
Mentari di ufuk barat perlahan mulai menghilang, warna jingga yang terpendar menandakan senja mulai menyapa, keindahan yang tiada tara namun hanya sekejap mata.
Indahnya senja menghilang dibalik lautan yang terbentang luas namun Laura masih enggan berlalu dari tempatnya.
"Laura.... pulang yuk, " ajak Sofia.
Mereka lagi menikmati liburan di pantai, liburan yang seharusnya hanya untuk pengantin baru malah sepasang pengantin itu mengajak serta sahabatnya.
Dengan dalih liburan bersama demi menjalankan misi mendekatkan Laura dengan Dirga.
"Ah.. Iya ayok, "
Jarak antara Laura dan Sofia lumayan jauh, karena Laura tak ingin mengganggu pasangan itu jadi ia memilih menyendiri disisi lain laut ini.
Dirga akan menyusul karena tadi ketika diajak ia harus menyelesaikan pekerjaannya dulu.
Ketiga orang itu kembali ke penginapan, dan akan keluar lagi nanti ketika makan malam.
Ceklek
Laura membuka pintu kamarnya, nampak single bad dengan sprei putih lengkap dengan selimutnya. Didalamnya juga terdapat kursi kayu disamping jendela besar yang dimana langsung berhadapan dengan laut.
Setiap pagi ataupun sore, cukup duduk didepan jendela itu Laura bisa menikmati pemandangan yang indah. Penginapan ini memang letaknya tak jauh dari pantai yang sengaja dibuat untuk memanjakan mata para wisatawan ketika bangun tidur.
****
Suasana restoran malam ini nampak ramai, banyak pengunjung dari wisatawan asing maupun lokal.
Disinilah tiga orang sedang menikmati makan malam mereka dengan menu-menu yang menggugah selera dari berbagai macam olahan seafood.
" Kamu kenapa? gak suka makanannya? " tanya Sofia pada Laura.
"Pake nanya lagi, gak sadar apa sejak kita masuk tadi aku tu berasa jadi artis tau gak, diliatin orang mulu, " ujar Laura dengan wajah cemberutnya.
Seketika Sofia dan Agung terkekeh mendengar penuturan Laura. Bukan tak menyadari sebenarnya hanya saja mereka pura-pura gak tau kalau mereka lagi jadi pusat perhatian terutama Laura yang berada diantara sepasang kekasih.
"Rasanya pengen pulang aja tau gak, risih, "
__ADS_1
"Udah gak usah ditanggepin, makan aja biarlah orang berkata apa, "
"Ih tapi tetap aja, aku gak fokus, pasti mereka kira aku aneh-aneh, gak sesuai lagi sama penampilan, " bukan asal bicara tapi Laura membaca dari tatapan mata orang-orang yang memandanginya bak memandang seorang pelakor.
Bagaimana tidak dengan berpenampilan muslimah tetapi ia malah pergi bertiga dengan sepasang suami istri yang tak lain sahabat dan bos nya itu.Rasanya ia ingin menghilang seketika.
"Udah ya Sof aku balik ke penginapan aja, aku... "
"Maaf bro gue telat, " suara seseorang itu menghentikan ucapan Laura yang bum selesai.
Dilihat dari samping Laura sedikit mengingatnya tapi siapa, ia berfikir keras.
"Ia gak papa kok, gak telat kita juga baru makan, yuk duduk, "
Ketika mau duduk Dirga menoleh kesamping kanannya dan tkebetulan Laura pun menatapnya karena sejak tadi Laura menelisik orang disamping Agung itu.
"Laura/Mas Dirga, " ucap mereka berbarengan.
Mendengar kata sapaan keduanya membuat Sofia dan Agung saling pandang, terkejut bukan main, bukankah seingat mereka Laura menyebut Dirga itu bapak pas dipuncak kala itu tapi sekarang anggilannya berubah jadi mas dan mereka nampak akrab.
"Kesini juga? " tanpa peduli pada suami istri yang mengundangnya itu Dirga malah langsung mengajak Laura ngobrol.
"Iya katanya liburan bareng, " Laura hanya menanggapi dengan anggukan.
"Ekhhmmm, lupa nih ada orang disini, " Agung menginterupsi obrolan keduanya.
