
Semenjak hari itu, perlahan-lahan kepemimpinan mulai dialihkan ke Athanasia. Athanasia mulai mengerjakan pekerjaan yang seharusnya Claude lakukan tapi tanpa sepengetahuan para bangsawan, Claude melemparkan pekerjaannya kepada Athanasia.
"Kau yakin akan baik-baik saja, Claude?" tanyaku khawatir.
"Aku yakin. Lagi pula cepat atau lambat pekerjaan itu akan Athanasia yang kerjakan jadi tidak ada bedanya dia mengerjakannya sekarang atau nanti," jawab Claude.
"Tentu saja beda. Saat ini Athanasia masih seorang putri mahkota. Dia belum menjadi kaisar yang sesungguhnya. Belum saatnya dia menanggung pekerjaan berat itu."
"Kamu terlalu khawatir, Diana."
"Tentu saja aku khawatir! Pekerjaan seorang kaisar tidaklah mudah."
"Athanasia dibantu oleh Zenith dan tuan muda Alpheus. Walaupun aku tidak senang dengan tuan muda Alpheus tapi dia cukup membantu Athanasia dalam mengerjakan pekerjaannya."
Aku memijat pelipis. "Bisa-bisanya kau memanfaatkan tuan muda Alpheus, Claude."
"Tidak apa-apa. Mereka masih anak-anak."
"Lagi pula untuk apa kau menyerahkan semua pekerjaan itu pada Athanasia? Padahal kamu juga tidak melakukan apa-apa."
"Siapa bilang aku tidak melakukan apa-apa?"
"Lalu apa yang kamu lakukan huh?!"
"Aku sedang sibuk berkencan denganmu. Jadi aku tidak punya waktu untuk mengurus semua dokumen-dokumen tidak penting itu, Diana."
"Dokumen tidak penting?! Benar-benar ya kamu!"
"Apa? Kenapa kamu marah seperti itu?"
"Dokumen-dokumen itu adalah rahasia negara, Claude. Bagaimana bisa kamu mengatakan dokumen itu tidak penting?!"
"Memang benar. Yang penting bagiku hanya kamu dan Athanasia."
"Terserah."
"Jangan marah-marah terus. Aku hanya bercanda. Aku tidak benar-benar menyerahkan pekerjaanku pada Athanasia."
"Bohong," ujarku tak percaya.
"Oke, aku memang menyerahkan semuanya ke Athanasia. Tapi aku tetap memeriksanya." Aku terdiam mendengar ucapan Claude.
"Aku selalu memeriksanya saat Athanasia telah menyelesaikannya," sambungnya.
"Apakah itu benar?"
"Tentu saja."
Aku pun bernafas lega.
"Jangan marah-marah dulu."
"Habisnya kamu terlihat sangat santai akhir-akhir ini dan kebetulan aku mendengar kalau kamu menyerahkan semua pekerjaan ke Athanasia."
"Aku tidak mungkin sejahat itu pada Athanasia, Diana."
"Baguslah. Kalau kau sampai menyiksa putriku, awas saja!"
"Apa?"
"Aku akan melakukan perhitungan denganmu!"
"Uh takut," ledeknya.
"Claude!" kesalku.
Claude tertawa. "Hahaha bercanda sayang."
"Aku serius, Claude."
"Aku juga serius, Diana. Aku tidak memberikan semuanya langsung pada Athanasia. Beberapa ada yang masih aku kerjakan sendiri dan pekerjaan yang dilakukan Athanasia masih di bawah pengawasanku."
"Aku tidak ingin Athanasia terkekang sebelum waktunya."
"Iya sayang. Aku juga tau."
Aku pun menyenderkan kepalaku ke bahu Claude. Claude mengelus kepalaku sayang. "Tidak terasa ya putriku kita sudah besar saja."
Aku mengangguk. "Iya. Padahal rasanya baru kemarin kita bertengkar karena masalah kandunganku dan sekarang Athanasia sudah sebesar itu."
"Kamu membesarkannya dengan sangat baik, Diana."
"Tidak. Aku tidak melakukan banyak karena kamu tau sendiri kalau aku sering bermasalah."
