Reinkarnasi Empat Pejuang

Reinkarnasi Empat Pejuang
Long vs Dragon


__ADS_3

Pertandingan selanjutnya ternyata antara peserta no 21 yang tidak lain adalah Long melawan peserta no 1 yang tidak lain adalah Drake Dragon sang penerus dewa perang dan murid yang paling menjanjikan dari divisi kesatria.


"Ternyata lawanku bocah sombong itu." gumam Aiden menanggapi lawannya Drake Dragon sang penerus dewa perang.


Long tidak panik sedikitpun ketika mendapat lawan seorang kesatria muda nomor satu divisi kesatria yang tidak lain adalah Dragon, Long bahkan merasa bersemangat, namun berbeda dengan Anyi yang sangat khawatir dengan Long.


"Adik kamu harus mundur dan menyerah jika tidak ada kemungkinan meraih kemenangan melawannya." nasehat Anyi kepada Long dan dibalas anggukan kecil oleh Long.


"Beruntung aku berhasil menerobos ke ranah langit awal setelah beberapa usaha." batin Long bersemangat.


Long sangat percaya diri terlebih dua hari lalu dia berhasil menerobos, bahkan dia menggunakan semua poin stamina yang dia miliki untuk menaikan poin mananya hingga ranah langit awal dengan 2701 poin mana, padahal sebelumnya dia berniat untuk menambah poin vitalitas tempurnya.


Sementara tiga tetua memperhatikan mereka yang sedang jalan memasuki arena pertarungan dengan langkah santai dan terkesan acuh tak acuh.


"Sangat disayangkan mereka berdua bertemu diawal yang berarti salah satu dari dua jenius itu akan menjadi pemburu iblis cadangan." ujar Gerd sambil menggeleng kepala karena menyayangkan dua jenius bertemu diawal untuk menjadi anggota skuad pemburu iblis inti.


Sesuai aturan divisi kesatria bahwa apapun hasilnya dan siapapun orangnya harus bersikap adil, meskipun yang kalah anak atau cucu salah satu petinggi.


Siapapun yang kalah di babak pertama, babak kedua, dan babak ketiga akan dipastikan gugur menjadi salah satu anggota skuad pemburu iblis, mereka harus puas menjadi pemburu iblis cadangan.


"Pertarungan dua orang jenius, yang satu adalah seorang pewaris pedang dewa perang dengan tubuh spesial tulang tertinggi, yang satu seorang jenius sejati dengan ranah di atas normal." batin Arfera yang lebih menyoroti siapa yang akan menang antara Dragon sang penerus dewa perang melawan Long si jenius yang fenomenal.


Long disebut jenius fenomenal karena ranahnya sudah awan akhir puncak dengan ranah 2499, padahal umumnya jenius selalu muncul dengan ranah hanya sampai pada ranah awan menengah diusia dibawah 20-an, namun berbeda dengan Long yang satu tingkat lebih tinggi yaitu ranah awan akhir dengan mana poin 2499.


Arfera melempar kertas yang berisi profil Dragon dan Long, lalu mengangguk sedikit kepada wasit agar memulai pertandingan.


"Baiklah, mulai!" teriak wasit memulai pertarungan setelah mendapat persetujuan tetua Arfera.


"Baiklah siapa diantara kalian berdua yang akan melaju ke babak kedua." Arfera sangat menantikan hasil pertarungan tersebut.


Bush!


Bush!


Long mengeluarkan auranya yang sudah ranah langit awal dengan 2701 poin mana dan membuat gempar seisi aula latihan utama divisi kesatria, Dragon menggunakan dua pedang biasa karena belum menguasai pedang dewa perang.


"Dia benar-benar seorang jenius sejati, padahal tidak memiliki tubuh spesial sama sekali." ucap Gerd, Dominik, dan Arfera hampir bersamaan.

__ADS_1


Tiga tetua yang duduk tenang untuk menyaksikan pertarungan dibuat terkejut dan berdiri secara spontan oleh kekuatan Long yang diluar ekspektasi mereka.


"Apa gunanya ranah tinggi tanpa dibarengi tubuh spesial dan menjadi penerus dewa perang?" tanya Dragon memprovokasi Long.


Dragon merasa cemburu dengan Long yang sudah ranah langit awal padahal tidak memiliki tubuh spesial, apalagi menjadi penerus dewa sepertinya.


Dragon menyerang dengan membabi buta dengan seni beladiri dua pedang, Long melayaninya dengan seni dua pedang juga.


Slash!


Ting!


Slash!


Mereka saling serang dengan tebasan energi sambil sesekali melakukan kontak fisik atau adu pedang secara langsung.


"Tebasan cahaya!" Long menyerang dengan serangan energi.


"Teknik pedang api: tebasan naga api!" balas Dragon.


Bush!


"Ah." Dragon tertebas serangan tebasan cahaya Long tersebut, karena tebasan energi Long itu terlalu kuat dan membelah naga api miliknya. Hal ini terjadi karena perbedaan ranah yang terlalu jauh antara Long dan Dragon.


