Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
10


__ADS_3

Beberapa jam kemudian. Kak Anas, Claude, dan Felix telah kembali.


"Ada apa denganmu, Felix? Mengapa tampangmu seperti orang yang habis berlari memutari kota Meita?" tanyaku.


"Yang mulia permaisuri, tolong saya," rengek Felix.


"Ada apa?"


"Saya di bul—" Mulut Felix langsung ditutup oleh kak Anas.


"Bukan apa-apa, kami hanya habis bermain tadi makanya lelah," ucap kak Anas.


"Kenapa kamu menutup mulut Felix?" tanya Penelope.


"Tidak apa-apa, Felix terlalu berisik," jawabnya.


"Claude, katakan apa yang telah terjadi sebenarnya," ucapku.


"Seperti yang telah dikatakan Anastasius, kami hanya habis bermain tadi."


Aku dan Penelope masih tidak percaya tapi saat kita ingin bertanya lagi, tiba-tiba Zenith pulang dalam keadaan menangis. Penelope langsung menghampiri Zenith dan memeluknya. "Ada apa sayang? Bukankah kau sedang bermain bersama teman-temanmu tadi? Mengapa kau pulang dalam keadaan menangis seperti ini? Ada yang mengganggumu? Katakan pada ibu, sayang." tanya Penelope beruntun.


"Teman-teman bilang Zenith itu menyeramkan," adunya.


"Menyeramkan?" tanya Penelope tak mengerti.


"Teman-teman bilang kalau di belakang Zenith ada bayangan hitam yang menyeramkan lalu mereka bilang tidak mau bermain dengan Zenith lagi dan setelah itu mereka semua lari meninggalkan Zenith sendirian," jelasnya.


"Putri kecilku yang malang. Tidak apa-apa, Zenith bisa bermain bersama ibu," ucap Penelope menenangkan Zenith.


Athanasia mendekati Zenith dan memeluknya. "Tidak apa-apa, Zenith. Athy akan bermain bersama Zenith."


Zenith menatap Athanasia. "Kamu siapa?"


"Aku Athy. Anak ayah Claude dan ibu Diana. Jadi aku adalah sepupu."


Anastasius menghampiri Athanasia dan Zenith. "Benar Zenith, dia adalah sepupumu. Dan orang yang berambut pirang di sana adalah paman dan bibimu."


Zenith memberi salam, "Halo paman dan bibi. Maafkan Zenith karena telat menyapa kalian."


"Tidak apa-apa Zenith. Bermainlah bersama Athanasia selama kami di sini," ucapku.


"Baik. Zenith akan bermain dengan Athanasia, karena sekarang Zenith juga tidak mempunyai teman bermain."


"Tidak masalah. Zenith punya Athy sekarang, jadi Zenith tidak sendirian." Zenith mengangguk dan menghapus air matanya.


"Kamu lapar sayang?" tanya Anastasius pada Zenith.


Zenith menggeleng. "Tidak ayah. Zenith mau bermain bersama bersama Athy di luar."


"Yaudah, hati-hati mainnya ya dan jangan jauh-jauh!" peringat kak Anas.


"Kau tidak menemani mereka?" tanya Penelope.


"Tidak, aku lapar sekali setelah bermain tadi dan sekarang mau makan," jawab Anastasius.


"Ayah bermain apa? Kok tidak mengajak Zenith sih?!"


Anastasius mencubit hidung Zenith. "Salah siapa bermain sangat lama di luar?!"


"Huh harusnya ayah memanggil Zenith untuk bermain bersama tadi!"


"Baiklah ayah akan bermain bersama kalian sekarang."


"Tidak! Zenith mau main sama Athy aja," tolaknya.


"Ayah tidak diajak?"


"Tidak."


Zenith menarik tangan Athanasia. "Ayo kita bermain di luar, Athy." Mereka berdua pun pergi.


"Aku lapar," rengek Anastasius.


"Makan aja sana. Masih ada makanan di atas meja. Aku mau keluar, jagain anak-anak," ucap Penelope.


"Kamu tidak menemani aku makan dulu?"


