Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
8


__ADS_3

Di taman pribadiku.


Aku dan Claude mengobrol santai sambil meminum teh.


"Apakah Duchess Alpheus mengganggumu? Apakah dia bersikap tidak sopan kepadamu?" tanya Claude.


"Tidak," jawabku singkat.


"Baguslah. Kalau dia melakukan sesuatu padamu bilang saja, akan aku hukum keluarga Alpheus."


"Claude, aku sudah bilang jangan membuat musuh yang tidak perlu. Lagi pula Duchess Alpheus orangnya ramah dan baik kok. Dia mengakui kesalahan yang dia lakukan dan aku tau kalau dia berkata jujur."


"Jangan mudah percaya dengan tampang kebaikan seseorang, Diana. Yang terlihat baik belum tentu baik."


"Iya, aku tau."


"Ah iya Penelope mengirim surat untukmu," ucap Claude sambil memberikan sepucuk surat.


Aku mengambil surat itu dan membukanya.


Untuk yang mulia permaisuri


Halo yang mulia permaisuri, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kemarilah kapan-kapan bersama yang mulia, kalian akan kami jamu sebaik mungkin. Ah iya saya dengar anda telah melahirkan seorang anak perempuan. Putri anda pasti sangat cantik seperti anda. Selamat atas kelahiran anda yang mulia permaisuri, saya mengirimkan permata terbaik di Meita sebagai hadiah kelahiran tuan putri Obelia. Oh iya saya juga telah melahirkan seorang anak perempuan yang cantik. Namanya Zenith, mata dia sangat indah seperti mata Anastasius. Semoga kedua putri kita bisa bertemu dan bermain bersama di lain waktu. Sampai saat itu tiba, semoga anda dan keluarga sehat selalu. Mari bertemu saat anda ada waktu luang yang mulia permaisuri.


Salam hormat, Penelope.


Claude yang penasaran dengan isi suratnya pun bertanya, "Apa yang dikatakan Penelope?"


"Dia mengundang kita untuk datang ke rumahnya di Meita dan memberi ucapan selamat padaku."


"Ah iya dia mengirimkan permata untukmu. Permata itu ada di ruang kerjaku, mau di ambilkan sekarang?" tanyanya.


Aku menggeleng. "Tidak perlu, nanti akan aku ambil sendiri."


"Kita akan mengunjunginya saat Athanasia sedikit lebih besar ya? Terlalu bahaya untuk mengajaknya keluar di usianya yang masih kecil."


Aku mengangguk. "Iya, aku paham. Aku juga akan berlatih supaya lebih kuat."


"Jangan terlalu memaksa dirimu, Diana. Aku akan selalu melindungi kalian."


"Iya. Terima kasih, Claude."


Setelah itu kami melanjutkan obrolannya dengan membicarakan hal random.


Hari demi hari pun berlalu, tidak terasa kemampuan sihirku telah meningkat pesat. Bukan hanya kemampuan sihir, tapi berpedang, memanah, dan berkuda juga meningkat. Kini Athanasia pun telah berumur 5 tahun. Dia bisa berbicara lebih jelas dan sekarang dia sudah bisa berjalan. Kadang kami semua merasa sangat kelelahan menjaga Athanasia semenjak dia bisa berjalan dan berlari, karena dia akan selalu berlari ke sana dan ke sini tanpa lelah. Aku heran kenapa Athanasia tidak pernah lelah berlarian di sekitar istana yang sangat besar ini.


Hari ini adalah hari terakhirku berlatih sihir dengan Lucas, karena Lucas bilang sudah tidak ada lagi yang bisa dia ajarkan padaku.


"Oke ini adalah latihan terakhir kita, kamu belajar dengan sangat cepat," puji Lucas.


"Ini semua berkatmu, Lucas. Aku beruntung memiliki guru yang sangat hebat dalam mengajar sehingga aku bisa cepat memahaminya."


"Ini juga berkat kerja kerasmu."


