
Setelah beberapa konflik yang terjadi Sniper DX-5 Ravager akhirnya di dapatkan oleh Seli secara gratis sebagai permintaan maaf dari pelelangan. Pada saat itu juga lelang berakhir karena banyak peserta lelang yang pergi dari pelelangan karena berbagai alasan.
"Wanita itu...," Anyi sangat kesal dan marah.
"Kak Anyi, kita tidak bisa melawan penguasa kecuali kita juga penguasa." ujar Aiden menenangkan Anyi yang berniat memukul dan memberi Seli pelajaran.
"Aku tahu itu." dengus Anyi, mereka bertiga segera keluar pelelangan mengikuti para peserta lelang yang juga keluar.
Disisi lain Arya sangat marah dan kesal karena lagi-lagi dia kehilangan senjata yang menjadi incaran dalam pelelangan, Arya semakin marah ketika mendapati tatapan provokasi dari Seli dan teman-temannya.
"Aku akan membunuh jhalang itu." dengus Arya berlalu pergi dari kursi peserta lelang dengan langkah besar, Wiguna mengikuti sambil menggeleng kepala melihat Arya yang begitu marah.
"Tenangkan dirimu teman, sebagai seorang pengintai kamu sudah dilatih untuk menahan emosi bukan?" ujar Wiguna mencoba menenangkan kemarahan Arya yang berniat melabrak kelompok Seli, perkataan itu terbukti mampu membuat Arya mengurungkan niatnya.
Dua hari berlalu semenjak pelelangan, Aiden dan Hara saat ini sedang berduaan berkeliling penjuru kota untuk mengenal lebih jauh ibukota aliansi. "Sekarang kemana?" tanya Aiden kepada Hara.
Mereka berdua berpegangan tangan dan terlihat mesra, banyak pejalan kaki yang iri melihat mereka termasuk Long yang saat itu ditemani Anyi untuk membeli perlengkapan kesatria.
"Kamu tunggu disini, aku mau ke toilet dulu." ujar Hara langsung pergi ke toilet umum yang tidak jauh dari posisi mereka.
"Cepatlah, aku sudah lapar sayangku." respon Aiden dengan genit. Long melihat Aiden yang sedang sendiri, dia segera berniat menemui Aiden dengan langkah besarnya.
Aiden yang sedang menunggu di tiang lampu jalan melihat anak kecil pincang yang jalan di depannya, Aiden juga melihat sebuah reklame toko akan jatuh menimpah anak kecil itu. "Reklame itu akan jatuh?" gumam Aiden dengan santai.
Krek..., kreeek!
Reklame itu akhirnya jatuh tepat saat anak kecil itu berada dibawahnya, Aiden hanya acuh dan tidak bergeming untuk menolong.
"Aiden selamatkan bocah itu!" teriak Long memperingati, namun Aiden tidak peduli. Bocah itu terlihat cemas dan berusaha lari, namun karena pincang dia jatuh.
"Tolong..," teriak lirih bocah itu ketakutan.
Bang! Suara benturan keras terdengar ketika reklame itu jatuh dan mengenai bocah malang itu, semua pegawai toko langsung berlari keluar untuk melihat.
"Apa yang terjadi?" tanya beberapa orang ketika melihat adegan di tempat reklame itu jatuh dan diselimuti debu.
"Aiden kenapa kamu diam saja dan tidak menyelamatkan bocah ini?" tanya Long yang saat itu berhasil menyelamatkan bocah kecil itu. Posisi Long saat ini berada satu langkah dari jatuhnya reklame sambil memeluk bocah kecil yang hampir tertimpa reklame tersebut.
__ADS_1
"Karena aku tidak peduli." ujar Aiden acuh dan beranjak pergi ketika melihat Hara keluar dari toilet umum.
"Apa yang terjadi?" tanya Hara penasaran sambil melihat kerumunan yang ribut di depan sebuah toko.
"Long?" Hara mau menyapa, namun Aiden segera menariknya pergi.
"Aiden?" Hara bingung dengan sikap Aiden yang seperti tidak suka dia menyapa Long teman satu kota mereka.
"Apakah Aiden cemburu?" tanya Hara dalam hati sambil mengikuti Aiden yang mencoba menjauh dari Long.
"Long, orang yang kamu selamatkan hari ini mungkin saja orang yang akan membunuhmu dimasa depan." ujar Aiden sambil menarik Hara pergi, Hara yang berpikir Aiden cemburu malah semakin bingung dengan ucapan Aiden kepada Long.
"Aiden, kuberitahu tidak ada orang yang bisa melihat masa depan." teriak Long marah melihat sikap Aiden yang acuh dan tidak peduli bahkan menyumpahinya.
Aiden berhenti sedikit lalu tersenyum. "Kamu akan mengerti nanti." ujar Aiden dan kembali jalan menuju restoran, Hara meminta penjelasan tentang tragedi itu kepada Aiden.
"Itu karena dia bukan bocah sembarangan, karena bocah itu sudah berumur 20-an." ucap Aiden tenang dan segera masuk ke sebuah restoran.
"Apa? kenapa bisa seperti itu?" tanya Hara kebingungan dengan fakta tersebut.
"Itu karena dia sedang menyamar menjadi anak kecil, mengenai alasannya aku tidak mengerti, tapi yang jelas dia sedang menyamar saat ini." jelas Aiden sambil mencari tempat duduk di restoran dan memanggil pelayan.
"Eror Khayalki." Anyi mengenali orang tersebut yang ternyata Eror Khayalki dari divisi pembunuh.
"Eror?" Long yang bingung dan tercengang melihat bocah kecil pincang yang dia selamat ternyata pria dewasa.
