Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
3


__ADS_3

Lucas sudah siap dengan pakaian sterilnya.


"Kau siap?" tanyanya padaku.


"Iya, aku siap," jawabku


"Ingat ucapanku, jangan pernah pejamkan matamu!" peringatnya.


Aku mengangguk.


"Oke aku akan mulai." Lucas memulai proses persalinannya.


Agak canggung sebenarnya tapi hanya Lucas yang bisa membantu melahirkan anak ini dengan selamat.


Sementara itu di luar kamar Diana ada tiga orang yang menunggu dengan khawatir.


"Kau harus bertahan, Diana," gumam Claude.


Lily berdoa sepenuh hati. "Tuhan tolong selamatkan yang mulia permaisuri, semoga yang mulia permaisuri bisa melahirkan dengan selamat."


Semoga yang mulia permaisuri bisa melahirkan bayinya dengan selamat. Kata Felix dalam hati.


Ketiga orang tersebut terus mengucapkan doa-doa untuk Diana.


"Kepala bayimu sudah mulai terlihat. Saat bayimu keluar sedikit lagi aku bisa menyerap mananya."


" Hah hah hah Lucas, aku sudah tidak kuat. Sa-sakit Lucas."


"Bertahanlah! Ayo sedikit lagi!"


"Sakit, Lucas."


"Aku tau. Bertahanlah, aku akan mulai menyerap mana anak ini"


Lucas mulai menyerap mana bayiku. Rasa sakit di perutku perlahan mulai menghilang.


Oek oek oek...bayinya pun keluar dengan sehat.


"Bayimu telah lahir. Kau sudah bertahan dengan baik."


Lucas meletakkan bayi itu di atas dadaku. "Halo anak cantik, aku ibumu."


"Aku akan memanggil suamimu."


Lucas keluar dan memberitahu ketiga orang tersebut kalau bayinya telah lahir dengan sehat dan ibunya mampu bertahan.


"Bayinya telah lahir dan ibunya bertahan dengan sangat baik."


Ketiga orang itu akhirnya bisa bernafas dengan lega. Mereka bertiga pun masuk dan menemui Diana.


Claude menghampiriku. "Diana."


"Claude."


"Terima kasih karena telah bertahan," ucapnya sambil mencium keningku.


Aku tersenyum. "Aku sudah berjanji untuk bertahan."


Claude mengangguk. "Iya, kau menepati janjimu dengan sangat baik."


"Lihatlah Claude, anak kita sangat cantik."


Claude melihat ke arah bayinya. "Iya, dia cantik sepertimu."


"Apakah kau mau menggendongnya?" tanyaku.


"Aku? A-aku tidak bisa menggendong bayi, Diana," jawabnya gugup.


"Tidak apa. Cobalah, Lily akan mengajarimu caranya menggendong bayi."


Lily mendekat dan mengajari Claude cara menggendong bayi dengan benar. "Berhati-hatilah dengan kepalanya yang mulia karena kepala bayi sangat rawan cedera."


"Seperti ini?"


"Ya anda melakukannya dengan baik, yang mulia."


Claude terpana melihatnya anaknya.


Aku terkekeh melihatnya. "Cantik, kan?"


Claude mengangguk. "Halo, aku ayahmu."


"Apakah kau sudah memikirkan nama untuknya?"


"Ya, namanya Athanasia De Alger Obelia."


Sesuai dengan yang di novel. "Nama yang cantik."


Claude mengelus pipi Athanasia. "Ayah akan selalu menjagamu dan ibumu dengan baik."


Aku berusaha duduk. Lily langsung mendekat ke arahku. "Berbaring saja, yang mulia permaisuri."


Claude yang melihatku berusaha duduk langsung mendekat. "Ada apa Diana? Apakah kau membutuhkan sesuatu? Katakan saja apa yang kau butuhkan."


"Aku mau menggendongnya."


Claude memberikan Athanasia. "Hati-hati, tubuhmu masih lemah."


Aku menggendong Athanasia dan mengecup pipinya. "Ibu juga akan melindungi dan menyayangi Athanasia."

__ADS_1


Claude memelukku dan mencium keningku. "Kalian berdua adalah harta paling berharga. Aku mencintaimu, Diana"


"Aku juga mencintaimu, Claude."


Aku melihat ke arah Lily dan Felix. Mengapa mereka berdua diam saja dari tadi?


"Lily, Felix ada apa?" tanyaku pada mereka berdua.


"Bolehkah kami memeluk anda yang mulia permaisuri?" tanya mereka takut.