"Ibu, Athy juga mau belajar sihir." Akhir-akhir ini Athanasia selalu mengikutiku kemana pun aku pergi termasuk saat aku sedang latihan. Claude selalu melarangnya tapi siapa yang bisa menghentikan Athanasia saat dia ingin melakukan sesuatu. Tentu saja tidak ada. Apalagi Athanasia adalah satu-satunya putri kami dan Claude sangat menyayanginya jadi dia tidak bisa berlaku terlalu keras pada Athanasia. Akhirnya Claude mengizinkan Athanasia untuk melihat latihannya dengan syarat tidak terlalu dekat dengan area latihan.


Aku mendekati Athanasia dan mengelus rambut pirangnya itu. "Nanti ya sayang."


"Nanti kapan ibu? Athy juga mau bisa sihir seperti ayah, Felix, dan ibu."


"Athy pernah melihat ayah dan Felix menggunakan sihir?" tanyaku.


Athanasia mengangguk. "Iya, waktu itu ayah dan Felix menunjukkannya pada Athy."


Mereka berdua! Sudah kukatakan untuk tidak menunjukkan sihir kepada Athanasia. Ucapku dalam hati.


"Kumohon ibu, izinkan Athy belajar sihir," pinta Athanasia.


"Iya sayang, kamu boleh belajar sihir tapi nanti ya kalau sudah lebih besar?"


"Athy maunya sekarang ibu!" desaknya.


"Athanasia, ibu tidak mengajarkan kamu menjadi anak nakal!" ucapku tegas.


"Aku benci ibu!" Athanasia pun lari.


Aku terkejut mendengar perkataan Athanasia. Apakah aku terlalu keras padanya?


"Anak-anak memang selalu susah dibilangin. Dulu ataupun sekarang, sama saja," celetuk Lucas.


"Lucas, apakah aku terlalu keras pada Athanasia?" tanyaku.


"Tidak. Kau telah melakukan hal yang benar. Dia terlalu kecil untuk belajar sihir, kau tau itu dan wajar kalau kau melarangnya. Kalian terlalu memanjakan Athanasia, itulah mengapa dia tumbuh menjadi anak manja yang harus dituruti semua keinginannya," jawab Lucas.


"Ya kau benar. Kita semua terlalu memanjakannya, padahal dia adalah anak yang baik di novel. Mungkin karena dia terlalu dimanjakan jadi sifatnya berubah."


"Di novel?" tanya Lucas bingung.


"Ah tidak. Kau salah dengar, aku tidak mengucapkan kata novel tadi. Udahlah ayo kita lanjutkan latihannya."


Lucas menahan lenganku. "Hei, siapa kamu sebenarnya?"


"Aku? Tentu saja aku adalah Diana, permaisuri Obelia."


"Tidak. Aku sudah merasakan hal aneh saat pertama kali bertemu denganmu."


"Aneh? Aneh bagaimana?" tanyaku.


"Jiwamu bukan berasal dari sini," jawab Lucas.


"Apa maksudmu, Lucas? Aku tidak mengerti."


"Jangan berpura-pura bodoh. Aku tau kalau kau paham maksud perkataanku."

__ADS_1


"Aku serius, aku tidak tau maksud dari perkataanmu tadi."


"Baiklah, kita lihat sampai kapan kamu akan berbohong seperti ini. Ingat Diana, kamu tidak bisa menyembunyikan rahasia ini selamanya. Suatu saat semuanya akan terbongkar dan kita lihat apakah mereka semua masih menyukai dan menyayangimu kalau mengetahui hal itu."


Aku melepaskan genggaman tangan Lucas. "Apa sih Lucas! Aku malas membicarakan hal tidak jelas seperti ini. Lebih baik kita lanjutkan latihannya."


"Ya terserah kau saja." Kami pun melanjutkan latihannya.


