Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
7


__ADS_3

Keesokkan harinya. Seperti biasa, Lily yang selalu membangunkan aku. "Yang mulia permaisuri, ayo bangun. Saatnya makan siang."


Aku menggeliat dan membuka mataku. "Makan siang? Apa maksudmu, Lily? Aku bahkan belum sarapan."


"Lihatlah keluar yang mulia permaisuri. Hari sudah terik dan anda mau sarapan? Jam sarapan sudah lewat dari tadi."


"Kenapa kau tidak membangunkanku? Kau tau kan hari ini aku masih harus berlatih pedang, memanah, dan berkuda. Bagaimana aku bisa melakukannya dengan baik kalau makanku tidak teratur," ucapku terkejut.


"Ini bukan sepenuhnya salah saya yang mulia permaisuri. Saya sudah mencoba membangunkan anda dari tadi tapi anda tak kunjung bangun. Sebenarnya apa yang anda lakukan semalam sampai anda susah sekali untuk dibangunin?" tanya Lily heran.


"Semalam? Apa yang telah ku lakukan semalam? Sepertinya tidak ada," jawabku.


"Anda yakin yang mulia permaisuri? Lalu ada apa dengan kasur anda yang berantakan ini? Setau saya, anda tidak suka berguling-guling saat tidur tapi kenapa kasur anda sangat berantakan?" tanyanya lagi.


Aku pun mencoba mengingat lagi apa yang terjadi semalam. Wajahku memerah. Ah aku ingat apa yang telah terjadi semalam, aku tak menyangka Claude akan melakukannya selama itu dan seganas itu.


"Yang mulia permaisuri? Apakah anda demam? Mengapa wajah anda memerah tiba-tiba? Apa karena udaranya terlalu panas di sini?" tanya Lily mengkhawatirkanku.


"A-aku baik-baik saja, Lily. Iya ini karena udaranya terlalu panas" jawabku sambil mengipas wajahku.


"Kalau begitu mandi saja yang mulia permaisuri. Saya akan membantu anda untuk mandi."


"Ti-tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri, kau cukup menyiapkan air untukku mandi saja," tolakku.


"Anda yakin?"


Aku mengangguk.


"Baiklah, tolong tunggu sebentar yang mulia permaisuri. Saya akan menyiapkan air untuk anda mandi." Lily pun pergi menyiapkan air untukku mandi.


Tak lama, Lily selesai menyiapkannya. "Yang mulia permaisuri, air untuk anda mandi sudah siap."


" Terima kasih, Lily. Aku akan mandi. Kau bisa keluar sekarang." Saat ingin bangun dari tempat tidur, aku merasakan nyeri di seluruh tubuhku. Aku merintih kesakitan. Lily yang khawatir padaku segera mendekat ke arahku. "Apakah anda baik-baik saja yang mulia permaisuri?"


"Badanku sakit semua" rengekku.


Lily meminta izin untuk memeriksa tubuhku. "Maaf atas ketidaksopanan saya yang mulia permaisuri, izinkan saya untuk memeriksa tubuh anda."


Lily membuka baju tidurku dan memeriksanya. "Astaga yang mulia permaisuri!"


"Ada apa Lily? Kenapa kau seheboh itu? Apakah ada luka di tubuhku?" tanyaku.


"Kenapa banyak tanda merah di tubuh anda yang mulia permaisuri? Apakah anda habis digigit serangga?"


"Tanda merah? Tolong bawakan aku cermin, Lily." Lily mengambil cermin dan memberikannya padaku.


Astaga sebanyak ini?! Claude tidak kusangka dia meninggalkan bekas merah ini sebanyak itu. Untungnya Lily tidak tau tanda apa ini. Tapi kenapa Lily sepolos itu? Batinku.


"Bagaimana ini yang mulia permaisuri?" tanyanya panik.


"Tenanglah Lily, ini bukan hal berbahaya. Nanti akan hilang seiring berjalannya waktu oke," jawabku berusaha menenangkannya.


"Tidak. Saya akan memanggil tuan penyihir untuk mengobati anda." Aku buru-buru menahan Lily. Bisa gawat kalau dia benar-benar memanggil Lucas. Mau taruh dimana wajahku ini.


"Tidak Lily. Aku benar-benar baik-baik saja. Ini bukan hal serius. Percayalah padaku oke," ucapku meyakinkannya.


Lily menatapku dengan ragu. "Anda yakin yang mulia permaisuri?"


