
Di kamar Athanasia.
Athanasia dan Zenith sedang bermain. Lily juga ada di sana untuk menjaga mereka karena Penelope sedang bertemu dengan para menteri bersama Anastasius.
"Lily, ibu kemana sih? Sejak dari Meita, ibu tidak terlihat. Apa ibu marah karena Athy nakal?" tanyanya.
Pertanyaan itu lagi. Lily bingung harus menjawab apa kali ini.
"Iya Lily, bibi Diana kemana? Apa bibi Diana marah pada Zenith karena telah mengajak Athy melakukan hal yang berbahaya?" tanya Zenith.
"Tidak. Yang mulia permaisuri sedang ada pekerjaan di luar jadi belum bisa kembali ke istana dan bermain bersama kalian," jawab Lily bohong.
"Kenapa lama sekali Lily? Sudah 2 bulan ibu belum kembali. Apa pekerjaannya sangat sulit sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama?"
"Iya, tuan putri. Saat pekerjaan yang mulia permaisuri selesai, pasti beliau langsung kembali untuk bertemu dengan tuan putri."
Athanasia mulai menangis. "Athy rindu pada ibu."
"Cup cup Athy. Zenith juga rindu pada bibi Diana." Athanasia memeluk Zenith dan menangis.
"Kita tunggu bibi Diana sama-sama ya? Pasti bibi Diana sebentar lagi pulang." Athanasia mengangguk.
"Lily, Athy ingin bertemu dengan ayah," pinta Athanasia.
"Maaf tuan putri, saat ini yang mulia juga sedang sibuk jadi anda tidak bisa bertemu dengan beliau untuk sementara waktu."
Athanasia menghela nafasnya. "Sejak kembali dari Meita, ayah selalu sibuk. Padahal dulu ayah selalu meluangkan waktunya untuk bermain bersamaku."
"Itu karena yang mulia telah menunda pekerjaannya jadinya menumpuk," jelas Lily.
"Apa tidak bisa Athy datang ke ruang kerja ayah? Athy tidak akan menggangu ayah dan hanya akan melihat ayah bekerja dengan tenang."
"Tidak bisa, tuan putri. Anda bermain di sini saja ya bersama nona Zenith dan saya?"
Athanasia menggeleng. "Tidak mau. Athy ingin bertemu dengan ayah sekarang."
"Berisik sekali kau," ucap seseorang.
"Tuan Lucas?!"
"Ada apa dengan anak kecil ini?"
"Tuan putri ingin bertemu dengan yang mulia tapi saat ini yang mul—"
"Si raja bodoh itu sedang depresi, kan?"
"Tuan Lucas?! Jaga bicara anda. Ini di istana, anda bisa di hukum mati karena telah menghina keluarga kerajaan!" peringat Lily.
"Memang kenyataannya seperti itu."
Athanasia kembali menangis. "Athy ingin bertemu dengan ayah."
"Hei, ayahmu sedang tidak bisa ditemui oleh siapapun," kata Lucas.
"Kenapa? Athy hanya ingin melihat wajah ayah setelah itu Athy akan pergi."
"Kau akan terkejut jika melihat wajah ayahmu itu. Sejak kepergian dia, ayahmu itu terlihat seperti mayat hidup," jawab Lucas.
"Tuan Lucas!" bentak Lily.
Lucas mengangkat sebelah alisnya. "Apa? Aku hanya berbicara faktanya."
"Tuan putri belum mengetahui yang sebenarnya jadi tolong rahasiakan itu," pinta Lily.
"Merepotkan. Dia akan terus hidup dengan kebohongan itu? Lebih baik beritahu dia sekarang sebelum itu tambah menyakitkan untuknya."
Lily menggeleng. "Tidak, tuan Lucas. Kita tidak bisa merebut kebahagiaan seorang anak kecil."
"Apakah menurutmu dia bahagia dengan kebohongan itu?" tanya Lucas.
Lily pun terdiam.
"Kau tidak bisa menjawabnya, kan? Karena kau juga tau kalau anak itu tidak bahagia," sambungnya.
"Tapi saya juga merasa kalau yang mulia permaisuri masih hidup," cicit Lily.
"Kau sama bodohnya dengan si raja itu. Aku si penyihir hebat saja tidak merasakan mananya lagi jadi tidak ada harapan."
"Tidak tuan Lucas! Saya yakin yang mulia permaisuri masih hidup!" tegasnya.
"Terserah kau saja."
Lucas yang hendak pergi pun ditahan oleh Athanasia. "Tuan, bisakah tuan membawa Athy ke ayah?"
__ADS_1
"Tidak," jawab Lucas singkat.
"Kenapa? Athy akan menjadi anak yang baik."
"Kenapa kau sangat ingin bertemu dengan ayah bodohmu itu?" tanya Lucas tak mengerti.
"Athy ingin menanyakan keberadaan ibu," jawabnya.