"Langkah cahaya pembunuh." Long menggunakan teknik langkah cahaya pembunuh yang merupakan teknik salah satu dari tiga dasar kesatria.


Dragon hanya bisa menangkis serangan Long sambil sesekali menyerang balik.


Bang!


"Ah...," Dragon terhempas akibat tendangan Long padahal dia sudah menggunakan perisai cahaya, namun masih tembus oleh tendangan Long.


"Hiya!" teriak Dragon menyerang balik dengan seluruh kekuatannya.


"Perisai cahaya!" Long menciptakan perisai cahaya menanggapi serangan putus asa Dragon tersebut.


Dragon berlari dan melakukan tebasan, Long melayaninya dengan senang hati. Semua orang tertegun melihat betapa tangguhnya Long melawan seorang pengguna senjata dewa.

__ADS_1


"Inilah kekuatan perbedaan ranah." gumam Aiden melihat pertarungan Long melawan Dragon.


Aiden yang menonton pertarungan mereka menyadari bahwa serangan Dragon sang penerus dewa perang tidak banyak berefek terhadap Long yang memiliki ranah langit awal karena memiliki ranah awan akhir (satu langkah lebih rendah dari Long).


Semua orang juga menyadari bahwa Dragon begitu kesulitan menghadapi Long, mereka juga menyadari hal itu disebabkan karena perbedaan ranah diantara mereka berdua.


Dimana ada aturan tidak tertulis dalam dunia para pendekar yang berbunyi, "Semakin tinggi ranah semakin kuat tubuh fisik, armor mana, dan kekuatan orang tersebut, hal itu sangat berpengaruh terhadap hasil sebuah pertarungan"


Pertarungan antara Long dan Dragon berakhir dengan cukup mengejutkan, yaitu Dragon kalah karena kehabisan mana, sementara Long kalah akibat tusukan belati Dragon yang muncul secara tiba-tiba dan menusuk jantungnya.


"Hasilnya imbang!" teriak wasit, dokter yang sudah dipersiapkan di pinggir arena segera datang menangani dua kesatria muda tersebut.


Hasil imbang itu membuat gempar para kesatria, karena tidak ada yang tahu siapa yang berhak lolos ke babak kedua dan tidak ada yang mengira bahwa Dragon mampu menahan imbang Long yang memiliki ranah satu langkah lebih tinggi darinya, hingga membuat berbagai keributan kecil karena beda pendapat antara pendukung Long dan Dragon.


"Semuanya tenang!" teriak Dominik menenangkan keributan yang terjadi karena perbedaan pendapat antara pendukung Long dan pendukung Dragon yang semakin memanas dan menimbulkan pergesekan.


Setelah diam Dominik segera bergabung dengan dua tetua lain untuk mendiskusikan siapa yang berhak melangkah ke babak kedua antara Long atau Dragon.


Tetua Dominik dan dua tetua lainnya berdiri setelah mereka bertiga telah selesai memutuskan hasilnya, tetua Dominik menatap semua kesatria yang mengikuti seleksi skuad pemburu iblis.


"Mengenai hasil pertandingan antara Long dan Dragon, kami memutuskan mereka berdua lulus dan langsung menjadi salah satu dari 25 perwakilan divisi kesatria untuk menjadi anggota skuad pemburu iblis yang baru." ujar tetua Dominik mengumumkan hasil rapat mereka bertiga.


Semua orang gempar kembali setelah dikejutkan oleh pertarungan Long dan Dragon, dan sekarang pengumuman bahwa Long dan Dragon langsung menjadi salah satu dari 25 kesatria yang terpilih sebagai perwakilan divisi kesatria untuk mengisi posisi kesatria di 25 skuad pemburu iblis yang baru.


"Artinya hanya tersisa 23 slot kesatria lagi untuk mengisi 25 skuad pemburu iblis yang baru, apakah kalian keberatan?" tukas tetua Arfera, lalu bertanya.


Semua orang saling menatap dan meminta pendapat, beberapa saat setelah ribut dan berbisik-bisik seseorang maju sedikit sebagai perwakilan. "Kami tidak keberatan dengan keputusan tersebut, bahkan kami senang dua orang kesatria hebat seperti mereka menjadi pemburu iblis inti." ujarnya dengan bijak, semua orang mengangguk membenarkan.


Semua orang menyadari bahwa Long dan Dragon memang pantas menjadi pemburu iblis utama (menjadi anggota skuad pemburu iblis), karena mereka sudah melangkah jauh meninggalkan mereka dibelakang, oleh karena itulah tidak ada alasan bagi mereka menolak keputusan para tetua.


"Bagus, aku ucapkan terimakasih atas persetujuan kalian ini." ujar Dominik kemudian dengan senyum puas, tiga tetua tersebut duduk kembali.


Papan pemberitahuan segera menampilkan dua nomor peserta untuk menentukan siapa yang akan bertanding selanjutnya.


"Selanjutnya kesatria no 13 melawan kesatria no 31." ujar wasit mengumumkan pertandingan selanjutnya.


Beberapa saat kemudian dua kesatria sudah diarena dengan membawa senjata mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2