
***POV DIANA***
Saat ini aku dan Zenith masih mencari keberadaan sihir hitam itu di istana tapi kita masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan sihir hitam itu.
"Hampir semua tempat di istana sudah kita telusuri tapi sihir hitam itu masih belum ketemu," keluh Zenith.
Aku mengangguk. "Iya, bibi juga bingung harus kemana lagi untuk mencarinya."
"Yang belum kita telusuri tinggal taman pribadi milik bibi."
"Iya. Ayo kita ke sana."
Aku dan Zenith pergi ke taman pribadi milikku. Tapi tetap saja kami tidak menemukan sihir hitam itu di sini. Akhirnya aku dan Zenith memutuskan untuk mencari lagi di tempat lain. Saat hendak pergi dari sana, seseorang memanggilku. "Ibu."
Aku menoleh ke belakang. "Athanasia? Kenapa kamu ada di sini? Bukankah ibu sudah bilang untuk tetap di sana bersama ayahmu?!"
"Tenanglah ibu, Athy hanya ingin membantu saja," jawab Athanasia santai.
"Tidak Athanasia, di sini berbahaya. Kembalilah ke tempat ayahmu berada!" perintahku pada Athanasia.
"Kenapa hanya aku yang disuruh untuk kembali ke sana? Bagaimana dengan Zenith? Kenapa ibu tidak menyuruhnya untuk ke sana juga?" tanya Athanasia.
"Zenith adalah seseorang yang disenangi oleh sihir hitam itu jadi mungkin saja kita bisa menemukannya dengan cepat," jawabku.
"Bukankah itu malah akan membahayakan Zenith? Sihir hitam itu bisa saja masuk lagi ke tubuh Zenith dan menguasainya lagi," balasnya.
"Ibu bersamanya jadi tidak berbahaya karena ibu akan melindunginya."
"Aku juga bersama ibu, jadi ibu juga bisa melindungiku."
"Itu berbeda, Athanasia."
"Berbeda kenapa ibu? Ibu hanya tinggal melindungiku juga atau jangan-jangan ibu tidak mau melindungiku? Maka dari itu ibu menyuruhku untuk kembali ke sana?"
"Ada apa denganmu, Athanasia? Jangan kerasa kepala seperti ini!" ucapku yang mulai kesal karena Athanasia tidak mau mendengarkanku.
"Apa ini? Ibu meninggikan nada bicara ibu padaku?"
"Ibu tidak bermaksud seperti itu, Athanasia. Dengarkan ibu, sekarang kamu kembali ke ayahmu ya?" ucapku berusaha membujuknya.
Aku bingung kenapa Athanasia sangat keras kepala saat ini? Tidak biasanya dia seperti ini.
"Yang bibi Diana katakan itu benar, Athy. Berbahaya untukmu kalau tetap di sini," ucap Zenith berusaha ikut membujuk.
"Diamlah, Zenith! Jangan sok hebat kamu karena tidak disuruh pergi oleh ibu. Asal kamu tau aja ya, aku itu lebih hebat darimu. Aku mendapatkan kelas sihir secara resmi, tidak sepertimu!"
"ATHANASIA KAMU SUDAH KETERLALUAN PADA ZENITH!" bentakku.
Aku yang sadar telah membentak Athanasia langsung meminta maaf. "Ma-maafkan ibu, Athanasia. Ibu tidak bermaksud membentakmu."
Bukannya marah atau menangis, Athanasia malah tertawa. "Hahaha aku sudah merasakan saat ibu kembali ke istana."
"Apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti.
"Ibu lebih sayang pada Zenith. Ibu selalu memikirkan Zenith setelah kembali ke istana dan mengabaikanku," jawabnya.
"Ibu memikirkan bagaimana caranya melepas sihir hitam itu dari tubuhnya."
Athanasia terus saja mengatakan kalau aku tidak menyayanginya. Saat aku sedang kebingungan, tiba-tiba Lucas datang.
"Lucas? Kenapa kamu ke sini?" tanyaku.
"Diana, putrimu melarikan diri," ucap Lucas.
"Aku tau, Lucas. Sekarang Athanasia ada di sini tapi aku bingung karena tingkahnya sangatlah aneh."