"Dia adalah prajurit muda berbakat dari divisi pembunuh, namanya Eror Khayalki saingan Seli dalam perebutan pedang dewa pembunuh." jelas Anyi kepada Long dengan tenang.
Semua orang akhirnya mengerti, terlebih semua orang di ibukota Aliansi tahu dengan kisah seorang prajurit divisi pembunuh muda yang menjanjikan dikutuk menjadi anak kecil oleh salah satu tetua divisi penyihir. Tetua penyihir tersebut ternyata kakek Seli dari pihak ibu, alasan dia mengutuk Eror diperkirakan karena dua hari setelahnya ujian pengakuan senjata dewa pembunuh diadakan.
"Karena dia tidak hadir, maka Seli secara otomatis diakui oleh pedang dewa pembunuh, satu minggu penyelidikan diketahui bahwa Eror sudah dikutuk menjadi anak kecil oleh seorang tetua penyihir yang tidak lain adalah kakek Seli dari pihak ibu." ujar Anyi menjelaskan.
"Mengenai alasannya semua orang sepakat itu berhubungan dengan ujian pengakuan pedang dewa pembunuh yang merupakan salah satu senjata dewa." tukas Anyi mengakhiri penjelasannya tentang tragedi Eror yang dicurangi oleh Seli.
Semua orang yang tahu mengenai kisah tersebut juga berpikiran hal yang sama, aneh rasanya jika dua hari sebelum ujian Eror tiba-tiba dikutuk tanpa alasan, terlebih yang mengutuk Eror adalah kakek saingan Eror sendiri dalam perebutan pedang dewa pembunuh.
"Haha, ceritanya tidak seperti itu, cerita yang beredar hanya sebuah kesalahpahaman." ucap Eror sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
__ADS_1
"Sebenarnya baik aku dan tetua Jerew dari divisi penyihir tidak mengenal satu sama lain, namun kami terlibat perselisihan yang disebabkan karena aku menguntit cucu laki-lakinya yang bernama Peri." jelas Eror dengan canggung.
Seketika semua orang memandang jijik Eror karena menguntit seorang laki-laki, namun mereka penasaran apa yang ingin Eror sampaikan dan kenapa cerita tentangnya yang dicurangi itu sebuah kesalahpahaman menurut Eror sendiri.
"Tidak kuduga anak ini mengalami penyimpanan seksualitas." gumam Anyi pelan, namun dapat didengar oleh beberapa orang disekitarnya termasuk Long dan Eror.
"Apa maksudmu?" tanya Eror emosi, namun dia segera menarik nafas.
"Aku menguntitnya karena aku merasa dia mirip dengan adik keempat ku, maksudku saudaraku yang hilang." ujar Eror menjelaskan.
"Dia sangat mirip dengan saudaraku yang hilang itu, dari wajah hingga penampilannya jadi wajar aku mencoba mencaritahu lebih jauh tentangnya." ujar Eror dengan sedih.
"Terdengar aneh bukan? tapi nyatanya aku merasa sangat dekat dengannya, jadi aku penasaran dan mencari tahu tentangnya lebih dalam dengan cara menguntitnya." ujar Eror menahan air mata.
Semua orang akhirnya sudah mulai sedikit paham mengenai akar permasalahan yang sebenarnya terjadi antara Eror dan juga kakek Seli, yang jelas kutukan itu tidak berkaitan dengan ujian pengakuan pedang dewa yang akan diikuti Eror dan Seli.
"Kudengar kamu pria yang dingin dan acuh tak acuh, namun sekarang aku meragukan apa yang kudengar." ujar Anyi.
Semua orang memiliki pemikiran yang sama dengan Anyi dan itu juga menjadi tanda tanya dalam hati mereka.
"Haha, aku juga tidak paham dengan orang-orang yang mendeskripsikan aku seperti itu, itu juga sebuah kesalahpahaman dan juga rumor yang tidak dapat dipercaya." respon Eror dengan tertawa renyah.
"Intinya alasan aku menjadi anak kecil karena ketahuan menguntit Peri yang merupakan cucu kesayangan tetua Jerew, tidak ada sangkut pautnya dengan ujian pengakuan pedang dewa pembunuh." tukas Eror dengan tersenyum ramah dan tidak menunjukkan bahwa dia seorang pembunuh sedikitpun.
Semua orang akhirnya mengetahui kebenaran tentang Eror yang diduga dicurangi oleh Seli, ternyata rumor itu tidak benar adanya. Semua orang pada akhirnya kembali bekerja dan melakukan aktivitas seperti biasanya setelah Eror mengklasifikasi masalah dia dan tetua Jerew.
"Aku merasa orang itu memiliki aura manipulasi murni, apakah dia kakak pertama?" gumam Eror melihat restoran tempat Aiden dan Hara makan.
Eror Khayalki ternyata adalah saudara kedua dari Aiden di masa lalu, dia juga berinkarnasi bersamaan dengan reinkarnasi Aiden dan Arya.
"Kamu kenal dengan orang yang berdarah dingin tadi?" tanya Eror kepada Long yang saat itu baru jalan satu langkah.
"Siapa? Aiden maksudmu?" tanya Long merasa tidak senang, karena Long saat ini masih marah dengan Aiden.
"Iya, aku mendengar kamu menyebutnya Aiden." balas Eror dengan antusias.
"Teman, dia mungkin berdarah dingin, namun dia sahabatku yang terbaik, aku tidak akan melepaskanmu jika kamu menyakitinya." ujar Long dengan serius.
__ADS_1
Long menganggap Eror ingin balas dendam kepada Aiden yang tidak peduli kepadanya saat masih dalam masa hukuman kutukan dari tetua Jerew. Karenq meskipun kesal, marah, atau bahkan benci kepada Aiden, Long tetap peduli dengan Aiden, karena Aiden teman dan sahabat masa kecilnya.