
***POV DIANA***
Akhirnya aku sampai di istana. Para pelayan yang melihat kedatanganku secara tiba-tiba sangat terkejut. "Yang mulia permaisuri?! Kenapa anda tiba-tiba ada di sini? Bukankah anda sedang berlibur bersama yang mulia?"
"Jangan banyak bertanya, dimana Lucas?"
"Tuan Lucas ada di menara sihir, yang mulia permaisuri," jawabnya.
"Baiklah aku akan ke sana." Aku bergegas pergi ke menara sihir. Jarang sekali Lucas ke menara sihir, ada apa sebenarnya?
Sesampainya di menara sihir. Aku langsung masuk dan mencari Lucas.
"Apa yang bisa kalian lakukan sebenarnya hah?!" bentak Lucas.
Kenapa Lucas marah-marah seperti itu? Tanyaku dalam hati.
Aku langsung menghampirinya. "Lucas."
Lucas menoleh ke arahku. "Yang mulia permaisuri?!"
"Lucas, tolong aku. Mana Athanasia tidak stabil dan menyebabkan Athanasia muntah darah dan juga kejang-kejang."
"Ledakan mana. Bagiamana bisa ini terjadi? Aku sudah memastikan kalau mana tuan putri stabil sebelum kalian pergi."
"Sepertinya karena Athanasia memaksa menggunakan sihirnya."
"Apa?!"
"Ceritanya panjang, tolong Athanasia dulu."
Lucas memakai sihir teleportasinya untuk pergi ke kamar Athanasia. Aku menaruhnya di atas tempat tidur. Lucas segera menanganinya. Raut wajah Athanasia pun membaik, nafasnya mulai tenang.
"Aku menemukan jejak hitam di mana tuan putri," celetuk Lucas.
"Iya. Kami memang baru berhadapan dengan sihir hitam."
"Mustahil ada sihir hitam di Obelia."
"Keponakanku memiliki sihir hitam. Aku belum tau bagaimana dia bisa mendapatkan sihir itu, tapi aku yakin itu bukan sihir turunan dari ayah dan ibunya."
"Bagaimana kamu bisa yakin? Yang mulia mempunyai seorang kakak laki-laki, kan? Bisa saja kakak laki-lakinya itu menggunakan sihir hitam."
"Untuk apa? Untuk merebut tahta Claude? Kalau iya, kenapa dia tidak melakukannya? Kenapa dia malah pergi dan menetap di tempat yang lumayan jauh dari Obelia?"
"Bisa saja dia mempunyai masalah dengan keluarganya yang lain. Keluarga kerajaan itu memiliki banyak masalah, kan?"
Benar juga. Di novel tidak diceritakan terlalu banyak tentang masa lalu Claude dan Anastasius. Pikirku.
"Omong-omong bagaimana kamu bisa sampai ke sini dengan cepat?"
"Aku menggunakan sihir teleportasi," jawabku dengan suara pelan.
"Kau gila?! Sudah kubilang kalau sihir teleportasi itu menghabiskan banyak mana!" bentaknya.
Aku yang tak terima dibentak pun membalas, "Tapi aku tidak ada pilihan lain, Lucas! Athanasia dalam bahaya dan aku tidak bisa diam saja!"
"Kau bodoh! Kenapa tidak memanggilku? Biar aku yang menghampiri kalian."
"Kau yang bodoh, Lucas! Memangnya kau tau kita semua ada dimana?!"
Lucas menepuk dahinya. "Ah iya aku lupa kalau ada satu sihir yang belum aku ajarkan padamu."
"Apa?"
"Sihir pelacak."
"Lucas!"
"Apa?"
"Kenapa kau tidak bilang!"
"Maaf, sudah kubilang kalau aku lupa. Sudahlah kalau sekali saja menggunakan sihir teleportasi tidak akan masalah walaupun mana yang kau miliki tidak besar."
"Lucas, aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
"Apa itu?"
"Apa yang akan terjadi kalau seseorang yang memiliki mana kecil tetap memaksa menggunakan sihir teleportasi padahal dia sudah menggunakan banyak sihir sebelumnya?"
"Sederhana, dia akan mati. Karena terlalu memaksakan menggunakan sihir jadi seluruh organ tubuhnya akan hancur. Tapi untungnya kau tidak begitu, kan? Kau baru sekali ini saja menggunakan sihir walaupun langsung sihir yang besar."
Aku terdiam.
"Hei, aku benarkan? Tidak mungkin kau menggunakan sihir di sana karena tujuan kalian berlibur dan ada yang mulia juga. Jadi kau tidak mungkin berani menggunakan sihir."
"Maaf Lucas..." lirihku.
