Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
29


__ADS_3

***POV ZENITH***


Aku membuka mataku secara perlahan. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke mataku. Setelah mataku terbuka sempurna, aku mencoba melihat ke sekeliling. Sepi. Tidak ada siapapun di sini. Hanya ada aku dan bibi Diana di sini.


Aku mencoba bangun tapi tubuhku sangat lemas. Akhirnya aku terus berbaring sampai ada seseorang yang masuk ke kamar ini. Sambil menunggu, aku mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Saat mencoba mengingatnya, terdengar suara pecahan dari arah pintu. Aku menoleh ke arah pintu dan mendapati ibu yang sedang terkejut. Aku berusaha duduk dan tersenyum pada ibu.


"Ze-zenith," panggilnya dengan suara bergetar.


"Ibu."


Ibu menghampiri dan memelukku. "Ibu sangat mengkhawatirkanmu, Zenith."


"Maafkan Zenith, ibu."


"Syukurlah kamu sudah sadar. Ibu akan memanggil ayahmu dan yang lainnya." Ibu segera keluar dan memanggil yang lain. Tidak lupa ibu meminta pelayan untuk membersihkan pecahan yang ada di depan pintu.


Ayah, paman Claude, Athy, tuan Felix, Lily, tuan Lucas, dan tuan Erez datang menghampiriku.


"Akhirnya kamu bangun, sayang," ucap ayah sambil memelukku.


"Iya ayah."


Ayah melepaskan pelukannya dan berganti dengan Athy yang memelukku dengan sangat erat. "Syukurlah kamu telah sadar, Zenith."


"Maaf karena aku membuat banyak kekacauan," sesalku.


"Tidak, Zenith. Kamu dikendalikan jadi ini bukan salahmu," balas Athy.


"Yang dikatakan Athanasia benar, Zenith. Ini semua bukan salahmu," timpal paman Claude.


"Terima kasih, paman dan Athy."


"Saya sangat senang karena anda telah sadar, nona Zenith," ucap tuan Felix dan Lily bersamaan.


Aku mengangguk dan tersenyum.


"Kenapa ibu belum juga bangun? Padahal Zenith sudah bangun," tanya Athy sambil memandang ke arah bibi Diana.


"Benar. Kenapa Diana belum juga bangun?" tanya paman Claude.


"Nona Zenith, apakah kamu ingat apa yang terjadi sebelum kamu sadar?" tanya tuan Erez.


"Aku ingat. Di sana ada bibi Diana dan seorang pria yang aku tidak kenal. Bibi Diana berkata kalau aku harus mengatakan jati diriku agar bisa bangun," jawabku.


"Lalu bagaimana dengan yang mulia permaisuri?" tanya tuan Lucas.


"Aku tidak tau. Sebelum aku menghilang dan bangun, aku hanya melihat sosok bibi Diana yang tersenyum ke arahku," jawabku sambil menundukkan kepala.


Tuan Lucas mendekat ke bibi Diana dan memegang tangannya. "Tangan yang mulia permaisuri sedingin es."


Paman Claude bergegas menghampiri bibi Diana dan menggenggam tangannya. "Kenapa tangannya bisa sedingin ini?!"


Tuan Lucas, tuan Erez, paman Claude, dan tuan Felix mengerumuni bibi Diana.


"Apa yang terjadi dengan bibi Diana, ayah?" tanyaku pada ayah. Aku tidak bisa melihat keadaan bibi Diana karena ditutupi oleh semua orang.


"Diana akan baik-baik saja. Sekarang ayah akan memindahkanmu ke kamar," jawab ayah sambil mengelus rambut coklatku.


Ayah menggendongku dan membawaku ke kamar. Ibu, Athy, dan Lily mengikuti dari belakang.


Sesampainya di kamar, ayah pamit untuk pergi sebentar. Sekarang di kamar hanya ada aku, ibu, Athy, dan Lily.


"Ibu, apa bibi Diana akan baik-baik saja?" tanyaku.


"Tentu, sayang. Diana adalah wanita yang kuat," jawab ibu.


"Iya, Zenith. Kamu istirahatlah," ucap Athy.


"Maafkan aku, Athy..." lirihku.

__ADS_1


"Jangan mengatakan itu lagi. Semua yang berlalu biarlah berlalu."


"Aku benar-benar menyesal."


Athy memelukku dan mengelus rambut coklatku. "Tidak apa-apa, Zenith. Ini di luar kuasamu. Kamu hanya dimanfaatkan."


"Benar, nona Zenith. Lebih baik anda istirahat dan fokus pada pemulihan anda," timpal Lily.


Aku mengangguk.


"Oh iya Zenith. Beberapa hari yang lalu tuan Alpheus menjengukmu. Tuan Alpheus nampak bersedih karena melihat kondisimu saat itu," ujar Athy.


Aku terkejut mendengarnya. "Benarkah?"


Athy mengangguk senang. "Iya. Tuan Alpheus memintaku untuk mengabarinya jika kau dan ibu sudah sadar."


"Hmm Athy, bolehkah aku mengatakannya sendiri pada tuan Alpheus?"


"Tentu saja. Dia akan senang kalau mendapatkan surat darimu."


"Terima kasih."


"Sama-sama. Istirahatlah. Aku dan Lily akan keluar."


Aku mengangguk.


Athy dan Lily keluar dari kamarku.


"Tidurlah sayang. Ibu akan menemanimu di sini sampai kamu tertidur," ucap ibu sambil mencium keningku.


Aku memejamkan mata dan mulai tidur.


***POV CLAUDE***


"Kenapa Diana belum juga bangun sedangkan Zenith sudah?" tanyaku sambil memandang wajah Diana.


"Tidak ada yang bermasalah dengan tubuh yang mulia permaisuri," jawab Lucas.