"Tidak."


"Tega sekali."


"Siapa suruh tadi keluar-keluar?!"


Claude yang melihat itu tertawa dan meledeknya, "Hahaha kasihan."


"Aku juga mau keluar," ucapku.


Claude menatap tak percaya ke arahku. "Sayang?!"


"Apa?"


"Kok kamu keluar sih? Temenin aku makan dulu," pintanya.


"Tidak. Aku mau lihat anak-anak bermain. Kamu makan aja sama kak Anas dan Felix."


Kali ini Felix yang tertawa. "Hahaha kasihannya kalian berdua."


Aku, Penelope, dan Lily pun keluar dan menghampiri Athanasia dan Zenith yang sedang asik bermain pasir. Kebetulan rumah Penelope memang dekat dengan pantai.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyaku.


"Ibu?! Athy dan Zenith sedang bermain pasir. Kami ingin membuat istana yang besar seperti milik kita," jawab Athy.


"Wah bolehkah kita ikut?" tanya Penelope.


"Tentu. Ibu, bibi, dan Lily ayo kita bersama-sama membuat istana pasir yang besar dan cantik." Kami bermain dengan senang. Sampai tak terasa hari semakin terik.


"Panas." keluh Zenith.


"Bagaimana kalau kita bermain air? Lagi pula udah kotor juga," ajak Penelope.


"Ide bagus," ucapku.


"Ayoo, Zenith juga mau bermain air. Athy ayo kita main air bersama-sama!" seru Zenith.


Tapi Athanasia menolak. "Athy tidak mau."


"Ada apa tuan putri? Biasanya anda senang sekali bermain air," ucap Lily.


"Athy takut tenggelam. Athy pernah baca di buku kalau pantai itu airnya sangat dalam dan banyak hewan berbahaya. Ibu, bibi, dan Zenith juga jangan bermain di pantai," kelas Athanasia.

__ADS_1


Ternyata terlalu fokus pada buku juga tidak baik. Aku pun memberi arahan kepadanya. "Athanasia, apa yang tertulis di buku memang tidak salah nak tapi kita juga tidak boleh terlalu fokus pada buku. Kita tetap harus mencoba dan membuktikannya sendiri tapi dibawah pengawasan orang dewasa. Ibu tau kalau Athanasia juga sebenarnya penasaran dengan pantai, kan? Tapi karena kata-kata di buku itu jadinya Athanasia takut."


"Tapi buku itu jendela pengetahuan jadi buku tidak pernah salah."


"Memang benar tapi apakah Athanasia cukup hanya dengan membaca buku? Apakah Athanasia tidak ingin membuktikannya sendiri?"


"Tapi kalau benar berbahaya bagaimana?"


"Ada ibu di sini. Kalau memang dirasa berbahaya, ibu akan menolong Athanasia. Itu sebabnya ibu menemani Athanasia bermain. Pengalaman adalah guru terbaik sayang. Jadi Athanasia mau ya mencobanya?"


Athanasia mengangguk. "Tapi ibu harus memegang tangan Athy ya, tidak boleh dilepaskan!"


"Iya sayang. Sini pegang tangan ibu." Athanasia menggandeng tanganku dan mengikuti langkahku.


"Ibu ibu, Zenith juga mau pegangan tangan sama ibu," pinta Zenith.


"Astaga putriku juga takut dengan pantai rupanya," ledek Penelope.


"Tidak. Zenith tidak takut tapi Zenith khawatir kalau ibu takut jadi Zenith akan memegang tangan ibu," elaknya.


"Baiklah, ibu akan berpegangan pada Zenith. Tolong jaga ibu ya sayang."


"Baik. Serahkan pada Zenith. Apakah Lily juga takut?"


"Tidak nona, saya tidak takut."


"Baiklah tapi kalau Lily takut bilang padaku ya. Aku akan memegang tangan Lily." Lily mengangguk.


Kami berlima bermain air bersama-sama. Terkadang kami saling menyiramkan air ke yang lain dan berakhir dengan perang air. Athanasia mulai tidak takut dengan air pantai dan menikmatinya. Dia sudah tidak menggenggam tanganku lagi.


