Reinkarnasi Empat Pejuang

Reinkarnasi Empat Pejuang
Kekuatan mata ambisi tahap dua


__ADS_3

Para ketua dari tujuh divisi dibuat terkejut oleh tindakan Gerrad yang tanpa basa-basi membunuh.


"Jerew apa pendapatmu mengenai perilaku buruk penerus dewa penyihir?" tanya Dominik kepada Jerew sang ketua divisi penyihir ibukota atau ketua umum divisi penyihir aliansi kebangkitan.


"Tidak ada, tindakan Gerrad sangatlah wajar, karena bagaimanapun Rudi adalah adiknya." balas ketua Jerew acuh dan seakan tidak peduli sama sekali.


"Yaa, meskipun begitu dia seharusnya dihukum bukan?" tanya Dominik.


"Tidak, itu tidak perlu sama sekali." balas Jerew acuh.


"Kamu... kamu tidak bisa seperti itu, Gerrard harus dihukum karena telah membunuh salah satu prajurit aliansi, terlebih yang dia bunuh seorang penyihir pemburu iblis inti." balas Dominik mendesak agar Jerew memberi hukuman kepada Gerrard karena telah membunuh seorang prajurit terlebih prajurit itu salah satu penyihir di pasukan pemburu iblis inti.


"Hm, jika kamu tidak puas kamu bisa menghukumnya sesuai dengan aturan aliansi dengan tanganmu sendiri, aku tidak akan menghalangimu." balas Jerew setelah menghela nafas berat.


"Mengenai penyihir pemburu iblis inti, aku akan memilih salah satu penyihir cadangan untuk menggantikannya." tambah Jerew.


Ketua Jerew tidak ambil pusing dengan kematian seorang penyihir pasukan pemburu iblis inti karena setiap divisi memiliki cadangan masing-masing, termasuk divisi penyihir. Ketua Jerew juga tidak peduli dengan kematian penyihir yang menjadi lawan Rudi, karena baginya penyihir itu pantas mati karena berniat menikam rekannya sendiri saat aduh tanding.


"Kamu...," ketua Dominik yang merupakan ketua divisi kesatria dibuat tak bisa berkata-kata.


Semua orang penting dalam aliansi kebangkitan sangat tahu jelas dengan latar belakang yang dimiliki Gerrard dan juga Rudi, tidak ada orang penting yang berani mengganggu dua saudara tersebut kecuali orang itu cukup siap untuk mati.


Itu juga berlaku untuk ketua Dominik yang memang memiliki sifat keadilan tanpa pandang bulu, selama menurutnya salah maka dia akan tetap memberi hukuman, namun menghadapi keturunan klan Xiao ketua Dominik dibuat tidak bisa berkutik dan melakukan apapun untuk memberi keadilan kepada korban.


"Dominik, aku tahu kamu orang yang adil, tapi kamu harusnya sadar tindakan Gerrad dipicu karena ingin melindungi adik kecilnya." Taken sebagai ketua umum 7 divisi angkat bicara untuk menengahi ketegangan yang terjadi antara Ketua Jerew sang ketua umum divisi penyihir dan ketua Dominik sang ketua umum divisi kesatria.


"Tindakan Gerrad mungkin salah, tapi tindakan penyihir itu sangat fatal dan berbahaya, aku bisa membayangkan Rudi akan terbunuh jika terlambat sedikit saja." ujar ketua Taken kembali sambil maju sedikit kedepan untuk memberi instruksi kepada wasit untuk melanjutkan pertandingan menentukan peringkat skuad pemburu iblis.


"Jadi biarkan saja untuk saat ini, lagipula tidak ada satupun dari kita yang memiliki keberanian menghukum mereka, kau tahu itu." ucap Taken sambil duduk kembali di kursi ketua tujuh aliansi.


Wasit pertandingan kembali memulai acara yang dia pimpin tersebut setelah mendapat instruksi dari ketua Taken.


"Apa itu? kukira dia akan memutuskan untuk memberi hukuman kepada penyihir itu." komentar Aiden sambil menunjuk Gerrad yang memasang wajah dingin, lalu tersenyum kepada Aiden ketika menyadari Aiden menunjuknya.


"Kurasa para ketua sudah memutuskan bahwa Gerrad tidak bersalah, jadi tidak perlu dihukum." balas Eror dengan tenang sambil melihat pertarungan antara kesatria melawan kesatria.


Aiden mengangguk sedikit menanggapi jawaban Eror tersebut, Aiden kemudian mencoba menikmati pertarungan yang sedang terjadi.

__ADS_1


Tiga pertandingan dilalui hingga ketua Taken memerintahkan agar para peserta duduk di bangku penonton dan meninggalkan ruang tunggu.


"Kalian semua berkumpul dan dengarkan instruksi ku." Eror meminta agar rekan-rekannya untuk berkumpul padahal mereka sudah bergerak untuk keluar dari ruang tunggu menuju bangku penonton.


Semua orang yang ada diruang tunggu tersebut berkumpul memenuhi permintaan kapten mereka tersebut, kecuali Rudi yang tidak pernah menganggap 6 orang lainnya rekan termasuk Ayuk tirinya Lyra, meskipun begitu Rudi tetap menyimak dan mendengarkan dari jarak jauh.


"Apa? lakukan saja sesukamu, jangan urusi aku, brengsek." ujar Rudi dengan kasar ketika mendapati Eror melihatnya dengan kebingungan.


"Begitukah?" Eror dibuat marah atas perilaku Rudi dan tanpa sadar mengeluarkan aura tubuh kegelapan miliknya, aura itu mampu menekan orang biasa namun tidak bagi ketiga saudaranya dan juga Rudi.


