
Persaingan antara Anyi dan Arya berakhir dengan kemenangan Anyi yang menaruh harga hingga 40 juta rubik yang mengejutkan semua orang di pelelangan.
"Nona begitu murah hati, aku mengaku kalah, tapi aku berharap kamu dapat memberitahuku terlebih dahulu jika ingin menjual pedang itu." ujar Arya dengan lapang dada dan terkesan yakin bahwa Anyi akan menjual pedang itu.
"Haha, pedang itu tidak akan pernah dijual kepada siapapun, lagipula pedang itu akan menjadi milik junior Aiden." balas Anyi dengan acuh. Aiden berdiri dengan semangat menyambut pedang misterius yang masih di dalam kaca tersebut.
"Bayar disini." ujar salah satu staff yang mengantar pedang itu kepada Aiden, Anyi langsung membayarnya.
"Terimakasih, kami mohon undur diri." ujar staff itu dengan tangan bergetar karena berhadapan dengan wanita kaya dan berkuasa, staf itu cepat-cepat pergi dari ruangan VIP nomor 4 tersebut.
Semua orang menunggu apa yang akan Aiden lakukan setelah ini, namun tidak ada yang menduga alih-alih menyentuh pedang itu Aiden malah langsung mengirimnya ke ruang dimensi penyimpanan miliknya. "Terimakasih kak Anyi, aku berhutang Budi kepadamu." ucap Aiden berterimakasih.
Anyi melambaikan tangannya dengan santai. "Itu tidak masalah." ujar Anyi dengan santai dan terkesan sombong.
Arya cukup kesal melihat tingkah Aiden yang lebih memilih menyimpannya daripada menyentuh pedang tersebut. "Kakak pertama aku akan merebut kembali pedangmu itu." gumam Arya dalam hati.
Iya benar, Arya adalah salah satu dari saudara sumpah atau saudara keempat Aiden di masa lalu yang juga ikut bereinkarnasi bersama dengan Aiden di masa lalu. Dimasa lalu Arya sangat terkenal dengan keahlian menembaknya yang selalu akurat dan efisien, maka dari itu Arya selalu membawa senjata api jika bepergian atau menjalankan misi yang Aiden perintahkan kepadanya.
"Baiklah barang selanjutnya adalah senjata kuno, yaitu sniper DX-5 Ravager atau dikenal Havoc, tidak ada informasi lebih lanjut mengenai senjata kuno yang menghilang ribuan tahun ini akibat efek perang besar ribuan tahun lalu, karena kami hanya memiliki kertas kecil tentang senjata ini yang di dapat tidak jauh dari tempat ditemukannya sniper DX-5 Ravager ini." jelas Seli sambil menunjukkan kertas kecil yang sudah ada di dalam kaca tempat senjata itu disimpan.
Note:
Senjata jenis senjata api sudah jarang dibuat pada masa perkembangan senjata ajaib, karena pembuatannya yang begitu rumit, aturan larangan dari petinggi aliansi, dan juga kebanyakan orang zaman sekarang yang lebih suka memakai senjata yang praktis seperti panah, busur x, atau pelempar bola api yang seperti ketapel.
Selain karena hal diatas, faktanya para petinggi aliansi melarang penggunaan senjata api kecuali berdaya ledak rendah karena leluhur mereka yang trauma akibat perang nuklir, akibat larangan itu para pembuat senjata sangat berhati-hati ketika berniat membuat senjata api, karena mereka takut membuat senjata berdaya ledak tinggi secara tidak sengaja nantinya, karena hal itu akan menggiring mereka ketempat eksekusi.
"Sniper Havoc, tidak pernah kusangka kita akan bertemu disini, haha." Arya langsung senang mendapatkan sniper Havoc.
"Meskipun aku seorang pemanah sekarang, tapi tidak ada yang melarang untuk mengoleksi senjata bukan?" tanya Arya pada dirinya sendiri.
Disisi lain Aiden juga bersemangat karena dia mengingat saudara keempatnya yang bernama Petrus atau sekarang berinkarnasi menjadi Arya.
"Baiklah, harga awal lelang mengingat kelangkaan senjata ini maka harga awalnya 3 juta Batra, setiap kenaikan tidak kurang dari lima ratus ribu rubik." ujar Seli membuka harga lelang.
__ADS_1
Saat harga dibuka banyak peserta lelang yang tertarik mendapatkan sniper itu, seketika harga sniper itu naik terus menerus.
"12 juta Batra." ucap Seli si pembunuh dari VIP no 3.
"Adik sepupu pasti sangat senang mendapatkan sniper ini." batin Seli dalam hati.
Seli memiliki adik sepupu yang lebih muda tiga hari darinya, Seli bahkan cukup bingung kenapa adiknya itu sangat suka mengoleksi senjata sejenis senjata api padahal dia seorang penyembuh, btw adik sepupu Seli ini seorang laki-laki.
"12 juta 5 ratus ribu rubik." ucap Arya Shooter tak mau kalah.
"Seorang penyegel menginginkan senjata? apakah aku mabuk hari ini? itu terdengar lucu." ungkap Seli sedikit memperagakan bahwa dia pusing.
