucas.


"Kalau kau tidak memberitahu bagaimana bisa kami tau yang kau lakukan berbahaya atau tidak," sambung Claude.


Aku memegang tangan Claude. "Claude, tidak mungkin Lucas membahayakan aku."


"Kamu terlalu percaya padanya, Diana," tutur Claude.


"Tentu aku percaya padanya, karena dia temanku," jawabku.


Lucas terkekeh. "Temanmu? Kapan aku menganggapmu teman?"


Felix mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya kepada Lucas. "Jaga ucapan anda, tuan. Walaupun anda penyihir yang kami cari tapi tolong perhatikan sopan santun anda kepada yang mulia permaisuri."


"Felix, turunkan pedangmu sekarang!" perintahku.


Felix mengikuti perintahku, dia langsung menurunkan pedangnya.


"Tidak masalah kalau kau tidak menganggapku teman, tapi aku akan selalu menganggapmu sebagai temanku," ucapku.


"Terserah kau saja," balas Lucas.


"Felix, bawa penyihir ini keluar! Kita tidak membutuhkan dia!" perintah Claude.


Aku terkejut. "Apa maksudnya itu?! Kau bercanda, kan?"


"Seperti yang aku bilang, kita tidak membutuhkannya," jawab Claude.


Aku membelalak mendengar ucapannya. "Kau gila? Dia adalah orang yang bisa membantuku."


"Diana aku tidak suka dibantah. Sekarang semuanya keluar!" perintahnya.


Setelah hari itu Claude mengurung dirinya di kantor. Sudah beberapa hari ini aku tidak melihat Claude, dia benar-benar tidak pernah keluar dari kantornya. Bahkan untuk makan pun dia tidak keluar.


"Felix, apa yang sedang Claude lakukan sampai tidak pernah keluar dari kantornya itu?" tanyaku.


"Mungkin yang mulia sedang banyak kerjaan maka dari itu beliau tidak keluar dari kantornya walaupun sebentar," jawab Felix.


Dahiku mengkerut. "Apakah itu masuk akal? Dia bahkan tidak memperbolehkan aku untuk menemuinya."


"Yang mulia pasti punya alasan kenapa tidak ingin bertemu dengan anda. Mungkin yang mulia juga sedang mendinginkan pikirannya." balas Felix.


"Huh harusnya kita terus bersama karena kita tidak tau kapan anak ini lahir. Saat anak ini lahir kita tidak tau apakah nantinya aku akan selamat atau tidak."


Felix terkejut mendengarnya. "Apa yang anda bicarakan yang mulia permaisuri? Tentu saja anda akan selamat!"


"Tapi Lucas sudah diusir, padahal cuma dia satu-satunya harapan agar aku bisa melahirkan anak ini dengan selamat."


"Yang mulia pasti sudah memikirkan caranya, anda jangan khawatir."


"Begitukah? Aku ragu karena waktu itu dia mengusir Lucas dengan emosi."


"Siapa yang diusir?" tanya seseorang.


Aku menoleh ke arah sumber suara dan berteriak. "Lucas?!"


Lucas langsung menutup telinga yang seakan mau pecah. "Hei! Tidak usah teriak. Telingaku masih berfungsi dengan baik."


Aku memeluk Lucas. "Astaga kukira kau diusir dari istana."


Lucas tersenyum angkuh. "Diusir? Tidak ada yang bisa mengusirku."


"Ada apa yang mulia permaisuri? Apakah ada yang sakit?" tanya Felix khawatir.


"Ti-tidak, sepertinya bayi ini senang melihat Lucas makanya dia bereaksi," jawabku.


PRANGG!!! Lily menjatuhkan gelas dan berteriak. "Astaga yang mulia permaisuri, anda mengeluarkan darah."


"Darah?" Aku melihat ke bawah dan benar saja ternyata darah segar telah mengalir.


Lily langsung menghampiriku dan menahan tubuhku agar tidak jatuh. "Yang mulia permaisuri apa yang telah terjadi?"


"Nona Lily sebaiknya kita membawa yang mulia permaisuri ke kamarnya," usul Felix.


Lily mengangguk. Felix menggendong diriku ala bride style. "Maafkan ketidaksopanan saya yang mulia permaisuri."


Sebelum pergi aku menggenggam tangan Lucas. "Jangan pergi, Lucas."


Lucas menggenggam tanganku balik. "Pikirkan dirimu dulu bodoh!"


Aku hanya terkekeh mendengar makian Lucas. Setelah itu Felix bergegas membawaku ke kamar.