"Bukankah pelayanmu sudah menjawabnya? Dia sedang ada urusan di luar, lalu jawaban apa lagi yang kau inginkan?"
"Sebenarnya semalam Athy bermimpi," tutur Athanasia.
Lucas menghela nafasnya. "Jangan ceritakan mimpimu itu karena hanya akan membuang-buang waktuku saja, tuan putri."
"Anda bermimpi apa tuan putri?" tanya Lily.
"Athy mimpi kalau ibu sedang kesulitan di suatu tempat. Athy khawatir pada ibu setelah bermimpi seperti itu."
Lucas terkejut mendengarnya. "Dimana tempatnya?!"
"Athy tidak tau tapi Athy merasakan sesuatu yang sangat lemah tapi juga sangat kuat dari tubuh ibu."
"Sesuatu yang sangat lemah tapi juga sangat kuat? Berbicaralah yang jelas!" geram Lucas.
"Athy hanya tau itu saja karena semakin lama di sana, tubuh Athy semakin terasa sakit," jawab Athanasia takut.
"Hei pegang tanganku!" perintah Lucas.
"Untuk apa?"
"Pegang saja." Athanasia menggenggam tangan Lucas.
Lucas merasakan mana yang bertambah kuat di dalam tubuh Athanasia. "Hei anak kecil, kau sangat ingin belajar sihir, kan?"
Athanasia mengangguk.
"Aku akan mengajarimu sihir."
"Tapi ibu bilang Athy belum boleh belajar sihir."
"Ibumu tidak ada di sini jadi tidak apa-apa."
"Tapi ibu akan marah kalau tau."
Athanasia mengangguk. "Iya, Athy mau."
"Baiklah. Temui aku besok di menara sihir. Kau harus datang sendirian karena aku tidak suka banyak orang. Kita akan memulainya dengan teori."
"Tuan Lucas, anda yakin akan mengajari sihir pada tuan putri?" tanya Lily ragu.
"Kau bilang yang mulia permaisurimu itu masih hidup, kan?"
Lily terkejut mendengarnya. "Ja-jangan bi—"
Lucas mengangguk. "Iya, mungkin saja itu benar dan anak ini yang akan membantu menemukannya nanti. Maka dari itu aku harus mengajarkannya sihir karena penglihatannya itu membutuhkan pengendalian sihir yang baik. Semoga saja dia bisa menemukannya."
"Terima kasih, tuan Lucas."
"Tapi ini belum pasti, jangan senang dulu."
"Tidak apa-apa. Ada sedikit kemungkinan yang mulia permaisuri masih hidup saja, saya sudah senang."
"Jangan beritahu siapapun dulu apalagi si raja itu!" peringat Lucas.
Lily mengangguk.
"Tuan, bisakah anda mengajariku juga?" tanya Zenith ragu-ragu.
"Tidak. Aku hanya mengajari satu orang saja, terlalu merepotkan jika memiliki banyak murid." Setelah itu Lucas pun pergi.
Zenith sedih karena Lucas tidak mau mengajarinya sihir juga tapi Athanasia berusaha menghiburnya. "Tidak apa, Zenith. Nanti Athy akan mengajarinya juga pada Zenith ya?"
"Athy janji?"
"Tentu. Athy akan mengajari Zenith kalau Athy sudah bisa nanti."
Zenith mengangguk. "Terima kasih, Athy."
Keesokkan harinya. Athanasia datang ke menara sihir seorang diri sesuai permintaan Lucas. Saat masuk ke menara sihir, ada banyak tumpukan buku dan peralatan sihir.
"Jangan sentuh apapun tanpa izinku!" peringat Lucas saat melihat Athanasia yang hendak menyentuh sebuah buku tua.
"Baik, tuan."
__ADS_1
"Ah kita harus mengubah panggilanmu itu terlebih dahulu karena aku tidak suka dipanggil tuan, itu membuatku seperti sudah tua."
"Lalu Athy harus memanggil anda apa?" tanyanya.
"Panggil saja aku Lucas," jawab Lucas.
"Baiklah, Lucas."
"Oke mulai saat ini kau akan aku latih sangat keras. Kau ingin segera bertemu dengan ibumu, kan?"
Athanasia mengangguk.
"Maka belajarlah dengan keras dan mengertilah dengan cepat."
"Baik, Lucas."
Hari demi hari Athanasia habiskan waktunya di menara sihir. Sekarang Athanasia telah berumur 16 tahun. Athanasia semakin pandai dalam menggunakan sihirnya.
Di menara sihir.
"Baiklah karena kau telah mempelajari semuanya, sekarang waktunya kita mencoba menemukan ibumu."
Athanasia mengangguk.
"Apa kau siap?"
"Aku siap."
"Oke, fokuskan pikiranmu. Jangan pikirkan hal lain tapi pikirkanlah ibumu."