Aku terkejut mendengar perkataan mereka dan tertawa. Aku menyerahkan Athanasia kepada Claude. "Tolong gendong Athanasia sebentar sayang. Aku harus menenangkan mereka berdua."


Claude menggendongnya.


Aku merentangkan kedua tanganku dan tersenyum. "Kemarilah."


Lily dan Felix langsung berhambur ke pelukanku.


Claude terkejut. "Kalau Lily masih tak apa tapi Felix?!"


Aku terkekeh. "Biarkan Felix kali ini saja. Dia juga mengkhawatirkanku."


Lily menangis di pelukanku. "Yang mulia permaisuri, saya sangat bersyukur anda selamat."


"Terima kasih telah bertahan yang mulia permaisuri," ucap Felix.


"Kalian berdua berhentilah menangis. Bukankah harusnya kalian senang? Mengapa kalian menangis?" tanyaku heran.


"Ini tangis kebahagiaan yang mulia permaisuri. Taukah anda beberapa jam lalu adalah waktu paling menegangkan dalam hidup saya dan saya tidak ingin merasakannya lagi."


" Aku mengerti. Ini semua berkat Lucas. Oh iya dimana Lucas?"


"Ada apa kau mencariku?" tanya Lucas yang ternyata ada di sebelahku.


"Lucas, terima kasih telah membantuku," ucapku.


Claude memandang Lucas tidak suka. "Harus kuakui kalau kau cukup berguna penyihir."


"Saya memang selalu berguna, yang mulia" ujar Lucas sombong.


"Kau! Huh sudahlah aku tidak mau ada keributan dihari bahagia ini. Maka dari itu aku akan mengabulkan apapun keinginanmu sebagai hadiah."


"Saya tidak menginginkan apapun yang mulia. Cukup rawatlah anak anda dengan baik dan jangan lari lagi dari masalah," jawab Lucas.


Claude mengangguk. "Tentu. Kalau begitu kau akan aku nobatkan sebagai penyihir kerajaan."


"Maafkan saya yang mulia tapi saya menolak!" tegas Lucas.


Claude mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? Banyak orang yang menginginkan posisi tersebut,"


"Terlalu melelahkan menjadi penyihir kerajaan. Lagi pula bukannya anda sudah memiliki penyihir menara itu?"


"Seperti katamu, mereka tidak berguna."


"Keputusanku sudah bulat. Kau akan aku jadikan penyihir kerajaan," putus Claude.


Lucas yang hendak menolak lagi langsung kutahan. "Ini kabar bagus Lucas, kalau kau jadi penyihir kerajaan kita bisa terus bertemu."


"Siapa yang mau bertemu denganmu?"


"Kita teman, tentu saja kita harus terus bertemu."


"Kapan kita berteman?"


"Bukankah tadi kau yang bilang sendiri kalau kita ini teman?"


"Aku tidak ingat."


"Terserahlah. Oh iya Lucas, anak ini namanya Athanasia."


"Buat apa kau memberitahuku namanya?"


"Karena aku harap kalian bisa berteman nantinya."


"Huh sudah aku bilang kalau aku tidak mau berteman dengan anakmu."


"Cobalah gendong dia, Lucas." Aku menghiraukan perkataannya.


"Tidak, nanti dia menangis dan itu akan sangat merepotkan," tolaknya.


"Tidak akan, Athanasia adalah anak yang manis."


"A-aku akan mencobanya. Kalau dia menangis aku tidak tanggung jawab."


"Iya. Claude, berikan Athanasia kepada Lucas. Biarkan dia mencoba menggendongnya"


Claude memberikan Athanasia dengan terpaksa. "Awas kalau kau menjatuhkannya. Aku akan membunuhmu!"


"Kau kira aku bodoh? Aku tau cara menggendong bayi, tidak sepertimu yang harus diajarkan terlebih dahulu!"


Lucas menggendong Athanasia dan memperhatikan wajahnya.


"Dia anak yang manis, kan?" tanyaku


"Biasa saja," jawabnya.


Claude hampir menarik kerah Lucas setelah mendengar itu tapi untungnya aku berhasil menahannya.


"Aku tidak mau ada keributan di sini sayang jadi tahan emosimu," ucapku sambil tersenyum tapi bagi orang yang melihatnya senyuman itu sangat menakutkan.

__ADS_1


Claude mengurungkan niatnya untuk menarik kerah Lucas.


Malam pun tiba. Athanasia terus menangis.


Aku menggendong. "Cup cup ibu di sini sayang. Berhentilah menangis."


Claude bangun dan menghampiriku. "Apakah Athanasia terus menangis?"