Lucas mulai takut. Dia takut apa yang dia pikirkan benar terjadi "U-untuk apa kau minta maaf?"
"Aku... telah menggunakan sihir teleportasi juga sebelumnya dan sihir pemurnian."
Lucas langsung menghampiriku. "Kau gila?! Kedua sihir itu menghabiskan mana yang sangat besar. Kau tau kan kalau mana yang kau punya itu tidak besar? Apa ada yang aneh dengan tubuhmu?"
__ADS_1
Lucas memeriksa keadaanku. "Syukurlah tidak ada yang aneh dengan tubuhmu."
"Iya Lucas tapi aku sangat mengantuk sekarang." Setelah mengatakan itu, aku pun pingsan.
***POV AUTHOR***
"Hei! Bangun!"
Lucas frustasi dengan keadaan sekarang. "Sial. Ini lebih mengkhawatirkan. Aku tau kalau ini adalah hal yang wajar bagi seseorang yang telah menggunakan banyak mana tapi Diana berbeda. Dia baik-baik walaupun telah memaksa tubuhnya menggunakan mana yang besar."
Lucas langsung menggendong Diana dan membawanya ke kamar Diana.
Sesampainya di kamar Diana, Lucas langsung memeriksanya dengan sihirnya. Dia tidak merasakan jiwa Diana. "Apa?! Kenapa tubuh ini kosong?!!"
***POV CLAUDE***
Akhirnya aku sampai di istana. Aku bergegas masuk. Semua pelayan terkejut melihat kedatanganku dan Felix.
"Yang mulia? Kenapa anda ada disini?" tanya pelayan itu.
"Dimana yang mulia permaisuri dan tuan putri?" tanyaku.
"Tadi mereka ke menara sihir untuk bertemu dengan tuan Lucas," jawab pelayan itu.
Aku segera pergi ke menara sihir. Salah satu penyihir menara itu menghampiriku dan berkata kalau Diana dan Athanasia sudah pergi dibawa oleh Lucas ke kamar Athanasia. Aku pergi ke kamar Athanasia dan menemukan Athanasia yang sedang tertidur. Aku mendekati Athanasia dan mengecek kondisinya. Kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Tapi aku masih belum menemukan Diana.
"Coba kita cek di kamar yang mulia permaisuri." Aku dan Felix pergi ke kamar Diana.
***POV AUTHOR***
Lucas masih berusaha mengecek keadaan Diana. Dia merasa kalau itu hanyalah sebuah kesalahan. Tapi ternyata tubuh Diana memang kosong, tidak terasa jiwa di dalam tubuhnya itu.
BRAKK!!! Pintu dibuka dengan keras oleh seseorang. "DIANA."
Claude langsung menghampiri Diana. "Apa yang terjadi dengannya?"
Felix ikut mendekati Diana. Dia terkejut dengan apa yang dia rasakan saat ini. "Tuan Lucas, apa yang saya rasakan ini tidak benar, kan?"
Lucas terkejut. Dia tidak menyangka kalau ksatria berambut merah itu bisa merasakannya juga.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Lucas memastikan.
"Sa-saya merasakan tubuh yang mulia permaisuri kosong," jawabnya ragu.
Claude langsung mencengkram kerah baju Felix. "Jangan bicara omong kosong! Tutup mulutmu kalau tidak tau apa-apa!"
Lucas melerai keduanya. "Yang dibilang ksatria anda benar yang mulia. Tubuh yang mulia permaisuri memang kosong."
"Apa maksudnya itu?!" tanya Claude tak mengerti, lebih tepatnya tidak mau mengerti.
"Tidak mungkin!"
"Itu mungkin yang mulia. Rasakan sendiri dengan sihir anda." Claude dengan ragu menggunakan sihirnya untuk membuktikan ucapan Lucas dan Felix.
Deg...bagai sambar petir. Jantung Claude seperti berhenti seketika. Mereka benar, tubuh Diana benar-benar kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan jiwanya di dalam tubuh ini.
"Lalu kemana jiwa Diana?!" tanya Claude panik.
"Saya tidak tau yang mulia," jawab Lucas.
"Bagaimana mungkin kamu tidak tau?! Kamu bukan orang bodoh, kamu pemilik menara sihir yang artinya kamu lebih kuat dan lebih pintar dari siapapun."
"Bukan artinya saya benar-benar tidak tau yang mulia. Saya hanya tidak tau keberadaan jiwa yang mulia permaisuri."
"Maksudnya? Jiwa Diana ada di suatu tempat?" tanya Claude.