"Hahaha sory bro, tamunya gak sopan ya,"
"Gak juga, cuman gue perhatiin kok kalian keliatannya sudah akrab," ujar Agung jangan lupakan tatapan menelisiknya.
"Iya padahal kan kalian ketemu pas insiden dipuncak itu, " timpal Sofia.
"Oh ini kita ketemu lagi pas di Jakarta yang dihari itu hari yang sama ketika kita nongkrong, "
Dirgapun menceritakan tentang ia yang hampir menabrak Laura gara-gara tidak fokus menyetir.
Tak sampai disitu Dirga menceritakan semuanya hingga sampai cerita ia bertemu orang tua Laura.
__ADS_1
"Luar biasa dia sudah bertemu orang tua Laura sungguh setingan tuhan yang indah semoga mereka berjodoh, " kata hati Agung.
Namun Dirga tak bercerita perihal ia yang sudah bertukar nomor hp dengan Laura, juga panggilan mas itu permintaan Dirga karena ia rasa belum seperti bapak-bapak jadi dia tidak mau dipanggil bapak.
Hubungan mereka tak seperti yang dibayangkan Agung dan Sofia, Laura dan Dirga sejauh ini hanya menjalin hubungan pertemanan saja. Dimana Dirga yang belum siap jika harus menerima cinta yang baru karena hatinya belum usai dengan luka yang ditorehkan Juli.
Begitupun Laura, hatinya belum berani untuk jatuh cinta lagi setelah cinta bertepuk sebelah tangan yang selama ini ia alami. Bohong jika Laura tak tertarik pada Dirga, suka pada pemuda ini hanya ia terus-terusan membentengi hatinya agar tidak mudah jatuh cinta, sekuat hati benteng itu ia bangun hingga suatu hari nanti ada yang mampu menghancirkannya.
Keempat orang itu saling berbagi cerita tak lupa dengan jurus-jurus menuju perjodohan yang dilakukan Agung dan Sofia namun tak mempan untuk Dirga dan Laura, mereka hanya menanggapinya dengan senyum dan tawa meski mereka mengerti maksud pasangan suami istri tersebut.
"Sudah malam nih, " ucap Sofia, memberi kode pada sahabatnya untuk pulang.
"Ya emang sudah malam kan, dari tadi juga, "saut Laura.
" Maksud sofia, kita mau balik duluan, " Agung akhirnya memperjelas, ia tak ingin ada drama basa basi kali ini.
"Oh yaudah yuk kita pulang,ngapain pakai duluan segala bareng aja lah " segera Laura meraih tas selempangnya yang sejak tadi anteng di meja.
Akhirnya mereka pulang bersama padahal awalnya berniat meninggalkan Laura dan Dirga berduaan, agar mereka memiliki waktu lebih banyak untuk bersama.
Namun karena Laura yang mengerti maksud dan tujuan kedua sahabatnya itu memilih untuk pulang.
"Gue tau maksud lo, " ucap Dirga menepuk bahu Agung.
"Gue ingin yang terbaik buat lo, " kata Agung balas menepuk bahu Dirga sebelum berlalu pergi.
Mereka mengendarai mobil masing-masing dengan formasi masih sama seperti waktu berangkat tadi, Laura dengan Agung dan Sofia sedangkan Dirga sendiri.
"Aku gak tau kenapa kamu menutup diri dari laki-laki selama ini, tapi aku tau pasti kamu punya alasan untuk itu, aku hanya berharap sekarang kamu belajar membuka hatimu untuk laki-laki, " ucap Sofia, " Aku balik ke kamarku ya, good night, " tanpa menunggu jawabah atau sanggahan dari Laura, Sofia langsung pamit kekamarnya, karena sesungguhnya niatnya hanya ingin memberi nasehat pada sahabatnya.
Tak tau aja Sofia jika selama ini bukannya Laura menutup hati dari laki-laki melainkan Laura yang terlalu mudah jatuh cinta hingga membuatnya terluka untuk yang kesekian kalinya demi merelakan lelaki yang dicintainya untuk mencintai orang lain, termasuk Sofia sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih sudah mampir, semoga suka, jangan lupa tinggalkan jejak 🤗🤗