Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
6


__ADS_3

2 hari kemudian.


Sesuai perjanjian Lucas, bahwa lusa dia akan mengajariku sihir. Dan di sinilah kami berada, di halaman luas tersembunyi yang ada di istana. Sebenarnya bukan tersembunyi, hanya saja Lucas memberikan sihir di tempat ini sehingga seseorang yang melewatinya tidak bisa melihat tempat ini.


"Lama sekali kau sampainya. Bukankah aku sudah berikan permata supaya kau bisa teleportasi ke sini?" tanya Lucas kesal karena dia menunggu hampir 2 jam.


"Maafkan aku, Lucas. Sulit sekali untukku membohongi Lily dan Felix tadi," ujarku.


"Bagaimana dengan anakmu?" tanyanya.


"Dia sudah tertidur," jawabku.


"Yaudah, ayo kita mulai latihannya. Kita tidak bisa lama-lama karena anakmu akan segera bangun."


Aku mengangguk.


Lucas pun mengajari hal dasar tentang sihir.


"Bagus kau mengikuti arahan yang aku berikan dengan sangat baik," pujinya.


"Benarkah?" tanyaku dengan mata berbinar-binar.


"Iya, setidaknya kau lebih mudah diajari daripada orang-orang bodoh itu. Baiklah cukup sampai di sini, kita lanjutkan besok. Datanglah lagi besok, di jam dan tempat yang sama." Setelah itu Lucas pergi.


Aku segera kembali ke istana.


Sesampainya di kamar, aku melihat Lily sedang menggendong Athanasia yang sedang menangis dan Felix mencoba menghibur Athanasia.


"Mengapa Athanasia menangis?" tanyaku.


Aku langsung menggendong Athanasia.


"Tuan putri menangis karena saat bangun tidak melihat keberadaan anda," jawab Lily.


"Cup cup ini ibu, putriku. Maaf ya tadi ibu sedang di luar sebentar."


"Sebenarnya kemana anda pergi yang mulia permaisuri?" tanya Felix.


"Hanya jalan-jalan mencari angin. Tapi sepertinya aku keluar terlalu lama," jawabku berbohong.


"Anda bohong.Tidak mungkin jalan-jalan menghabiskan waktu yang lama " ucap Felix tak percaya.


"Tidak, untuk apa aku berbohong. Aku terlalu menikmati bunga-bunga yang sedang mekar jadi tanpa sadar menghabiskan banyak waktu di sana," jawabku.


"Dan ada sisa mana di tubuh anda. Sepertinya anda habis belajar sihir dengan tuan Lucas." sambung Felix.


"Kau bisa melihat mana? Bukankah ksatria tidak bisa melihat mana?" tanyaku terkejut.


"Saya memang seorang ksatria tapi saya juga bisa sihir sedikit yang mulia permaisuri. Jadi benarkan ucapan saya kalau anda habis belajar sihir dengan tuan Lucas?"


"I-iya tapi tolong rahasiakan dari Claude," pintaku.


"Mengapa anda ingin belajar sihir yang mulia permaisuri?" tanya Lily.


"Supaya aku bisa menjaga Athanasia dan diriku sendiri," jawabku.


"Ini pasti karena kejadian kemarin ya? Maafkan saya karena tidak bisa menjaga yang mulia permaisuri dan putri Athanasia," kata Felix sambil berlutut.


"Felix, berdirilah! Kamu tidak salah. Aku memang sudah ada niat belajar sihir dari jauh-jauh hari. Dan aku juga akan belajar pedang."


"Kalau begitu izinkan saya untuk mengajari anda juga," pinta Felix.


"Tidak perlu, Felix. Claude sendiri yang akan mengajariku."


"Yang mulia?"


Aku mengangguk. "Iya, karena dia tidak mau kalau aku diajari oleh orang lain."


"Ternyata yang mulia orang yang sangat posesif."


"Begitulah."


Athanasia akhirnya kembali tertidur. Aku menaruhnya di tempat tidurnya.


Tak lama ada seorang ksatria yang menghampiriku. "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya memberi salam kepada yang mulia permaisuri."


"Bukankah kamu ksatria di istana yang mulia?" tanyaku.


"Benar yang mulia permaisuri. Saya di sini ingin menyampaikan pesan kalau yang mulia memanggil anda ke ruang kerjanya," jawabnya.


Ada apa dia memanggilku? Tanyaku dalam hati.


"Baiklah, antar aku ke ruang kerja yang mulia sekarang." Sebelum pergi, aku menitipkan Athanasia kepada Lily. Ksatria itu mengantarku ke ruang kerja Claude.


Sesampainya di ruang kerja Claude, aku langsung masuk.