Lucas mengangguk. "Iya. Entah bagaimana jiwa yang mulia permaisuri pergi. Yang pasti jiwa yang mulia permaisuri mencari sebuah wadah yang kuat untuk memulihkan mananya karena tubuh yang mulia permaisuri tidak bisa membuat jiwanya bertahan karena tidak ada lagi mana yang tersisa di tubuhnya ini."
"Temukan jiwa Diana secepatnya!" perintah Claude ke ksatrianya.
"Tidak yang mulia. Anda yang harus mencarinya," ucap Lucas.
"Aku? Kenapa aku?"
"Karena hanya anda yang bisa merasakan jiwa yang mulia permaisuri," jawab Lucas.
"Bukankah kau juga bisa merasakan jiwanya? Lalu kenapa harus aku?"
"Iya, tapi saya yakin aura jiwa yang mulia permaisuri sangat kecil jadi akan sangat sulit untuk menemukannya. Hanya anda yang bisa merasakannya dengan jelas karena ikatan kalian berdua. Jadi andalah yang bisa menemukan jiwa yang mulia permaisuri," jelasnya.
Claude mengangguk mengerti. "Baiklah, aku akan mencari jiwanya."
"Saya ikut yang mulia. Bahaya jika anda pergi sendiri," pinta Felix.
Claude menolaknya. "Tidak. Kamu tetap di sini , jaga Athanasia dan yang lainnya."
"Tapi yang mu—"
"Tidak ada tapi, ini perintah dariku."
"Baik, yang mulia."
"Aku akan pergi. Tolong jaga tubuh Diana, penyihir."
__ADS_1
"Tentu. Yang mulia, anda harus cepat karena tubuh tanpa jiwa ini hanya bisa bertahan selama satu minggu."
"Apa yang akan terjadi kalau aku tidak bisa menemukan jiwa Diana dalam waktu satu minggu?" tanya Claude.
"Tubuh yang mulia permaisuri akan menghilang dan kita tidak bisa mengembalikan jiwanya ke tubuh aslinya. Yang lebih parahnya adalah kita juga tidak bisa menemukan jiwa yang mulia permaisuri lagi karena auranya akan menghilang mengikuti tubuh aslinya," jawab Lucas.
"Tapi bagaimana aku bisa menemukan Diana dalam waktu satu minggu?!"
"Saya akan membantu anda supaya bisa melihat jejak mana yang mulia permaisuri. Ikutilah jejak mana itu."
Lucas memberikan sihir kepada Claude supaya Claude bisa melihat jejak dari mana seseorang. "Anda bisa melihatnya?"
"Iya, aku bisa melihat jejak dari mana Diana. Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Ikutilah jejak itu dan temukan aura jiwa yang mulia permaisuri." Claude mengangguk dan setelah itu dia pergi.
Perjalanan panjang pun mulai dilakukan oleh Claude untuk mencari keberadaan jiwa Diana. Dengan hanya mengandalkan jejak dari mana Diana, Claude berjalan tak menentu. Dia berharap jiwa Diana bisa ditemukan secepatnya.
Beberapa hari kemudian...
Claude masih mengikuti jejak mana Diana. Tapi ditengah perjalanan, jalan jejak itu tiba-tiba saja menghilang. Claude bingung dengan apa yang terjadi, bagaimana dia bisa menemukan jiwa Diana kalau jejak mananya menghilang. Disaat Claude sedang bingung dengan situasi yang terjadi tiba-tiba ini, bola sihir yang diberikan Lucas menyala dan menampakan wajah Lucas yang panik. "GAWAT YANG MULIA!!!"
"Ada apa?"
"Tubuh yang mulia permaisuri telah menghilang."
"Menghilang?! Apa maksudmu menghilang? Kau tidak menjaganya dengan baik?!"
"Tidak, yang mulia. Tubuh yang mulia permaisuri menghilang secara perlahan."
"Bukankah belum satu minggu? Masih ada tiga hari lagi."
"Saya juga tidak tau yang mulia. Apakah anda masih belum menemukan keberadaan jiwa yang mulia permaisuri?"
"Belum. Jejak mana Diana menghilang secara tiba-tiba."
Lucas terkejut. "Kembalilah ke istana sekarang yang mulia!"
Bola sihir itu pun mati. Claude bergegas kembali ke istana. Dia memacu kudanya dengan sangat cepat. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah Diana.
Sesampainya di istana, Claude langsung masuk tanpa beristirahat terlebih dahulu dan membersihkan dirinya. Dia berlari ke kamar Diana. Selama berlari ke kamar Diana, Claude berdoa semoga yang diucapkan oleh Lucas hanyalah candaan. Dia janji tidak akan marah pada Lucas asalkan yang dia katakan sebelumnya adalah kebohongan. Semoga saat dia masuk, Diana menyambutnya dengan senyuman manis miliknya. Tapi kenyataan tetaplah kenyataan. Di kamar Diana hanya ada Felix, Anastasius, Penelope, pelayan Diana, Lucas, Zenith, dan Athanasia yang sedang menangis kencang.
