
Hari demi hari pun telah berlalu dan kondisi Diana masih sama. Para penyihir dari penjuru manapun tidak dapat mengatasinya bahkan ada beberapa dari mereka yang dengan berani mengatakan kalau permaisuri Obelia telah meninggal dan orang yang mengatakan itu berakhir dengan tragis dan mengenaskan. Beberapa pelayan dan ksatria telah beranggapan kalau permaisuri Obelia memang telah tiada tapi mereka menyimpannya dalam-dalam karena tidak mau berakhir mengenaskan seperti penyihir yang dengan berani mengatakan itu.
Di sinilah semua orang berada. Di kamar permaisuri Obelia. Athanasia terus menangis di sebelah ibunya. Athanasia memang menjadi sering menangis semenjak penyihir itu mengatakan kalau Diana telah tiada.
"Kapan ibu akan bangun?" tanya Athanasia yang masih menangis di sebelah Diana.
Zenith terus mengelus bahu Athanasia dan menenangkannya. "Athy, Zenith yakin bibi Diana akan bangun."
"Kapan? Ini sudah berbulan-bulan sejak saat itu. Kondisi ibu masih sama seperti ini. Apakah ibu benar-benar akan bangun?"
"Tentu saja! Aku percaya kalau bibi Diana akan bangun!" tegas Zenith.
"Tapi kapan Zenith?! Kondisi ibu kadang memburuk, tidak ada tanda-tanda ibu akan bangun."
"Tuan putri, tenangkan diri anda," ucap Felix.
"Ayah, kapan ibu bangun? Athy rindu pada ibu," tanya Athanasia pada ayahnya.
Claude hanya diam. Claude juga sering melamun akhir-akhir ini. Dia tidak banyak bicara pada siapapun. Dia benar-benar sangat kacau.
"Claude, apa mungkin..."
"JANGAN BICARA SEMBARANGAN ANASTASIUS!" bentak Claude.
"Tapi sampai kapan, Claude?!"
"Aku yakin dia akan bangun suatu saat nanti. Jadi jaga mulutmu!"
"Jangan terus menahannya. Lepaskanlah dia," sambung Anastasius.
"JANGAN BICARA SEPERTI ITU, AYAH!" bentak Zenith pada ayahnya.
Anastasius terkejut saat putrinya membentak dirinya. "Zenith?!"
"Zenith yakin kalau bibi Diana akan bangun. Bibi Diana telah berjanji pada Zenith kalau bibi Diana akan memperkenalkan Zenith sebagai keluarga kerajaan secara resmi. Bibi Diana juga berjanji akan membuat semua orang tidak meremehkan keluarga kita lagi. Jadi...jangan bicara seperti itu, ayah." Setelah mengatakan itu, Zenith pun menangis. Zenith emosi dengan ucapan ayahnya.
Penelope yang kasihan melihat putrinya itu, memeluk Zenith. "Oh putriku. Kemarilah, sayang."
"Ibu, bibi Diana pasti akan bangun."
"Iya, sayang. Diana pasti akan bangun dan berkumpul bersama kita lagi."
***POV DIANA***
Entah sudah berapa lama aku ada di sini dan ayah Aeternitas tidak kunjung datang.
"Kemana ayahmu?! Sampai kapan aku harus ada di sini?!" tanyaku kesal.
"Mana aku tau. Kau pikir aku juga mau ada di sini?!" jawab Aeternitas yang juga kesal.
Aku mengacak rambut frustasi. Aku merindukan keluarga kecilku, pelayanku, ksatriaku, dan penyihir-penyihirku.
"Kira-kira sedang apa mereka ya?" gumamku.
"Kau penasaran?" tanya seseorang.
Mendengar suara yang tidak dikenali, aku pun berteriak, "Suara siapa itu?!"
"Apa? Tidak ada suara apapun."
"Kamu tidak mendengarnya Aeternitas?"
"Mendengar apa sih? Kamu halusinasi."
"Tidak. Aku benar-benar mendengar ada suara seseorang."
"Kau menjadi gila karena sudah terlalu lama di sini."
Sepertinya yang dikatakan oleh Aeternitas benar. Lupakan sajalah.
"Diana." Suara itu muncul lagi.
"Aeternitas, suaranya muncul lagi. Kali ini benar-benar nyata dan terdengar sangat dekat."
"Apa yang kamu bicarakan sih?!"
"Aku di belakangmu," ucap suara itu lagi.
Aku menoleh ke belakang dan..."AAAAA." Aku berteriak karena terkejut.
