
"Erez."
"Apa?"
"Apakah sihir hitam itu memiliki wujud manusianya?"
"Tentu, tapi karena tubuh manusianya sudah mati jadi dia berkeliaran dalam bentuk bayangan hitam."
"Apa tubuh manusianya bernama Aeternitas?"
Erez terkejut. "Bagaimana kau tau itu?!"
"Kau benar, jiwaku bukan berasal dari sini. Aku adalah pegawai kantor di dunia ku yang lain. Setiap pulang dari kantor, aku selalu membaca novel yang berjudul the lovely princess dan entah bagaimana aku mati. Tapi dewa itu memberiku kesempatan hidup dan aku hidup kembali sebagai Diana, karakter yang ada di novel itu. Jadi yang ingin aku sampaikan adalah aku tau semua karakter yang ada di sini, kecuali kamu. Kamu tidak ada di novel itu Erez," jelasku.
"Kamu melewatkan satu hal yang penting, Diana."
"Apa?"
"Dewa itu sudah memberitahumu kalau dunia ini bukanlah dunia novel yang kamu baca itu. Orang-orang di sini mungkin kebetulan memiliki nama dan sifat yang sama sesuai dengan novel yang kamu baca itu sehingga kamu selalu beranggapan kalau kamu masuk ke dunia novel tapi itu tidak benar sama sekali."
"Iya, aku tau. Tapi Erez, kalau seandainya semua karakter sesuai dengan yang di novel maka aku tau masa lalu dari Aeternitas. Ayo kita kalahkan dia."
"Tunggu dulu, nona. Mengetahui masa lalunya hanyalah sebagian dari rencana. Kamu tetap harus memulihkan manamu," larangnya.
"Berapa lama lagi manaku akan pulih?"
"Sebentar lagi. Bersabarlah."
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama. Aeternitas akan menemukan wadahnya saat aku sedang bersantai seperti ini."
"Kau tidak sedang bersantai dan Aeternitas telah menemukan wadahnya."
"Siapa?"
"Keponakanmu."
Aku sangat terkejut mendengarnya. "Zenith?!"
Erez mengangguk. "Keponakanmu merupakan keturunan keluarga kerajaan yang artinya dia memiliki mana yang sangat besar."
"Tapi Athanasia juga memiliki mana yang sangat besar."
"Kamu benar. Tapi mereka berdua berbeda, Diana. Athanasia hidup tanpa memiliki rasa iri dan cemburu pada siapapun, berbeda dengan Zenith. Zenith tumbuh dengan memiliki perasaan iri, cemburu, dan pendendam," jelasnya.
"Zenith adalah anak yang baik! Bagaimana mungkin dia memiliki perasaan seperti itu?!" tanyaku tak percaya.
"Awalnya perasaan yang Zenith miliki hanyalah rasa iri dan cemburu pada sepupunya tapi karena pengendalian dirinya rendah maka dia dengan mudah dihasut oleh Aeternitas sehingga Aeternitas dengan mudah mengendalikan hati dan pikiran Zenith dan dia juga dengan mudah mengambil alih tubuh Zenith," jawab Erez panjang.
"Tapi kenapa aku bisa mengeluarkan sihir hitam itu dengan mudah dari tubuh Zenith beberapa tahun yang lalu?"
"Karena saat itu emosi Zenith belum terlalu besar dan Aeternitas belum melakukan pencocokan dengan tubuh Zenith. Tapi kali ini berbeda, emosi Zenith lebih besar dari sebelumnya."
"Sebenarnya apa hubungannya Aeternitas dengan emosi yang dimiliki Zenith?"
"Aeternitas adalah pengguna sihir hitam dimana setiap orang yang menggunakan sihir hitam pasti memiliki emosi jahat dihatinya. Saat tubuhnya mati maka jiwa si pemakai sihir hitam ini akan mencari tubuh baru yang memiliki emosi serupa dengannya. Itulah mengapa Aeternitas mengincar Zenith dibandingkan Athanasia."
"Ta—"
"Cukup. Kau terlalu banyak bertanya. Sekarang istirahatlah!" perintahnya.
"Baiklah."
Saat aku hendak pergi ke kamar, aku melihat sebuah koran di atas meja. "Koran? Sejak kapan di sini ada koran?"
"Ah itu, aku membelinya dari seorang anak tadi. Buang saja, koran itu tidak berguna."
"Lalu untuk apa kau membelinya?" tanyaku.
