
Suasana di sini sangatlah buruk. Banyak orang yang terluka akibat sihir Aeternitas.
Claude dan yang lainnya nampak kesusahan menahan serangan-serangan Aeternitas.
Pandanganku terjatuh pada Athanasia yang sedang dipegangi oleh Lily.
Aku menghampiri mereka dan bertanya, "Apa yang terjadi dengan Athanasia?"
"Yang mulia permaisuri?! Itu...tuan putri terluka parah dan lukanya sulit untuk disembuhkan," jawab Lily.
Aku terkejut mendengar perkataan Lily. Setau aku, Athanasia baik-baik saja tadi. Hanya muntah darah sedikit. "Athanasia terluka?! Bagaimana bisa?"
"Saya juga tidak tau. Saat tuan Erez mengantarkan tuan putri ke sini, beliau bilang kalau tuan putri terluka dan meminta kami untuk mengobatinya. Tapi anehnya luka tuan putri tidak kunjung membaik," jelas Lily.
"Aku akan mencoba mengobatinya. Tidurkan Athanasia di sebelah sana!" perintahku.
Lily mengikuti perkataanku.
"Jangan pedulikan Athy," kata Athanasia dengan suara lemah.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan itu?!" tanyaku.
"To-tolonglah ayah dan yang lainnya. Me-reka lebih membutuhkan ibu dibandingkan Athy," jawab Athanasia.
"Tidak. Ibu akan mengobatimu terlebih dahulu. Kamu diam saja!" Aku pun mulai mengobati Athanasia. Sihir penyembuhanku bekerja padanya tapi entah kenapa sihir ini menyerap manaku lebih banyak dari yang seharusnya.
"Berhenti Diana!" ucap seseorang.
"Jangan menggangguku, Erez!" Ya orang yang menyuruhku untuk berhenti tadi adalah Erez.
"Mana kamu akan terserap sangat banyak."
"Tidak apa-apa, asalkan luka Athanasia bisa sembuh. Lagi pula kita juga membutuhkan Athanasia untuk menyembuhkan Lucas."
"Tapi itu hanyalah perkiraan aku saja. Tidak ada kepastian kalau hal itu benar," ujar Erez.
"Tidak apa-apa, yang penting kita mencobanya terlebih dahulu. Sekarang diamlah Erez! Kamu mengganggu konsentrasiku."
"Itu berbahaya untukmu! Kamu perlu mana yang banyak untuk melawan Aeternitas."
"Percaya padaku. Aku bisa melakukannya." Erez pun menyerah untuk membujukku.
Luka Athanasia pun sembuh sepenuhnya. Karena terlalu banyak menggunakan sihir, tubuhku menjadi lemas dan hampir saja aku terjatuh tapi untungnya Lily segera menahanku. "Yang mulia permaisuri, anda baik-baik saja?!"
"Iya, aku baik-baik saja," jawabku.
Athanasia bangun dan memelukku. "Ibu."
"Ibu baik-baik saja, Athanasia. Sekarang kamu tolong Lucas ya? Coba obati dia."
Athanasia mengangguk. "Baik, ibu."
Athanasia pun mencoba mengobati Lucas. Aku sangat berharap kalau Athanasia bisa mengobatinya. Tapi aku tidak bisa diam menunggu. "Athanasia, kamu tetaplah di sini oke? Ibu harus membantu ayah dan yang lain."
__ADS_1
"Tapi itu berbahaya, yang mulia permaisuri," ucap Lily.
"Lily, ini sudah tugasku. Kamu tetaplah di sini bersama yang lain!" perintahku.
"Aku ikut, Diana," ucap Erez.
"Tidak, Erez. Kamu tetaplah di sini untuk melindungi Athanasia dan Lucas. Kita tidak tau kapan Aeternitas mengubah targetnya lagi," tolakku.
"Ta—"
"Tidak ada tapi tapi! Setelah Lucas selesai diobati, bawalah Athanasia dan Lily ke tempat yang aman." Setelah itu aku langsung pergi menghampiri Claude dan yang lainnya.
Aku menghampiri Felix karena dialah yang terlihat paling kesusahan karena melawan para bangsawan itu. Tapi kenapa para bangsawan melawan Felix?
"Felix," panggilku.
Felix terkejut melihat kedatanganku. "Yang mulia permaisuri? Apa yang anda lakukan di sini?! Kembalilah bersama tuan putri."
"Aku tidak mau mendengar omongan bodohmu itu. Ini kenapa para bangsawan menyerangmu?"
"Saya tidak tau yang mulia permaisuri tapi menurut perkiraan saya sepertinya mereka dikendalikan oleh sihir hitam."
Aku berdecak. "Itu akan sulit karena kita tidak bisa membunuhnya."