Selesai latihan, aku langsung menghampiri Athanasia. Tapi ternyata dia tidak ada di kamarnya. Aku pun bertanya kepada pelayan yang kebetulan lewat. "Apa kau melihat Athanasia? Aku tidak bisa menemukannya. Dia tidak ada di kamarnya."


"Tadi saya lihat tuan putri pergi menuju ruang kerja yang mulia," jawabnya.


"Baiklah, terima kasih."


"Sama-sama, yang mulia permaisuri. Kalau begitu saya lanjut bekerja dulu." Pelayan itu menunduk, kemudian pergi.


Aku pun pergi ke ruang kerja Claude.


Sesampainya di depan ruang kerja Claude, ksatria yang berjaga memberi salam, "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia."


"Apakah Athanasia ada di dalam?" tanyaku.


"Iya, yang mulia permaisuri. Tuan putri ada di dalam bersama yang mulia," jawabnya.


"Baiklah, aku akan masuk." Ksatria itu mempersilahkan aku untuk masuk.


Ternyata Athanasia benar-benar ke sini. Lihatlah dia, dia sedang memeluk ayahnya dengan erat. Claude yang menyadari keberadaanku pun menghampiriku sambil menggendong Athanasia. "Ada apa kamu ke sini sayang?" tanyanya sambil mencium keningku.


"Ngapain ibu ke sini?!" tanya Athanasia kesal.


"Athanasia, tidak sopan berbicara seperti itu dengan ibumu. Minta maaf sekarang!" tegur Claude.


Tapi Athanasia menolak. "Tidak mau."


"Athanasia, kalau salah itu kita harus minta maaf."


"Athy tidak salah ayah. Ibu yang salah pada Athy!"


"Coba beritahu ayah kenapa ibu bersalah padamu?"


"Athy meminta pada ibu untuk mengizinkan Athy belajar sihir tapi ibu tidak mengizinkannya."


"Apa ibu benar-benar tidak mengizinkannya? Athanasia yakin itu?"


Aku langsung berusaha menjelaskannya.


"Tidak Claude, aku bukannya tidak mengizinkannya hanya saja sekarang belum waktunya untuk Athanasia belajar sihir."


Claude mengelus rambutku. "Aku tau sayang, tapi aku ingin Athanasia yang menjelaskannya sendiri."


Athanasia diam.


"Bagaimana Athanasia? Apa benar ibu tidak mengizinkannya?" tanya Claude lagi pada Athanasia.


Athanasia menggeleng. "Tidak. Sebenarnya ibu mengizinkan tapi ibu bilang tidak sekarang karena Athy masih terlalu kecil untuk belajar sihir."


"Tidak ayah."


"Jadi siapa yang harus minta maaf sekarang?"


Athy menunjuk dirinya sendiri.


"Kalau begitu minta maaflah pada ibumu. Athanasia tidak mau jadi anak yang durhaka, kan?"


Athanasia turun dari gendongan Claude dan berdiri di hadapanku. "Ibu."


Aku pun jongkok untuk menyamakan tinggi Athanasia. "Iya putriku?"


"Maafkan Athy karena berkata jahat pada ibu tadi."


"Ibu maafkan, tapi Athanasia tidak boleh melakukan hal seperti itu lagi ya? Tidak boleh membantah perkataan orang tua karena itu bukan perbuatan yang baik."


"Iya ibu."


Aku merentangkan tanganku dan Athanasia langsung berlari ke pelukanku.


"Maafin Athy, ibu. Athy janji tidak akan nakal," ucapnya lagi sambil menangis.


Aku mengelus punggung Athanasia. "Iya iya. Athanasia udah jadi anak baik karena mau mengakui kesalahan."


Malam harinya.


Karena Athanasia meminta untuk tidur bersamaku dan Claude, jadilah sekarang kami bertiga berada di kasur yang sama. Athanasia dan Claude berebut untuk tidur di sampingku, alhasil aku tidur ditengah, Claude dan Athanasia di samping kanan kiriku.