Athanasia memejamkan matanya dan mulai memfokuskan pikirannya. Dia membayangkan sosok ibunya. Athanasia pun mulai merasa kalau dia sedang tidak di menara sihir. Perlahan dia membuka matanya dan benar saja, dia berada di tempat yang tidak dia ketahui. Tapi tempat itu mirip dengan menara sihir yang selalu dia datangi untuk belajar sihir dengan Lucas. Di sana ada banyak buku dan bermacam-macam alat sihir. Tempat itu sepi, tidak ada tanda-tanda keberadaan orang. Athanasia mulai menjelajahi tempat itu. Saat sedang melihat-lihat, Athanasia menemukan sebuah buku tua. Dia pun membuka buku itu dan membacanya. Ah ternyata ini adalah buku harian seseorang. Bolehkah aku baca sedikit? Aku penasaran siapa pemilik buku harian ini.
21 Mei
Sudah berapa lama aku di sini? Entahlah tapi yang pasti sudah sangat lama aku berdiam diri di sini. Di sini tenang tapi menyesakkan. Tidak ada siapapun selain aku dan dia. Sebenarnya aku sangat kesal dengan dia karena setiap hari dia selalu menghiraukanku, dia berbicara padaku saat mengajar saja dan selebihnya dia akan terus diam. Bagaimana dia bisa bersosialisasi dengan sikapnya yang buruk itu? Benar-benar kasihan sekali dia. Tapi aku sangat berterima kasih padanya, berkat dialah aku masih hidup. Aku beruntung bertemu dengannya saat itu, apakah dia juga beruntung bertemu denganku? Sepertinya tidak haha.
17 Juli
Ah aku rindu sekali dengan keluarga kecilku. Kira-kira mereka sedang apa ya? Apakah mereka bersedih karena kepergianku yang mendadak ini? Padahal aku ingin sekali bertemu mereka secepatnya tapi dia melarang aku untuk keluar sekarang. Dia selalu berkata tunggulah waktu yang tepat tapi tidak pernah memberitahuku kapan waktu yang tepat itu. Dia hanya selalu menyuruhku untuk menunggu dan menunggu. Sangat menyebalkan!
Baru dua halaman yang dibaca oleh Athanasia tapi air matanya sudah turun tanpa seizinnya. Athanasia merasakan sakit di bagian hatinya.
Apa ini? Perasaan rindu pada seseorang yang tidak pernah kurasakan. Batin Athanasia.
" Siapa kamu? " tanya seseorang.
Athanasia terkejut dan tak sengaja menjatuhkan buku harian itu. Orang itu mengambil buku yang tak sengaja dijatuhkan oleh Athanasia. "Lancang sekali kau membuka buku harian seseorang!"
"Ma-maaf, saya tidak bermaksud membukanya," ucap Athanasia takut.
"Jangan mencoba mencarinya karena itu adalah hal yang sia-sia. Mau sehebat apapun penyihir itu, kamu dan dia tidak akan pernah bisa menemukannya."
Athanasia langsung terbangun dan menarik nafasnya kuat-kuat.
"Ada apa? Apa yang kau lihat?" tanya Lucas.
"Lucas, sepertinya kita tidak akan bisa menemukan ibu," kata Athanasia.
Lucas pun bingung dengan ucapan Athanasia. "Apa maksudmu? Kau tidak percaya padaku?"
Athanasia menggeleng. "Bukan seperti itu Lucas. Dia bilang walaupun kau hebat tapi kita tidak akan pernah bisa menemukan ibu jadi jika kita tetap melakukannya itu hanya sia-sia."
Lucas mengernyitkan dahinya. "Dia? Dia siapa?"
"Entahlah, orang itu memakai jubah hitam untuk menutupi wajahnya."
"Kita harus mencobanya lagi, Athanasia!"
"Percuma Lucas! Ibu disembunyikan oleh orang itu."
"Jangan mudah menyerah, kita harus mencobanya lagi!" desak Lucas.
Athanasia pun mengalah dan mencobanya lagi. Tapi saat sedang mencobanya lagi, tiba-tiba dia muntah darah. Lucas langsung mengobati Athanasia. "Sialan! Siapa orang itu sebenarnya?!"
Athanasia pun menangis.
Lucas panik melihat Athanasia menangis seperti itu. "Ada apa? Apakah ada yang sakit? Beritahu padaku, aku akan mengobatinya."
"Lucas, padahal aku sudah berusaha keras untuk belajar sihir supaya bisa menemukan ibu. Tapi sekarang itu semua sia-sia karena ada seseorang yang menghalanginya. Bagaimana ini, Lucas?"
"Tenanglah, Athanasia. Setidaknya kamu sudah berusaha."
Athanasia mengangguk.
__ADS_1
Lucas menghapus air mata Athanasia. "Aku akan memikirkan cara lain untuk menemukan Diana. Sekarang kamu kembalilah dan istirahat." Athanasia pun pergi.