"Betul, yang mulia permaisuri, itulah kenapa sekarang yang mulia dan yang mulia terdahulu sedang melawan sihir hitam itu."
"Bagaimana dengan Penelope?"
"Nyonya Penelope telah ditempat yang aman bersama pelayan dan nyonya bangsawan yang tidak terkena sihir hitam."
"Mustahil, yang mulia permaisuri. Mereka terlalu banyak untuk anda murnikan."
"Kita tidak mungkin terus melawan mereka di sini, Felix. Claude dan kak Anas membutuhkan kalian semua dan hanya akan membuang waktu kalau kita terus melawan mereka yang tidak ada habisnya ini."
"Tapi yang mu—"
"Dengarkan yang mulia permaisuri, Felix!" ucap para ksatria lainnya.
"Kalian tidak mengerti! Hal ini bisa membahayakan yang mulia permaisuri!" balas Felix marah.
"Itu memang sudah tugasnya untuk melindungi kami yang pengikutnya," jawab mereka.
"KALIAN—"
"Cukup, Felix. Yang mereka bilang itu benar. Sudah tugasku untuk melindungi para pengikut setia Obelia. Sekarang kalian mundurlah dan menjauh!" Para ksatria itu mengikuti perintahku.
Aku mulai memurnikan para bangsawan yang terkena sihir hitam. Perlahan para bangsawan itu mulai sadar satu persatu sampai akhirnya semuanya terlepas dari sihir hitam.
"Sekarang bawa para bangsawan ini ke tempat yang aman!" perintahku.
Sial, aku terlalu banyak menggunakan mana. Ucapku dalam hati. Aku terjatuh karena terlalu lemas.
Felix dengan raut wajah khawatir menghampiriku. "Yang mulia permaisuri, anda kenapa?!"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Felix. Jangan berlebihan seperti itu."
"Ayo kita kembali ke tempat yang aman, yang mulia permaisuri," ajaknya.
Aku menggeleng. "Tidak, Felix. Aku harus membantu Claude dan kak Anas."
"Saya akan membantu mereka tapi sekarang saya akan mengantar anda ke tempat yang aman terlebih dahulu."
"Tidak! Mereka dalam bahaya. Mereka adalah orang berharga, Felix."
"Anda juga yang mulia permaisuri. Saya tidak bisa membiarkan anda terlibat dalam hal yang berbahaya lebih jauh lagi."
"Justru kalau aku tidak ikut bertindak, itu akan lebih membahayakan semua orang. Aku bisa, Felix."
"Tapi yang mulia per—"
"Percayalah padaku, Felix. Aku hanya kelelahan sebentar tadi tapi sekarang aku baik-baik saja."
"Baiklah, saya akan melindungi anda kalau ada hal berbahaya terjadi."
"Tidak, Felix. Ini bukanlah pertarungan untukmu."
"Apa maksud anda? Seorang ksatria harus bertarung dimana saja."
"Tapi ilmu pedang tidak akan berguna di pertarungan kali ini."
"Anda lupa yang mulia permaisuri? Saya juga bisa menggunakan sihir."
Ah iya, aku lupa kalau Felix yang ini bisa ilmu sihir yang setara dengan penyihir menara.
"Baiklah tapi aku mohon berhati-hatilah."
"Saya yang harusnya mengatakan itu pada anda, yang mulia permaisuri."
"Umm yang mulia permaisuri," panggil para ksatria.
"Ada apa?"
"Lalu bagaimana dengan kami?" tanya mereka semua.
"Kalian kembalilah ke tempat yang aman. Lindungi para bangsawan dan yang lainnya. Walaupun aku ragu kalau Aeternitas akan menyerang kalian tapi tetap lindungi mereka."
"Tapi yang mulia..." Mereka tampak ragu untuk pergi tapi mereka juga tidak bisa ikut dalam pertarungan ini karena mereka semua tidak bisa menggunakan sihir.
"Tidak apa-apa. Kalian juga tidak akan berguna kalau ikut ke sana," jawabku.
"Baik, yang mulia permaisuri." Mereka membungkuk dan pergi.
"Wah ucapan anda sangat keren, yang mulia permaisuri. Sepertinya anda telah berubah," puji Felix.
"Begitukah? Hahaha aku tidak bisa terus menjadi permaisuri yang lemah. Aku harus tegas. Tapi bukankah yang barusan itu cukup kasar?"
Felix menggeleng. "Tidak. Saya akan selalu mendukung anda, yang mulia permaisuri."
__ADS_1
"Terima kasih, Felix. Ayo kita ke tempat Claude dan kak Anas. Aku harap kamu bisa berguna karena kamu yang memaksa untuk ikut."
"Tentu, yang mulia permaisuri." Aku dan Felix bergegas ke tempat Claude dan kak Anas berada.