"Sepertinya kita orang tua yang buruk untuknya."
Tiba-tiba seseorang berteriak. "TIDAK!"
Aku dan Claude menoleh ke arah sumber suara. "Athanasia?!"
__ADS_1
"Ayah dan ibu adalah orang tua terbaik bagi Athanasia. Kalian berdua membesarkan dan mengajari Athanasia dengan sangat baik."
"Kemarilah sayang," ucapku sambil merentangkan kedua tangan.
Athanasia langsung berlari ke arahku dan memelukku. "Jangan berbicara seperti itu."
"Maafkan ibu, Athanasia. Ibu tidak bisa melihat perkembangan Athanasia selama masa remaja."
Athanasia menggeleng. "Tidak, ibu. Athanasia tidak apa-apa."
"Untunglah Lily merawatmu dengan sangat baik. Tidak salah ibu merekrutnya menjadi pelayan."
"Omong-omong apa yang kamu lakukan di sini, Athanasia?" tanya Claude heran. Biasanya jam segini Athanasia masih sibuk dengan urusan kerajaan.
Athanasia pun gugup ditanya seperti itu oleh ayahnya.
"Jawab ayah, Athanasia!" desak Claude.
"Athy hanya sedang berjalan-jalan mencari udara segar. Pusing terus berurusan dengan dokumen-dokumen itu," jawab Athanasia takut.
Claude menatap Athanasia dengan tatapan tak percaya.
"Sudahlah Claude. Biarkan Athanasia beristirahat," belaku.
"Jangan terlalu sering seperti ini, Athanasia. Kamu tidak bisa meninggalkan pekerjaan seenaknya."
"Maaf, ayah."
"Jangan terlalu keras pada Athanasia, Claude!" peringatku.
Claude pun mengelus rambut Athanasia. "Ayah hanya bercanda. Bermainlah kalau kau ingin main."
Athanasia menggeleng. "Tidak. Athanasia memiliki tanggung jawab yang besar."
"Ayah memberikan pekerjaan ayah padamu agar kamu belajar. Tapi bukan berarti pekerjaan ayah adalah kewajibanmu. Kamu boleh sesekali bermain keluar bersama teman-temanmu."
"Teman apanya? Ayah selalu melarangku untuk dekat dengan mereka."
Mendengar itu, aku langsung menatap Claude dengan tatapan tajam.
Claude dengan cepat menjelaskannya. "Bukan begitu. Ayah hanya melarang kamu untuk dekat dengan laki-laki."
"Kenapa sih?! Athy ingin bermain dengan semua orang."
"Sudahlah. Bermain dengan perempuan saja sudah cukup."
"Siapa yang berani berbicara seperti itu padamu?!"
"Ah ayah tidak mengerti!" Athanasia pun pergi dengan perasaan kesal.
"Aku salah apa?" tanya Claude tak mengerti.
"Athanasia hanya ingin bermain dengan semua orang. Tidak memandang gender apalagi jabatan," jawabku.
"Tapi dia tidak boleh bermain dengan laki-laki."
"Ya karena itu dia kesal."
"Memang apa serunya bermain dengan laki-laki?"
"Mungkin Athanasia ingin membuat relasi juga dengan mereka."
"Aku tidak mengerti."
"Pokoknya jangan larang-larang Athanasia lagi. Bebaskan dia untuk bermain dengan siapapun."
"Aku tidak bisa. Bagaimana kalau laki-laki itu berusaha mendekati Athanasia dan memanfaatkannya?"
"Athanasia tidak sebodoh itu sampai bisa dimanfaatkan. Lagi pula dia sudah dewasa. Aku yakin dia bisa memilih mana yang baik dan yang tidak baik."
"Ta—"
"Sudahlah. Tidak ada habisnya berdebat denganmu."
"Baiklah. Aku akan mencoba untuk tidak mengatur pertemanannya."
Aku pun menggenggam tangan Claude. "Athanasia adalah anak yang pintar, Claude. Lagi pula kita masih ada di sini untuk mengawasinya."
Claude mengangguk. "Kamu benar."
