Reinkarnasi Empat Pejuang

Reinkarnasi Empat Pejuang
Anyi Shaoting


__ADS_3

Long dan Aiden bertemu dengan kakak perempuan Long yang kebetulan menjadi pemandu perwakilan dari divisi kesatria kota cadas dalam menghadapi seleksi skuad pemburu iblis yang baru.


"Baik perkenalkan namaku Anyi Shaoting senior kalian yang akan memandu kalian dalam mengikuti seleksi skuad pemburu iblis." ujar Anyi kepada 50 orang kesatria muda perwakilan kota cadas.


"Selama kalian disini kalian harus mengikuti pengaturan dariku, kalian mengerti?" tanyanya dengan keras penuh semangat.


50 orang kesatria muda perwakilan kota Cadas itu menjawab "siap" secara serempak dengan penuh semangat, Anyi mengangguk puas mendengar jawaban mereka. "Baik itu saja untuk saat ini, kalian semua cari sendiri kamar kalian di aula kesatria ini, terkhusus kota cadas kita berada di lantai 7 gedung 4." ucap Anyi memberitahu sambil menunjuk salah satu dari 6 gedung yang mengelilingi aula latihan kesatria.


Lima puluh orang kesatria muda kota cadas yang tiga belas diantaranya wanita itu tercengang melihat 6 gedung berlantai 12 yang tiba-tiba muncul entah darimana.


"Wow, perasaanku saja atau memang gedung-gedung itu baru terlihat sekarang?" tanya salah satu kesatria dengan tercengang.


"Iya enam gedung itu memang baru muncul, karena aku juga merasakannya." respon yang lain juga tercengang.


Para kesatria perwakilan dari 39 kota lainnya juga dibuat tercengang melihat fenomena tersebut dan mereka semua terkagum-kagum.


"Btw, gedung yang kita tempati saat ini adalah aula latihan utama milik divisi kesatria sekaligus aula tempat diselenggarakannya seleksi skuad pemburu iblis yang baru." ujar Anyi memberitahu gedung yang menjadi tempat mereka berkumpul.


"Ternyata ilusi, pertahanan yang sangat bagus, tapi tidak terlalu berguna." ujar Aiden bergumam.


Aiden menggunakan mata ambisinya yang dapat mengungkap tipuan mata, Aiden langsung menatap Anyi mencoba mengintimidasi.


"Dia tidak terintimidasi?" gumam Aiden sedikit kaget.


Aiden yang iseng mencoba mengintimidasi Anyi dengan mata ambisinya yang masih tahap pertama, namun hasilnya tidak Aiden duga dimana Anyi malah tersenyum mengejek kepada Aiden.


"Kamu mungkin bisa mengejekku sekarang, tapi itu tidak akan berlaku jika mata ambisiku sudah tahap dua." gumam Aiden yakin.


Mata ambisi tahap pertama memungkinkan Aiden mengintimidasi lawannya dengan tatapan, mata ambisi tahap kedua memungkinkan Aiden menyerang mental lawan. Jadi dengan kombinasi intimidasi dan menyerang mental lawan, Aiden bisa saja membuat lawannya pingsan tanpa bertarung akibat serangan mentalnya tersebut.


"Oh adik, apakah kamu mencoba mengintimidasi kakak yang cantik ini?" tanya Anyi yang tiba-tiba berada ditengah-tengah Aiden dan Long.


"Ah.., kak Anyi membuatku kaget saja." teriak Long kaget dengan Anyi yang tiba-tiba berada di tengah-tengah dia dan Aiden.


"Halo adik kecilku yang manis." sapa Anyi kepada Long dengan penuh kasih sayang dan kerinduan. Long malu mendengarnya, namun dia juga senang karena kakaknya masih menyayanginya.

__ADS_1


"Ranah langit akhir?" tanya Aiden dalam hati.


Aiden mampu mengetahui ranah seseorang dengan cara menyentuhnya, Aiden kaget mengetahui ranah Anyi. "Bukankah dia lebih tua lima tahun dari Long? kakak beradik ini memang mengerikan." batin Aiden heran.


Seandainya Aiden tahu bahwa Long saat ini berada di ranah awan akhir dan satu poin lagi untuk menerobos ke ranah langit awal, maka mungkin Aiden bisa gila karenanya.


"Halo, adik kecil jangan bengong." tegur Anyi dengan senyum.


"Kak Anyi, kamu jangan menakuti temanku." tegur Long.


"Ouh, dia temanmu, haha..., maaf adik kecil jika aku menakutimu." Anyi langsung meminta maaf kepada Aiden dengan nada menggoda.


"Haha, tidak apa kak Anyi, bagaimana kak Anyi mentraktir kami sebagai salam perkenalan dan permintaan maaf." balas Aiden dengan tidak tahu malu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Haha, kamu memang unik, sebelumnya mencoba mengintimidasi dan sekarang kamu memintaku mentraktirmu." ujar Anyi dengan tertawa kecil.


Aiden terpesona melihat senyum dan tawa Anyi yang begitu anggun dan mempesona, bahkan Aiden sampai lupa bernafas.


"Hm, Aiden ingat Hara." tegur Long sambil berdehem kecil.