"Ada apa Claude?" tanyaku.


"Aku ingin membicarakan tentang permintaanmu sebelumnya," ujarnya.


Aku mengernyitkan dahi. "Permintaanku?"


"Kau tidak ingat? Yaudah kalau tidak ingat, kau bisa kembali."


"Claude!"


Claude tertawa. "Hahaha iya iya. Kau meminta diajarkan pedang sebelumnya, ingat?"


"Ah iya aku ingat."


Claude mencubit pipiku. "Dasar pelupa."


"Jadi kapan kau akan mengajariku pedang? Aku sudah tidak sabar."


"Hari ini. Kebetulan pekerjaan aku telah selesai jadi ada waktu luang untuk mengajarimu."


"Kalau begitu aku akan kembali ke kamar untuk ganti pakaian."

__ADS_1


Claude mengangguk. "Aku akan menunggumu di tempat latihan."


Aku pun bergegas kembali ke kamar dan meminta pelayan untuk mengganti pakaianku.


"Kemana anda akan pergi dengan pakaian seperti itu yang mulia permaisuri?" tanya Lily.


"Oh Lily, aku akan belajar pedang dengan Claude," jawabku.


"Anda yakin ingin belajar pedang yang mulia permaisuri? Bukankah cukup dengan belajar sihir saja?" tanya Lily.


Aku menoleh ke arah Lily. "Iya awalnya aku berpikir seperti itu, tapi semakin lama aku semakin haus Lily. Aku ingin memperkuat diriku supaya bisa berguna ke depannya."


"Anda tidak perlu menjadi kuat untuk berguna. Anda tetap disamping yang mulia saja sudah sangat membantu," balas Lily.


Aku menggeleng. "Tidak, Lily. Kita tidak tau kapan penyusup itu kembali. Kita belum tau siapa musuh yang akan kita hadapi nanti. Jadi lebih baik mempersiapkan diri sebaik mungkin"


"Tapi yang mulia—"


"Aku akan pergi sekarang, Claude sudah menungguku. Tolong jaga Athanasia selama aku pergi ya, Lily" potongku.


"Baiklah, yang mulia permaisuri. Saya akan menjaga putri Athanasia. Saya mohon berhati-hatilah saat latihan nanti dan jangan terlalu keras pada diri anda sendiri."


"Iya, Lily. Terima kasih." Aku segera pergi ke tempat latihan.


Di tempat latihan.


"Claude," panggilku.


"Jadi yang mulia permaisuri benar-benar mau belajar pedang?" tanya Felix saat melihat kedatanganku.


"Iya. Kamu kira aku bercanda?"


"Anda benar-benar sudah yakin yang mulia permaisuri?" tanya Felix memastikan.


"Iya Felix, aku sangat yakin. Apa salahnya sih aku belajar pedang? Malah setelah ini aku berniat belajar berkuda juga."


Felix yang mendengarnya sangat terkejut. "Astaga yang mulia permaisuri, itu semua tidak cocok dengan paras lemah lembut anda. Mengapa anda tidak belajar hal lain seperti melukis atau merajut?"


Claude yang mendengarnya, mengarahkan pedang kepada Felix. "Beraninya kau memperhatikan wajah istriku! Dan jangan mengomentari apapun hal yang ingin dilakukan permaisuri."


"Tu-tunggu yang mulia, saya tidak bermaksud memperhatikan yang mulia permaisuri. Tapi saat bertemu beliau saya pastinya melihat wajahnya dan saya juga tidak bermaksud untuk mengomentarinya."


"Tutup saja matamu saat bertemu Diana, lagi pula untuk apa kau bertemu dengannya?"


"Saya ksatria yang mulia permaisuri, sudah pasti saya bertemu dengannya."


"Sepertinya harus aku ganti ksatria Diana," gumam Claude.


"Yang mulia, jangan seperti itu," rengek Felix. Dia tidak ingin posisinya diganti oleh orang lain.


"Kenapa? Suka-suka aku," jawab Claude santai.


"Oh lagi pula tidak ada yang sehebat saya dalam mengawal seseorang. Silakan saja kalau anda benar-benar ingin mengganti ksatria yang mulia permaisuri. Saya pastikan anda tidak akan menemui ksatria sehebat saya," ucap Felix bangga.


Claude terdiam. Aku hanya tertawa melihat perdebatan mereka berdua.


"Sudah sudah. Aku di sini untuk latihan pedang, bukan melihat kalian berdebat" ujarku menengahi.


Felix terkejut mendengarnya. "Yang mulia?! Itu terlalu berlebihan, kurangi sedikit putarannya. Yang mulia permaisuri bukanlah ksatria seperti kita."


