Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
4


__ADS_3

Hari demi hari aku lalui bersama keluarga kecilku ini. Tak terasa besok Athanasia berusia satu tahun. Para pelayan sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun Athanasia, begitu juga dengan Claude. Seharian ini dia benar-benar sibuk mengurus hal itu karena dia ingin membuat pesta ulang tahun yang mewah. Padahal aku sudah bilang yang biasa saja tapi berhubung ini pesta ulang tahun pertama Athanasia dan sekaligus pertama kalinya Athanasia ditunjukkan kepada publik, itu lah mengapa Claude ingin membuat pesta terbesar yang pernah ada. Beberapa pejabat tinggi dan raja-raja dari kerajaan lain akan datang nantinya.


Di kamar.


Athanasia sedang bermain diatas ranjang dengan bonekanya. "Padahal besok pesta ulang tahunmu, tapi kenapa ibu yang sangat gugup ya?"


Athanasia hanya berceloteh menanggapi omonganku. Aku yang merasa gemas langsung menghujamnya dengan ciuman di pipi. "Aduh gemasnya. Anak siapa kamu? Anak ibu dong hehe."


Claude yang tiba-tiba datang pun ikut menyahut. "Anak aku juga."


Aku terkekeh. "Hehe iya anak ayah Claude juga."


Athanasia yang melihat kedatangan Claude langsung menghampirinya. Karena terlalu bersemangat menghampiri ayahnya, hampir saja Athanasia terjatuh dari ranjang yang cukup tinggi. Untung saja Claude bergerak sangat cepat jadinya Athanasia tidak terjatuh. Tapi karena terkejut, Athanasia menangis. Claude menggendongnya dan menepuk pantat Athanasia pelan. "Cup cup anak baik, iya iya ayah di sini. Tidak apa-apa, jangan menangis."


Aku langsung menghampiri mereka berdua. "Apakah Athanasia terluka?!"


"Tidak, aku sempat menangkapnya sebelum dia terjatuh. Mungkin dia terkejut makanya menangis," jawab Claude.


Aku lega mendengarnya. Aku mengelus punggung Athanasia. "Sudah jangan menangis lagi Athanasia. Bukankah besok hari ulang tahunmu? Nah ayo berhenti menangis"


Athanasia yang seperti mengerti ucapanku langsung berhenti menangis dan tertawa. Claude yang melihat itu ikut tertawa. "Sepertinya anak ini mengerti apa yang kau ucapkan"


"Iya, Athanasia anak pintar. Iya kan sayang?"


Athanasia merentangkan tangannya seolah ingin di gendong dan di peluk olehku. Aku mengambil Athanasia dari gendongan Claude.


Athanasia yang telah berada di gendonganku langsung memelukku dan menduselkan wajahnya di leherku.


Teng..teng...teng. Jam berbunyi yang menunjukkan kalau sudah tengah malam.


"Selamat ulang tahun putri ibu. Semoga Athanasia selalu sehat dan bahagia. Terima kasih telah lahir di rahim ibu." Aku mencium kening Athanasia dan memeluknya.


Claude memeluk kami berdua. "Selamat ulang tahun Athanasia. Tumbuhlah dengan sehat. Ayah akan selalu mengabulkan apapun yang kau inginkan karena ayah sangat menyayangimu."


Claude membuat kue dengan sihirnya. Lengkap dengan lilin dan tulisan selamat ulang tahun. "Nah Athanasia, ayo tiup lilinnya," ucap Claude mengarahkan kuenya ke arah Athanasia.


Athanasia mengerucutkan bibirnya dan berusaha meniupnya. Tapi bukannya udara yang keluar dari mulutnya itu malah air liur yang keluar.


Aku dan Claude tertawa menyaksikan itu. Kami pun membantu Athanasia meniup lilinnya sebelum kamar ini banjir air liur Athanasia. Setelah lilinnya mati, Athanasia langsung tepuk tangan senang. Dia terus berbicara, walaupun aku dan Claude tidak mengerti apa yang Athanasia bicarakan tapi kami menanggapinya.


Tak lama kemudian Athanasia tertidur, sepertinya dia kelelahan karena terlalu senang tadi. Aku dan Claude ikut tertidur.


Pagi harinya. Kami semua sibuk mempersiapkan diri untuk pesta Athanasia. Butuh waktu lama mempersiapkan diri. Setelah semuanya sudah siap dan parah tamu sudah berkumpul di aula. Aku, Claude, dan Athanasia keluar. Semuanya menunduk dan memberi salam. "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia."


"Terima kasih karena sudah datang di perayaan ulang tahun putriku yang ke-satu tahun. Sebelum kalian menikmati hidangan di sini, ada satu hal yang ingin aku beritahu. Athanasia, putriku satu-satunya akan dinobatkan menjadi putri mahkota di ulang tahunnya yang ke-17 nanti. Jadi Athanasia resmi menjadi calon penerusku di masa depan."


Semua orang bertepuk tangan. Athanasia yang mendengar suara tepukan tangan, ikut tepuk tangan. Para tamu yang melihat itu merasa gemas dengan tingkah Athanasia.


"Ya ampun putri Athanasia lucu sekali."