Aeternitas langsung menutup telinganya. "Kenapa teriak-teriak sih?!"
"Di belakangmu, Aeternitas."
Aeternitas menoleh ke belakang dan dia sama terkejutnya denganku.
"Siapa kau?!" tanya Aeternitas
__ADS_1
Bukannya menjawab, orang itu malah balik bertanya, "Aku? Kira-kira siapa aku?"
"Jangan bercanda!" kesal Aeternitas
"Hmm Diana tau siapa aku," ujarnya.
Setelah aku perhatikan lagi, ternyata dia adalah dewa yang menemuiku saat pertama kali aku tiba di sini. "Kamu dewa yang itu, kan?!"
"Ternyata kamu masih mengingatku tapi cukup lama untuk menyadarinya ya."
"Dewa?" tanya Aeternitas bingung.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanyaku.
"Aku ingin mengucapkan selamat padamu, Diana," jawab dewa itu.
Aku mengernyitkan dahi. "Selamat?"
"Iya. Selamat karena telah berhasil menyelesaikan masalah besar yang terjadi."
"Sebenarnya masalah besar itu apa?"
"Kamu masih belum mengerti juga? Baiklah akan aku beri tau. Masalah besar yang akan menimpa Obelia adalah seseorang yang ada di sampingmu."
Aku memandang Aeternitas. "Aeternitas?"
"Iya."
"Aku masih tidak mengerti kenapa Aeternitas menjadi masalah besar."
"Biarkan aku menunjukkan sesuatu padamu. Pejamkan matamu, Diana!" perintahnya.
Aku mengikuti perkataannya dan memejamkan mataku.
"Sekarang buka matamu!" perintahnya lagi.
Saat membuka mata, suasana di sekitarku berbeda dari yang tadi. Tunggu, aku merasa dejavu dengan ini.
"Lihatlah sekitarmu, Diana." Aku memperhatikan sekitarku dan banyak orang yang menderita dan penyebab penderitaan semua orang ini adalah...Aeternitas. Aeternitas menghancurkan desa orang yang tak bersalah.
Tiba-tiba aku sudah berada di tempat awal.
"Bagaimana? Sekarang kamu sudah paham, Diana?" tanyanya.
"Hei, apa yang ditunjukkan olehnya?" tanya Aeternitas penasaran.
"Tapi itu telah terjadi, itu artinya aku terlambat."
"Tidak, Diana. Kamu tidak terlambat. Kamu berhasil menghentikannya sebelum yang lainnya mengalami hal yang sama."
"Tapi bagaimana dengan desa itu?"
"Kamu bisa menyelamatkan mereka semua dengan kemampuanmu dan pangkatmu sebagai permaisuri Obelia."
"Tidak. Aku tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa?"
"Aku terperangkap di sini dan tidak tau bagaimana caranya keluar."
"Astaga Diana sayang, ada aku di sini. Aku bisa membantumu keluar dari sini."
"Bagaimana dengan Aeternitas?"
Dewa itu melihat ke arah Aeternitas dan bertanya, "Dia? Kenapa dia belum pergi juga?"
"Aku tidak tau. Ayahnya berkata akan menunggunya di sini dan menjemputnya tapi dia tidak juga kunjung datang," jawabku.
"Aku tidak bisa membawa dua orang sekaligus," balasnya.
"Kalau begitu bawalah kami satu persatu," usulku.
"Sayangnya itu tidak bisa Diana. Aku mempunyai batas."
"Lalu bagaimana? Aku tidak mungkin meninggalkan Aeternitas sendirian di sini. Aku telah berjanji padanya untuk membantu dia bereinkarnasi."
"Maaf, hanya satu yang bisa aku bawa. Pilihlah, kamu atau dia." Aku bingung harus memilih siapa. Aku telah berjanji pada Aeternitas untuk membantunya bereinkarnasi tapi aku juga ingin pergi dari sini untuk menemui keluarga kecilku.
"Aku tidak apa-apa, Diana. Pilihlah dirimu sendiri," ucap Aeternitas.
"Mana mungkin aku melakukan itu."
"Tidak apa-apa, aku akan menunggu ayah di sini. Aku yakin ayah akan datang untuk menjemputku."
"Itu mustahil. Kita sudah menunggu ayahmu sangat lama di sini tapi dia tidak juga kunjung datang."
"Aku akan mencoba menunggunya lagi."
__ADS_1
"Bagaimana kalau ayahmu tidak akan pernah datang?"
"Maka aku akan di sini selamanya," jawabnya sambil terkekeh.
