
Dibabak peringkat tim memiliki aturan yaitu semua peringkat tim atau skuad pemburu iblis akan ditentukan dengan seberapa banyak jumlah poin yang dikumpulkan, dimana poin itu di dapat dengan cara menantang tim lain dengan aturan setiap tim hanya boleh menantang dan menerima tantangan sebanyak 7 kali.
Tantangan yang dilontarkan harus diterima, dengan catatan yang menantang dan menerima adalah peserta yang berasal dari divisi yang sama, konsepnya itu adalah penyihir tim penantang harus melawan penyihir tim yang ditantang.
Jika semua tim selesai melontarkan tantangan dan ternyata ada beberapa tim yang memiliki poin sama, maka peringkat mereka akan diputuskan dengan cara undian. Dimana jika ada tim yang tidak menerima berhak menantang tim yang berada di posisi diatasnya untuk mengambil posisi tersebut, misalnya tim Dragon diposisi kedua karena tim Eror yang memenangkan undian, maka tim Dragon berhak menantang tim Eror untuk merebut posisi tim Eror tersebut.
Ok... lanjut ke cerita.
"Kamu mau kemana?" tanya Eror kepada seorang penyihir yang tergabung dalam tim mereka, penyihir ini terlihat masih bocah dan mungkin saja orang akan menebak umurnya masih 10 tahun ketika bertemu.
Penyihir yang memiliki topi besar ala penyihir yang hampir menutupi wajahnya dan memakai baju berwarna putih abu-abu itu hanya tersenyum kecil kepada Eror yang menyentuh pundaknya, dia terlihat sangat meremehkan Eror.
"Paman, aku ingin mendapatkan poin untuk tim kita, apa itu salah?" tanya penyihir yang diketahui bernama Rudi itu dengan menatap tajam kearah Eror.
"Rudi kamu harus sopan, dia adalah kapten kita." tegur seorang gadis muda yang diperkirakan berumur 21 tahun dengan sedikit kepanikan di wajahnya, hal itu wajar karena Eror yang berasal dari divisi pembunuh yang terkenal suram dan berdarah dingin.
"Kenapa terburu-buru, kita harus menunggu dan melihat situasi dulu, karena bagaimanapun tidak terlambat juga jika bergerak diakhir." ujar Eror dengan senyum ramah, Eror tidak menunjukkan sifat seorang assassin yang terkenal suram dan berdarah dingin.
"Halo gadis cantik, siapa namamu, aku sendiri adalah Eror dari divisi assassin." ujar Eror menoleh ke si gadis dan bertanya sambil mengulurkan tangannya.
"Ah..., uh, namaku Lyra delima dari divisi penyegel." jawab gadis yang bernama Lyra itu canggung dan heran dengan Eror yang begitu ramah padahal berasal dari divisi assassin.
Rudi sudah pergi memasuki arena memanfaatkan kelengahan Eror yang berbicara kepada Lyra, dia langsung menantang tim 17 dengan tantangan penyihir lawan penyihir.
"Baiklah kita mendapat penantang pertama dari tim 3, dia menantang tim 17 dengan tantangan penyihir lawan penyihir." ujar wasit pertandingan ketika melihat Rudi memasuki arena dan langsung menantang penyihir tim 17.
Semua orang dari tim 3 yang dikapteni Eror tercengang melihat Rudi yang sudah diarena dan menjadi penantang pertama, Lyra bahkan meminta maaf berulang kali kepada Eror atas kecerobohan Rudi yang ternyata adik tirinya.
__ADS_1
"Dia terlihat masih bocah, bagaimana dia bisa menjadi pemburu iblis?" tanya Eror sambil tertawa canggung kepada Lyra yang terus meminta maaf kepadanya.
"Ah itu..., itu karena dia memaksa ayah kami untuk memasukkannya dalam seleksi tahun ini, karena kebetulan ayah kami adalah salah satu petinggi di divisi penyihir." jawab Lyra apa adanya dengan takut-takut.
"Karena dia kebetulan juga jenius sihir bahkan lebih jenius dari penerus dewa penyihir, sampai-sampai para petinggi berpikiran bahwa dia adalah penerus dewa penyihir namun kalah dalam segi usia saja, maka para petinggi tidak keberatan membiarkannya mengikuti seleksi bahkan menjadi pemburu iblis inti sekalipun." jelas Lyra dengan sedikit kesusahan karena merasa tertekan dengan aura pembunuh yang Eror miliki, walaupun Eror terlihat seperti orang ramah bahkan terkesan culun dan mudah bergaul.
Pertarungan Rudi melawan penyihir tim 17 sudah dimulai, Rudi terlihat diatas angin dan bahkan mempermainkan penyihir lawannya tersebut, sejauh ini Rudi bahkan belum melepaskan sihir apapun untuk melawan atau mengcounter lawannya.
"Jangan menghindar terus pengecut!" teriak lawan Rudi frustrasi karena Rudi selalu menghindari semua serangannya.
"Menurutku kamulah seorang pengecut disini." ujar Rudi dengan sinis dan menghindari panah sihir air yang dilancarkan lawannya tersebut.