__ADS_1


"Iya, lihatlah dia ikut tepuk tangan saat kita tepuk tangan."


"Iya iya, dia tepuk tangan dengan tangan mungilnya itu."


Dan masih banyak lagi omongan para tamu tentang keimutan Athanasia.


"Satu lagi. Aku, raja dari kerajaan obelia ingin memberikan penghormatan kepada Lucas sang pemimpin menara sihir," sambung Claude.


Semua orang terkejut mendengar nama Lucas.


"Tuan Lucas? Bukankah dia sudah mati beberapa tahun yang lalu?"


"Apa mungkin yang mulia halusinasi?"


Banyak orang yang berbisik tapi Felix dengan sigap menenangkan mereka semua. "Dimohon untuk tetap tenang!"


Semuanya pun diam.


Claude melanjutkan perkataannya. "Aku tau kalian semua pasti menganggap aku halusinasi atau sebagainya, tapi yang kulihat benar Lucas. Hei penyihir, keluarlah."


Lucas menampakan dirinya dari balik tirai. Para tamu terkejut melihat Lucas sang pemimpin menara sihir. "Ini merepotkan. Yang kalian liat sekarang bukan hantu jadi tidak usah terkejut seperti itu. Aku hanya hibernasi. Penyihir itu berumur panjang."


Para bangsawan itu terlihat masih ragu dengan ucapan Lucas.


"Rajin bacalah buku! Jangan hanya jadi pajangan saja buku kalian di rumah," ucap Lucas kesal.


Claude mendekat ke arah Lucas. "Lucas, dengan semua perjuanganmu membantu yang mulia permaisuri melahirkan maka kau dihadiahkan mansion di daerah Meita dan dengan ini kau resmi menjadi penyihir kerajaan."


Lucas berlutut dihadapan Claude. "Terima kasih, yang mulia."


Semua orang bertepuk tangan.


"Baiklah, silakan nikmati acaranya," ucap Claude.


Semua orang menikmati acaranya. Ada yang berdansa, ada yang menikmati hidangan, ada yang mengobrol dan memanfaatkan situasi ini untuk mencari koneksi dan lainnya.


"Apa kau lelah Lucas?" tanyaku pada Lucas.


"Iya, di tempat ramai seperti ini membuatku cepat lelah," jawabnya.


"Kembalilah ke ruanganmu."


Lucas menggeleng. "Tidak yang mulia permaisuri, saya akan di sini sebentar lagi."


"Tidak apa. Di sini aman, jadi kau bisa kembali sekarang."


"Kau yakin?" tanya Lucas ragu.


"Aku yakin. Udah sana kembalilah ke kamarmu."

__ADS_1


Lucas memberiku permata berwarna merah. "Hancurkan ini saat kau dalam bahaya. Aku akan langsung datang ke tempatmu berada. Tinggal lemparkan saja ke lantai dan permata ini akan hancur."


Aku menerimanya. "Baiklah. Terima kasih."


"Yaudah aku pergi dulu."


Sebelum pergi Lucas mengucapkan selamat ulang tahun ke Athanasia. "Selamat ulang tahun putri. Semoga kau selalu diberkati."


Athanasia memegang jari Lucas dan memasukkannya ke mulut.


"Sepertinya dia menyukaimu, Lucas," ucapku.


Lucas melepaskan jarinya dari tangan Athanasia dan mengelus kepalanya. Setelah itu dia pun pergi.


Claude datang menghampiri kami. Tadi dia sempat pergi untuk bertemu utusan kerajaan lain. "Kenapa kau sendirian di sini? Dimana penyihir itu? Bukankah tadi aku menyuruhnya untuk menjagamu?"


"Claude, kau sudah kembali. Aku menyuruhnya kembali ke kamarnya karena dia tampak sangat lelah," jawabku.


"Tapi tetap saja, dia harusnya menjaga kalian berdua selama aku pergi tadi."


"Tak apa, Claude. Di sini ramai jadi tidak mungkin ada yang berbuat jahat. Lagi pula tidak mungkin ada orang yang berani mencelakai permaisuri di tempat ramai seperti ini."


"Baiklah. Tapi tetaplah waspada."


Aku mengangguk. Claude mengambil Athanasia dari pangkuanku dan menggendongnya. "Halo putri ayah."


Athanasia tersenyum senang saat melihat Claude. "Apakah kau senang karena banyak orang di sini?"


Athanasia mengangguk.


"Apa kau mau dibuatkan pesta lagi lain kali hmm?"


Dia mengangguk lagi.


"Baiklah, nanti akan ayah buatkan pesta lagi untukmu."


Dia kegirangan dan bertepuk tangan senang.


"Saat Athanasia sudah ada teman nanti, undang mereka ke istana oke" kata aku pada Athanasia.


"Tidak, Athanasia tidak butuh teman. Dia sudah punya aku," ucap Claude


"Apa yang kau katakan Claude? Tentu saja dia butuh teman sebayanya."


Felix menimpali, "Benar, yang mulia. Tuan putri harus mempunyai teman seusianya nanti."


"Felix, mundur 10 langkah!"


Felix menuruti perintah Claude. "Baik, yang mulia."

__ADS_1


__ADS_2