"Iya, percayalah padaku. Kalau ini luka serius aku pasti memberitahumu."


"Baiklah. Tapi biarkan saya mengoleskan salep untuk anda."


Aku mengangguk.


Alhasil aku dibantu Lily untuk mandi. Dia masih khawatir dengan tanda merah itu. Selesai mandi, Lily benar-benar mengoleskan salep pada tanda merah itu. Aku hanya membiarkannya saja karena aku juga tidak mungkin memberitahunya. Biarkan dia mengetahuinya sendiri nanti.


Tok tok tok. Felix mengetuk pintu kamarku dan masuk.


Felix memberi salam. "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya memberi salam pada yang mulia permaisuri."


"Ada apa Felix?" tanyaku.


"Yang mulia mengajak anda untuk makan siang bersama," jawabnya.


"Baiklah, aku akan ke sana setelah memberi Athanasia susu," balasku.


"Saya akan menunggu di depan kamar anda yang mulia permaisuri." Felix pun menunggu di depan kamarku.


Setelah aku selesai memberi susu ke Athanasia, aku pergi ke ruang makan bersama Felix.


Sesampainya di ruang makan, Claude langsung menyambutku. "Selamat siang sayang. Apakah tidurmu nyenyak semalam? Ah dilihat dari jam bangunmu sepertinya tidurmu sangat nyenyak ya?"


Aku menatapnya dengan ekspresi marah.


"Kenapa kamu marah sayangku? Aku hanya bertanya." Claude terus meledekku.


"Sudahlah aku malas berbicara denganmu. Jangan ajak aku berbicara!"


"Omong-omong kenapa yang mulia permaisuri memakai pakaian tertutup? Cuaca hari ini sangat panas," tanya Felix.


"Itu karena ada serangga yang menggigitku semalam jadinya sekarang tubuhku penuh dengan gigitan serangga," jawabku mengarang.


"Biarkan saya memanggil tuan Lucas."


"Tidak perlu, Felix. Itu bukan hal serius," larangku.


"Tapi yang mulia permaisuri—"


Claude memotong perkataan Felix. "Felix kau mengganggu makan siangku dengan permaisuri! Keluarlah!" perintah Claude.


Felix pun pamit mengundurkan diri. "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya akan menunggu anda di depan yang mulia permaisuri."


Aku mengangguk.


Claude tertawa. Aku yang kesal melihat itu pun bertanya, "Apa yang kau tertawakan?!"


"Tidak ada hanya saja aku senang telah memberi banyak tanda padamu semalam."


"Kau gila?! Gara-gara ini aku jadi harus memakai pakaian tertutup sampai tandanya hilang!" kesalku.


"Memang itu tujuanku . Aku tidak suka orang lain melihat lehermu," jawabnya santai.


"Tapi sangat panas kalau harus memakai pakaian tertutup seperti ini selama musim panas."


"Baiklah, sini aku hilangkan dengan sihir." Aku pun mendekat ke arah Claude. Tapi bukannya menggunakan sihirnya, dia malah menciumku habis-habisan. "Aku belum puas dengan yang semalam, Diana."


Dengan nafas terengah-engah, aku menjawab. "Claude, ka-kau gila? A-aku hampir kehabisan nafas."


"Tidak masalah. Aku akan memberimu nafas buatan."


Aku yang hendak pergi langsung ditahan oleh Claude. "Mau kemana?"


"Aku mau pergi, di sini tidak aman."


Claude menarikku dan mendudukkannya ke pangkuannya. "Tidak bisa."


Aku memberontak. "Lepaskan aku Claude!Aku tidak mau."


"Aku masih belum puas, Diana. Ayo lakukan sekali lagi," ajaknya.


"Kau gila Claude?! Tubuhku masih sakit dan sudah tidak ada tempat untukmu membuat tanda merah."


"Kata siapa? Masih banyak tempat yang belum aku ku tandai." Dia menatap tubuhku. " Pahamu, kakimu, tanganmu, dan..." Claude tidak melanjutkan perkataannya.


"Dasar mesum!"

__ADS_1


"Hei aku tidak mesum. Aku melakukannya denganmu."


"Lepaskan aku Claude!"


"Tidak mau."


"Oke apa yang harus kulakukan supaya kau mau melepaskanku?" tanyaku menyerah.


"Lakukan itu lagi," jawabnya cepat.


"Tidak! Aku masih lelah Claude. Tolong mengertilah," tolakku.