Erez pun datang dengan nafas memburu. "Diana, aku melupakan suatu hal yang penting."
"Apa itu?"
"Perasaan yang dimiliki Aeternitas tidak hanya perasaan benci dan iri tapi dia juga memiliki perasaan dendam."
__ADS_1
"Dendam? Kepada siapa?"
"Kepada Lucas. Dia akan menyakiti seseorang yang disayangi dan dilindungi oleh Lucas."
"Tapi Diana baik-baik saja. Kau pasti salah informasi," ujar Lucas.
"Lucas? Kenapa kau ada di sini?" tanya Erez yang bingung melihat Lucas.
"Tuan putri kabur dari tempat evakuasi dan ternyata beliau ada di sini," jawab Lucas.
"Iya, tapi tingkah Athanasia sangat aneh, Erez. Aku tidak tau apa yang terjadi dengannya," aduku.
Erez melihat ke arah Athanasia. "Lucas, aku tidak mungkin salah informasi. Yang aku ucapkan itu selalu benar."
Lucas bingung mendengar perkataan Erez. "Hah?"
"Kamu mungkin tidak menyayangi Athanasia tapi kamu melindunginya."
"Tentu saja aku melindunginya karena dia adalah keluarga kerajaan."
Aku yang mulai mengerti arah pembicaraan Erez pun bertanya. "Tunggu, jadi maksudmu Aeternitas ada di dalam tubuh Athanasia sekarang?"
"Benar."
"Tapi aku tidak merasakan aura sihir hitam itu di tubuh Athanasia."
"Aura sihir hitam itu tertutup oleh aura mana putrimu, Diana. Itulah sebabnya kamu tidak bisa merasakannya."
"Hahaha hebat juga kamu bisa menyadarinya penyihir kuning," ucap Athanasia.
"Hei aku punya nama! Namaku Erez, penyihir menara yang sangat hebat."
"Aku tidak peduli."
"Aeternitas, keluarlah dari tubuh putriku sekarang!" perintahku.
"Jangan bercanda. Aku suka tubuh ini karena memiliki mana yang melimpah."
"Keluarlah dari tubuh Athy, sihir jahat!" ucap Zenith.
"Kenapa kamu masuk ke tubuh Athy?!"
Karena tubuhnya memiliki mana yang lebih banyak darimu. Walaupun memasuki tubuhnya tidak semudah memasuki tubuhmu tapi akhirnya aku berhasil."
"Apa yang kamu inginkan?" tanyaku.
"Aku ingin membalaskan dendam ku pada penyihir sombong itu," jawabnya sambil menunjuk ke arah Lucas.
Lucas menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Iya. Akhirnya setelah sekian lama aku bisa membalaskan dendam padamu."
"Bagaimana kamu membalaskan dendam padaku? Apakah kamu akan menyerangku dengan tubuh tuan putri dan menggunakan kekuatan miliknya? Hahaha berarti kamu mengakui kalau dirimu lemah karena menggunakan tubuh seorang perempuan untuk menyerang aku," ucap Lucas sombong.
"Oh tentu tidak. Aku akan menyakiti dan menghancurkan tubuh ini secara perlahan di hadapanmu."
"Kau kira aku peduli huh?" balas Lucas acuh.
"Mungkin kau tidak peduli tapi wanita yang kau sayangi itu peduli dengan gadis ini." Lucas terkejut mendengar perkataan Aeternitas.
Lucas menoleh ke arahku dan memperhatikan raut wajahku tapi hanya ada ketenangan di raut wajahku.
"Diana, aku akan menyelamatkan tuan putri. Kamu tenang saja oke?" ucap Lucas padaku.
"Tidak apa-apa, Lucas. Kamu tidak perlu melakukan apapun karena aku sendiri yang akan menyelamatkan Athanasia."
"Ta—"
"Kamu tetap di sini dan jaga Zenith. Jangan sampai Aeternitas masuk ke dalam tubuh Zenith lagi." ucapku sambil menyerahkan Zenith pada Lucas.
"Bibi, hati-hati," ucap Zenith.
__ADS_1
Aku mengelus kepala Zenith. "Iya sayang. Kamu tetap di sini bersama Lucas ya? Jangan pergi jauh dari sisinya."
Zenith mengangguk. "Iya bibi."
