Reinkarnasi Empat Pejuang

Reinkarnasi Empat Pejuang
Pertemuan Dua Rival


__ADS_3

Eror tidak mau menjelaskan apapun kepada Long, dia lebih memilih mendatangi Aiden dan bertanya langsung kepadanya. Sikap Eror yang seperti itu membuat Long semakin yakin bahwa Eror ingin memukul Aiden karena tidak menolongnya saat masih dalam masa kutukan menjadi anak kecil.


"Hei, hentikan!" pinta Long sambil menarik lengan Eror yang jalan semakin cepat menuju restoran.


Bang!


Tanpa basa-basi Eror langsung menendang pintu masuk restoran dan mencari Aiden, lalu melempar Aiden dengan tujuh belati sekaligus ketika melihatnya.


Whoosh! Tujuh belati yang Eror lempar itu menuju Aiden dan Hara dengan cepat dan tepat sasaran.


Aiden yang sedang menyuapi Hara kaget ketika Hara menggunakan gelang cahaya abadi untuk melindunginya dari tujuh belati yang Eror lempar.


"Urusan kita belum selesai wibu." Eror meraung dan menyerang Aiden tanpa basa-basi atau memberi Aiden cukup waktu untuk merespons.


Bang!


Aiden menangkis tendangan Eror dengan kedua tangannya, Hara langsung menggunakan gelang cahaya abadi untuk menyerang Eror.


"Senjata dewa?" Eror menghindari gelang cahaya abadi yang menjadi empat dan seperti belati tajam itu.


"Wibu?" Aiden bertanya dalam hati.


Tujuh belati yang Eror lempar langsung menusuk Aiden dari berbagai arah ketika Eror mengepalkan tangannya sambil menatap Aiden, beruntung Hara melindungi Aiden dengan barier yang diciptakan gelang cahaya abadi.


"Ternyata kamu, Eror." ucap Aiden yang akhirnya sadar siapa yang menyerangnya setelah linglung sesaat mencerna maksud Eror yang memanggilnya Wibu.


Ting! Long menyerang Eror dari belakang, namun Eror dengan mudah menangkisnya, lalu menghilang.


Crash! Long langsung tertebas belati, lalu dikirim terbang oleh tendangan Eror.


"Ternyata itu benar kamu, haha." Eror tertawa bahagia ketika mengetahui bahwa Aiden memang kakak pertama.


"Yo Eror, aku saat ini sedang tidak ingin menganiaya orang lemah sepertimu." balas Aiden dengan senyum meremehkan.


Long yang terlempar akibat tendangan Eror langsung melancarkan tebasan cahaya berulang-ulang dengan segenap mana yang dia miliki.


"Lemah!" ucap Eror menebas semua tebasan cahaya itu dengan santai.


Bang! Long sudah ada didepan Eror dan langsung melancarkan tendangan, namun tiga belati menahan tendangan Long dan dua belati menusuk leher Long.


"Bergerak mati!" ancam Eror dengan dingin dan mengintimidasi. Long hanya bisa berkeringat dingin ketika mendapati tatapan Eror yang mengintimidasi.


"Long kamu seorang puncak awan akhir, kenapa bisa dikalahkan dengan mudah oleh Eror yang masih ranah awan menengah." Anyi marah karena Long mudah dikalahkan oleh Eror yang masih diranah awan menengah.


"Hoo, kamu sangat jenius rupanya." Eror terkejut mendapati ranah Long yang begitu tinggi walau hanya lebih tinggi satu ranah darinya yang masih di ranah awan menengah, itu karena Eror disebut jenius 1000 tahun sekali dari divisi pembunuh.


"Apakah kamu Horus?" tanya Eror kemudian membuat Long bingung.

__ADS_1


Eror teringat dengan Horus yang selalu dua langkah dari mereka dalam tingkatan tenaga dalam dan kekuatan di reinkarnasi sebelumnya, bahkan kakak pertama (Aiden) tidak mampu mencapai ranah setinggi itu (ranah mytic atau sekarang disebut keberadaan dewa) diusia yang begitu muda (27 tahun).


"Haha, dia memang mirip Horus, tapi dia bukan Horus." jawab Aiden sambil mendekati Eror.


Hara, Long, dan Anyi tidak mengerti kenapa Aiden begitu santai menanggapi orang yang menyerangnya.


"Sayang?" Hara heran.


"Dia temanku." ucap Aiden santai sambil melambaikan tangan agar Hara tenang saja.


Eror melepaskan belatinya dari leher Long dan tersenyum kepada Aiden. "Kakak!" panggil Eror sambil mendekat.


Aiden dan Eror langsung melancarkan tinju terkuat mereka sebagai pembuka pertemuan setelah sekian lama dipisahkan oleh reinkarnasi. "Kamu memang tidak berubah kakak, sangat kuat." ucap Eror dengan senyum kecil ketika merasakan kekuatan Aiden.


"Jangan memanggilku kakak, sekarang panggil aku Aiden saja." balas Aiden meminta agar Eror tidak lagi memanggilnya kakak.


"Aiden, kamu mengenalinya?" tanya Long sambil memegang perutnya yang sakit akibat tendangan Eror.


"Iya, aku bertemu dengannya saat dia berlatih di hutan kota cadas, saat itu umurku masih 7 tahun." bohong Aiden.


"Begitu rupanya, teman aku minta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi diantara kita." Long menghela nafas lega dan langsung meminta maaf kepada Eror karena salah paham.


Ok..., skip.


