
Aiden yang berdebat dengan roh Yoyo pada akhirnya mau menerima warisan dari dewa penghancur karena mendengar bahwa tidak menerima warisan atau gagal menjadi pewaris harus dibayar dengan nyawa.
"Kalau begitu kamu harus mengikuti ujian pertama yaitu pertarungan melawan manifestasi tuanku yaitu dewa penghancur yang menggunakan teknik besar dan kecil." ucap roh Yoyo memperkenalkan ujian pertama untuk menjadi penerus dewa penghancur.
"Semoga beruntung." tukas roh itu menghilang dalam sekejap dari hadapan Aiden.
Setelah roh itu menghilang tiba-tiba tanah membentuk tubuh manusia yang memiliki tinggi 187 m dan beraura darah yang mengerikan, dengan wajah tersenyum sinis memandang Aiden.
"Tenaga dalam tingkat 7 tidak buruk untuk anak seusiamu." ucapnya dengan senyum kecil yang sinis.
"Tenaga dalam tingkat 7?" Aiden bingung mendengar pernyataan dari sesosok manusia yang terbuat dari tanah itu.
"Aiden, dia adalah manifestasi dari dewa penghancur yang membawa teknik sihir besar dan kecil, sebagai dewa penghancur walaupun hanya manifestasi saja dia termasuk pengguna sihir tahap tanpa laparan." ujar roh Yoyo di pikiran Aiden menjelaskan siapa sosok tersebut.
"Tenaga dalam tingkat 7 sama dengan ranah langit awal." ucap roh itu menjawab pertanyaan Aiden tentang tenaga dalam tingkat 8.
"Ranah langit awal? Ah aku lupa, bukankah aku ranah langit awal saat ini" Aiden akhirnya mengerti.
Setelah tubuh dewa penghancur itu sempurna, dia langsung menghilang dari pandangan dan membuat Aiden harus waspada.
"Tapi sayang fondasi tenaga dalammu masih tingkat dasar." ucap dewa penghancur sambil memukul samping kiri kepala Aiden.
Bush!
Aiden sempat menangkis pukulan itu, namum hasilnya tangan kanan Aiden harus patah tulang, sementara tangan kirinya mengalami tulang retak.
"Sakit sekali." teriak Aiden meringis sambil memegang tangan kanannya yang patah.
"Kekuatan tenaga dalam tingkat dasar memang tidak berguna." ujar dewa penghancur sambil jalan santai menuju Aiden yang meringis kesakitan.
Dewa penghancur langsung mencengkram dagu Aiden dengan sangat kuat, Aiden tidak bisa melawan karena kedua tangannya sakit akibat tulang patah.
"Latihlah dulu kekuatan tenaga dalammu, jangan hanya meningkatkan kapasitas kekuatan tenaga dalam saja." ucapnya dengan memandang rendah Aiden yang menatapnya dengan tatapan kemarahan.
"Lalu datang lagi untuk melawanku, bocah!" tukas dewa penghancur menghilang dengan menjadi debu.
Aiden seketika berada ditempat semula saat pertama kali dia bertemu dengan mainan Yoyo yang dijadikan senjata oleh seseorang yang dikenal dewa penghancur, Yoyo itu langsung masuk ke tubuh Aiden melalui dadanya.
__ADS_1
"Ini sakit sekali, sialan!" umpat Aiden sambil mencari tempat untuk beristirahat dan mengobati luka patah tangannya.
Seseorang perempuan keluar dari balik semak-semak tepat disamping kiri Aiden, perempuan itu ternyata Heler sang penyembuh di skuad Aiden atau Skuad Takdir 122 dengan membawa sebuah kotak kecil seperti koper mini ditangan kanannya.
"Kapten... apa yang terjadi kepadamu?" tanya Heler khawatir dengan Aiden ketika melihat dan merasakan bahwa Aiden sedang kesakitan.
"Aku... ah!" Aiden meraung sakit sambil memegangi tangan kanannya.
Heler yang cemas langsung menggunakan teknik sihir untuk mengobati Aiden, wanita yang berambut pendek dengan warna pink itu terkejut mendapati tulang kanan Aiden patah dan tulang tangan kiri mengalami keretakan yang sangat parah.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu kapten?" tanah Heler sambil mencoba mengobati Aiden.
Aiden hanya diam dan terus meraung kesakitan hanya untuk tidak menjawab pertanyaan dari Heler tersebut, karena menurutnya itu hal yang memalukan untuk dibicarakan.
"Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku kalah oleh roh yang menyamar jadi dewa penghancur, bukan?" tanya Aiden kepada dirinya sendiri.
Aiden sebenarnya tahu bahwa manifestasi dewa penghancur yang dia hadapi adalah roh Yoyo itu sendiri, bagi Aiden mengalami kekalahan ketika menghadapi roh yang gentayangan adalah hal yang memalukan.