Akhirnya Claude menyerah. "Baiklah, tetap di posisi seperti ini sebentar saja. Aku masih ingin memelukmu."


Aku mengangguk.


Setelah puas memelukku, Claude pun kembali ke ruang kerjanya. Dia membiarkanku istirahat, jadi tidak ada latihan apapun dulu untuk hari ini. Aku pun menghabiskan waktu dengan bermain bersama Athanasia. Padahal baru kemarin dia merayakan pesta ulang tahunnya yang pertama tapi kenapa aku merasa dia bertumbuh semakin besar?


"Bu," panggil Athanasia.


"Buuuu," panggilnya lagi.


"Ah iya kenapa sayang?" tanyaku. Tadi aku sedang melamun jadi tidak dengar saat dia memanggil.


"Nih pa?" tanyanya sambil menunjuk gambar kupu-kupu di buku yang sedang dilihatnya.


"Ini namanya kupu-kupu, Athanasia," jawabku.


Dia memasang ekspresi bingung. "Pupu?"


"Iya"


"Nih pa?" Kali ini dia menunjuk gambar bunga.


"Kalau itu namanya bunga," jawabku lagi.


"Nga? Athi mo yat"


"Hmm? Athanasia mau melihat bunga?" tanyaku.


Athanasia mengangguk.


"Baiklah, ayo kita ke taman. Di sana ada banyak jenis bunga dan kalau beruntung ada kupu-kupu juga"


Athanasia bertepuk tangan senang.


"Lily, tolong ambilkan topiku dan topi Athanasia. Kami akan berjalan-jalan ke taman sebentar," pintaku.


"Baik, yang mulia permaisuri." Lily mengambil topi untukku dan Athanasia. Setelah itu kami pergi ke taman. Beruntung cuaca tidak terlalu terik, hanya sedikit panas saja.


Saat sampai di taman, Athanasia langsung tertawa girang. Dia senang saat melihat banyak bunga dan kupu-kupu yang berterbangan.


"Kamu suka bunga, Athanasia?"


Athanasia mengangguk.


Aku memetik salah satu bunganya dan menyelipkannya di rambut Athanasia. "Cantiknya."


"Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya memberi salam pada yang mulia permaisuri dan tuan putri Athanasia." Aku melihat seorang wanita dengan anak laki-laki digendongnya. Siapa wanita ini? Bagaimana dia bisa masuk ke taman pribadiku?


"Siapa kamu?" tanyaku.


"Perkenalkan saya Duchess Alpheus, yang mulia permaisuri."


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Mengapa kamu bisa masuk ke taman pribadiku?"


"Maafkan saya, yang mulia permaisuri. Saya tidak tau kalau ini taman pribadi milik anda. Saya ke sini karena mencium aroma bunga jadi saya mengikuti aroma tersebut dan sampai di sini," jelasnya.


"Ada urusan apa kamu ke istana? Setahuku yang mulia sedang tidak menerima tamu."


"Saya ke sini dengan suami saya, Duke Alpheus. Beliau dipanggil oleh yang mulia jadi saya ikut dengannya sekalian melihat istana."


"Lain kali jangan berkeliaran sembarangan di istana, duchess!" peringatku.


"Akan saya ingat yang mulia permaisuri. Terima kasih atas kebaikan hati anda. Kalau begitu saya pamit dulu."


Sudah mau pergi? Apakah aku terlalu keras padanya? Tanyaku dalam hati.


Aku menahan wanita itu. "Tunggu sebentar, duchess."


Dia menoleh ke arahku. "Ya, yang mulia permaisuri?"


"Apakah anak yang di gendonganmu itu adalah anakmu?" tanyaku.


"Iya, dia adalah putra saya. Namanya Ijekiel Alpheus, dia berusia 2 tahun. Ayo turun nak, beri salam pada yang mulia permaisuri dan tuan putri Athanasia."


Anak itu turun dari gendongan sang Duchess dan memberi salam. "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya memberi salam pada yang mulia permaisuri dan tuan putri Athanasia."


"Kamu sangat lucu dan tampan," pujiku.


Ijekiel menatapku seperti ingin bertanya sesuatu.


"Ada apa tuan muda Alpheus? Apakah ada yang ingin kamu tanyakan?"


"A-anu yang mulia permaisuri. Apakah itu tuan putri Athanasia?" tanyanya sambil menunjuk Athanasia.


"Ijekiel! Tidak sopan menunjuk orang seperti itu!" omel Duchess.