"Bagaimana Diana? Siapa yang akan kamu pilih? Saranku kamu ikuti saja kata Aeternitas. Lagi pula dia berbeda denganmu. Banyak orang menunggumu di sana sedangkan dia hanya akan sendirian di sini," ucap dewa itu.
"Itulah sebabnya aku tidak bisa meninggalkannya."
"Kenapa? Lagi pula dia sudah terbiasa sendirian."
"Aku semakin tidak bisa meninggalkannya kalau kamu berbicara seperti itu."
"Ada apa denganmu? Aeternitas adalah orang yang menyebabkan itu semua. Kenapa kamu masih berbaik hati padanya?" tanya dewa itu bingung.
"Aeternitas telah menyesali semua perbuatannya dan itu cukup untukku memaafkannya. Untuk kekacauan yang dia buat, akulah yang akan menyelesaikannya," jawabku.
"Berarti kamu memilih dirimu sendiri?"
"Tidak. Aku memilih Aeternitas."
Aeternitas terkejut. "Diana?!"
"Kenapa kamu memilihnya? Bukankah tadi kamu bilang semua kekacauan yang dia perbuat akan kamu selesaikan? Kalau kamu sendiri masih terjebak di sini lalu bagaimana caramu menyelesaikannya?" tanyanya bingung.
"Aku akan mencari cara lain untuk keluar dari sini," jawabku.
"Tapi tidak ada cara lain. Kalau ada pun pasti kamu sudah melakukannya."
"Kalau begitu aku akan menunggumu mendapatkan waktu lagi untuk mengeluarkanku dari sini."
"Waktu yang akan mereka berikan masih lama."
"Tidak apa-apa. Selama aku masih bisa keluar dari sini, itu cukup."
"Diana? Kamu tidak perlu seperti ini. Aku hanya seseorang yang sudah mati beberapa tahun lalu," ucap Aeternitas.
"Karena itu aku harus mengeluarkanmu dari sini supaya kamu bisa lahir kembali dan menemui keluarga baru. Aku sudah cukup merasakan cinta keluarga dan teman-teman maka dari itu aku memberikan kesempatan ini untukmu."
Dewa itu tiba-tiba saja tertawa. "Hahaha sangat mengharukan. Kamu lulus, Diana."
Dahiku mengkerut. "Lulus?"
"Aku hanya mengujimu tadi."
"Menguji? Untuk apa?"
"Kamu telah merasakan nikmat dunia dan aku ingin mengetahui apakah kamu akan berubah menjadi serakah atau kamu akan masih baik hati seperti saat kamu menjadi Park Bomi."
Park Bomi?! Jangan-jangan cara itu tidak berhasil karena aku salah menyebutkan nama? Tanyaku dalam hati.
"Karena kamu lolos maka aku akan membawa kalian berdua keluar dari sini."
"Jadi Aeternitas bisa lahir kembali dan aku bisa bertemu dengan keluargaku lagi?"
Dewa itu mengangguk. "Benar. Kita harus keluar dari sini sekarang."
"Tunggu dulu." Aeternitas menahan kami.
"Ada apa?" tanyaku.
"Bagaimana dengan ayahku?" tanya Aeternitas pada dewa itu.
"Ayahmu? Hahaha ayahmu tidak pernah ada Aeternitas. Dia telah lahir kembali," jawabnya.
"Lalu yang kulihat selama ini?"
"Itu hanyalah ilusi yang aku ciptakan."
"Jadi selama ini aku ditipu?"
"Benar tapi kamu hebat karena berhasil membuka hati untuk berubah dan inilah hasil dari sikapmu. Kamu mendapatkan kesempatan untuk lahir kembali."
"Hebat. Kita berhasil melakukan yang terbaik, Aeternitas," ucapku senang.
Aeternitas hanya mengangguk. Ah aku bisa melihat kekecewaannya dalam matanya.
"Sudah, kan? Kalau begitu ayo kita segera pergi dari sini. Soal waktuku yang terbatas itu bukan kebohongan jadi kita harus bergegas keluar dari tempat ini."
Aeternitas memandangku. "Terima kasih atas semuanya dan maafkan aku."
"Tidak masalah. Aku senang kau mau berubah dan menyesali semuanya."
"Aku titip para rakyatku padamu."
Aku mengangguk. "Tentu. Aku akan menjaga mereka dengan baik dan aku juga akan memperbaiki desa-desa yang telah hancur."
Kemudian kita keluar dari tempat tak berujung ini.
__ADS_1