
***POV CLAUDE***
Anastasius dan istrinya sedang berada di ruangan pribadiku.
"Bagaimana ini Anastasius?! Putri kita menghilang dan belum juga ketemu," ujar Penelope gelisah.
"Tenanglah sayang. Kita sudah mengerahkan para ksatria untuk mencari Zenith." Anastasius terus mengatakan kata-kata penenang untuk Penelope.
Kenapa masalahnya jadi serumit ini? Pikirku.
"Apa masih belum ada kabar juga dari para ksatria, Claude?" tanya Penelope.
"Belum. Para ksatria belum menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan Zenith, Penelope," jawabku.
Penelope semakin menangis mendengarnya.
"Tenang nyonya, para ksatria akan melakukan yang terbaik untuk menemukan nona Zenith," ucap Felix.
Tiba-tiba seseorang menerobos masuk ke ruanganku. Pelayan Diana? Kenapa dia masuk dengan wajah panik seperti itu. "Maaf atas ketidaksopanan saya yang mulia, tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan."
"Ada apa?" tanyaku.
"Tuan putri tidak ada di kamarnya, yang mulia. Tadi saya ingin memeriksa apakah tuan putri sudah tidur atau belum tapi saat saya mengetuk pintu, tidak ada jawaban dan saat saya masuk, kamar tuan putri sudah kosong," jawabnya.
Brakkk! Aku menggebrak meja. "Dimana ksatria yang berjaga di depan kamar Athanasia?!"
"Ksatria yang selalu berjaga di depan kamar tuan putri ada, yang mulia. Mereka juga bingung kenapa tuan putri bisa menghilang dari kamarnya padahal tidak terlihat tuan putri keluar kamar," jelasnya.
"Aku akan mencari Athanasia sekarang," putusku.
"Tunggu, yang mulia."
"Ada apa, Felix?! Jangan menahanku!"
"Saya merasakan sesuatu." Saat Felix berkata seperti itu, aku juga merasakan sesuatu. Mataku membulat saat mengetahui perasaan ini. Aku langsung berlari keluar dan diikuti oleh yang lain.
Di depan pintu istana. Aku melihat orang yang sangat aku rindukan selama ini. Orang yang aku pikir tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. "Di-diana?"
Yang lain ikut terkejut melihatnya.
Permaisuri Obelia kembali.
"Hai Claude, aku kembali," ucapnya dengan senyum manisnya yang sangat aku rindukan itu.
"I-ini benar kamu?" tanyaku tidak percaya.
"Iya. Ini aku, Diana," jawabnya.
Aku berjalan perlahan mendekati Diana. Saat sudah berada dihadapannya, Diana langsung tersenyum manis kepadaku dan memelukku. Aku membalas pelukannya dan menangis. "A-aku sangat merindukanmu. Aku kira tidak akan bisa melihatmu lagi."
"Aku juga merindukanmu dan maaf atas semuanya, Claude."
"Jangan tinggalkan aku lagi."
"Tidak akan."
Aku memeluk Diana sangat lama.
"Yang mulia permaisuri."
Diana melepaskan pelukannya dan tersenyum ke arah Felix dan pelayannya itu.
"Kemarilah," ucap Diana sambil merentangkan tangannya.
Pelayan itu dan Felix langsung memeluk Diana dan menangis. "Yang mulia permaisuri, sa-saya kira anda te—"
"Sssttt aku baik-baik saja sekarang."
"Syukurlah anda kembali, yang mulia permaisuri."
"Iya, Felix. Terima kasih sudah menjaga Claude dan Athanasia untukku."
Pelayan itu dan Felix melepaskan pelukannya dan bergantian dengan Penelope. "Diana."
"Iya iya aku di sini, Penelope."
"Aku senang melihat kamu baik-baik saja."
"Aku juga senang melihat kamu dan kak Anas baik-baik saja."
"Selamat datang kembali, Diana," sambut Anastasius.
"Terima kasih atas semuanya, kak Anas."
"Aku tidak melakukan apa-apa."
"Tidak, aku tau semuanya. Aku tau kalau kak Anas yang mengurus Obelia di saat semua orang sedang bersedih karena aku dan aku tau kalau Zenith menghilang."
Semua orang terkejut.
"Masuklah, Erez."
Muncul seorang pria dengan rambut pirang dan bermata biru sambil menggendong Zenith. Pria itu terlihat seperti keturunan Obelia juga dengan ciri-cirinya yang mirip denganku dan juga Anastasius.
"Zenith?! " Penelope langsung menghampiri putrinya itu.
"Dia baik-baik saja Penelope. Zenith hanya pingsan," jelas Diana.
"Bagaimana kamu bisa menemukannya? Para ksatria sudah mencarinya tapi tidak ada hasil," tanya Anastasius.
"Aku bisa merasakan keberadaannya, itulah mengapa aku bisa menemukan Zenith dengan mudah," jawab Diana.