"Athy apakah kau bisa berenang?" tanya Zenith.


"Sedikit," jawab Athanasia.


"Kalau begitu ayo kita lomba. Siapa yang berhasil berenang paling jauh, dialah pemenangnya."


"Tapi itu berbahaya, Zenith. Bagaimana kalau kita berenang terlalu jauh nantinya?"


"Tenang saja, kita masih kecil jadi tidak mungkin bisa berenang terlalu jauh."


"Tapi—"


"Sudahlah Athy. Kalau kau menang apakah kau tidak akan merasa bangga? Kau bisa menceritakannya pada paman Claude dan bibi Diana juga, mereka pasti bangga mendengarnya. Tapi itu kalau kau menang."


"Aku pasti menang!"


"Coba saja. Kau akan melawan aku, seorang perenang hebat dari Meita."


"Ayo kita lakukan dan bukti kan siapa yang paling hebat." Athanasia dan Zenith mulai berlomba tanpa sepengetahuan Diana, Penelope, dan Lily.


"Loh dimana Athanasia dan Zenith?" tanyaku.


"Bukankah tadi mereka ada di dekat kita?"


Kami melihat ke sekitar.


"Nyonya, tuan putri dan nona Zenith ada di sana," tunjuk Lily ke arah tengah laut.


Penelope sangat terkejut melihatnya. "Bagaimana bisa mereka ada di sana?!"


"Biar saya yang menghampiri mereka," ucap Lily bersiap menyelam.


"Tapi keselamatan mereka penting, nyonya. Biar saya yang menyelamatkan mereka."


Aku menggeleng. "Mereka memang penting tapi kau juga penting, Lily. Biar aku saja, kamu tunggu di pinggir pantai bersama Penelope."


Lily menahan lenganku. "Tidak. Mana mungkin saya berani membiarkan anda mengambil resiko berbahaya seperti itu."


"Jangan berdebat! Zenith dan Athanasia semakin jauh!" teriak Penelope.


"Tidak apa, Lily. Aku tidak akan kembali dengan selamat bersama anak-anak. Sekarang kamu bawa Penelope ke pinggir pantai karena terlalu bahaya di sini. Air laut mulai pasang."


"Tolong kembalilah dengan selamat nyonya. Saya akan menunggu anda."


Aku mengangguk. "Tentu. Aku titip Penelope."


Lily membawa Penelope keluar dari air. Dan aku langsung berenang menghampiri Athanasia dan Zenith. Setau aku Athanasia tidak terlalu pandai berenang tapi bagaimana bisa dia berenang sejauh itu. Aku berhasil meraih tangan Athanasia dan Zenith, lalu mereka berhenti berenang.


"Bibi?!"


"Ibu?!"


Mereka berdua tampak terkejut melihat diriku.


"Apa yang kalian lakukan sejauh ini hah?!" tanyaku marah.


"I-ibu, mengapa ibu marah?" tanya Athanasia takut.


"Lihatlah dimana kalian sekarang." Athanasia dan Zenith melihat sekeliling mereka.


"Ke-kenapa kita ada di tengah laut?" tanya Zenith yang mulai ketakutan.


"Itu yang tadi bibi tanyakan, apa yang telah kalian lakukan sampai bisa berenang sejauh ini?"


Athanasia dan Zenith mulai ketakutan karena mereka tidak bisa merasakan dasar lautan. Mereka langsung menempel padaku dan berpegangan erat.


"Bi-bibi, Zenith takut."


"I-iya ibu, Athy juga takut."


"Ibu akan meminta penjelasan kalian nanti. Berpegangan yang kuat, ibu akan menggunakan sihir untuk berpindah tempat supaya lebih cepat." Aku menggunakan sihir teleportasi dan dalam waktu singkat kita pindah ke pinggir pantai.


Penelope langsung memeluk Zenith dan mengecek seluruh tubuhnya. "Apakah ada yang terluka sayang?"


"Ti-tidak ada, ibu," jawab Zenith.


"Jangan lakukan itu lagi! Kau membuat ibu takut!" peringat Penelope.