"Aku tahu kamu kuat kapten, tapi kamu membuat dua rekan kita ketakutan." tegur Rein yang belum sadar bahwa Eror, Arya, dan Aiden adalah saudaranya di reinkarnasi sebelumnya.


Eror melihat dua orang wanita yang ketakutan dengan tubuh gemetar akibat auranya yang mengintimidasi, Eror kemudian menarik auranya sambil mendengus kesal.


"Maaf, aku tidak bermaksud menakuti kalian berdua." ujar Eror meminta maaf setelah menghela nafas.


"Apa kamu ingin melawanku? kamu hanyalah sampah di mataku." ujar Rudi yang menunjukkan tatapan mengerikan seakan ingin menerkam Eror.


Plak!


Sebuah tamparan keras dari Lyra membuat Rudi berdiri mematung dan tidak percaya dengan tindakan Lyra, Rudi semakin dibuat tidak percaya karena dapat ditampar oleh orang lain sesuka hati.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadamu setelah kecelakaan itu, tapi kumohon kembalilah seperti dulu, kembalilah menjadi Rudi adikku yang baik hati dan menghormati orang lain." pinta Lyra dengan berderai air mata.


"Aku selalu merasa kamu bukan adik yang kukenal semenjak kecelakaan itu, tapi aku selalu berusaha menerima perubahan sikapmu itu, jadi kumohon sekali ini saja dengarkan aku, Rudi!" ujar Lyra dengan tangis sesugukan.


Tangisan Lyra membuat suasana dalam ruang tunggu itu jatuh dalam kebisuan, Aiden maju sedikit mencoba menenangkan Lyra dengan sebuah pelukan.


"Menjadi kakak bagi seorang pemberontak memang begitu sulit, aku mengerti perasaanmu." ujar Aiden dengan mengelus rambut Lyra dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Cih, mengambil kesempatan dalam kesempitan, aku akan melaporkan hal ini kepada kakak ipar." batin Arya kesal melihat pemandangan Aiden memeluk Lyra yang sedang menangis.


"Hiks, hiks, hiks." Lyra hanya menangis dan membalas pelukan Aiden tanpa sadar.


Eror berdehem sedikit untuk memecah kesunyian dan menarik perhatian semua rekannya tersebut.


"Alasanku mengumpulkan kalian, itu karena mulai saat ini kapten kita adalah Aiden bukan diriku lagi." ujar Eror tanpa basa-basi mengumumkan niatnya tersebut.

__ADS_1


Semua orang termasuk Rudi terkejut mendengarnya, mereka tidak pernah menduga Eror akan mengundurkan diri dari posisi kapten tim skuad pemburu iblis.


"Kenapa kapten?" tanya Lyra penasaran sambil melepas pelukan Aiden.


Lyra kemudian merasa malu dan canggung ketika menyadari bahwa dia memeluk seorang pria tampan seperti Aiden tanpa sadar dan begitu cukup lama.


"Maaf, karena aku memelukmu." ujar Lyra meminta maaf kepada Aiden dengan malu-malu.


"Tidak masalah, lagipula aku yang berinisiatif memeluk wanita cantik sepertimu." balas Aiden dengan senyum ramah membuat Lyra semakin malu dan wajahnya seketika memerah dengan pipi yang merona.


"Iya kapten, kenapa?" tanya Heler seseorang yang berasal dari divisi penyembuh yang tergabung dalam tim Eror.


"Itu karena seorang kesatria lebih cocok menjadi kapten daripada seorang assassin yang bertugas menyerang musuh dalam kegelapan secara diam-diam." balas Eror asal bicara padahal dia hanya ingin memberikan kehormatan kapten tim kepada kakak pertamanya tersebut.


Heler dan Lyra mengerti dan paham dengan keputusan Eror tersebut ketika mendengar jawaban itu, namun tidak bagi Rudi dan Rein yang merasa dirinyalah yang layak menyandang status kapten tim.


"Kuharap kita bisa bekerjasama dengan baik di masa depan, kapten." Rein menjulurkan tangan memberi dukungan kepada Aiden.


Rein meskipun tidak setuju dan merasa dia lebih pantas, tapi tetap saja dia menerima keputusan Eror yang menunjuk Aiden sebagai kapten tim.


"Terimakasih, eh..." Aiden menyambut uluran tangan Rein.


"Rein, namaku Rein." ujar Rein yang mengerti dengan ekspresi Aiden tersebut.


"Baiklah, terimakasih Rein." ujar Aiden dengan senyum ramah kepada Rein.


"Namamu cukup bagus dan mengingatkanku tentang masa lalu." ujar Aiden kemudian mengingat dirinya di reinkarnasi sebelumnya.


"Masa lalu?" Rein bertanya-tanya.


"Jangan dihiraukan, haha." ucap Aiden sambil tertawa kecil.


Aiden sebagai kapten baru tentunya ingin akrab dan mengenal rekan timnya, jadi Aiden berbalik memandang Rudi yang menunjukkan ketidaksukaan kepadanya.


"Adik kecil." panggil Aiden dengan senyum kecil.


"A-apa..." Rudi yang ingin memakai malah dibuat terdiam dan berkeringat dingin ketika melihat mata Aiden yang sangat mengintimidasi dan menyerang mentalnya.

__ADS_1


"Rudi! apa yang terjadi kepadamu?" Lyra bingung sekaligus khawatir melihat Rudi yang jatuh lemas sambil menatap Aiden dengan kengerian dan ketakutan.


"Tolong kerjasamanya, adik kecil." ujar Aiden sambil tersenyum ramah kepada Rudi dan menjulurkan tangan untuk membantu Rudi agar berdiri.


__ADS_2