"Itu karena tubuh yang mulia permaisuri kosong, yang mulia," balas Erez.


"Sial. Apakah kalian tidak bisa memikirkan cara untuk mengembalikan jiwa Diana?!" tanyaku.


"Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya," jawab Erez.


"Lalu kapan Diana akan bangun?" tanya Anastasius.


"Hanya waktu yang bisa menjawabnya," jawab Erez.


"Sekarang kalian keluarlah! Aku ingin berdua dengan istriku," perintahku.


"Berkat dan kelimpahan di atas matahari empire Obelia." Mereka semua keluar dan membiarkan aku berdua dengan Diana.


Aku menggenggam tangannya dan mencium punggung tangannya. "Sampai kapan kamu terus tertidur seperti ini?"


Aku berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh. "Bukankah kamu bilang kalau kamu bisa dan akan baik-baik saja? Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku lagi? Mana buktinya, Diana?"


Tidak bisa, aku tidak bisa menahan air mata ini untuk tidak jatuh. Air mata sudah membasahi pipiku.


"Kamu bohong, Diana." Aku menempelkan tangan Diana ke dahiku.


***POV AUTHOR***


Beberapa hari kemudian. Zenith telah pulih sepenuhnya tapi kondisi Diana masih seperti sebelumnya. Tidak memburuk tapi tidak membaik juga. Saat ini Athanasia dan Zenith sedang berada di taman pribadi milik Diana.


"Aku merindukan, bibi Diana," ucap Zenith murung.


"Aku juga merindukan ibu, Zenith," sambung Athy.


"Kapan bibi Diana akan bangun?" tanya Zenith.

__ADS_1


"Entahlah," jawab Athy.


"Sepertinya bibi Diana lelah sekali sampai tertidur sangat lama seperti ini," celetuk Zenith.


"Hahaha iya ya. Menjadi permaisuri bukanlah hal mudah." Mereka berdua tertawa tapi ada kesedihan di mata mereka.


"Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire Obelia." Seseorang datang dan memberi salam.


"Tuan muda Alpheus?" ucap Athanasia terkejut.


"Bukankah saya sudah bilang panggil saja Ijekiel, tuan putri?"


"Ah iya aku lupa."


"Ada apa tuan Ijekiel ke sini?" tanya Zenith.


"Saya sedang menemani ayah saya ke istana dan kebetulan melihat para nona cantik ini di taman pribadi milik yang mulia permaisuri. Ah sebelumnya maafkan saya karena lancang masuk ke sini. Saya tau taman pribadi milik yang mulia permaisuri tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang," jelas Ijekiel.


"Kalau anda tau kenapa anda masih memaksa untuk masuk?" tanya Athanasia dengan tatapan dingin.


Zenith terkejut dengan respon Athanasia. Zenith pun memperingatinya. "Athy!"


Ijekiel berlutut di hadapan Athanasia. "Saya minta maaf tuan putri. Saya ingin bertemu dengan anda berdua jadi saya melanggar peraturan itu."


Zenith terkejut melihat Ijekiel yang berlutut.


"Berdirilah, tuan Ijekiel. Tapi kenapa tuan Ijekiel mau bertemu dengan kami?"


"Saya mengkhawatirkan anda berdua."


"Terima kasih atas perhatiannya tapi aku dan Athy baik-baik saja."


"Sebaiknya kau segera pergi dari sini sebelum raja itu tau," usir Lucas.


"Lucas? Kenapa kau ada di sini?" tanya Athanasia.


"Saya sedang lewat dan tidak sengaja melihat ada lalat yang masuk ke taman pribadi yang mulia permaisuri," jawab Lucas sambil menatap tajam ke arah Ijekiel.


"Lucas. Dia adalah tuan muda Alpheus, jaga sopan santunmu!" peringat Athanasia.


"Dia saja tidak menjaga sopan santunnya," balas Lucas acuh.


"Tuan muda Alpheus mengkhawatirkan aku dan Zenith. Itulah kenapa tanpa sadar dia masuk ke taman pribadi milik ibu. Aku memaafkannya jadi tidak perlu diperpanjang lagi," jelas Athanasia.


"Beruntung kau karena tuan putri mengampunimu."


"Terima kasih atas kemurahan hati anda, tuan putri."


"Iya. Sebaiknya anda cepat pergi dari sini tuan Ijekiel. Sebelum ayah melihatnya," ucap Athanasia.


"Sebelum saya pergi, bolehkah saya bertanya tentang keadaan yang mulia permaisuri? Ibu saya sangat mengkhawatirkan beliau."


"Kau sudah dengan lancang masuk ke taman pribadi milik yang mulia permaisuri dan sekarang kau berani menanyakan terkait keluarga kerajaan?!" ucap Lucas marah.


"Tidak apa-apa, Lucas. Bagaimana pun Duchess Alpheus dekat dengan ibu jadi aku mengerti kalau beliau mengkhawatirkan kondisi ibu," ujar Athanasia menenangkan Lucas.


Lucas pergi dengan perasaan kesal.


"Maafkan sikap penyihir kerajaan kami, tuan Ijekiel."


"Tidak apa-apa, tuan putri. Saya mengerti."


"Katakan pada Duchess Alpheus kalau ibu dalam keadaan stabil. Hanya itu yang bisa aku beri tau padamu."


"Itu sudah lebih dari cukup tuan putri. Terima kasih telah menjawabnya."


"Tuan Ijekiel."


"Ya, nona Zenith?"

__ADS_1


"Aku ingin minta maaf karena terakhir kali, aku meninggalkanmu sendirian di taman."


"Tidak apa-apa, nona Zenith. Kalau begitu saya pamit pergi dulu. Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire Obelia." Tuan muda Alpheus pun pergi.


__ADS_2