"Berbicaralah lagi dengan Athanasia."
"Iya." Aku dan Claude melanjutkan perbincangan kami yang lain.
***POV AUTHOR***
Malam hari pun tiba. Sesuai perintah Diana tadi, Claude datang ke kamar Athanasia dan berbicara dengannya.
"Ada urusan apa ayah ke sini?" tanya Athanasia dengan nada ketus.
__ADS_1
"Kamu sedang apa?"
"Ayah tidak lihat aku sedang apa?!"
Claude menghela nafasnya. Sepertinya putrinya ini benar-benar sudah marah padanya. Claude menghampiri Athanasia dan duduk di sebelahnya.
"Ayah tau kalau selama ini ayah terlalu mengatur pertemananmu."
Athanasia diam.
"Ayah minta maaf soal itu."
Athanasia masih diam.
"Ayah memutuskan untuk membebaskanmu berteman dengan siapapun."
"Kenapa tiba-tiba ayah bersikap seperti ini? Apakah ada yang ayah inginkan pada Athy? Apakah itu tentang pekerjaan?"
"Tidak. Ibu telah berbicara pada ayah tadi. Ibu mengatakan kalau ayah harus mulai berhenti mengatur pertemananmu."
"Ibu benar."
"Ayah hanya khawatir padamu, Athanasia."
"Tapi ayah khawatir berlebihan. Athy bukan anak kecil lagi yang tidak tau mana yang baik dan buruk."
"Iya. Putri ayah sudah besar."
Tiba-tiba saja Athanasia menangis. Claude yang melihatnya menjadi sangat panik. "Kenapa kamu menangis?"
Athanasia tidak menjawabnya dan terus menangis.
Brakk! Seseorang membuka pintu dengan sangat keras. "Kau apakan Athanasia?!"
"Diana?"
Diana menghampiri Athanasia dan memeluknya. Diana mengelus rambut pirang Athanasia. "Ada apa sayang? Kenapa kamu menangis? Apakah ayah memukulmu?"
"Apa? Tidak mungkin aku melakukan itu," sanggah Claude.
Diana hanya terkekeh.
Athanasia membalas pelukan Diana. "Ayah sangat menyebalkan!"
"Ibu tau."
"Ayah baru sadar kalau selama ini terlalu mengaturku."
"Iya."
"Ayah baru sadar kalau aku sudah besar."
"Iya sayang."
"Maafkan ayah, Athanasia."
Athanasia menarik Claude dan memeluknya. Athanasia memeluk kedua orang tuanya dan menangis. "Athy sangat menyayangi ayah dan ibu."
"Kami juga," balas mereka berdua.
"Athy ingin tidur bersama ayah dan ibu," pintanya.
"Boleh. Sudah lama juga kita tidak tidur bersama sekeluarga, iya kan Claude?" tanya Diana.
"Tapi Athanasia sudah besar. Tidak mungkin kita tidur bertiga."
"Kenapa tidak mungkin? Tempat tidurnya besar jadi muat untuk kita bertiga," balas Diana.
"Athy masih kecil! Jadi tidak apa-apa untuk tidur bersama ayah dan ibu."
Claude mencubit hidung Athanasia. "Saat seperti ini barulah kamu mengatakan kalau kamu masih kecil."
Athanasia hanya terkekeh.
"Yaudah, tapi hanya kali ini ya?"
"Iya."
Mereka bertiga mulai bersiap untuk tidur.
"Kira-kira siapa pasangan Athy nanti ya?" tanya Athanasia.
"Kamu masih terlalu kecil untuk memikirkan hal itu, Athanasia," jawab Claude.
"Athy hanya bercanda."
"Sudah. Ayo kita tidur, ini sudah larut." Claude, Diana, dan Athanasia pun mulai terlelap.
Berakhirlah kisah Park Bomi yang bereinkarnasi sebagai Diana De Alger Obelia. Banyak suka dan duka yang dialaminya tapi dia bisa menjalaninya dengan baik. Semuanya hidup berbahagia. Tidak ada lagi sihir hitam di Obelia.
__ADS_1