
Aiden menghindar menyamping agar pukulan raja semut itu tidak mengenainya, Aiden terus menghindari pukulan demi pukulan raja semut merah itu sambil mencari sela untuk menyerang balik.
"Pedang sunyi: pedang sunyi menipu." Aiden melompat keatas, lalu melancarkan teknik pedang sunyi ketiganya.
"Bodoh!" dengus raja semut merah menangkis dengan satu tangan dan tangan lainnya siap memukul perut Aiden.
"Argh..., apa yang terjadi?" raja semut merah heran karena pedang Aiden menebasnya, sementara tangannya yang menangkis seperti menangkis pedang lain yang tidak terlihat.
Jleb! Aiden langsung menusuk jantung iblis itu hingga tembus saat raja iblis itu masih bengong dan bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi..., ugh." raja semut itu sekarat dan hampir mati akibat tusukan Aiden tersebut.
"Teknik ketiga pedang sunyi membuat musuh menangkis energi pedang dan pedang asliku menembus melewati penghalang yang kamu pakai, butuh dua penghalang jika ingin menahan tebasan ku." ujar Aiden menjelaskan sambil menarik kembali pedangnya yang menembus tubuh raja semut tersebut dengan tarikan kasar.
"Argh...," raja semut itu sangat kesakitan hingga akhirnya mati akibat tindakan Aiden tersebut.
Di markas pengawas seleksi pemburu iblis kota Cadas.
Pertarungan sengit antara Aiden melawan dua raja iblis langkah 6 disaksikan langsung oleh jenderal Jaka di markas para pengawas seleksi kota cadas, baik jenderal Jaka maupun semua pengawas yang secara tak sengaja ikut menonton cukup kagum dengan kehebatan Aiden yang mampu membunuh dua iblis yang lebih kuat darinya.
"Jadi begitu, teknik ini mampu menahan serangan lawan setinggi apapun ranah yang lawan punya." gumam Jenderal Jaka.
Jenderal Jaka yang menonton pertarungan itu akhirnya mengerti cara kerja teknik manipulasi murni milik Aiden. "Bagaimana menurutmu, jika dia tidak menggunakan teknik aneh itu?" tanyanya kepada kapten pengawas seleksi.
Kapten pengawas berpikir sebentar untuk menarik kesimpulan. "Seandainya orang ini menggunakan mana atau pertahanan lainnya untuk menahan tebasan energi yang raja Mantis lakukan, mungkin dia sudah terluka parah." jelas kapten pengawas setelah berpikir.
"Kenapa begitu?" tanya jenderal Jaka.
"Karena serangan dan pertahanan energi dari orang yang memiliki ranah rendah akan mudah dihancurkan oleh serangan orang yang memiliki ranah tinggi walau beda satu ranah sekalipun, selain itu orang beranah rendah sangat sulit melukai tubuh orang yang memiliki ranah lebih tinggi darinya, namun teknik ini kudengar mampu mengosongkan damage dan mengabaikan armor defense lawan, jadi secara otomatis aturan ranah itu tidak berlaku bagi pengguna teknik manipulasi murni ini." jelas kapten pengawas dengan gamblang dan sangat jelas, jenderal Jaka mengangguk mengerti.
"Aku berani bertaruh, jika dia tidak memiliki teknik ini dia tidak akan mampu menangkis satupun serangan raja mantis baik serangan energi maupun kontak fisik mengingat perbedaan ranah mereka berdua sangatlah jauh." tambah kapten pengawas dengan yakin seyakin-yakinnya.
"Kita sepemikiran." respon jenderal puas dengan pendapat kapten pengawas yang sama dengannya.
"Jenderal tidakkah kamu melihat bagaimana dia bertarung?" tanya kapten pengawas sambil menyesap kopinya.
"Aku melihatnya, dia sangat menghemat mananya." jawab jenderal Jaka.
"Itu benar, dia hanya menggunakan mananya untuk menghindar dan sesekali menyerang dengan serangan yang menggunakan mana, hal itu dilakukan untuk memperbesar peluang kemenangannya."
"Karena perbedaan banyaknya mana sangat berpengaruh dalam pertarungan, itulah kenapa dia sangat ingin mengakhiri pertarungan dengan cepat." ujar kapten pengawas.
__ADS_1
"Lalu?" tanya jenderal yang sudah menebak jalan pikiran kapten pengawas.
"Menurutku teknik ini sangat cocok untuk para assassin yang memang mengandalkan kecepatan dalam membunuh lawannya." ujar kapten pengawas itu.
"Masuk akal, tapi aku berniat menjadikan teknik ini sebagai teknik dasar yang harus dikuasai semua prajurit aliansi dari divisi apapun, baik kesatria, pembunuh, atau divisi lainnya." respon jenderal Jaka sambil mengelus jenggotnya.
"Itu lebih baik lagi, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa tubuh manusia dan iblis dilindungi armor mana, semakin tinggi ranah semakin kuat armor mana tersebut, alasan itulah kenapa ranah yang lebih rendah sulit mengalahkan orang yang memiliki ranah lebih tinggi." respon kapten pengawas itu mendukung niat yang Jenderal Jaka miliki.
"Jadi itu alasan dia menanyakan keistimewaan apa yang di dapat ketika menerobos mana, karena teknik ini mengabaikan aturan tersebut." batin jenderal Jaka dalam hati sambil mengingat kembali pertanyaan Aiden di rumah sakit dua hari yang lalu.
Jenderal Jaka sebelumnya tidak menganggap spesial tubuh dan armor mana yang diperkuat ketika menerobos ranah, karena baginya itu tidak berpengaruh terhadap pertarungan.