"Iya ibu. Maafkan Zenith," sesalnya.


"Jelaskan padaku apa yang kalian lakukan sebenarnya sampai bisa ada di tengah laut tiba-tiba?!" perintahku.


Zenith menjelaskan, "Tadi Zenith mengajak Athy untuk lomba berenang. Zenith kira kita tidak akan kuat berenang terlalu jauh tapi ternyata tanpa sadar kita sudah berada di tengah laut."


Penelope terkejut mendengar penjelasan putrinya. "Zenith?! Kenapa kau melakukan itu? Bagaimana kalau kalian berdua terluka hah?! Apakah kau tidak berpikiran panjang, Zenith?!"


Zenith menundukkan kepalanya. "Maaf ibu. Zenith mengaku kalau Zenith salah."


"Kamu tidak boleh keluar dari rumah selama seminggu sebagai hukumannya!"


"Tapi ibu, Zenith ingin bermain."

__ADS_1


"Bermainlah di dalam rumah. Kamu telah mengecewakan ibu, Zenith." Setelah mengatakan itu, Penelope pergi.


Zenith merasa sangat sedih. Bukan, bukan karena tidak boleh main keluar tapi dia sedih karena telah mengecewakan ibunya.


Lily mencoba menenangkan Zenith. "Nona, nyonya Penelope tidak marah pada anda tapi beliau terlalu mengkhawatirkan anda jadinya seperti itu."


"Aku tau, Lily."


"Kalau begitu janganlah bersedih nona, nanti cantik anda hilang."


"Aku sedih karena telah mengecewakan ibu. Padahal ibu bilang aku harus menjadi sepupu yang baik untuk Athy dan menjaganya tapi aku malah mengajak Athy melakukan hal yang berbahaya," jelas Zenith.


"Sekarang nona tau kalau yang anda lakukan itu salah dan sangat berbahaya?"


Zenith mengangguk. "Iya Lily, aku tau."


"Itu bagus. Setelah ini cobalah untuk berbicara lagi dengan nyonya Penelope. Bilang pada beliau kalau nona sangat menyesali perbuatan itu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi," usul Lily.


"Apa bisa seperti itu?" tanya Zenith.


"Bisa. Nona hanya perlu mengatakannya dari hati nona yang paling dalam," jawab Lily.


Zenith mengangguk.


"Bibi Diana," panggil Zenith.


"Ya Zenith?"


"Maafkan aku karena telah mengajak Athy melakukan hal yang berbahaya. Aku kira kira tidak akan bisa berenang sejauh itu tapi ternyata aku salah, kita udah hampir ke tengah pantai tadi. Terima kasih telah menolong kami, bibi."


"Tentu. Tapi jangan lakukan hal seperti ini lagi ya?"


"Iya bibi, Zenith janji tidak akan mengajak Athy melakukan hal yang berbahaya lagi," ucap Zenith menyesal.


"Yaudah sekarang kita kembali ke rumah." Kami semua kembali ke rumah. Claude, kak Anas, dan Felix terkejut melihat kamu pulang dengan keadaan basah kuyup.


Claude menghampiri aku dan Athanasia dengan raut wajah khawatir. "Apa yang telah terjadi?!"


"Tidak ada. Kami hanya habis bermain air di pantai," jawabku.


Kak Anas terlihat bingung. "Dimana Penelope? Bukankah kalian bermain bersama tadi?"


"Apakah Penelope belum pulang?" tanyaku.


"Belum," jawab kak Anas.


Zenith segera menghampiri ayahnya. "Ayah, ibu tidak ada di rumah?"


"Tidak sayang. Kemana ibumu pergi?"


"Tadi ibu pulang duluan karena marah dengan Zenith tapi ayah bilang kalau ibu belum pulang. Lalu dimana ibu sekarang?"


"Ayah akan mencarinya. Kamu tunggulah di rumah."


"Zenith ikut."


"Tidak, Zenith. Kamu tetaplah di rumah bersama paman dan bibimu."


Zenith mulai menangis. "Zenith ingin ikut mencari ibu. Zenith khawatir dengan ibu."