"Kenapa kamu tidak mencarinya lebih awal, Diana?! Tidakkah kamu tau kalau aku sangat mengkhawatirkannya?!" teriak Penelope.
"Maaf, Penelope. Aku baru bisa merasakan keberadaannya tengah malam tadi."
__ADS_1
"Sudahlah yang penting Zenith ketemu, sayang," ucap Anastasius menenangkan istrinya itu.
"Maafkan aku karena berteriak padamu Diana. Aku hilang kendali tadi," sesal Penelope.
"Tidak apa-apa, Penelope. Aku mengerti kalau kamu mengkhawatirkan Zenith."
"Yang mulia permaisuri, tuan putri juga menghilang," ucap Lily.
"Athanasia? Ah dia tidak menghilang, dia ada bersamaku."
"Hmm Diana, putrimu lari tadi," adu Erez.
"Sepertinya dia takut diomeli oleh ayahnya. Yaudah biarkan saja, paling dia pergi ke kamarnya," ucap Diana sambil terkekeh.
Tiba-tiba muncul seseorang yang juga merindukan sosok Diana. "Diana?!"
Diana menatap orang itu dan tersenyum manis. "Hai Lucas."
"Kau...masih hidup?" tanyanya ragu.
"Iya."
"Tapi bukankah saat itu tubuhmu menghilang? Aku bahkan tidak bisa merasakan keberadaan mana kamu setelah itu."
"Seseorang telah menyelamatkan aku, Lucas. Karena dialah aku masih hidup sampai sekarang."
"Siapa?"
Diana menunjuk ke arah pria berambut pirang itu.
"Hai Lucas," sapa pria itu.
"Siapa kau?!" tanya Lucas tak bersahabat.
"Ah perkenalkan nama aku adalah Erez."
"Aku tidak bertanya namamu! Aku bertanya kamu itu apa?!"
"Hmm aku? Tentu saja aku adalah manusia. Memang apalagi?"
"Kamu penyihir?"
"Bisa dibilang begitu."
"Tapi kenapa aku tidak bisa merasakan manamu?"
"Karena aku menyembunyikannya."
"Menyembunyikannya? Hahaha mana ada yang seperti itu. Bilang saja kalau manamu itu lemah!" hina Lucas.
"Dasar orang kuno," sarkasnya.
Lucas yang dipanggil kuno menjadi kesal. "Apa kamu bilang?!"
Setelah memindahkan Zenith ke kamarnya, kami semua pindah ke ruangan pribadiku.
***POV DIANA***
Saat di ruangan pribadi Claude, Lucas langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi selama aku menghilang.
"Aku rasa yang bisa menjelaskan itu semua adalah Erez," ucapku.
Erez menatapku dengan tatapan tidak suka. "Kenapa aku?"
"Karena saat itu aku tidak ingat apapun."
Erez memutar bola matanya. "Malas sekali aku menjelaskannya."
"Ayolah Erez, aku juga ingin tau apa yang sebenarnya terjadi saat itu," bujukku.
"Apa untungnya bagiku?"
"Aku akan memberikan apapun yang kamu mau."
"Kamu yakin?"
Aku mengangguk. "Iya, asalkan permintaanmu masih dalam batas yang wajar."
"Deal." Erez mulai menjelaskan apa yang terjadi saat itu.
"Jadi aku hilang ingatan?" tanyaku.
"Iya, karena jiwamu terpisah terlalu lama dari tubuhmu," jawab Erez.
"Bagaimana akhirnya aku bisa mengingat semuanya?" tanyaku lagi.
"Saat jiwamu telah kembali ke tubuh aslinya. Ah iya kau berhutang budi padaku, Diana. Kalau aku tidak mengembalikan jiwamu tepat waktu saat itu maka ingatanmu akan hilang untuk selamanya," jelasnya.
"Tapi bagaimana caramu mengembalikan jiwa Diana ke tubuh aslinya? Sedangkan tubuh Diana berada di istana saat itu," tanya Lucas.
"Ya aku tinggal membawa tubuh Diana ke tempat jiwanya berada dan saat itu jiwa Diana berada di dekatku."
"Kau tidak tau wujud asli Diana, lalu bagaimana cara kau menemukannya dan mengetahui keberadaan tubuhnya?" kali ini Claude yang bertanya.
"Tidak sulit untuk tau tubuh asli seseorang dan menemukannya."
"Ini masih sangat membingungkan, tuan," ucap Felix.
"Intinya ini semua bisa terjadi karena aku adalah penyihir hebat. Kalian harusnya berterima kasih padaku."
"Erez! Bukankah aku sudah bilang untuk bersikap sopan pada keluarga kerajaan?!" omelku.
"Yang harusnya bersikap sopan itu mereka," balas Erez.
Aku memijat pelipis. "Astaga bagaimana aku bisa tahan padamu selama ini?"
__ADS_1
"Karena aku tampan, makanya kau tahan denganku," jawabnya percaya diri.