"Aku hanya kasihan dengan anak itu," jawabnya.
Aku terkekeh. "Jadi kamu punya hati nurani juga?"
"Diamlah!"
Aku tertawa. "Hahaha oke oke, aku boleh baca koran ini, kan?"
"Baca saja."
Aku pun mulai membacanya. Betapa terkejutnya aku saat melihat berita tentang kerajaan. "Pesta debutantenya dihentikan?! Bagaimana bisa?"
Melihat reaksi terkejutku, Erez pun menjadi penasaran. "Ada apa?"
"Pesta debutante Athanasia dihentikan."
"Apa lagi yang tertulis di situ?"
"Tidak ada."
__ADS_1
"Siapa yang menulis koran ini? Kenapa memberikan informasinya setengah-setengah seperti ini?!" tanyanya geram.
"Ini adalah hal yang wajar, Erez. Sulit mendapatkan informasi yang berhubungan dengan istana."
"Sekarang bagaimana kita bisa tau alasan acara itu dihentikan?!" tanya Erez panik.
"Kenapa kau peduli dengan ini?" Aku heran kenapa Erez begitu peduli dengan ini.
"Kau bodoh?! Tentu saja keponakanmu ada di istana, aku khawatir kalau Aeternitas mulai bertindak," kesal Erez.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana Erez? Aku khawatir dengan mereka."
"Aku akan pergi ke istana dan mencari tau. Kau tunggulah di sini."
"Aku ikut, Erez," pintaku.
Tapi Erez melarang. "Tidak, Diana. Di sana berbahaya."
"Berbahaya apa? Istana adalah tempat tinggalku."
"Kamu bisa ketahuan kalau ikut."
"Ada kamu. Tenang saja, aku akan tetap diam dan tidak kemana-mana. Lagi pula aku tau pintu masuk rahasia."
Erez terdiam cukup lama dan akhirnya dia mengizinkanku untuk ikut. "Baiklah tapi janji untuk tetap berada di dekatku oke? Jangan berkeliaran kemana-mana!"
Aku mengangguk cepat."Iya, aku janji."
"Yaudah ayo, jangan lupa pakai jubahmu!"
Aku memakai jubahku dan menutupi kepalaku. Aku dan Erez menggunakan sihir teleportasi untuk pergi ke istana supaya lebih cepat.
Dalam hitungan detik, aku dan Erez sampai di istana.
"Oke dimana pintu rahasianya?" tanya Erez.
"Sabar. Aku sedang mencarinya."
Mata Erez membelalak. "Mencarinya?! Bukankah tadi kamu bilang kalau kamu tau pintu rahasianya?"
"Sssttt Erez, kamu terlalu berisik! Aku tau pintu rahasianya tapi waktu itu ditutup oleh Lucas jadi cukup sulit untuk menemukannya sekarang," jelasku.
"Cepatlah, kita tidak bisa berlama-lama di sini . Kita akan ketahuan!" desaknya.
"Aku tau."
"Kecil sekali pintunya."
"Namanya juga pintu rahasia. Kalau terlalu besar, orang-orang pasti dapat menemukannya dengan mudah."
"Mana cukup untuk kita berdua."
"Cukup. Kamu masuk duluan, baru aku."
"Ta—"
"Tidak ada tapi tapi! Kamu yang bilang sendiri kalau kita tidak punya waktu banyak jadi cepatlah masuk!"
"Setelah aku masuk, kamu juga harus segera masuk. Jangan coba-coba untuk berkeliaran!" peringatnya.
"Iya."
Erez pun masuk dan kemudian aku menyusulnya. "Lihat. Aku tidak kabur, kan?"
"Cepat kita masuk ke istana dan mencari informasi."
"Iya iya. Dasar tidak sabaran."
Aku dan Erez bergegas masuk ke istana.
"Omong-omong kemana kita akan pergi?" tanyaku.
"Ke ruangan raja itu," jawabnya.
Mendengar itu, aku langsung mengehentikan langkahku. "Kau gila?! Kita tidak akan bisa masuk ke sana. Ruangan Claude adalah ruangan paling sulit untuk dimasukin."
Erez juga menghentikan langkahnya. "Lalu bagaimana?"
"Kau bertanya padaku?!"
"Iya, karena rencana yang aku punya hanya itu."
Aku memijat pelipisku. "Erez, aku tidak tau kamu ini pintar atau bodoh."
"Tentu saja aku pintar."
