Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
16


__ADS_3

Dalam hitungan detik, Lucas, Athanasia, dan Zenith, sampai di depan butik paling terkenal yang ada di Obelia.


Mereka pun masuk ke butik itu. Pemilik butik yang mengenali Athanasia langsung memberi salam, "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya memberi salam pada tuan putri Athanasia."


Kenapa hanya Athy? Aku juga keluarga kerajaan. Ucap Zenith dalam hati. Ada sedikit rasa iri di hati Zenith tapi Zenith menahannya.


"Aku dan saudariku ingin memesan gaun untuk pesta debutante kami," ujar Athanasia.


"Pilihan tepat anda datang ke butik kami, tuan putri. Butik kami menyediakan berbagai macam gaun dengan main kualitas terbaik."


"Berikan aku list gaun yang kalian punya." Pemilik butik itu memberikan daftar gaun yang dia punya. Athanasia dan Zenith mulai melihat gaun-gaun di buku itu.


"Ini akan menghabiskan waktu yang sangat lama. Panggil aku dengan ini kalau kalian sudah selesai. Ingat, jangan pergi kemana-mana. Tetaplah di butik ini. Aku akan menjemput kalian kalau sudah selesai," kata Lucas sambil memberikan sebuah permata.


"Bagaimana cara menggunakannya?" tanya Athanasia.


"Tinggal hancurkan saja, aku akan langsung kembali ke sini. Sudah ya aku ada urusan." Setelah itu Lucas langsung pergi.


***POV LUCAS***


"Huh dari pada aku berlama-lama di sana lebih baik aku jalan-jalan. Kenapa para gadis sangat lama kalau berbelanja? Merepotkan saja."


Saat Lucas sedang berjalan-jalan, tak sengaja dia melihat seorang wanita dengan rambut pirang. "Diana?!"


Lucas segera mengejar wanita itu tapi wanita itu cepat sekali hilangnya. "Sial, aku kehilangan dia. Siapa dia? Tidak mungkin Diana karena aku tidak merasakan mananya."


Lucas pun berpikir. "Tapi yang memiliki rambut pirang hanya keluarga kerajaan Obelia dan wanita itu."


Lucas merasakan kalau permata itu telah dipecahkan yang artinya para gadis itu telah selesai. Dia pun berteleportasi ke butik tadi.


Setelah itu mereka kembali ke istana.


Tak terasa hari ini adalah hari ulang tahun Athanasia. Yang artinya hari ini pesta debutantenya diadakan. Athanasia mulai bersiap dari jam 5 pagi. Semua pelayan sibuk mempersiapkan Athanasia. Persiapan itu menghabiskan banyak waktu tapi tidak mengecewakan.


"Astaga tuan putri, anda seperti malaikat. Anda cantik sekali," puji salah satu pelayan.


"Tuan putri memang cantik, Beth," ucap Lily.


"Terima kasih, ini semua juga berkat kerja keras kalian."


"Tidak tuan putri, anda memang sangat cantik. Seperti yang mulia permaisuri."


"Beth!" peringat Lily.


Beth yang sadar telah melakukan kesalahan langsung membungkuk dan meminta maaf. "Ma-maafkan saya, tuan putri."


"Tidak apa-apa, Beth. Apakah aku cantik seperti ibu?" tanya Athanasia.


"Iya, tuan putri. Anda sangat cantik seperti yang mulia permaisuri," jawabnya.


"Aku senang mendengarnya," balas Athanasia.


"Tuan putri, ini sudah waktunya untuk anda pergi. Sir Robane telah menunggu anda di luar. Beliau akan mengantarkan anda ke yang mulia."


"Baiklah, Lily." Athanasia keluar dari kamar. Felix terpana melihat kecantikan Athanasia.


"Apakah aku cantik, Felix?" tanya Athanasia pada ksatrianya itu.


Felix pun tersadar dan memberi hormat, "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya memberi salam pada tuan putri. Selamat ulang tahun tuan putri."


"Kau belum menjawab pertanyaanku."


"Tentu, tuan putri. Anda sangat cantik hari ini walaupun setiap hari anda selalu cantik," puji Felix.


Athanasia terkekeh. "Kau juga sangat tampan dengan pakaian itu, sir Robane."


Pipi Felix memerah. "Mari kita pergi sekarang tuan putri. Yang mulia telah menunggu anda di bawah."


Athanasia memegang tangan Felix dan berjalan ke bawah.


"Ayah," panggil Athanasia.

__ADS_1


Claude menoleh ke arah Athanasia, dia terpana melihat Athanasia. Sosoknya yang sekarang mirip dengan Diana. "Kau cantik."


"Hehe ayah juga tampan."


"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang." Athanasia berganti memegang tangan Claude. Mereka berjalan ke aula.


"Selamat ulang tahun, Athanasia," ucap Claude tiba-tiba.


"Terima kasih, ayah. Tapi ayah telat, ayah bukan orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku."


"Apakah perlu aku tarik ucapan tadi?"


Athanasia hanya tertawa.


Pintu aula terbuka secara perlahan-lahan.


"Kaisar Claude De Alger Obelia dan tuan putri Athanasia De Alger Obelia memasuki ruangan acara."


Semua tamu langsung membungkuk memberi hormat, "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia."


Walaupun semua sedang menunduk tapi tatapan mereka mengarah pada Athanasia. Athanasia yang merasakan tatapan mereka secara tidak sadar mundur dan bersembunyi di belakang tubuh Claude. Claude yang merasakan tubuh Athanasia bergetar langsung menatap tajam semua tamu itu.