"Selama ini kau tinggal dengan dia, Diana?" tanya Penelope.
"Iya. Dia mengurungku jadi aku tidak bisa pergi dari menaranya," jawabku.
"Hei aku tidak mengurungmu tapi tubuhmu saja yang lemah sehingga tidak bisa terlepas dari sihir pertahanan yang ada di menara," sanggahnya.
"Tapi saat manaku telah pulih, kau tidak membiarkan aku keluar."
"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau tidak mau menunjukkan diri dalam waktu dekat? Aku hanya membantumu untuk menahan diri. Sihir hitam itu bisa kapan saja menemukan dirimu dan menyakitimu."
"Ya ya terima kasih, tuan," ucapku malas.
"Apakah sihir hitam itu masih berada di dalam tubuh nona Zenith, yang mulia permaisuri?" tanya Lily.
"Iya, Lily. Sihir hitam itu masih berada di dalam tubuh Zenith," jawabku.
"Berarti ledakan mana tuan putri akan terjadi lagi?" tanya Lily khawatir.
"Kamu tenang saja, hal itu tidak akan terjadi karena aku ada di sini sekarang."
"Tapi saya tidak mau yang mulia permaisuri berada dalam bahaya lagi seperti saat itu."
"Tidak akan, Lily. Aku sudah lebih kuat sekarang dan ada Erez yang akan membantuku."
"Siapa yang bilang kalau aku akan membantumu?" tanya Erez.
"Erez, jangan mulai!"
Erez terkekeh. "Hehehe iya iya."
"Lalu bagaimana caranya kita mengeluarkan sihir hitam itu dari tubuh Zenith?" tanya kak Anas.
"Aku akan mendekatinya dan berbicara dengan sihir hitam yang ada di dalam tubuh Zenith," jawabku.
"Aku tidak mengizinkannya," tolak Claude.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kamu masih bertanya kenapa? Karena itu berbahaya, Diana. Aku tidak mau melihatmu dalam bahaya lagi," ucapnya marah.
"Tapi sihir hitam di tubuh Zenith harus segera dihilangkan, Claude."
"Tidak, Diana. Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Apapun alasannya aku tidak akan mengizinkannya."
"Kau tidak akan pernah kehilanganku lagi, Claude. Aku janji."
"Apakah tidak ada cara lain?"
"Tidak ada cara lain. Ini satu-satunya cara untuk menghilangkan sihir hitam itu dari tubuh Zenith."
"Haruskah kamu yang melakukannya?"
"Iya, karena hanya Diana yang mengenali sihir hitam itu," jawab Erez.
Claude menghela nafasnya. Berat untuknya mengizinkan aku melakukan ini.
"Aku akan berhati-hati, aku janji."
Claude memelukku sangat erat dan aku membalas pelukannya. "Kumohon berhati-hatilah, sayang."
"Tentu."
"Apakah ada yang bisa aku bantu? Bagaimana pun dia adalah putriku jadi aku ingin membantu walaupun sedikit." ucap kak Anas.
"Aku akan melakukannya besok malam. Saat itu tolong evakuasi orang-orang yang ada di istana dan kalian menjauhlah dari sini. Pergi ke tempat yang aman."
"Baiklah, Diana. Terima kasih."
"Tidak perlu berterima kasih kak, Zenith adalah keponakanku dan aku akan melakukan yang terbaik untuk menolongnya. Aku akan menghilangkan sihir hitam itu dari tubuhnya."
"Bagaimana denganku? Apakah tidak ada yang bisa aku bantu?" tanya Lucas.
"Tidak ada, Lucas. Kau ikutlah bersama kak Anas dan yang lainnya ke tempat yang aman."
"Kau serius memintaku melakukan itu?!"
"Iya."
"Ayolah, tidak mungkin aku melakukan itu di saat kau mati-matian berusaha memusnahkan sihir hitam itu. Ingat Diana, mana milikmu tidak sebesar itu!"
"Tidak, Lucas, mana milikku sudah lebih besar dari yang sebelumnya. Bukalah matamu, lihat manaku yang sebenarnya."
Lucas terdiam.
"Pergilah ke tempat yang aman dengan yang lainnya. Jaga mereka untukku."
"Tapi aku ingin membantu," ucapnya memaksa.
"Lucas, aku ingin bertanya padamu. Kau mengenal Aeternitas bukan?"
Lucas terkejut mendengar nama itu. "Iya."
"Sihir hitam itu adalah Aeternitas. Aku tau kalian memiliki masalah di masa lalu. Kalau kamu muncul di hadapannya, itu hanya akan membuatnya marah dan mungkin saja dia bisa mengamuk. Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, kan?"
Lucas mengangguk.
"Jadilah anak baik oke? Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin."
"Tapi yang mu—"
"Cukup. Pembicaraan ini selesai sampai disini. Sekarang kembali ke kamar kalian masing-masing!" perintahku.
Semuanya pergi dan kembali ke kamarnya.
__ADS_1