Aiden saat ini sedang bersantai di sebuah pohon besar dekat markas para kesatria dan ditemani Eror yang terus memainkan belatinya sambil sesekali mengajak Eror ngobrol.


Mereka sudah hampir tiga jam berada di atas pohon tersebut hanya untuk menghabiskan waktu luang mereka.


"Makanya kamu harus memiliki hobi baru agar tidak bosan." balas Eror sambil menyimpan belatinya.


"Yah..., sudah waktunya aku kembali ke markas divisi pembunuh." Eror meregangkan otot-ototnya dan langsung pergi menghilang dalam kegelapan setelah mengucapkan sampai jumpa kepada Aiden.


"Sampai jumpa." balas Aiden pada bayangan Eror, lalu Aiden juga kembali ke kamarnya di gedung keempat.


Aiden yang ingin tidur ternyata mengingat bahwa dia belum melihat pedang yang dia dapatkan di pelelangan. "Daftar." perintah Aiden dalam hati.


Seketika itu muncul hologram yang berisi daftar benda yang dia simpan di penyimpanan miliknya.


Slissh! Suara pedang itu ketika ditarik dari sarungnya dan menampakkan pedang yang sangat tajam berkilau dengan aura kegelapan samar-samar.


"Pedang no 3 kita bertemu kembali setelah ribuan tahun berpisah." gumam Aiden senang mendapatkan kembali pedang miliknya yang dia beri nama sebagai no 3.


Aiden langsung pergi ke hutan untuk mengetes pedang miliknya tersebut dengan beberapa tebasan ke pohon yang sudah tersedia dalam hutan.


Sling!


Sling!

__ADS_1


Sling!


"Kamu ternyata sudah banyak berubah no 3." gumam Aiden yang merasa bahwa pedang no 3 miliknya itu sangat kuat dari sebelumnya.


Sekedar info bahwa pedang no 3 milik Aiden ini dulunya hanyalah pedang biasa yang dibeli dari penempa pedang yang sangat terkenal saa Aiden jalan-jalan ke negeri samurai Jepang, Aiden membeli pedang hanya sebagai formalitas bahwa dia seorang pendekar pedang saja.


"Entah apa yang kamu lalui hingga memiliki kekuatan kegelapan yang mampu menetralisir kekuatan lain." ujar Aiden sambil memperhatikan pedang no 3 secara seksama.


Aiden menyadari bahwa aura kegelapan samar-samar dalam pedang no 3 adalah elemen kegelapan yang sudah pasti mampu menetralisir kekuatan lain.


"Kakak pertama kamu ternyata juga di reinkarnasi ke masa depan sama sepertiku." ucap seseorang mengagetkan Aiden yang sibuk mengamati pedang no 3.


"Siapa disana?" tanya Aiden sambil mencari siapa orang yang berbicara dengannya.


Terdengar langkah kaki yang mendekati Aiden dengan tergesa-gesa seperti sedang berlari menujunya, sesaat kemudian muncul wajah yang familiar bagi Aiden.


"Kamu..., lawan kami dalam pelelangan mendapatkan pedang ini?" Aiden mengenali orang itu yang ternyata Arya Shooter.


Arya terharu dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihan dan kebahagiaan. "Apakah kamu benar-benar kakak pertama?" tanya Arya sambil menahan tangis dan rasa terharunya.


"Apa maksudmu? siapa kakak pertama?" Aiden menyangkal, meskipun raut wajahnya terlihat emosional.


"Haha, jika kamu bukan kakak pertama, kenapa kamu mengenali pedang no 3, padahal tidak ada keterangan tentang pedang itu dalam pelelangan" ucap Arya menjelaskan dengan yakin.


Arya pada awalnya berniat menawar pedang itu dengan pedang kutukan yang dia dapatkan dari gurunya demi kakak pertama atau Aiden itu sendiri, namun siapa sangka orang yang mendapatkan pedang itu mengenali bahwa pedang itu bernama no 3, dari itu Arya yakin Aiden adalah salah satu dari 4 saudara sumpahnya.


Arya semakin terkejut bahwa Aiden memiliki teknik manipulasi murni ketika memerhatikan Aiden cukup lama di balik kegelapan malam, hal itupun menjadi penyebab Arya tahu bahwa Aiden memang benar kakak pertamanya.


"Apakah kamu benar-benar kakak pertama?" tanya Arya kembali.


"Petrus atau Peri, mulai sekarang jangan panggil aku kakak pertama lagi, panggil aku Aiden saja." balas Aiden akhirnya dengan senyum ramah.


"Itu benar kau, haha." Arya begitu bahagia dan langsung memeluk Aiden.


Aiden membalas pelukan Arya itu, "Kamu siapa? Petrus atau Peri?" tanya Aiden.


Arya melepas pelukannya dan kembali bersikap layaknya seorang pria dewasa. "Kakak pertama..., aku Petrus seorang penembak jitu." ucap Arya dengan mantap.


"Kakak pertama bisa memanggilku Arya mulai dari sekarang." tambahnya kemudian.


"Arya, mulai sekarang belajarlah untuk memanggil namaku, jika tidak maka kamu bukan lagi saudara sumpahku." pinta Aiden dengan dengan menepuk pundak Arya.


"Kenapa?" tanya Arya tanpa sadar.


"Karena masa lalu dan masa kini tidaklah sama, aku tidak ingin orang menyadari bahwa kita adalah reinkarnasi orang dari masa lalu." balas Aiden.


"Baik, kakak pertama, maksudku Aiden." ujar Arya segera merubah panggilannya kepada Aiden.

__ADS_1


__ADS_2