Nafasku memburu. Aku berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya tapi tidak pernah cukup. Seakan ada pintu yang menghalangi oksigen untuk masuk ke paru-paruku. Begitu sesak, sampai rasanya aku ingin menangis. "Felix, tolong panggilkan yang mulia. Aku sudah tidak kuat."


Felix menggeleng. "Tidak yang mulia permaisuri, anda pasti kuat! Yang mulia sedang dalam perjalanan kesini. Anda tau? Beliau langsung berlari seperti orang kesetanan saat mendengar kabar yang mulia permaisuri."


Lily hanya menangis dan menggenggam tanganku sekuat tenaga seakan tidak memperbolehkanku pergi kemana pun. "Yang mulia permaisuri, anda harus bertahan! Anda harus kuat demi yang mulia."


"Aku tidak kuat lagi," tuturku dengan nafas memburu.


BRAKK!!! Claude membuka pintu dengan kasar. Dia datang dengan penampilan yang berantakan. "DIANA."


Claude langsung menghampiriku dan menggenggam tanganku yang sebelahnya. "Diana, apa yang terjadi? Mengapa kau seperti ini?"


"Yang mulia...saya minta maaf," ucapku dengan lemah.


Claude menggeleng cepat. "Apa maksudmu minta maaf? Kau tidak salah apapun, justru aku yang minta maaf karena telah mengabaikanmu akhir-akhir ini. Aku janji tidak akan melakukannya lagi, tapi aku mohon bertahanlah."


Aku menggeleng. "Sa-saya sudah tidak kuat yang mulia."


"Berhenti berbicara omong kosong! Felix, cari penyihir itu sampai ketemu. Secepatnya!" perintah Claude.


Aku menggeleng. "Tidak. Tidak perlu memanggilnya."


"Diana, jangan berulah sekarang!"


"Tidak, yang mulia. Relakan saya pergi ya?"


"Tidak Diana! Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkanmu pergi."


"Baru saja kita bertemu tadi dan sekarang kau terlihat seperti orang yang sudah mau mati," ucap seseorang.


"Tuan penyihir?!"


Claude menghampiri Lucas dan memegang pundaknya. "Hei penyihir, tolong selamatkan istriku. Aku akan melakukan apapun asal istriku selamat."


Lucas menepis tangan Claude. "Bagaimana dengan bayinya?"


Claude terdiam sejenak. "Tolong selamatkan juga bayinya jika memungkinkan."


Lucas mengangkat sebelah alisnya. "Bukankah sebelumnya kau tidak menginginkan bayi itu?"


"Aku bukannya tidak menginginkan bayi itu, hanya saja aku terlalu khawatir dengan Diana tapi saat ini ada kau jadi aku percayakan mereka padamu," jawab Claude.

__ADS_1


"Coba kau berpikir seperti itu dari dulu, insiden ini tidak akan terjadi," balas Lucas.


Lucas menghampiriku. "Bertahanlah bodoh, aku akan membantumu."


Lily bersujud di hadapan Lucas. "Tuan penyihir, tolong selamatkan yang mulia permaisuri dan bayinya."


"Iya, aku akan berusaha. Sekarang semuanya keluar!" perintah Lucas.


"Aku tidak akan keluar!" tolak Claude.


"Yang mulia tolong menurutlah. Hei rambut merah, bawa tuanmu itu keluar!" perintah Lucas pada Felix.


Felix memohon agar Claude mau menunggu di luar.


"Tidak Felix, aku harus menemani Diana," tolak Claude.


"Yang mulia, yang mulia permaisuri sudah ditangan yang tepat. Percayakan saja padanya." Akhirnya dengan segala keberanian Felix pun memaksa Claude keluar. Dia rela kalau setelah ini dia akan dibunuh atau semacamnya oleh tuannya ini tapi yang pasti yang mulia permaisurinya lebih penting sekarang.


"Lucas," panggilku dengan suara yang sangat lemah.


Lucas menghampiriku. "Jangan banyak berbicara. Simpan tenagamu."


"Jangan membuang-buang energi hanya untuk menyelamatkanku."


"Sudahlah, kalau aku tidak menyelamatkanmu kerajaan ini akan hancur. Kau tidak dengar, suamimu berteriak seperti orang kesetanan di luar."


"Aku tidak kuat lagi Lucas. Selamatkan saja bayinya."


"Lalu kau ingin mati begitu saja? Bukankah kau bilang kalau aku temanmu? Kau mau meninggalkan temanmu ini begitu saja setelah dia telah nyaman padamu?" tanyanya beruntun.


"Bu-bukan begitu," jawabku.


"Percayalah padaku, aku pasti akan menyelamatkanmu dan bayimu." Aku hanya mengangguk.