"Claude, kau bangun. Maaf karena telah membangunkanmu, tangisan Athanasia pasti sangat berisik ya? Maaf ya, aku tidak tau mengapa dia terus menangis."


Claude menggeleng. "Tidak, aku memang terbangun tadi. Berikan Athanasia padaku, kau tidurlah."


"Tidak biar aku saja, kau besok ada rapat, kan? Jangan sampai tidak fokus nantinya karena kurang tidur," tolakku.


"Sudahlah jangan memikirkan hal lain. Rapat bisa diundur kalau aku tidak bisa. Jadi berikan Athanasia dan kembalilah tidur Diana. Ini masih larut malam."


"Gendong Athanasia sebentar, aku akan membuatkannya susu."


Claude menggendong Athanasia dan menimangnya. "Berhentilah menangis, anak baik. Jangan menyusahkan ibumu."


Diana datang dengan membawa sebotol susu dan menggendong Athanasia lalu memberinya susu. "Cup cup kau lapar ya sayang?"


Athanasia meminumnya dan berhenti menangis.


"Duduklah Diana." Aku duduk di ranjang bersama Claude.


"Ternyata Athanasia lapar ya." Claude memandangiku dan tersenyum.


Aku yang diperhatikan seperti itu menjadi salah tingkah. "Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?"


"Mengapa kau sangat cantik Diana?" tanyanya.


"Tentu saja, kalau aku tidak cantik maka kau tidak akan mencintaiku," jawabku


Claude tertawa. "Hahaha kau pikir aku menyukaimu karena wajah ini?"


"Tentu saja, kalau bukan karena wajahku yang cantik lalu apa yang kau sukai?"


Claude menciumku. "Aku suka semua tentangmu, Diana."


Mataku membulat sempurna. "Claude! Ada Athanasia di sini."


"Dia sudah tidur. Lagi pula dia masih kecil jadi tidak akan mengerti apa yang orang tuanya lakukan."


Aku melihat ke arah Athanasia. Ah benar saja ternyata dia sudah tertidur pulas, susunya juga sudah habis. Aku menggendong Athanasia dan menaruhnya pelan-pelan di tempat tidurnya. Sebelum aku kembali ke tempat tidur, aku mencium kening Athanasia. "Mimpi indah, anak cantik."


Setelah itu aku kembali ke tempat tidur. Claude memelukku. "Tidurlah lagi, ini masih malam."


"Tapi aku tidak bisa tidur lagi."


"Hmm? Bagaimana kalau kita lakukan hal lain?"


Aku menoleh ke arah Claude. "Hal lain? Apa itu?"


"Berolahraga?"


"Olahraga apa yang dilakukan malam-malam?" tanyaku bingung.


"Kau berpura-pura tidak tau."


"Aku serius. Emang ada olahraga yang dilakukan malam hari?"


Tiba-tiba Claude menindihku. "Ada. Olahraga ranjang."


Pipiku memerah mendengar jawaban Claude. "Kau gila?! Ada Athanasia di dekat kita."


"Kita tinggal pindah ke kamar lain. Lagi pula banyak kamar yang kosong."


Aku mendorong Claude ke samping dan menutup wajahku dengan selimut. "Tidak mau!"


"Loh tadi katanya tak bisa tidur?"


"Ya aku memang tak bisa tidur tapi kita bisa melakukan hal lain selain itu."


"Apa?"


"Mengobrol?"


"Membosankan. Apa yang akan kita bicarakan?"


"Entahlah."


"Lihat, kamu saja tidak tau jadi ayo kita lakukan saranku saja," desaknya.


"Tidak mau, Claude! Itu aku masih sakit."


Tiba-tiba Claude tersadar. "Ah iya. Maaf sayang."


"Jangan memaksaku lagi."


Claude mengangguk.


"Oh iya Claude, aku ingin perayaan kelahiran Athanasia ditunda dulu"


"Kenapa?"


"Athanasia masih terlalu kecil, jangan biarkan dunia luar tau dulu tentang Athanasia. Kita rayakan saat dia berumur satu tahun ya?"


"Baiklah."

__ADS_1


"Terima kasih."


"Sekarang ayo kita tidur." Claude memelukku dan entah bagaimana aku langsung mengantuk. Ah sepertinya dia memakai sihir. Kenapa tidak dia lakukan dari tadi?! Malam itu kami tertidur lelap tanpa mendengar tangisan Athanasia lagi, sepertinya Athanasia juga tertidur lelap. Apakah ini juga ulah Claude? Entahlah.


__ADS_2