Reoni Pembawa Jodoh

Reoni Pembawa Jodoh
Makan Malam


__ADS_3

Sore ini Laura dan mama Ambar disibukan dengan perlatan dapur beserta hahan masakan lainnya.


Sesuai rencana malam ini mereka akna mengundang Dirga untuk makan malam bersama jadi mereka harus menjamu tamu dengan makanan yang menggoyang lidah tentunya.


Tak perlu chef ternama cukup dengan dua chef andalan keluarganya pak Wahyu bisa memakan makanan apa saja yang ia inginkan.


Malam ini ia ingin mengenalkan makanan kesukaannya pada tamu specialnya, yaitu ayam kecap pedas, ada juga ayam balado, seafood sauce tiram, nila asam manis, tak lupa sambel bawangnya.Memang keluarga ini pecinta pedas jadi dikulkas tidak boleh kekurangan cabe dan tomat.


Dan saking cintanya pada makanan pedas pak Wahyu sampai membeli tanah untuk berkebun cabe dan tomat yang awalnya hanya sedikit kini sudah jadi berhektar hektar dan dari sinilah penghasilan keluarga ini selain dari pak Wahyu sebagai orang kepercayaan pak Damar.


Karena ia tau tak selamanya ia akan bekerja maka dari itu pak Wahyu menginvestasikan uangnya ke perkebunan, karena bekerja ada masa pensiunnya.


Waktu sudah menunjukan pukul enam sore dan masakan sudah siap, tinggal makanan penutupnya saja puding roti ala bu Ambar.


"Huh pantesan capek, banyak banget menunya, " gerutu Laura sesaat setelah semuanya selesai.


"Demi calon suami mah gak papa kali kak, " Bara tiba-tiba muncul didapur.


"Anak kecil gak usah komentar, lagian sudah aku bilangin berapa kali sih kalau Dirga itu hanya teman, gak lebih, " Laura berlalu meninggalkan adiknya seorang diri, karena mamanya sudah kembali ke kamar sejak tadi.


Bukan tak senang digoda orang serumah jika Dirga itu dianggap kekasih ataupun calon suaminya, tetapi ia sadar diri sering bertemu orang yang seperti Dirga akrab banget, tapi nyatanya dia hanya anggap Laura teman atau saudara katanya, padahal si Laura sudah baper.


Menurut Laura gak mungkin aja Dirga suka kepadanya, meski hati kecilnya berharap dan mengaminkan dari setiap orang yang menggodai Laura sebagai calon istri Dirga.


Azan magrib sudah berkumandang kebetulan Laura baru selesai mandi. Seperti biasa ia akan sholat dikamarnya sendirian karena belum punya imam. 🤭


Sedangkan disisi lain,


Dirga tengah bersiap siap untuk pergi ke rumah Laura dengan stelan santainya, kemeja coklat susu berlengan pendek dipadukan dengan celana jeans hitam tak lupa sepatu sneaker senada dengan kemejanya.


"Kok gue deg-degan sih mau makan malam doang," gumam Dirga sambil memegang dadanya.


"Berasa mau ngelamar nih gue, tapi tumben si om ngajakin makan dirumahnya, ada apa ya," gumamnya lagi.


Tak ingin berlama-lama lagi bermain dengan fikirannya Dirga segera berangkat kerumah Laura karena jaraknya cukup jauh perlu satu jam untuk sampai kesana jadi Dirga berangkat pukul 7 malam agar tiba nanti tepat pukul 8.


****

__ADS_1


Laura melirik jam dinding yang menggantung di ruang tengah, waktu sudah menunjukan pukul 8 lebih 10 menit namun tak nampak lagi batang hidung si Dirga.


"Disuruh datang jam 8 kok gak nongol juga, dasar mas Dirga tukang ngaret, " gerutu Laura, pelan namun masih bisa didengar oleh orang tuanya yang kebetulan lewat.


Pak Wahyu menggelengkan kepala melihat putrinya yang sedang jatuh cinta namun malu mengakuinya.


Tepat pukul 8 lebih 15 menit Dirga tiba dikediaman Laura, begitumasuk ia langsung meminta maaf pada pak Wahyu dan bu Ambar atas keterlambatannya.