Melihat kedatangan Claude. Athanasia langsung menghampirinya dan memeluknya. "Ayah, tadi tubuh ibu menghilang secara perlahan. Athy mencoba menahan ibu tapi tubuhnya hilang seperti debu yang tertiup oleh angin. Ibu pergi kemana ayah?"
Claude tidak mempedulikan Athanasia. Dia melepaskan pelukan Athanasia dan mendekati Lucas. "Sebenarnya apa yang telah terjadi, penyihir?!! Kau bilang batas waktunya satu minggu dan ini belum satu minggu."
Lucas menunduk. "Maafkan saya yang mulia. Ternyata tubuh yang mulia permaisuri tidak dapat bertahan selama yang saya perkirakan."
Claude memukul wajah Lucas. "Yang benar saja. Jangan bicara omong kosong!"
Felix langsung menahan Claude dan mencoba menenangkannya walaupun dia sendiri juga sangat terkejut dengan apa yang terjadi. "Tenang, yang mulia. Pikirkan tuan putri juga."
"Lepaskan aku, Felix! Biar aku hajar penyihir tidak berguna ini!"
Athanasia tambah menangis. Lily memeluk Athanasia untuk menenangkannya. Zenith yang melihat Athanasia menangis, jadi ikut menangis.
"Sebaiknya kalian membawa anak-anak keluar!" perintah Anastasius.
Lily dan Penelope membawa Athanasia dan juga Zenith keluar.
"Tenang Claude!" ujar Anastasius.
"Bagaimana aku bisa tenang hah?! Istriku hilang!" bentak Claude.
"Relakan Diana. Diana sudah tiada."
Claude menatap tajam ke arah Anastasius. "Jaga mulutmu, Anastasius!"
Claude berhasil lepas dari Felix.
"Tuan Lucas, pergilah dari sini!" perintah Felix.
Lucas langsung pergi menggunakan sihir teleportasinya.
Claude yang masih marah langsung menghancurkan benda di sekitarnya. Felix dan Anastasius berusaha menahan amukan Claude tapi percuma, kekuatan Claude saat ini sangatlah besar dan berbicara seperti apapun juga akan percuma karena Claude tidak akan mendengarkannya.
"Yang mulia, ingatlah ini kamar yang mulia permaisuri. Yang mulia permaisuri akan marah kalau tau anda menghancurkan barang-barangnya," peringat Felix.
"Itu lebih baik. Marahi saja aku! Diana, lihatlah aku menghancurkan barang-barangmu. Datang dan marahlah padaku," ucap Claude.
"Yang mulia, anda harus merelakan kepergian yang mulia permaisuri."
"Sudah aku bilang berapa kali kalau Diana masih hidup! Pergi kalian semua. Kalian membuat kepalaku sakit!" usir Claude.
"Kita akan keluar, tenangkan dirimu Claude. Mengamuk seperti ini juga tidak akan membuat Diana kembali." Anastasius mengajak Felix untuk keluar dan membiarkan Claude sendirian.
Claude menangis sejadi-jadinya. "Kau meninggalkanku lagi, Diana."
Sejak saat itu Claude tidak pernah keluar dari kamar Diana. Tidak makan, tidak bekerja, hanya berdiam diri di kamar sambil minum alkohol. Semua orang sudah mencoba untuk membujuknya tapi selalu gagal. Mereka semua berakhir dengan omelan dan amukan Claude.
Sejak kepergian Diana, semua orang yang ada di istana menjadi murung. Obelia seperti ditelan oleh kegelapan. Tidak ada canda dan tawa dari penghuni istana. Para menteri bingung dengan situasi ini karena berita perginya Diana memang belum disebarkan. Claude melarang siapapun menyebarkan berita kepergian Diana, dia yakin kalau Diana masih hidup dan akan kembali suatu saat nanti.
Athanasia juga selalu menanyakan keberadaan ibunya itu. Lily dan Felix sudah kehabisan alasan untuk menjawabnya. Penelope juga sudah mencoba mengalihkan perhatian Athanasia dengan mengajaknya bermain bersama Zenith juga. Tapi tetap saja Athanasia selalu menanyakannya.
__ADS_1
Sejak saat itu, Lucas juga belum keluar dari menara sihirnya. Dia juga mengurung dirinya di dalam menara sihir itu. Anastasius menggantikan Claude mengerjakan pekerjaan istana.