
Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya Dirga dan Laura tiba di daerah Pantai Indah Kapuk, mereka langsung kehotel menaruh barang bawaan mereka yang tak seberapa itu, maklum kan dekat gak nyampe sejam dari kediaman Laura.
Ternyata kamar mereka sweetroom khusus bulan madu, yang didominasi warna putih dan gold, kamar yang luas , dengan disuguhi pemandangan indah kota metropolitan dan pantai jarak jauh yang dapat dilihat dari jendela kaca besar kamar ini.
"Masyaallah cantiknya, " ujar Laura,ia berdiri di depan jendela kaca yang berada di sisi kanan kasur, ini pertama kalinya Laura ke Pantai Indah Kapuk.
Memang luar biasa Laura ini ya, sejak lahir di Jakarta tetapi wisata pantai terdekat belum pernah ia kunjungi.
"Kamu suka? " dirga berjalan mendekati Laura.
"Suka banget, " Laura tersenyum lebar.
Dirga pun membalas senyuman Laura, Dirga lalu memeluk Laura dari samping kirinya.
"Kamu suka, tapi sayang ini bukan ide aku, " ujar Dirga sendu, merasa bersalah karena secara tidak langsung bukan dia yang membuat istrinya itu bahagia.
"Hey bukan seperti itu, " Laura menatap mata Dirga, begitupun sebaliknya dan ia membelai rahang tegas suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Bukan tentang ide siapa, hadiah dari siapa, atau ditempat mana yang membuat aku bahagia saat ini, tetapi tentang bersama siapa aku sekarang, itu yang membuatku bahagia, " lanjut Laura diiringi senyum manis ala Laura yang membuat Dirga semakin jatuh dalam pesona seorang Laura Anaya.
Dirga tersenyum lalu mengecup puncak kepala Laura, " terimakasih sudah menerimaku didalam hidupmu, aku bersyukur Allah memberiku bidadari seperti dirimu untuk ku jaga, ku hormati, ku sayangi ku cintai setulus hati, dan untuk kujadikan ibu bagi anak-anak ku kelak, " ujar Dirga menatap penuh damba pada istrinya itu, ssdangkan Laura kedua pipinya sudah bersemu merah.
"terimakasih kembali suamiku, aku juga sangat bersyukur Allah mempertemukan aku denganmu, dengan cara yang tidak disangka-sangka, " balas Laura, keduanya tertawa mengingat pertemuan pertama mereka dikebun teh, kala di Bogor.
Mereka masih saling memeluk menikmati kehangatan berdua, jantung mereka aman? Oh jangan ditanya tentu saja berdetak begitu kencang kala luapan asmara kian membara dihati keduanya.
Dirga menanyakan banyak hal lagi pada istrinya terutama tentang wisata ini, kenapa Laura tak pernah mendatangi pantai disini sebelumnya padahal ini wisata terlalu jauh dari rumahnya, eh terlalu dekat maksudnya, sungguh hal ini membuat Dirga kepo.
"Kamu mau dengar ceritaku? " tanya Laura menatap suaminya Dirga, kini mereka duduk di kursi kayu yang sengaja mereka pindahin menghadap jendela kaca besar tempat mereka berdiri sebelumnya, agar tetap bisa menikmati pemandangan indah kota metropolitan.
__ADS_1
Dirga menganggukan kepalanya, Laura pun tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu lebar suaminya itu.
"Aku bukan anak pertama dari ayabh dan ibuku, tetapi aku anak kedua, " ujar Laura mengawali ceritanya sambil menatap lurus kedepan.
Dirga terkejut mendengar kalimat lembuka dari cerita istrinya, keningya berkerut, ia menerka-nerka apakah mungkin Laura anak angkat, fikirnya.
"Eits, tapi aku bukan anak angkat juga, " ujar Laura segera menepis apa yang difikirkan suaminya.
"Kok kamu tau apa yang aku fikirkan ? " ujar Dirga.