"Kapten aku hanya bisa menyembuhkan luka atau memberi pertolongan pertama, aku tidak bisa menyembuhkan tulangmu yang patah." ujar Heler dengan takut-takut.
"Kapten jika kamu ingin sembuh, maka kamu harus berkonsultasi kepada dokter atau bisa juga master penyembuh." tukas Heler.
Rasa sakit dari patah tulang berangsur-angsur menghilang efek dari penyembuhan yang Heler lakukan, namun tetap saja Aiden harus berkonsultasi kepada dokter yang lebih memahami tentang berbagai penyakit berat atau luka berat.
"Apa yang kamu bawa itu?" tanya Aiden sambil melihat koper mini yang dibawa oleh Heler.
"Koper mini." jawab Heler apa adanya.
"Ya, aku tahu itu, maksudku kegunaan koper itu untuk apa?" tanya Aiden dengan sedikit kesal.
"Oh, itu... koper ini adalah senjata ajaib yang dapat menyimpan dan menggandakan barang sesuka hati." jawab Heler mengenai kegunaan koper mini yang dia bawa itu.
"Aku mendapatkannya di distrik Utara blok satu." tambah Heler sambil tersenyum senang dan membuka kopernya.
Ketika Heler berhasil membuka koper itu yang ternyata berisi ****** ***** yang berukuran mini, tongkat, dan beberapa pakaian wanita lainnya.
"Ah, aku lupa membersihkan barang-barang." batin Heler malu dengan wajah yang merah semerah tomat.
__ADS_1
"Inikah yang kamu simpan?" tanya Aiden dengan malu.
"Ahhahaha, maaf aku tadi mau mengetes senjata ini saja, namun lupa membersihkannya." ujar Heler tertawa kecil sambil menyimpan barang-barang kedalam dimensi penyimpanan.
"Jadi barang apapun yang disimpan dalam koper itu akan menjadi kecil agar mampu menampung banyak barang." batin Aiden melihat barang-barang Heler yang tadinya mengecil langsung membesar seukuran normal ketika dikeluarkan dan dipindahkan ke dimensi penyimpanan milik Heler sendiri.
Sementara Heler sendiri sangat kesal karena barang-barang belum habis-habis, hingga dia menyadari bahwa barang miliknya itu digandakan oleh koper mini tersebut.
"Dasar bodoh!" teriak marah Heler sambil menutup koper itu dengan kasar.
"Sepertinya kamu kerepotan dengan senjata ajaib itu." ujar Aiden tanpa sadar, Heler langsung menatap tajam Aiden hingga Aiden langsung terdiam.
Waktu mengambil dan memilih senjata akhirnya berakhir, Aiden dan kelompoknya segera keluar dari dimensi penyimpanan senjata milik aliansi tersebut. Ada yang merasa senang, ada yang merasa biasa saja, dan ada juga yang meringis kesakitan.
"Apa yang terjadi kepadamu?" tanya Aiden kepada Arya yang terlihat acak-acakan seperti baru saja disetrum atau disambar petir.
"Ini semua karena busur Aswatama ini." jawab Arya dengan tersenyum lebar sambil memamerkan busur yang dia dapatkan tersebut.
"Busur Aswatama?" Aiden heran, begitu juga anggota yang lainnya kecuali Eror yang sudah tahu lebih dulu.
"Iya, aku menamainya Busur Aswatama." ucap Arya santai.
Arya menarik tali busur itu, tali dan busur itu memercikkan aliran petir berwarna biru keputih-putihan. Anak panah tiba-tiba muncul secara perlahan mengikuti tarikan Arya dan siap dilepaskan.
Bush!
Anak panah itu melesat dengan kecepatan tinggi dengan percikan petir, lalu menembus tiga pohon dan menancap di batu, lalu perlahan menghilang.
"Mengerikan sekali." komentar Heler dan juga Lyra ketakutan.
"Mengerikan? jangan bercanda." komentar Rudi dengan acuh.
"Lalu kamu mendapatkan senjata seperti apa?" tanya Rein.
"Aku tidak butuh senjata untuk menjadi penyihir terhebat, bagiku senjata adalah benda yang menghalangiku untuk mengeluarkan semua potensi sihir terbaikku." ujar Rudi sombong.
Dari tujuh orang yang masuk untuk memilih senjata di gudang senjata aliansi, hanya tiga orang yang mendapatkan senjata, yaitu Arya, Heler, dan juga Aiden. Sementara empat orang lainnya tidak mendapatkan apapun, karena berbagai alasan.
__ADS_1
DAN INILAH AKHIR DARI SEASON PERTAMA "REINKARNASI EMPAT PEJUANG"
TERIMAKASIH UNTUK SEMUANYA, MOHON MAAF JIKA ADA KESALAHAN DAN JUGA CERITA YANG CRINGE :V