
Tiga bulan masa istirahat dan juga berlatih untuk memperkuat diri benar-benar Aiden manfaatkan sebaik mungkin sampai-sampai Aiden mampu menerobos ranah langit, lebih tepatnya diranah langit awal. Aiden bahkan mampu menguasai manipulasi murni tahap pertama dan kedua dengan sangat mahir dan tidak kaku lagi.
"Mari kita coba sejauh mana perkembangan yang aku capai." ujar Aiden pada dirinya sendiri sambil mengalirkan energi gaib ke tinjunya.
Bang! Aiden meninju pohon besar hingga bolong, lalu menggerakkan tinjunya kesamping untuk merobohkan pohon tersebut.
Bang! Aiden menciptakan tongkat yang terbuat dari energi gaib (manipulasi murni tahap dua) dan menghantam tiga pohon besar lainnya hingga hancur.
Sling! Aiden lalu menciptakan sebuah pedang dari energi gaibnya dan menebas pohon yang ada dibelakangnya.
"Tidak buruk." komentar Aiden kepada dirinya sendiri.
"Daftar." Aiden memanggil daftar benda yang ada di ruangan penyimpanan miliknya dan mengambil pedang no 3.
Aiden memutuskan berlatih pedang untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi babak penentuan skuad yang dirumorkan rekan skuad yang di dapat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Di kantor pusat aliansi.
Tujuh tetua umum dari tujuh divisi berkumpul untuk membahas pengelompokan 25 skuad pemburu iblis yang baru saja dibentuk, mereka saat ini sedang mendengarkan laporan ketua umum divisi penyegel tentang calon prajurit mereka untuk 25 skuad pemburu iblis yang baru.
"Lalu bagaimana dengan pihak kesatria?" tanya ketua Taken yang kini menjabat sebagai tetua tujuh divisi aliansi.
"Kami divisi Kesatria tentunya sudah memiliki 25 nama kesatria, mereka hanya tinggal menunggu masuk skuad mana dan setim dengan siapa." jawab tetua Dominik sebagai tetua divisi kesatria ibukota yang otomatis sebagai tetua umum dari divisi kesatria.
"Kalau begitu coba kamu laporkan 25 kesatria itu agar kita dapat memutuskan skuad mana yang terbaik untuk mereka." pinta Taken kepada Dominik.
"Hm, kita mulai dari Drake Dragon yang berasal dari klan Axl atau sering dikenal klan Drake....," ketua Dominik mulai bercerita 25 kesatria yang lulus seleksi dan menjadi pemburu iblis inti dan tergabung dalam skuad.
Para tetua mengangguk sedikit setelah mendengar laporan ketua Dominik yang menjabat sebagai tetua umum divisi kesatria tentang 25 kesatria mereka.
"Baiklah, sekarang kita mulai meracik para pemburu iblis ini." ujar Taken dengan bersemangat memulai rapat untuk meracik anggota skuad.
Keesokan harinya 25 skuad baru sudah dibentuk dan kebetulan Aiden berada di skuad nomor 7 dan tergabung dalam skuad yang sama dengan Hara.
"Ini..., bukankah kamu bilang kita tidak bisa satu tim?" tanya Aiden dengan curiga dan ada sedikit kekecewaan diwajahnya.
"Aku juga tidak tahu sayang, tapi percayalah aku tidak menipumu atau tidak ingin satu skuad denganmu." balas Hara dengan tenang walaupun dia sedikit terpengaruh dengan suasana hati Aiden yang sedikit marah, kecewa, dan benci kepadanya.
__ADS_1
"Benarkah seperti itu?" tanya Aiden sambil menatap tajam Hara yang tertunduk sedih dan tidak berani membalas tatapannya.
"Sudahlah, lagipula kamu bebas menentukan siapa yang menjadi rekanmu." ujar Aiden kemudian berlalu pergi dari hadapan Hara karena terlalu kecewa.
"Sayang...," Hara mencoba memegang tangan Aiden, namun Aiden tidak membiarkan Hara menyentuh tangannya sama sekali.
"Sayang... aku benar-benar tidak tahu kenapa menjadi seperti ini." ujar Hara dengan sedih karena diacuhkan oleh Aiden.
Tujuh ketua divisi muncul satu persatu dengan momentum yang unik dan mengintimidasi dari masing-masing mereka, membuat takjub semua pemburu iblis inti yang hadir di arena tersebut.
Hara mau tidak mau harus menahan diri untuk membujuk Aiden yang terlihat sangat kecewa kepadanya.
"Aiden....," gumam Hara pelan sambil menatap Aiden yang berada di depannya dengan sedih.
Taken sebagai ketua 7 aliansi maju dan mengucapkan beberapa kata untuk memberi semangat kepada para pemburu iblis.
"Kalian pastinya sudah mendapatkan tim sekaligus rekan yang telah kami putuskan bukan?" tanya Taken kepada seluruh pemburu iblis yang kini sudah bergabung dalam skuad yang sudah ditentukan.
"Apakah kalian menerima rekan kalian tersebut?" tanya Taken kembali, namun hasilnya tetap saja diam saja tidak ada yang merespons.