Namun sekarang fakta ini membuatnya yakin bahwa tubuh dan armor yang diperkuat ketika menerobos adalah hal yang spesial, karena menjadi salah satu faktor kenapa orang yang memiliki ranah rendah mustahil mengalahkan orang yang memiliki ranah lebih tinggi kecuali beberapa hal yang tak terduga.
"Anak ini akan dikenal dalam sejarah, karena menciptakan teknik yang berguna." ucap kapten pengawas senang.
Jenderal Jaka mengangguk membenarkan ucapan sang kapten, Jenderal Jaka segera keluar untuk menjemput Aiden secara langsung dari arena seleksi.
Ok..., skip.
Jenderal Jaka sudah sampai di tempat Aiden dan segera mengobatinya dengan teknik penyembuh sederhana yang dia kuasai, Aiden yang tertidur kelelahan itu kembali bersemangat.
"Sekarang kamu mengerti bahwa teknik ini sangat berguna meskipun teknik ini tergolong sihir hitam , bukankah begitu Jenderal?" ujar dan tanya Aiden dengan senyum puas sambil menscan dua raja iblis yang menjadi lawannya untuk mengkonfirmasi bahwa dia sudah lolos seleksi.
"Haha, senang mendengarnya." Aiden tertawa puas.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu tempo hari tentang penerobos ranah itu." ucap Jenderal Jaka kembali menghentikan tawa Aiden.
"Walau aku tidak ingat, tapi silahkan saja." respon Aiden yang memang lupa bahwa dia pernah bertanya tentang keistimewaan yang didapat saat menerobos ranah.
"Ketika kamu masih diranah bumi kamu sudah lebih kuat dari manusia biasa, ketika kamu naik ranah awan kekuatan tubuh dan armor mana milikmu diperkuat, saat naik keranah langit kepekaan dan persepsi milikmu semakin baik, ketika kamu naik ranah puncak kamu bisa terbang tanpa memakai teknik apapun, dan ketika kamu sudah ranah keberadaan dewa kamu bisa menggunakan dan memanipulasi energi alam untuk mendukung pertarungan." jelas jenderal Jaka dengan rinci.
Mendengar itu Aiden sedikit mengingat pertanyaan yang dia tanyakan kepada jenderal Jaka saat dia dirawat di rumah sakit prajurit aliansi, itu dimulai karena masalah manipulasi murni.
"Kudengar ranah keberadaan dewa hanya batas 10 ribu poin mana tidak bisa lebih dari itu, menurutmu apakah itu benar?" tanya Aiden penasaran dengan ranah keberadaan dewa yang dianggap sebagai ranah legendaris mengingat orang yang mencapai ranah ini bisa diitung dengan jari.
"Iya itu benar, ranah keberadaan dewa hanya sampai 10 ribu poin mana." jawab jenderal Jaka apa adanya.
"Tapi ada legenda yang mengatakan bahwa ada seorang pendekar di masa lalu yang disebut Dewa pedang pengembara, pendekar ini menurut legenda mampu melampaui ranah keberadaan dewa, ranah itu disebut ranah tanpa batas, karena keistimewaan ranah ini adalah tingkatan mananya tanpa batas." ujar jenderal Jaka mengingat sebuah legenda kuno tentang pendekar pedang pengembara.
"Aku mengerti." Aiden mengerti dan puas dengan penjelasan jenderal Jaka yang memberinya penjelasan secara rinci tentang tingkatan ranah, bahkan sampai menceritakan sebuah legenda tentang seorang pendekar yang melampaui ranah keberadaan dewa.
__ADS_1
Ok..., skip.
Aiden dinyatakan lolos seleksi setelah menjadi kesatria tercepat ke-49 dengan hasil membunuh 30 iblis peringkat rendah dan 2 raja iblis peringkat 6, hal itu memecahkan rekor sebelumnya.
"Aiden, dia memang luar biasa." puji Long sambil melihat keluar jendela.
Long yang sudah sadar dari komanya senang mendengar berita bahwa Aiden lolos seleksi sebagai pemburu iblis, "Sistem cek status." batin Long memeriksa sistemnya.
Nama: Long Shaoting
Umur: 18 tahun.
Poin stamina: 10 poin
Mana: 2010
Kekuatan tempur: 100
vitalitas tempur: 190
Semangat tempur: 100
kecerdasan: 10
Kecepatan: 100
Status: manusia super
Keterampilan: Ahli pertarungan jarak dekat dan ilmu pedang kesatria.
Misi: Lari tanpa mana 12 km, hadiah 40 poin stamina.
"Sudah lama sekali sistem tidak memberi misi baru kepadaku, jika dihitung-hitung hampir seminggu lebih aku tidak mendapatkan misi dari sistem ." ujar Long sambil menghela nafas berat ketika melihat sistem memberinya misi baru setelah sekian lama menunggu.
Long yang melihat sistem sedikit terganggu oleh kekuatan tempur yang begitu kecil yang hanya bernilai 100.
"Kali ini aku harus menggunakan stamina poin untuk meningkatkan kekuatan tempur agar aku semakin kuat dalam adu fisik." ujar Long bertekad setelah melihat informasi tentang kekuatan tempurnya.
Tok, tok, tok. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang, hal itu membuat Long kaget setengah mati.
"Masuk!" teriak Long tegas menyuruh tamunya yang mengetuk pintu kamar agar segera masuk.
__ADS_1
Setelah pintu kamar itu dibuka terlihat Aiden dan Hara masuk sambil bergandengan tangan, Long dibuat kesal dengan kondisi intim antara Aiden dan Hara tersebut.