"Kenapa kamu tidak membuat rencana lain hah?!"
__ADS_1
"Aku tidak tau kalau akan ada kejadian seperti ini," jawabnya santai.
"Itulah mengapa aku bingung denganmu."
"Lalu kita harus bagaimana? Tidak mungkin kita pulang tanpa mendapatkan informasi apapun."
"Biarkan aku berpikir sebentar."
"Terlalu lama, Diana."
"Lalu apa kau memiliki rencana lain hah?!" tanyaku kesal.
Erez menggeleng.
"Kalau begitu berikan aku waktu sebentar untuk berpikir." Erez pun diam.
Aku terus berpikir sampai akhirnya mendapatkan sebuah ide. "Aku tau!"
"Apa?"
"Aku akan berpura-pura menjadi pelayan dan masuk ke dapur."
"Hah? Untuk apa kau ke dapur? Tolonglah, ini bukan waktu yang tepat untuk mencari makanan." Aku yang sudah sangat kesal dengan Erez pun memukul kepalanya itu.
Erez mengaduh kesakitan. "Arghhh kenapa kau memukulku hah?!"
"Erez, tolong jangan bodoh di saat seperti sekarang!" kesalku.
"Pertanyaan aku tidak salah. Kenapa kau mencari informasi di dapur? Dapur adalah tempat untuk mencari makanan bukan informasi."
"Kamu tidak salah Erez, hanya pengetahuanmu yang kurang. Pelayan adalah orang yang bekerja di istana."
"Jadi?"
"Kalau hanya untuk mengetahui keadaan istana, pastinya para pelayan mengetahuinya. Jadi pilihan yang tepat untuk sekarang adalah pergi ke dapur."
"Tapi bukankah akan mencurigakan kalau kau bertanya tentang keadaan istana?"
"Iya, tapi aku tidak perlu menanyakannya karena kalau ada hal mengejutkan yang terjadi di istana pasti para pelayan itu akan bergosip dan aku bisa dengan mudah mendapatkan informasi."
"Hmm itu bagus. Tapi Diana, bagaimana kamu menyamar sebagai pelayan? Sedangkan warna rambutmu itu sangat mencolok."
"Aku tinggal mengubahnya dengan sihir. Itu bukanlah hal yang sulit," balasku santai.
"Kau bisa?"
"Iya, emangnya kamu tidak bisa?"
Dia menggeleng. "Tidak. Aku bahkan baru tau ada sihir seperti itu."
"Sebenarnya sihir apa yang kau pelajari selama ini?"
"Yang pasti bukan sihir tidak penting seperti itu," jawabnya menyebalkan.
Lagi, aku memukul kepala Erez. "Tidak penting katamu?! Berkat sihir ini, kita bisa mendapatkan informasi tanpa ketauan."
Erez langsung memegang kepalanya. "Kenapa kau selalu memukul kepalaku?! Bagaimana kalau aku jadi bodoh?"
"Kau memang sudah bodoh."
Erez yang ingin mengomel lagi langsung aku hentikan. "Lebih baik kamu sembunyi sekarang karena aku akan mulai menyamar."
"Dimana aku harus bersembunyi? Aku tidak tau banyak tentang istana ini."
"Bersembunyilah di taman pribadiku. Tidak akan ada orang lewat di sana karena tempat itu tidak bisa di datangi oleh sembarang orang. Tapi kamu harus tetap waspada."
"Keren juga kamu punya istana pribadi."
"Hahaha Claude sangat menyayangiku jadi tentu saja dia akan membuatkan apa saja yang aku suka."
"Yang Claude cintai adalah Diana, bukan Park Bomi."
Mendengar itu, moodku menjadi jelek.
"Haruskah kau mengatakan itu sekarang? Kau merusak moodku."
Erez mengernyitkan dahinya. "Mood? Bahasa apa itu?"
"Ah itu bahasa dari dunia asalku yang artinya perasaan. Udah cepat pergi sana!" perintahku.
"Iya iya." Saat ingin pergi, Erez menahan lenganku.
"Ada apa lagi?"
"Aku tidak tau dimana taman pribadi milikmu."
Aku menepuk dahiku. "Ah iya aku lupa. Aku akan mengirimmu ke sana."
__ADS_1
Aku pun menggunakan sihir teleportasi dan mengirim Erez ke taman pribadi milikku. Setelah itu aku langsung mengubah warna rambutku dan memakai pakaian pelayan. Lalu aku pergi ke dapur.