"Ma-maafkan saya, yang mulia permaisuri," ucapnya merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, tapi jangan lakukan itu lain kali ya? Karena itu bukanlah perbuatan yang sopan," ujarku.


Dia mengangguk.


"Iya, dia adalah putri Athanasia. Athanasia, sapalah tuan muda Alpheus."


"Aloo," sapa Athanasia.


"Ha-halo tuan putri, senang bertemu dengan anda," ucapnya malu-malu.


Ijekiel langsung bersembunyi dibalik tubuh ibunya.


"Apakah kamu malu Ijekiel?" tanya duchess.


Ijekiel hanya mengangguk. Sungguh reaksi yang sangat menggemaskan.


"Maaf mengganggu yang mulia permaisuri, matahari semakin terik jadi lebih baik kita masuk sekarang," ucap Lily.


"Ah iya kamu benar Lily. Apakah kamu tau arah untuk ke istana utama, Duchess?"


"Iya, yang mulia permaisuri."


"Maafkan aku karena tidak bisa mengantarmu karena Athanasia sudah kepanasan."


"Tidak apa-apa, yang mulia permaisuri. Malah saya yang harusnya minta maaf karena sudah lancang masuk ke taman pribadi anda."


Aku mengangguk. "Aku memaafkanmu kali ini."


Aku yang hendak pergi tiba-tiba ditahan oleh Duchess. "Yang mulia permaisuri, bolehkah saya mengundang anda lain kali untuk ke kediaman saya?"


Sebenarnya aku tidak berniat memiliki hubungan dengan nyonya bangsawan manapun tapi entah mengapa aku sulit menolak permintaan ini. Akhirnya aku mengangguk. "Iya, anda boleh melakukannya. Saya akan datang jika tidak sibuk."


"Terima kasih, yang mulia permaisuri."


Aku mengangguk dan kemudian pergi.

__ADS_1


***POV AUTHOR***


"Astaga yang mulia permaisuri sangat cantik dan tentu saja tuan putri juga cantik. Benarkan Ijekiel?" ucap Duchess.


Ijekiel mengangguk. "Iya bu, tuan putri sangat cantik dan lucu."


"Sepertinya putraku tertarik pada tuan putri."


Ijekiel hanya diam.


"Baiklah, ayo kita ke ayah sekarang. Sepertinya dia sudah selesai berbicara dengan yang mulia." ajaknya.


Duchess dan Ijekiel pergi ke istana utama dan secara kebetulan bertemu dengan Duke Alpheus dan yang mulia. "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya memberi salam pada yang mulia."


"Ah perkenalkan yang mulia, ini adalah istri dan putraku," ucap Duke Alpheus.


Claude hanya mengangguk.


Ijekiel memeluk kaki duke. "Ayah, tadi aku bertemu tuan putri."


Duke yang tidak mendengar jelas ucapan putranya langsung menggendongnya. "Apa yang kamu katakan tadi? Ayah tidak mendengarnya dengan jelas."


"Tadi aku bertemu dengan yang mulia permaisuri dan tuan putri. Mereka berdua sangat cantik, ayah," pujinya.


"Benarkah?"


Ijekiel mengangguk.


"Dimana kau bertemu dengan mereka?" tanya Claude.


"Maaf yang mulia, tadi saya dengan putra saya tidak sengaja masuk ke taman pribadi yang mulia permaisuri dan kami bertemu dengan mereka di sana," jawab Duchess Alpheus.


"Lancang sekali kau masuk ke taman pribadi istriku!" bentak Claude.


Duchess langsung menunduk hormat. "Maafkan saya yang mulia, saya benar-benar tidak sengaja. Yang mulia permaisuri juga sudah memaafkan kesalahan kami."


"Tapi tetap saja kau sudah lancang berkeliaran di istana utama!"


"Yang mulia tolong maafkan istri saya." Duke Alpheus memohon pada Claude.


"Yang mulia, berikan kemurahan hati anda untuk mereka. Yang mulia permaisuri juga sudah memaafkan kesalahan Duchess," timpal Felix.


"Tidak bisa! Sekali melanggar aturan harus dihukum!" tegas Claude.


"Yang mulia tolong tahan emosi anda," ucap Felix.


***POV DIANA***


Setelah menidurkan Athanasia dan menitipkannya pada Lily, aku bergegas ke ruang kerja Claude.