"Kan sehati, jadi apa yang kamu fikirkan, yang kamu rasakan aku tau, " Laura menjawab diikuti cengirannya.
Dirga tak habis fikir dengan istrinya ini, biasanya yang suka ada kata-kata begitu, atau semacam gombalan bukankah laki-laki, ini kok malah perempuan dan itu istrinya, mauheran tapi itu nyata, Dirga mengusap kepala sang istri dengan gemas.
Laura meneruskan ceritanya jika ternyata ia punya saudara kandung selain Bara, yaitu kakaknya seorang perempuan juga yang berjarak lima tahun lebih tua darinya.
Sudah dilakukan pencarian namun setelah ditemukan batita itu ternyata sudah tak bernyawa. Semenjak saat itulah bu Ambar enggan lagi ke laut, apalagi membawa serta anaknya hingga Laura sebesar ini. Bu Ambar merasa bersalah karena telah lalai menjaga putrinya, maka darri itu tak ada dari Laura maupun Bara yang menginjakan kaki di pantai.
Bukan Bara jika menurut, ia sering kok pergi ke pantai bersama teman-temannya tanpa sepengetauan kedua orang tua mereka, berbeda dengan Laura yang memnag sangat penurut.
"Ternyata ada alasan dibalik kamu yang gak pernah menginjakan kaki di pantai, tapi kalau kamu sendiri takut gak dengan laut? "
"Gak tau, tapi kalau liat dividio atau gambar apalagi melihat langsung dari kejauhan seperti ini, rasanya ingin sekali aku menggapainya, indah banget kelihatannya, " Laura mengutarakan isi hatinya.
"Baiklah yuk sekarang kita sholat zuhur dulu, setelah itu cari makan diluar langsung cus kepantai, " ujar Dirga penuh semangat, ia ingin menunjukan pada istrinya itu jika pantai jauh jauh lebih indah jika dirasakan secara langsung, karena melihat saja tak cukup untuk menggambarkan keindahannya.
"Astaghfirullah ternyata sudah tengah hari, untung mas mengingatkan, " Laura kaget saat melihat jam yang bergantung didinding kamar mereka menunjukan pukul satu kurang lima belas menit.
__ADS_1
"Itulah mengapa manusia diciptakan berpasang pasangan agar jika salah satunya lupa, yang satunya lagi mengingatkan, semoga kita berdua bisa terus melakukannya saling melengkapi satu sama lain," ujar Dirga sambil mengambil alat sholat keduanya.
"Amiiin ya Robbbal Alamiin, " Laura tersenyum bahagia melihat suaminya yang sibuk menggelar dua sajadah untuk mereka berdua.
Keduanya bergantian mengambil wudhu lalu kemudian melaksanakan sholat zuhur berimaman.
Setelah selesai beribadah mereka menuju resto untuk makan siang, dilanjut berjalan disekitaran hotel, sambil menunggu waktu ashar, karena Laura belum mau ke pantai katanya menunggu sore saja sekaligus melihat matahari tenggelam dilaut lepas secara langsung.
Ini adalah salah satu impian Laura ingin ke pantai, yaitu melihat matahari tenggelam diufuk barat meski ia sendiri tak tau berani atau tidak ia mendekati laut.
"Gimana, seru..? " tanya Dirga karena melihat sang istri nampak ceria.
"Seru sedikit, gak banyak, " ujar Laura sambil terus berjalan menuju kamar mereka karena sebentar lagi waktu ashar tiba, mereka akan melaksanakan kewajiban mereka lalu bersiap untuk lebih dekat dengan laut.
Hari pertama honeymoon mereka jalani dengan mengobrol dan bercerita tentang masa lalu keluarga Laura.
Memang pasangan ini beda dari yang lain, jika kebanyakan orang langsung tancap gas ketika malam pengantin ini bahkan tak peduli mau itu siang hari sekalipun, ini malah honeymoon hari pertama mereka santuy bercerita.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih yang masih setia membaca karyaku, maafkan aku gak bisa tiap hari update 🙏