"Diamlah Felix! Kau sangat berisik hari ini," kesal Claude.


"Tidak apa-apa Felix, aku bisa melakukannya. Berlari hanyalah hal kecil bagiku." Aku memutari lapangan sebanyak 20 kali.


Felix kagum dengan semangatku. "Anda benar-benar luar biasa yang mulia permaisuri. Anda melakukan perintah yang mulia dengan baik."


"Terima kasih, Felix" balasku dengan nafas terengah-engah.


Claude memberikan sebotol air minum padaku. "Minumlah ini, Diana."


"Terima kasih, sayang." Aku menerima botol minum itu dan meminumnya hingga habis.


"Jadi apakah kita sudah bisa mulai latihannya?" tanyaku.


"Anda tidak lelah yang mulia permaisuri? Istirahatlah dulu sebentar," ucap Felix.


"Aku baik-baik saja. Lagi pula aku sudah tidak sabar untuk berlatih."


"Baiklah kita mulai sekarang," ujar Claude.


"Pedang apa yang akan aku gunakan saat latihan? Apakah pedang yang keren seperti punyamu? Atau seperti punya Felix?" tanyaku antusias.


Claude menggeleng. "Tidak. Kita akan menggunakan pedang kayu terlebih dahulu."


Runtuh sudah harapanku. "Kenapa tidak langsung pakai pedang sungguhan?"


"Itu berbahaya, lagian kau sudah tau kalau pedang sungguhan itu sangat berat. Jadi tidak cocok pemula sepertimu menggunakan pedang sungguhan untuk berlatih," jelasnya.


"Karena berat jadinya aku harus latihan dengan itu supaya terbiasa dengan berat pedangnya."


"Tidak, itu hanya akan membahayakanmu. Sudah jangan banyak protes. Saat kau lebih mahir nantinya, kita akan menggunakan pedang sungguhan," putus Claude.


"Baiklah." Claude memberikan pedang kayu kepadaku dan mengajarkan teknik-teknik dasarnya.


"Bagus. Benar seperti itu. Luar biasa kau langsung bisa teknik dasarnya walaupun kita baru sebentar latihannya," pujinya.


"Bukankah itu artinya aku berbakat dalam hal pedang haha?"


Saat sedang melanjutkan latihan, aku melihat salah satu ksatria sedang latihan memanah.


"Wah ada latihan memanah juga di sini?" tanyaku.


"Tentu, yang mulia permaisuri. Karena tidak semua orang mahir berpedang jadi yang mulia menyediakan tempat untuk latihan memanah juga. Dan ternyata banyak juga yang pandai memanah," jelas Felix.


"Aku juga ingin belajar memanah, Claude!"


"Tidak boleh!" tolaknya mentah-mentah.

__ADS_1


"Kenapa tidak boleh? Siapa tau aku juga mahir dalam memanah."


"Kenapa kau jadi tertarik dengan ini semua?" tanya Claude heran.


"Tidak bolehkah? Bukankah bagus? Karena selain mendapatkan kemampuan, tubuhku juga lebih sehat karena banyak bergerak."


"Tetap tidak boleh!"


"Apakah kau juga berpikir seperti Felix kalau aku tidak cocok melakukan hal seperti ini? Kau takut aku mencoreng nama baik permaisuri Obelia? Apakah dosa jika seorang wanita ingin melakukan hal yang dia sukai?" tanyaku beruntun.


"Bukan gitu, Diana. Baiklah, aku mengizinkan. Tapi kau yakin bisa memenuhi semua jadwal kelasmu nanti?"


Aku mengangguk cepat. "Tentu saja! Aku juga tidak akan menelantarkan Athanasia. Aku tetap akan merawatnya dengan baik."


"Bagus. Kencan sambil berlatih juga tidak buruk."


Aku mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu dengan kencan?"


"Tentu saja, aku yang akan mengajarimu memanah. Dengan begitu bukankah kita akan sering berduaan?"


"Apakah kau yakin? Kenapa tidak mencarikan guru memanah untukku saja? Kenapa semuanya harus diajarkan olehmu sendiri?"


"Karena aku tidak ingin kamu berduaan dengan laki-laki lain. Lagi pula di kekaisaran Obelia ini, aku yang paling hebat dalam menggunakan panah."


"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"


"Aku akan mengatur ulang jadwalku. Jadi aku tetap bisa mengajarimu tanpa harus membiarkan pekerjaanku."


Aku memeluk Claude. "Terima kasih, Claude"


"Dengan senang hati sayang" jawab Claude sambil mencium keningku.


"Oke latihannya selesai sampai di sini. Kita lanjutkan besok," sambungnya.


"Terima kasih untuk hari ini. Kalau begitu aku akan kembali ke kamar," pamitku.