Lucas mulai menyembuhkan aku dengan kekuatannya. Tak lama setelah itu keadaanku mulai membaik. "Terima kasih, Lucas. Aku merasa lebih baik sekarang."


"Setelah ini aku akan membantumu untuk melahirkan bayimu. Kau harus bertahan karena rasanya akan sangat sakit."


Aku mengangguk.


"Sekarang istirahatlah dulu, 30 menit lagi aku akan ke sini."


Aku menahan tangan Lucas. "Kau mau kemana?"


"Aku hanya akan pergi sebentar, ada sesuatu yang harus kucari."


"Tidak bisakah menyuruh orang lain yang mencarinya?"


"Siapa yang bisa aku suruh? Para orang bodoh di menaraku itu? Mereka tidak akan bisa menemukannya."


"Felix, mintalah Felix untuk mencarinya."


"Si rambut merah itu juga tidak akan bisa menemukannya. Sudahlah kau tenang saja, aku akan kembali secepatnya."


"Bukan begitu, aku hanya khawatir padamu. Kau baru saja menggunakan kekuatanmu, pasti sangat melelahkan."


"Hei apakah kau lupa? Aku ini kuat."


Aku terkekeh mendengarnya. "Kembalilah secepatnya, Lucas."


Lucas mengangguk.


Saat Lucas keluar dari kamar Diana, Claude langsung menghampirinya. "Bagaimana keadaan Diana?"


"Saat ini kondisinya sudah lebih stabil tapi dia masih harus istirahat karena dia akan melahirkan bayinya sekarang. Berbicaralah pada istrimu, jangan buat emosinya tidak stabil," jawabnya.


Felix mendekati keduanya. "Maaf tuan penyihir, anda mau kemana?"


"Aku ada urusan sebentar dan akan kembali lagi 30 menit," jawab Lucas.


Lily yang hendak masuk ke kamar Diana langsung ditahan oleh Felix. "Beri waktu untuk yang mulia dan yang mulia permaisuri berbicara."


Lily mengangguk.


Claude masuk ke kamar Diana. "Diana."


"Claude?"


"Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?" tanya Claude sambil memberikan sihir penyembuh.


Dia tau bahwa ini tidak berguna tapi setidaknya dia ingin membantu meringankan rasa sakit istrinya itu.


"Aku baik-baik saja, Claude."


"Benarkah?"


"Tentu. Aku tidak pernah berbohong padamu, kan?"


"Iya."


"Oh iya Claude, apakah kamu sekarang sudah menginginkannya?"


"Menginginkan siapa?"


"Bayi kita."


Claude menghela nafas. "Aku selalu menginginkan bayi kita hanya saja aku sempat dibutakan oleh rasa khawatir saat tau kalau bayi ini bisa saja mengambil nyawamu."


"Claude, itulah yang dinamakan perjuangan seorang ibu."


"Aku tau. Maaf, Diana. Tapi aku tetap ingin membesarkan bayi ini bersamamu. Bertahanlah demi aku dan bayi kita ya?"


Aku mengangguk. "Tentu, aku akan bertahan. Tapi kalau seandainya aku tetap tidak bisa, tolong cintai anak ini seperti kau mencintaiku ya?"


Dengan berat hati, Claude pun mengangguk. "Tentu sayang."


Claude terus menemaniku sampai Lucas datang. Dia terus berbicara tentang apa yang akan dia lakukan saat anak ini telah lahir. Aku senang mendengarnya, dari ceritanya aku jadi tau kalau ternyata Claude sangat menyayangi anak ini. Sesuai di novel kalau Claude sangat menyayangi Athanasia tapi karena kematian Diana, dia menjadi gelap mata dan membenci Athanasia. Tapi kali ini aku akan bertahan, aku tidak ingin Athanasia dibenci seperti di novel.


Lucas pun datang. "Baiklah mari kita mulai persalinannya. Kau tunggulah di luar."


Claude menolak. "Tidak. Mengapa aku tidak bisa menemani istriku melahirkan?"


"Kau hanya akan menggangu. Lagi pula ini bukan persalinan biasa, kau akan terluka kalau ikut dalam prosesnya," jelas Lucas.


"Tidak masalah," jawab Claude.


" Itu akan sangat merepotkan. Jadi keluarlah!" perintah Lucas.


Aku memegang tangan Claude. "Tunggulah di luar bersama Felix dan Lily. Aku akan baik-baik saja."


"Berjanjilah untuk bertahan, Diana."


Aku mengangguk. "Tentu Claude."


Dengan berat hati Claude keluar dari kamarku.

__ADS_1


__ADS_2