Aku mendekat ke arah Athanasia.
Athanasia melangkah mundur secara perlahan. "Apa yang mau kamu lakukan? Jangan mendekat atau aku akan menyakiti tubuh putrimu!"
Aku terus melangkah maju dan aku pun memeluknya. Dia terkejut dengan tindakan yang aku lakukan.
"Lepaskan semua penyakit hati itu, Aeternitas. Jangan terus memendam rasa iri, cemburu, dan benci pada seseorang. Itu hanya akan menyakitimu saja."
"Tidak akan! Sangat sakit bagiku kalau mengingat apa yang telah Lucas lakukan padaku."
"Tapi lebih sakit lagi kalau kamu terus memendamnya. Percaya padaku, memaafkan seseorang tidaklah seburuk itu. Aku janji."
"Lucas akan menghinaku kalau aku memaafkannya."
"Kenapa juga dia menghinamu?"
"Dia akan menganggap aku lemah kalau aku memaafkannya."
"Hei aku tidak berpikir seperti itu," kata Lucas dari jauh.
"Lihat? Lucas saja tidak berpikir seperti itu. Itu semua hanyalah pikiran buruk yang diciptakan olehmu sendiri."
"Lagi pula aku juga tidak peduli kamu akan memaafkan aku atau tidak karena aku tidak membutuhkannya," sambung Lucas.
"Lucas!" omelku.
"Penyihir itu masih saja sombong!" Aku merasakan kalau emosi Aeternitas naik lagi.
"Hei hei tenanglah. Jangan dengarkan ucapan dia itu. Aku akui kalau Lucas memang sombong dan arogan tapi dibalik itu semua dia adalah orang yang baik."
"Dia hanya bersikap baik kepada orang yang berguna menurutnya."
Buntu. Aku sudah tidak tau lagi bagaimana harus membujuk Aeternitas. Semakin membahas Lucas, emosi Aeternitas semakin naik.
Tiba-tiba Athanasia muntah darah. "I-ibu."
"Athanasia?"
"Ibu, cepat musnahkan sihir hitam ini. Aku sudah mengurungnya agar dia tidak bisa melarikan diri."
"Tidak, Athanasia! Lepaskan Aeternitas dari tubuhmu sekarang!" perintahku.
Tapi Athanasia membantahnya. "Tidak, ibu. Dia akan melarikan diri lagi kalau Athy melepaskannya."
"Dia tidak boleh berada di dalam tubuhmu, Athanasia!"
"Ughh susah sekali mengendalikan anak ini," ucap Athanasia yang sudah dikuasai lagi oleh Aeternitas.
"Keluarlah tubuh putriku, Aeternitas!" perintahku.
"Bukankah kamu dengar sendiri tadi? Putrimulah yang sengaja menahanku di tubuh ini," jawabnya.
Tiba-tiba Athanasia muntah darah lagi.
"Athanasia!" teriakku.
"Bodoh, aku masih Aeternitas."
"Aha ternyata kamu tidak bisa mencocokkan jiwamu dengan tubuh Athanasia, itu sebabnya kamu muntah darah," celetuk Erez.
"Berisik! Tutup mulutmu, penyihir jelek!"
"Hei sembarangan saja kalau bicara! Aku ini tampan tau," balas Erez tak terima.
"Kau sama sombongnya dengan Lucas. Sekalian saja aku habisi kamu." Aeternitas mulai menyerang Erez tapi satu pun serangan Aeternitas tidak ada yang berhasil mengenai Erez.
"Sudah mengambil tubuh dengan mana yang besar tapi masih saja lemah," hina Erez.
__ADS_1
Aeternitas mulai kesal. Dia mulai melayangkan serangannya tapi bukan ke Erez kali ini, melainkan ke Lucas. Untungnya Lucas dengan cepat menahan serangan itu tapi ternyata bukan Lucas yang dari awal dia incar, melainkan Zenith.
Saat Lucas sibuk menahan serangan itu, Aeternitas langsung masuk ke tubuh Zenith. Zenith yang lepas pengawasan dari Lucas pun dengan mudah dirasuki lagi oleh Aeternitas. Athanasia yang pingsan langsung aku tangkap tubuhnya sebelum terjatuh.