Saat perjalanan ke ruang kerja Claude, aku melihat Claude, Duke Alpheus, Duchess Alpheus, Felix, dan Ijekiel. Aku pun langsung menghampiri mereka.


"Ada apa ini? Kenapa kalian semua berkumpul di sini?" tanyaku.


"Diana? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Claude.


Duke Alpheus, Duchess Alpheus, dan Felix memberi salam "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia."


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Claude. Apa yang sedang kalian lakukan? Dan kenapa kau terlihat sangat marah? Apakah pembicaraan dengan Duke Alpheus tidak berjalan dengan baik?" tanyaku lagi.


"Sudahlah kau tidak perlu tau. Kembali ke kamarmu!" perintah Claude.


"Tidak mau. Jawab aku dulu!"


" Aku dengar Duchess Alpheus masuk ke taman pribadimu jadi aku berniat menghukumnya," jawab Claude.


"Itu memang benar, tapi aku sudah memaafkannya Claude jadi jangan hukum Duchess Alpheus. Dia tidak bersalah, aku tau itu hanya ketidaksengajaan."


"Dia sudah lancang masuk ke taman pribadimu, tentu saja aku harus menghukumnya."


"Tidak, aku sudah bilang kalau aku telah memaafkannya," larangku.


"Baiklah. Kau selamat kali ini Duchess Alpheus. Tapi ingat tidak ada lain kali!" peringat Claude.


"Baik, yang mulia. Terima kasih."


"Sekarang pergilah!" Keluarga Alpheus pun pergi.


Felix menghela nafas lega. "Syukurlah anda datang tepat waktu yang mulia permaisuri, kalau tidak yang mulia sudah menghukum orang yang tidak bersalah."


"Apa maksudmu orang tidak bersalah? Mereka telah melakukan kesalahan dan pantas untuk mendapatkan hukuman. Diana saja yang terlalu baik pada mereka," ujar Claude tak terima.


"Sudahlah Claude. Jangan membuat musuh yang tidak perlu."


"Huh aku sangat tidak suka pada keluarga Alpheus."


"Kenapa?"


"Mereka selalu saja membuat keributan."


"Keributan?"


"Keluarga Alpheus adalah satu-satunya yang berani menentang yang mulia. Ada kalanya mereka menentang keputusan yang mulia," jawab Felix.


"Mungkinkah mereka punya pendapatnya sendiri?"


"Iya tapi pendapat mereka kadang tidak masuk akal yang mulia permaisuri."


Hmm seingatku di novel memang hubungan Duke Alpheus dan Claude tidak berjalan baik. Ucapku dalam hati.


"Sudahlah tidak usah membicarakan keluarga Alpheus lagi. Aku muak mendengar namanya. Omong-omong dimana Athanasia? Katanya tadi kau sedang berjalan-jalan dengan Athanasia di taman."


"Dia sedang tidur. Sepertinya dia terlalu lelah setelah jalan-jalan tadi."


"Apakah dia menyukai tamannya?"


Aku mengangguk. "Tentu, dia sangat senang saat melihat bunga dan kupu-kupu."


"Haruskah aku membuatkan satu untuknya juga?"


"Tidak perlu. Buatkan dia perpustakaan pribadi di masa depan karena dia sangat menyukai buku."


"Benarkah? Bagaimana kamu bisa tau? Dia bahkan belum bisa membaca," tanya Claude curiga.


Aku pun segera mencari alasan. "Ya aku hanya merasakan saja."


"Baiklah. Aku akan membuatkannya perpustakaan pribadi nanti."


"Omong-omong ada urusan apa kau datang kemari? Apakah kau perlu sesuatu?" tanya Claude.


"Tidak. Aku hanya ingin bertemu denganmu saja."


"Hanya itu?"


"Iya, apakah tidak boleh?"


"Tentu saja boleh. Lalu apakah kau ingin minum teh bersamaku?" ajak Claude.


"Tentu."


"Felix, minta pelayan untuk menyiapkan teh dan beberapa cemilan kesukaan permaisuri. Antarkan ke ruang kerjaku!" perintah Claude.


"Tidak, Claude. Jangan di ruang kerjamu. Apakah kau tidak stress selalu di ruang kerja seharian? Cobalah untuk keluar jalan-jalan walau hanya sebentar."


"Baiklah, antarkan semua itu ke taman pribadi permaisuri!" perintahnya.

__ADS_1


"Baik, yang mulia."


"Ayo kita ke taman," ajakku sambil menggandeng tangan Claude.


__ADS_2