"Ternyata memakai orang dalam, penyakit itu sepertinya tetap eksis walau beda zaman ya?" gumam Eror menanggapi alasan Rudi bisa menjadi pemburu iblis bahkan pemburu iblis inti walaupun masih bocah.
"Berapa umurnya?" tanya Eror penasaran. "Dua hari lalu Rudi resmi berumur 10 tahun." jawab Lyra apa adanya.
Diarena.
"Api neraka turun ke bumi, menghanguskan hutan dan membakar ilalang membentuk tombak agung yang membara dan membakar menyebar ke penjuru dunia, sihir tombak api!" penyihir yang lebih tua melaparkan mantra tingkat tinggi dan tercipta tombak api yang langsung menghujam menuju Rudi yang pecicilan.
"Apakah kamu bisa menghindarinya bocah!" teriak penyihir itu dengan puas, namun sebuah dinding tanah yang memiliki akar pohon tiba-tiba muncul dengan satu sentuhan tangan kecil Rudi di lantai.
Bush! tombak api itu menembus dinding tanah itu, namun dihentikan oleh akar-akar yang Rudi ciptakan bersamaan dengan dinding tanah tersebut.
"Ini... penyihir tanpa laparan? diusia semuda ini?" penyihir itu syok mendapati fakta tersebut, begitu juga semua orang ikut syok, hanya beberapa saja yang tersenyum puas, dimana salah satunya adalah penerus dewa penyihir sendiri.
"Adik kecilmu cukup hebat, benar-benar membuat kaget saja." ujar Dragon sambil tersenyum kepada penerus dewa penyihir tersebut.
__ADS_1
"Haha, dia keturunan klan Xiao, tentu harus hebat dan berbakat." balas penerus dewa penyihir tersebut.
Klan Xiao adalah salah satu dari tiga klan teratas yang menjadi penopang berdirinya aliansi kebangkitan bersamaan dengan dua klan teratas lainnya, tentu saja keturunannya sangat bangga akan status mereka yang berasal dari keturunan bangsawan terlebih keturunan bangsawan teratas.
"Sepertinya kita memiliki dua orang bangsawan teratas di tim kita, huh ini membuatku khawatir." dengus Arya sambil menghela nafas mendengar percakapan dua orang penerus dewa tersebut.
Alasan Arya mampu mendengar percakapan tersebut karena dia memang memiliki pendengaran yang tajam, jika fokus sedikit saja Arya mampu mendengar percakapan dari jarak beberapa kilometer jauhnya.
Di arena pertarungan.
Rudi berhasil mengalahkan lawannya dengan mengikat lawannya menggunakan sihir akar, lalu menghantam perut lawannya itu dengan tendangan yang diselimuti api.
"Paman sebagai penyihir kita harus pintar-pintar mengeluarkan sihir, agar tidak mubazir dan membuat kita kehabisan mana ditengah pertarungan, mengerti?" ujar Rudi menasehati lawannya sambil menoyor kening lawannya tersebut sebelum melepas sihir akarnya dari tubuh lawan.
Ucapan Rudi tentu beralasan, itu karena teknik sihir sangat membutuhkan mana yang besar, jadi para penyihir dituntut untuk benar-benar menargetkan lawan agar tidak banyak membuang mana, karena bagaimanapun mana mereka tidak akan lebih banyak dari lawannya walaupun berstatus penyihir.
"Alasan aku hanya menghindar hanya untuk menghemat mana, apalagi kamu dengan suka rela terus menggunakan sihir tanpa strategi sama sekali dan sangat mudah dihindari membuat strategiku berjalan sempurna, jadi aku bukan lemah atau pengecut, hanya saja aku terlalu cerdas." ujar Rudi sambil memamerkan sihir air dengan sombongnya.
"Aku menyebutnya strategi menipu monyet untuk terus menguras mananya." ucap Rudi dengan tertawa mengejek.
Bagi orang-orang Rudi begitu imut dan menggemaskan ketika tertawa, namun bagi lawannya itu sebuah hinaan yang akan sulit dia lupakan.
"Kamu..., begitukah." penyihir yang menjadi lawan Rudi itu tertunduk suram, lalu tiba-tiba bergerak mengeluarkan sebuah pistol.
Cus.., clep!
"Argh...," sebelum dia berhasil menarik pelatuk untuk menembak, leher penyihir itu sudah tertusuk jarum emas yang terbuat dari energi mana.
__ADS_1
"Ku-kurang a-ajar...," penyihir itu menghembuskan nafas terakhirnya dengan ketidakrelaan.
Sang pemilik jarum emas itu tidak lain dan tidak bukan adalah kakak Rudi sendiri yang berstatus penerus dewa penyihir, jarum emas itu adalah teknik sihir kelas atas pertama yang dia kuasai dari 500 teknik sihir milik dewa penyihir, dimana 17 diantaranya teknik sihir dewa yang dapat dikuasai jika kamu penerus dewa penyihir. Jarum emas penghenti nadi yang dia gunakan untuk membunuh lawan adiknya (Rudi) tersebut juga merupakan teknik dewa pertama yang dia warisi dari dewa penyihir masa lalu.