"Dimana kalian dapat mengganti rekan kalian dengan rekan yang baru dengan cara menantang pemimpin skuad lain, dimana yang kalah harus keluar dari skuadnya dan yang menang dapat memilih salah satu anggota skuad tersebut." jelas Ketua Taken.
Semua orang mengangguk mengerti walaupun sebagian kecil diantara mereka hanya mengangguk saja dan tidak mengerti sama sekali dengan aturan penentuan skuad yang diselenggarakan 7 divisi.
"Silahkan." ucap Taken mengizinkan seorang penyihir yang ingin bertanya dengan cara mengangkat tangannya.
"Master yang terhormat tolong jelaskan lebih rinci bagaimana cara kami mengganti rekan kami?" tanya penyihir itu dengan takut-takut kepada ketua Taken.
"Baiklah, aku akan mencoba menjelaskan lebih rinci lagi." respons Taken dengan sumringah.
Taken mengatakan bahwa setiap ketua tim sementara berhak mengganti rekannya dengan cara menantang ketua tim lainnya, dimana jika kalah maka harus pergi dari tim sementara itu dan menunggu tim lain yang ingin merekrutnya, tapi jika menang maka dia dapat memilih rekan tim yang dia tantang dan membuang rekan tim yang tidak dia sukai.
Ketua Taken juga mengatakan siapapun bebas menjadi kapten, tapi resikonya adalah harus keluar dari tim jika mengalami kekalahan dari kapten tim lain.
Hasilnya secara keseluruhan semua peserta mulai mengerti maksud Taken ketika dijelaskan lebih rinci, mereka mulai menentukan siapa kapten tim yang akan mereka tunjuk sebagai kapten tim mereka.
"Baiklah para prajurit sekalian silahkan memasuki ruang tunggu yang sudah dipersiapkan sebelumnya." ucap ketua Taken memberi perintah setelah semua tim selesai menentukan kapten mereka.
__ADS_1
Setelah semua tim sudah diruang tunggu ketua Taken sudah resmi memulai babak penentuan rekan, namun hingga 30 menit berlalu tidak ada yang mau maju dan menjadi penantang pertama.
"Baiklah sudah lewat tiga puluh menit, sejauh ini tidak ada yang mau menantang kapten tim lain untuk mengganti rekan mereka." ujar Taken dengan tenang, lalu menoleh ke ruang tunggu no 2 yang diisi tim sementara dua yang dikapteni Dragon.
Dragon mengangguk sedikit kepada ketua Taken, lalu maju ke depan dan langsung melontarkan tantangan kepada tim tujuh yang dikapteni Aiden.
"Ternyata ini rencana mereka, dia ingin menunjukkan bahwa bocah bodoh ini sangat kuat sebagai pewaris dewa perang dengan menantang orang lain untuk mendapatkan anggota yang berstatus penerus dewa." gumam Aiden mengerti jalan pikiran para petinggi 7 divisi.
"Sepertinya mereka yakin dengan kemampuan penerus dewa, menarik." gumam Aiden kembali sambil melangkah memasuki arena pertarungan menerima tantangan Dragon.
Ketika Aiden masuk arena dia langsung diserang oleh Dragon tanpa aba-aba sama sekali hingga membuat Aiden tertebas tepat di dada kanannya, semua peserta langsung melontarkan protes kepada wasit, namun wasit hanya tersenyum.
"Apakah musuh akan menunggu kalian siap sebelum menyerang?" tanya wasit dengan ringan tanpa beban sama sekali.
"Tentu saja tidak, bodoh!" ucapnya dengan berteriak seakan menegur.
Mendengar hal itu membuat semua peserta terdiam dan tidak tahu harus mengatakan apa lagi, karena memang benar yang namanya musuh tidak akan menunggu kamu siap ketika bertarung dalam situasi apapun itu.
Ting! Aiden menciptakan perisai energi yang beraura kegelapan, dan melancarkan tebasan menyilang kebawah, namun ditahan oleh Dragon dengan tangan kosong yang beraura kegelapan samar.
"Ternyata dia sudah menguasai manipulasi murni." gumam Aiden dan mundur sejauh mungkin dan menjaga jarak.
"Namun masih di tahap pertama, itu bukan ancaman." batin Aiden menebas udara kosong.
Sling! Aiden melancarkan tebasan yang sangat kuat yang terbuat dari angin.
Note: aura kegelapan yang merupakan manifestasi teknik manipulasi murni hanya akan nampak di benda padat atau tubuh penggunanya, namun tidak akan terlihat jika itu berbentuk energi atau serangan energi tapi efeknya masih tetap sama layaknya dilapisi manipulasi murni.
"Pedang naga api!" teriak Dragon menebas tebasan energi Aiden dan langsung menuju Aiden dengan melancarkan tendangan.
Bang!
"Ugh...," Aiden terhempas akibat tendangan Dragon di dadanya.
"Petir penghancur kehidupan." teriak Dragon dan sebuah petir yang terlihat mengerikan langsung menyambar Aiden yang sedang terbatuk darah.
"Teknik sihir tanpa mantra, tidak disangka bocah ini menguasai teknik sihir hingga level tanpa mantra diusia semuda ini." gumam Aiden sambil melihat petir yang sedetik kemudian menghantamnya.
__ADS_1