"Ini ibu beneran di tengah?"


"Iya, soalnya Athy mau tidur di dekat ibu," jawab Athanasia.


"Tapi ayah juga mau tidur dekat ibu," jawab Claude.


"Makanya itu Athy aturnya ibu tidur di tengah biar ayah sama Athy bisa tidur deket ibu."


Aku yang khawatir dengan Athanasia pun membujuk Claude untuk mengalah. "Tapi kalau Athy tidur di pinggir gitu nanti jatuh loh. Udah gapapa Athy di tengah, ayah ngalah dulu ya?"


"Tidak mau. Pokoknya aku mau tidur di dekatmu juga," tolak Claude.


"Tuh ayahnya tidak mau, ibu. Udah gapapa, Athy udah besar jadi tidak mungkin jatuh."


Akhirnya aku menyerah untuk membujuk mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mau mengalah. Mereka memelukku dengan senang.


Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari Athanasia. Dia sudah tertidur rupanya dan sepertinya Claude juga tertidur. Tapi aku tidak bisa tidur karena ucapan Lucas tadi. Bagaimana dia bisa tau kalau jiwaku bukan berasal dari dunia ini? Ah iya di novel juga dia mengetahui kalau jiwa Athanasia bereinkarnasi berulang kali jadi bukan hal sulit untuk dia mengetahui identitas jiwa asliku juga. Tapi bagaimana kalau suatu saat hal ini terbongkar? Apa mereka semua akan tetap menyukai dan menyayangiku? Apalagi Claude. Dia memang sangat mencintai Diana tapi yang dia cintai adalah Diana asli bukan Diana palsu sepertiku. Apakah dia akan mencampakkan aku kalau mengetahui yang sebenarnya? Ah tanpa di sadari air mataku sudah menetes. Isakan mulai keluar dari bibirku, aku pun berusaha untuk menahan isakan itu agar tidak membangunkan Claude dan Athanasia.


"Ada apa Diana?" tanya Claude.

__ADS_1


"Claude? Ah kau terbangun ya, maafkan aku" ucapku sambil tersenyum.


"Apakah tadi kau menangis? Sepertinya aku mendengar suara tangisan tadi."


"Ti-tidak kok, kamu salah dengar."


Claude bangun dan menyalakan lampu.


"Claude, Athanasia bisa terbangun kalau kau menyalakan lampu seperti itu."


Bukannya mendengarkan perkataanku, Claude malah membuka tangannya dan menyuruhku untuk masuk ke pelukannya. Entah mengapa aku tidak bisa menolaknya, akhirnya aku pun bangun dan masuk ke pelukannya.


Claude mengelus rambut pirangku. "Kenapa? Apa yang membuatmu menangis?"


Aku tidak menjawabnya. Aku tidak bisa menghentikan air mata ini dan isakan terus keluar dari bibirku. Claude yang tadi bertanya pun akhirnya diam. Dia memilih untuk membiarkanku menangis terlebih dahulu.


Cukup lama aku menangis sampai mataku bengkak.


"Claude," panggilku.


"Ya sayang?"


"Apakah kau mencintai Diana?"


Claude yang ditanya seperti itu pun bingung, apalagi tadi aku menyebutkan nama. Tapi dia tetap menjawab dengan tegas. "Tentu saja. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Aku terkekeh. "Iya, kau memang mencintai Diana."


Tapi kau mencintai Diana yang asli. Ucapku dalam hati.


"Aku mencintaimu," ucapnya sambil menatap mataku.


Tidak, kau tidak mencintaiku. Yang kau cintai adalah Diana. Ucapku dalam hati.


"Diana, kau juga mencintaiku, kan?" tanya Claude.


Aku mengangguk. "Tentu saja. Aku rela melakukan apa saja supaya kamu dan Athanasia bisa bahagia, karena aku sangat mencintai kalian."