"Apakah kau ingin aku membuat mereka terus berlutut sampai acara selesai?"


"Jangan bercanda, ayah! Mereka semua di sini juga untuk merayakan debutantenya. Aku baik-baik saja."


Claude dan Athanasia turun ke bawah untuk berdansa. Musik dimainkan dan mereka berdua mulai berdansa. Setelah dansanya selesai, pesta debutante resmi dimulai.


Para gadis juga mulai berdansa dengan pasangan mereka masing-masing.


"Anda tidak berdansa dengan yang lain, tuan putri?" tanya Felix.


"Tidak. Lagi pula tidak ada yang aku kenal," jawab Athanasia.


"Bagaimana dengan tuan muda Alpheus?"


"Maksudmu Ijekiel Alpheus?"


"Tidak mungkin, Felix. Dia adalah pasangan dansa Zenith."


"Bagaimana dengan tuan muda dari keluarga Beliard? Dia juga merupakan anak yang tampan dan baik," usul Felix.


"Hentikan Felix! Mundur 10 langkah!" perintah Claude.


"Baik, yang mulia."


"Kenapa ayah menyuruh Felix menjauh?" tanya Athanasia.


"Dia sangat berisik," jawab Claude singkat.


Zenith menghampiri Athanasia bersama pasangan dansanya. "Halo Athy ah maksud saya tuan putri."


"Jangan seperti itu Zenith. Kita adalah keluarga."


"Baiklah, Athy. Omong-omong terima kasih telah membantuku."


"Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya memberi salam pada tuan putri Athanasia," salam Ijekiel.


"Halo, tuan muda Alpheus."


"Tolong panggil saya Ijekiel dan selamat atas kedewasaan anda, tuan putri."


"Terima kasih, tuan Ijekiel. Tolong jaga saudari saya selama pesta berlangsung."


"Kalau begitu aku akan pergi ke sana."


Athanasia mengangguk. "Bersenang-senanglah, Zenith."


Zenith dan Ijekiel pun pergi.


"Kau tidak ingin ikut dengan mereka?" tanya Claude.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak ingin mengganggu mereka berdua."


"Bagus. Lagi pula kau masih terlalu kecil untuk berkenalan dengan laki-laki."


Masih terlalu kecil? Astaga umurku sudah 17 tahun. Batinku.


***POV ZENITH***


Aku senang sekali karena tuan muda dari keluarga Alpheus menerima aku sebagai pasangan untuk di acara debutante ini. Jujur saja saat pertama kali aku melihat dia, aku sudah jatuh cinta dengannya karena dia sangat tampan dan juga baik. Tapi kenapa tuan muda Alpheus tampak murung setelah bertemu dengan Athy?


"Ada apa tuan Ijekiel? Anda terlihat murung setelah bertemu dengan Athy."


"Ah maafkan saya, nona Zenith."


"Apakah ada yang salah?"


"Tidak. Nona, saya ingin bertanya sesuatu."


"Apa itu?"


"Apakah tuan putri sudah memiliki tunangan atau pasangan?"


"Tunangan? Aku rasa belum. Athy adalah anak kesayangan paman Claude jadi tentu saja paman sangat posesif pada Athy."


"Begitu. Syukurlah," ucap Ijekiel lega.


Deg... melihat ijekiel yang merasa lega saat mengetahui kalau Athanasia belum memiliki pasangan membuat hati Zenith terasa sakit. "Anda terlihat lega setelah mengetahui itu, tuan Ijekiel. Ada apa? Apakah anda menyukai saudari saya?"


Ijekiel mengangguk. "Iya, saya menyukai tuan putri sejak pandangan pertama."


Apa ini? Kenapa hatiku terasa sangat sakit mendengarnya? Tanya Zenith dalam hati.


"Tolong rahasiakan ini dari siapapun nona. Saya tidak ingin siapapun tau," pinta Ijekiel.


Zenith mengangguk. "Tentu, saya tidak akan memberitahu siapapun."


"Terima kasih, nona."


"Dengan senang hati tuan. Ah iya saya permisi sebentar ya?"


"Silakan." Zenith pun pergi.


Zenith pergi ke arah taman dan menangis. "Kenapa selalu saja Athy?! Kasih sayang, harta, kekuasaan, teman, orang-orang yang menghormatinya, kemampuan, dan orang yang suka dengannya. Kenapa Athy punya semua itu?! Kita sama-sama keluarga kerajaan tapi aku tidak memiliki itu semua!"


Zenith menangis semakin kencang. Dia kesal dengan ini semua. Dia kesal karena Athanasia memiliki semuanya.


"Halo Zenith," sapa seseorang.


"Sihir? Kamu kemana saja? Aku kira kamu meninggalkanku."


"Tentu tidak. Aku hanya sedang menyembuhkan diri. Maafkan aku."


"Tidak. Terima kasih telah kembali."


"Jadi kenapa kamu menangis sendirian di sini? Dimana sepupu yang sangat kamu sayangi itu?"


"Sihir, aku membencinya sekarang," adu Zenith.


"Kenapa? Bukankah dulu kau sangat menyayanginya?"


"Iya, tapi itu dulu. Sebelum dia merebut semuanya dariku!"


"Apakah sekarang kau mau aku membantumu?"


"Bisakah?"


"Tentu saja."


Zenith mengangguk. "Iya, tolong bantu aku untuk mendapatkan semua yang seharusnya milikku."


"Dengan senang hati, tuan putri." Sihir itu masuk dan menguasai tubuh Zenith seutuhnya.

__ADS_1


__ADS_2