Arya sedikit kesal mendengarnya, namun dia tidak peduli karena dia sebenarnya bukan berasal dari divisi penyegel, namun berasal dari divisi pengintai.
"Apakah itu benar temanku?" tanya Arya kepada temannya yang duduk disampingnya sambil mengutak-atik sebuah kubus.
"Itu terdengar aneh, aku tidak pernah berpikir ada orang yang melarang divisi penyegel untuk memakai senjata." balas teman Arya tersebut dengan acuh.
"Hei kau, bisakah kamu memberitahuku siapa orang bodoh yang mengatakan kami dari divisi penyegel tidak butuh senjata? bukankah divisi kami selalu menciptakan senjata ajaib? aku tidak tahu kamu bodoh atau lupa darimana senjata ajaib berasal?" ujar teman Arya yang bernama Wiguna itu mengejek.
"Saya rasa itu ajaran kakeknya yang bodoh dan licik." jawab Anyi mewakilkan Seli yang terdiam. Seketika itu tawa terbahak-bahak dari para peserta pecah mendengar ucapan Anyi yang unik dan sedikit spontan itu.
"Iyayaya, dia memang cucu yang baik, bahkan kebodohan kakeknya dia miliki juga."
"Aku penasaran bagaimana caranya dia dididik oleh seorang kakek-kakek bodoh."
"Nona, aku memujimu yang begitu berbakti kepada kakekmu, tapi jangan bodoh juga sama seperti kakekmu."
Ucap beberapa peserta memojokkan Seli yang tidak mereka ketahui siapa kakek Seli itu.
"Diam!" teriak Dragon marah, seketika itu semua orang diam menatap Dragon.
"Apakah kalian tahu siapa kakek nona Seli?" tanya Dragon. Seluruh peserta langsung berbisik-bisik kembali, kali ini mereka kebanyakan menanyakan siapa kakek Seli.
__ADS_1
"Kami tidak tahu siapa kakek si bodoh itu, bisakah kamu memberitahu kami Axl Drake Dragon?" ujar Wiguna dengan nada mengejek dan menantang Dragon.
"Biar kuberitahu bahwa kakek Seli adalah tuan Ashan sang ketua umum divisi pembunuh, salah satu dari jenderal bintang empat, kuharap itu menjawab rasa penasaran kalian." ujar Dragon kemudian.
Seketika itu suasana dalam ruangan jatuh dalam ketakutan, karena pasalnya Ashan adalah seseorang ketua umum divisi pembunuh yang sangat menyayangi cucunya, apalagi cucu wanitanya.
"Sial, kamu harus tanggung jawab." ucap salah satu peserta menunjuk Anyi dengan marah, namun Anyi hanya tersenyum.
"Aku tidak melakukan kesalahan, karena dia memang kakek-kakek bodoh yang licik." ujar Anyi kemudian.
Semua orang mengumpat Anyi yang merasa tidak bersalah setelah apa yang dia lakukan untuk menggiring mereka untuk mengejek Seli.
"Kalian semua berlutut kepada nona Seli, mungkin saja dia tidak akan menceritakan hal ini kepada kakeknya." ucap teman Seli yang kini angkat bicara.
Dragon tidak lagi ikut campur, karena dia hanya ingin membuat Seli terkesan kepadanya sekaligus memojokkan Anyi orang yang dia benci. Seli sendiri tidak peduli sama sekali, Seli hanya merasa marah kepada Anyi yang berani melawannya, mengenai melaporkan kejadian yang dia alami di pelelangan? Seli tidak cukup bodoh untuk mempermalukan dirinya sendiri dihadapan kakeknya.
"Maafkan kebodohan kami nona Seli."
"Maafkan kebodohan kami nona Seli."
"Maafkan kebodohan kami nona Seli."
Seketika itu semua peserta lelang berlutut dan memohon pengampunan Seli, mereka tidak peduli apapun saat ini selain menyelamatkan nyawa mereka dari kemarahan Ashan.
"Sepertinya tetua Ashan sangat ditakuti oleh orang-orang." gumam Aiden.
"Itu karena tetua Ashan dikenal sangat menyayangi cucunya, buktinya satu keluarga dia bantai karena masalah sepele, hanya karena membuat Seli menangis dan ketakutan saat masih kecil." balas Anyi dengan emosional.
Alasan Anyi sangat membenci Seli dan Ashan (kakek Seli) adalah karena keluarga yang dibantai oleh Ashan adalah keluarga teman masa kecilnya padahal yang membuat ribut adalah sama-sama anak kecil yang seumuran dan itupun hanya masalah sepele.
"Apakah pihak aliansi membiarkan ketidakadilan itu?" tanya Aiden terkejut mendapati fakta tersebut.
"Aliansi sebenarnya sangat marah, namun karena Ashan sosok yang dihormati para pembunuh, maka dia hanya dihukum ringan dan lolos dari hukuman mati sesuai aturan aliansi." balas Anyi sambil menggertakan giginya karena marah.
__ADS_1
Aiden mengerti hal itu, karena seseorang yang dihormati atau publik figur sangat sulit disentuh hukum karena memiliki pendukung fanatik yang membuat hukum itu sulit diterapkan kepada publik figur tersebut.