Pak Wahyu dan bu Ambar pun memakluminya, mereka langsung ke meja makan karena cacing diperut mereka sudah berdemo. Namun alangkah terkejut dan malunya pak Wahyu dan bu Ambar ketika tiba dimeja makan, bocah berkumis tipis sudah asyik makan sendiri, siapa lagi pelakunya kalau bukan Bara.


"Bara, gak sopan banget sih tamu belum datang sudah makan duluan aja, " tegur bu Ambar tak habis fikir dengan kelakuan anaknya sedangkan yang ditegur hanya nyengir menampakan gigi putihnya yang rapi.


"Maafkan Bara ya nak Dirga, " ucap pak Wahyu merasa tak enak hati.


"Gak papa pak santai aja, saya aja yang terlambat datang, " entah kenapa Dirga terlambat ia tak menjelaskan alasannya.


"Mari makan semuanya, " ajak pak Wahyu. Akhirnya mereka makan malam dengan obrolan santai.


Keluarga pak Wahyu memang seperti itu, makan sambil ngobrol santai bisa menghangatkan suasana menurut mereka daripada hanya diam asal jangan kebanyakan bicara aja.


"Sendiri pak orang tua di kalimantan, " jawab Dirga.


"Wah perantau dong berarti ya, " ujar pak Wahyu manggut manggut.


Selesai makan malam, mereka pindah keruang tengah memakan puding sebagai cuci mulutnya.


"Mas Dirga, katanya tadi ada yang mau diomongin ? " tanya Laura berbisik-bisik pada Dirga yang duduk tak jauh darinya.


"Iya, penting, " jawab Dirga singkat padat namun makin membuat Laura penasaran.


"Kalian pacaran? " tiba-tiba ditodong pak Wahyu dengan pertanyaan yang tak pernah difikirkan keduanya.


"Enggak, " jawab mereka bersamaan.


" Masa ? " tanya pak Wahyu lagi. Sedangkan bu Ambar sudah mengulum senyumnya membiarkan suaminya itu mengerjai dua manusia yang saling jatuh cinta itu tetapi malu mengakui.


"Kita hanya teman kok pak beneran, " Dirga sudah gugup ditanya begitu oleh pak Wahyu, dalam fikirannya pak Wahyu pasti tidak akan merestui jika benar ia dan Laura ada hubungan lebih selain pertemanan.

__ADS_1


" Kalau gitu kalian nikah aja, " pinta pak Wahyu dengan entengnya.


Deg


"Apa? " Laura kaget dengan permintaan ayahnya.


"Nikah? " Dirga juga kaget, kok tiba-tiba pak Wahyu memintanya menikah dengan Laura.


" Iya nikah aja, jangan kalian fikir saya gak tau jika kalian itu diam-diam saling suka, "


Deg


Laura terkejut bukan main karena ketahuan papanya diam-diam jatuh cinta sama Dirga. Begitu pula yang dirasakan Dirga.


Mau tidak mau akhirnya Dirga mengakui tentang perasaannya yang sebenarnya pada Laura.


Dirga menghela nafas, " Jadi begini pak, benar tebakan bapak soal saya yang menaruh hati pada putri bapak, bukan saya tidak serius hanya saja saya takut menyakiti Laura, karena saya masih ragu dengan perasaan saya sendiri, saya baru saja putus hubungan dengan mantan saya, takutnya Laura hanya sebagai pelarian saya, " jujur Dirga.


"Saya ingin memantapkan hati saya dulu pak, itupun jika Laura menerima saya, " lanjut Dirga.


"Saya mengerti maksud kamu, terimakasih atas kejujuran kamu, " ujar pak Wahyu tersenyum pada Dirga, " bagaimana Laura apa kamu juga memiliki perasaan yang sama sama Dirga? " pak Wahyu menatap putrinya itu.


Laura hanya diam....


" Udah gak usah bohongini perasaan kamu lagi, mama tau kok perasaan kamu, " bu Ambar ikutan nimbrung.


"Begini aja, papa kasih waktu kalian satu bulan untuk saling mengenal, jika kalian siap nanti maka kalian bilang aja sama papa biar papa nikahin, " putus pak Wahyu akhirnya karena Laura tak kunjung menjawabnya.


Dirga tersenyum mendengar penuturan pak Wahyu meski ia harap-harap cemas menunggu jawaban Laura, tapi menurutnya mungkin Laura nuga masih ragu dengannya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2