Kak Anas mulai kebingungan. "Berhentilah menangis, Zenith"


"Zenith mau ikut ayah."


Tiba-tiba Penelope datang. "Ada apa ini? Mengapa Zenith menangis?"


Aku merasa lega Penelope datang disaat yang tepat. "Penelope?! Darimana saja kamu? Kami semua khawatir."


"Aku habis dari pasar untuk membeli beberapa ikan segar."


Zenith langsung berlari ke arah Penelope dan memeluknya. "Ibuu jangan pergi lagi. Zenith janji akan menjadi anak baik dan tidak akan membahayakan orang lain lagi."


"Zenith, ibu tidak pergi sayang. Ibu hanya ke pasar sebentar."


"Ibuuu jangan marah lagi pada Zenith. Zenith janji tidak nakal lagi."


"Iya ibu tidak marah lagi pada Zenith, tapi Zenith harus berjanji tidak boleh melakukan hal yang berbahaya apalagi sampai mengajak seseorang!" peringat Penelope.


Zenith mengangguk. "Iya ibu, Zenith berjanji."


"Anak pintar. Sekarang berhentilah menangis karena ibu akan membuatkan ikan bakar spesial. Zenith suka ikan bakar, kan?"


"Iya, Zenith sangat suka ikan bakar buatan ibu."


"Oke ibu akan membuatkannya untuk makan malam. Sekarang ayo kita mandi dulu."


"Penelope, kenapa bajumu kering? Bukankah kau belum kembali ke rumah sejak kita keluar tadi?" tanyaku penasaran.


"Ah tadi aku bertemu dengan seseorang dan dia membantu aku mengeringkan baju ini," jawabnya.


Aku mengernyitkan dahi. "Siapa?"


"Aku tidak tau karena orang itu menggunakan jubah hitam untuk menutupi wajahnya."


"Para nyonya, sebaiknya anda mandi dulu baru lanjutkan mengobrolnya," ucap Felix.


Para wanita pun kembali ke kamar dan mandi.


Malam harinya.


Kami semua makan malam bersama dengan menu ikan bakar yang dibuat oleh Penelope, aku, dan Lily. Iya seperti ucapan Penelope sebelumnya kalau kita akan membuat ikan bakar bersama-sama untuk makan malam.


Selesai makan malam Zenith meminta untuk tidur bersama Athy berdua saja. Karena ada kamar kosong yang tersisa jadi Penelope mengizinkannya. Kami semua kembali ke kamar masing-masing setelah makan malam. Tidak ada sesi mengobrol karena kami semua merasa sangat lelah hari ini dan memutuskan untuk langsung beristirahat.


Di dalam kamar.


"Claude, aku ingin ke kamar Athanasia dan Zenith sebentar."


"Untuk apa?" tanyanya.


"Aku hanya ingin bermain dengan mereka sebentar. Aku khawatir mereka masih takut dengan kejadian tadi siang," jawabku.


Aku dan Penelope sudah menjelaskan apa yang terjadi tadi. Claude, kak Anas, dan Felix terlihat sangat terkejut. Claude dan kak Anas tentu saja menceramahi Athanasia dan Zenith tapi dengan nada yang lembut. Berbeda dengan Felix, dia berbicara dengan nada yang tegas sehingga membuat Athanasia dan Zenith ketakutan. Jujur baru kali ini aku melihat sosok Felix yang seperti itu. Biasanya Felix selalu bersikap lembut. Mungkin karena dia terlalu khawatir dengan mereka berdua sehingga memperingati mereka dengan tegas agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi.


Claude mengangguk. "Baiklah, tapi jangan terlalu lama karena aku tidak mau ditinggal olehmu lama-lama."


"Tidurlah duluan kalau kau sudah mengantuk. Aku tau kalau kau sangat lelah. Jangan menungguku."


Claude menggeleng. "Tidak. Aku akan menunggumu kembali."


"Kalau gitu aku ke kamar Athanasia dan Zenith dulu ya." Aku pun pergi.

__ADS_1


__ADS_2