"Itu cukup. Jangan memikirkan hal aneh lagi Diana, aku tau pikiranmu sedang kemana-mana. Sebenarnya siapa yang membuatmu jadi seperti ini?"


Tiba-tiba Athanasia terbangun. "Ibu? Ayah? Apa yang kalian lakukan tengah malam seperti ini?"


Aku menoleh ke arah Athanasia. "Kemarilah Athanasia."


Athanasia mendekat dan aku menariknya untuk memeluknya. Athanasia bingung dengan tingkahku. "Ibu, apa ibu habis menangis?"


"Tidak sayang."


"Bohong, baju ayah basah. Ibu pasti habis menangis. Ada apa ibu? Apakah ayah nakal kepada ibu? Bilang pada Athy, Athy akan mengomeli ayah."


Aku mengelus rambut Athanasia. "Tidak, ayah tidak nakal kepada ibu. Ibu hanya sedang sedih makanya menangis."


Athanasia memelukku erat. "Apa ibu sedih karena ucapanku tadi siang? Maaf ibu. Athy salah. Athy tidak akan mengucapkan itu lagi. Athy sayang ibu."


Aku menggeleng. "Tidak. Ibu bukan sedih karena hal itu."


"Lalu karena apa? Apakah ada orang yang mengatakan hal jahat pada ibu?" tanyanya.


Aku tidak menjawabnya.


"Udah, sekarang kita tidur lagi," ajakku.


"Ibu sudah tidak sedih? Kalau masih sedih gapapa nangis aja, Athy temani kok."


"Tidak. Ibu sudah tidak sedih lagi. Tadi ayah menghibur ibu."


"Kenapa ibu tidak membangunkan aku? Padahal aku juga mau menghibur ibu dan pastinya aku lebih hebat dalam menghibur."


"Apa yang akan kau lakukan untuk menghibur ibu? Biarkan ayah mendengarnya," ucap Claude.


"Aku bisa bernyanyi untuk ibu atau menceritakan hal lucu kepada ibu," jawab Athanasia.


"Itu tidak berguna," balas Claude.


"Ayah!" kesal Athanasia.


"Apa? Memang benar. Yang ada ibu tambah sedih kalau mendengar nyanyian mu yang jelek itu," ledek Claude.


"Ibuuu, ayah mengatakan hal jahat padaku,"adu Athanasia.


"Lihat, bukannya menghibur ibu kau malah membuat ibu menghiburmu yang sedang marah. Lagi pula ayah hanya mengatakan faktanya."


Athanasia diam.


Aku langsung menengahi mereka. "Sudah sudah. Claude jangan jahili putrimu!"


Tiba-tiba terdengar suara isakan dari bibir mungil Athanasia.


"Athanasia, kenapa sayang?" tanyaku khawatir.


"Ibuuu, kata ayah suara Athy jelek" adunya sambil menangis.


Aku memeluknya dan menenangkannya. "Cup cup ayah cuma bercanda Athanasia. Suara Athanasia bagus kok cuma perlu latihan saja."


Bukannya mereda, tangisan Athanasia malah semakin kencang. "Upss sepertinya aku salah bicara. Claude kemarilah, bantu aku untuk menenangkan Athanasia. Ini juga salahmu karena meledeknya."


Claude menggendong Athanasia dan mengelus punggungnya. "Udah udah. Iya ayah salah Athanasia. Maafkan ayah ya?"


"A-apa suara Athy sejelek itu?" tanyanya.


"Tidak, suara Athy bagus. Cuma nanti latihan lagi ya? Biar ayah panggilkan guru menyanyi. Lalu saat Athanasia sudah lebih hebat menyanyi barulah tunjukkan pada ayah dan ibu ya."


Athanasia mengangguk.

__ADS_1


"Sekarang berhentilah menangis ya?"


Isakan Athanasia perlahan berhenti. Claude mengusap sisa air mata di pipi Athanasia. Setelah itu kami lanjut tidur.


__ADS_2