Claude mengangguk.


"Kalau begitu saya akan mengantar anda sampai ke kamar." ucap Felix.


Claude langsung menarik baju Felix. "Kau tetap di sini. Diana akan diantar oleh ksatria lain"


"Tapi saya ksatria yang mulia permaisuri. Lagian saya tidak ada urusan lagi di sini, waktu latihan saya sudah selesai dari tadi."


"Kata siapa? Aku akan menambah waktu latihanmu dari sekarang."


"Yang mulia bercanda, kan?" tanya Felix tak percaya.


"Kapan aku bercanda?"


"Yang mulia permaisuri, tolong selamatkan saya," rengek Felix.


"Claude, apakah kau serius akan menambah latihan untuk Felix?" tanyaku.


"Iya." jawabnya.


"Tapi latihan dia sudah banyak. Biarkan dia beristirahat," bujukku.


"Tidak. Dia masih belum cukup kuat jadi dia harus menambah waktu latihannya. Kau kembalilah ke kamar, Athanasia pasti sudah bangun dari tidurnya sekarang." Claude memanggil salah satu ksatria yang sedang berlatih dan menyuruhnya mengantarku sampai ke kamar.


Aku pun kembali ke kamar dan langsung membersihkan diri, setelah itu tidur. Aku melewatkan makan malam karena terlalu lelah.


Keesokkan harinya. Setelah selesai sarapan, aku berlatih sihir dengan Lucas di tempat yang sama seperti kemarin. Selesai latihan sihir, aku latihan memanah. Iya, latihan memanah dulu, baru berpedang. Karena latihan pedang lebih menguras tenaga dibandingkan memanah.


Di luar dugaan, ternyata aku memang mahir menggunakan panah. Seakan aku adalah pemanah hebat di kehidupan sebelumnya.


Claude yang masih tak percaya pun terus bertanya. "Kau yakin tidak pernah belajar memanah sebelumnya? Karena kau terlalu hebat untuk dibilang pemula. Kemampuan memanahmu hampir melampauiku."


"Benarkah? Hahaha bagus kalau begitu, jadi ada sesuatu yang bisa aku kalahkan darimu," kataku bangga.


"Kau serius tidak pernah latihan memanah?" tanya Claude lagi.


" Aku serius, Claude. Aku tidak pernah belajar memanah. Kau tau dulu aku adalah seorang penari? Aku tidak ada waktu belajar memanah dan tentu saja aku tidak diperbolehkan belajar memanah karena itu bisa merusak kulitku," jawabku dengan sejujurnya.


Claude mengangguk. Yang aku katakan memang masuk akal. Bagi seorang penari, tubuh adalah aset berharganya. Jadi tidak boleh sampai terluka, apalagi memiliki bekas luka.


"Sepertinya aku hanya akan mengajarimu beberapa kali saja. Karena kau sudah bisa, jadi tinggal sering berlatih saja dan itu bisa dilakukan sendiri. Tapi kurasa tanpa sering berlatih pun kau akan tetap bisa menggunakannya. Jadi tidak perlu berlatih setiap hari, cukup satu atau dua kali saja dalam seminggu dan gunakan waktumu yang lain untuk berlatih berkuda."


Mendengar kata berkuda, mataku langsung berbinar. "Berkuda?"


"Iya. Kau juga meminta untuk belajar berkuda, kan?"


"Kau serius?"


"Tentu. Kapan aku tidak mengabulkan keinginanmu?"


"Entah sudah berapa kali aku mengucapkan terima kasih. Terima kasih banyak Claude.


Maafkan aku karena selalu merepotkanmu dengan segala permintaanku itu."


"Kamu tidak merepotkanku, Diana. Sudah tugasku sebagai suamimu untuk mengabulkan semua keinginanmu."


"Tapi kau terlalu baik. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu?"


"Ada yang bisa kau lakukan."


"Apa? Beritahu aku, aku akan melakukannya apapun itu!" ucapku semangat.


"Apapun itu?"


Aku mengangguk antusias.


Claude mendekatkan mulutnya ke telinga ku dan membisikkan sesuatu. "Berikan layanan malam dengan baik padaku."


Wajahku langsung memerah. "Apa yang kau katakan?!"


"Bukankah tadi kau bilang akan melakukan apapun untuk membalas kebaikanku? Apa kau bermaksud untuk mengingkari kata-katamu?"

__ADS_1


"Bu-bukan begitu. Baiklah, aku akan melakukannya."


Pipi Claude memerah. Dia tidak menyangka kalau Diana akan menyetujui permintaannya. Padahal dia hanya bercanda. Tapi tidak masalah kalau Diana akan melakukannya.


__ADS_2