Aiden langsung sadar dari terpaku melihat senyum dan tawa Anyi. "Itu karena kak Anyi sangat cantik." puji Aiden secara spontan, Anyi hanya tersenyum kecil menanggapi pujian Aiden tersebut.


Anyi mengajak Long dan Aiden makan disebuah restoran makanan laut hanya untuk mengakrabkan diri. "Long ranah apa kamu sekarang?" tanya Anyi kepada Long sambil menggigit lobster.


Posisi duduk Anyi adalah posisi dimana kakinya berada diatas kursi, hal itu tidak menonjolkan bahwa Anyi seorang perempuan yang cantik.


"Ranahku saat ini masih awan akhir dengan 2499 poin mana, saat ini aku sulit menerobos ke ranah selanjutnya." jawab Long apa adanya dengan lesu.


"Apakah kak Anyi ada saran?" tanya Long penuh harap.


Sebenarnya Long bisa saja menerobos menggunakan sistem, namun dia sangat tidak rela jika harus menggunakan seribu poin stamina sesuai dengan aturan baru sistem hanya untuk menerobos, terlebih setiap misi yang selesai hanya berhadiah paling besar 40-100 poin stamina saja.


"Hm, tidak buruk, kamu adalah yang terbaik di generasimu." puji Anyi.


Pujian Anyi itu tentu memiliki alasan yang kuat, karena mayoritas peserta seleksi skuad pemburu iblis memiliki ranah awan awal, dan jika jenius berada di awan menengah, mungkin hanya Long yang memiliki ranah awan akhir di usia yang sebaya dengannya.

__ADS_1


"Kakak terlalu memuji." tanggap Long merendah.


"Aku tidak memuji, itu adalah fakta karena Dragon yang merupakan penerus dewa perang saat ini masih diranah awan menengah, padahal statusnya adalah kesatria muda terbaik." ujar Anyi apa adanya. Long dan Aiden hanya menghela nafas berat dan kembali menyantap makanannya.


"Bagaimana denganmu adik Aiden?" tanya Anyi kepada Aiden.


Aiden yang menyantap ikan bakar itu segera berhenti dan mengelap mulutnya yang berminyak. "Hm, aku saat ini masih di ranah awan awal, tidak sebaik si jenius Long." jawab Aiden dengan acuh.


"Haha, bagus, bagus, tidak diduga kota cadas memiliki jenius lain selain aku dan adikku." ujar Anyi terkesan sombong, Anyi bahkan mengatakan hal itu dengan suara lantang dan penuh dengan semangat, hal itu menyebabkan mereka ditatap puluhan pasang mata.


"Kota cadas? heh, hanya kota kecil di perbatasan berani begitu sombong, sungguh memalukan." dengus seseorang yang berada tepat dibelakang Anyi, orang itu tidak lain adalah Dragon sang jenius utama divisi kesatria sekaligus penerus dewa perang karena mendapat pengakuan dari pedang dewa perang.


"Haha, teman kamu tidak boleh mengatakan hal itu atau kita akan dihajar oleh jenius kampungan itu nanti, haha." ujar teman makan Dragon sambil tertawa, tertawaan orang tersebut disambut tawa teman-teman lainnya dan juga pengunjung restoran dengan sedikit cemoohan.


"Apa ada masalah dengan itu?" tanya Anyi dengan aura membunuh. Tiba-tiba ruangan itu dipenuhi aura dan perasaan yang mencekik leher hingga lemas.


"Aura pembunuh yang sangat kuat, siapa yang menduga seorang kesatria memiliki aura membunuh yang begitu kuat dan pekat ini." batin Aiden dalam hati.


"Apa ada masalah, nona?" tanya Dragon dingin sambil meletakkan garpu dan sendok makan dengan santainya.


"Dragon?" Anyi mengenali mereka.


"Haha, ternyata bocah dragon yang lemah dan manja dari klan Axl." dengus Anyi dengan nada provokasi.


"Apa maksudmu, jhalang?" respon dragon marah.


"Beraninya sama wanita, dasar pria lemah dan menyedihkan." ucap Anyi dengan menyedihkan, lalu Anyi langsung menarik Long dan Aiden meninggalkan restoran sebelum Dragon bangkit dari kursinya.


"Dasar pengecut, ketika bos Dragon marah wanita pengecut itu melarikan diri." dengus salah satu dari mereka.


Aiden dan Long hanya mengikuti Anyi keluar dengan patuh dan bahkan tanpa sedikitpun protes kepada Anyi akibat mereka belum memakan habis pesanan yang mereka pesan di restoran.


Teman-teman Dragon sangat marah dan berniat memaki Anyi, namun Dragon menghentikannya dengan lirikan mata dan kode tangan.


"Tapi, Drago...," Sebelum pria itu selesai mengatakan sesuatu Dragon yang kehilangan kesabaran langsung membentak agar dia berhenti, akibat bentakan itu seketika seluruh restoran terdiam dan jatuh dalam keheningan, sebelum kembali normal ketika Dragon kembali menyantap makanannya.

__ADS_1


"Apa yang kalian tunggu? habiskan makanan kalian, jangan mubazir walau kita kaya sekalipun." ujar Dragon dengan acuh sambil mengupas kulit kepiting.


Lima teman Dragon itu seketika kembali melanjutkan aktivitas makan mereka dengan perasaan dongkol dan tidak memiliki nafsu makan lagi.


__ADS_2