
Dirga dan Laura tengah berada dikamar pengantin mereka, keduanya terlihat saling diam.
Keduanya nampak canggung ketika berada didalam kamar berduaan itu semua terlihat dari gelagat mereka, yang satu dikasur yang satu didepan meja rias tak ada yang mau mendekat, bahkan hal ini sudah terjadi sejak setengah jam yang lalu.
"Laura, " panggil Dirga memecah keheningan yang tercipta diantara mereka.
"Iya mas, " Laura menjawab seraya melempar senyum pada Dirga.
"Kamu gak mau deket aku gitu? ngapain didepan meja rias aja dari tadi istriku sudah cantik gak perlu lama-lama liatin cermin itu, aku cemburu loh, " kata Dirga, ia sebenarnya tau kok jika istrinya itu pasti merasa canggung dan takut ia akan meminta hak nya malam ini, pasalnya malam ini malam pengantin mereka.
Apalagi suasana kamar ini begitu romantis, kasur bersprei putih yang ditengahnya ada taburan mawar merah berbentuk love, dibagian atas sandaran ranjang dihias dengan lampu tumbler kerlap kerlip tak lupa lilir aroma yang begitu manis hingga sayang untuk dilewatkan begitu saja.
" Sini... " panggil Dirga sekali lagi seraya menepuk bagian sampingnya yang kosong.
"I.. Iya mas, " dengan perasaan gugup Laura berjalan perlahan kearah kasur yang biasa ia tempati itu.
Jangan-jangan mas Dirga ingin aku melayaninya sebagai istri, aku belum siap tapi aku juga gak boleh nolak, fikiran Laura berkecamuk saat ini.
Sedangkan Dirga yang seolah tau apa yang istrinya fikirkan malah berniat mengerjainya.
Laura ingin duduk ditepian kasur, namun tangan Dirga dengan sigap menarik tangan Laura sehingga ia jatuh dipelukan Dirga dengan mata saling bersiborok.
Deg
Jantung keduanya berpacu begitu kencang seolah ingin keluar dari tempatnya.
"Ihh gemesshhnya, pipinya merah, " ujar Dirga mencubit sebelah pipi Laura.
"Ihh kenapa disebut sih pipinya merah kan makin malu, " protes Laura.
"Ihh bisa malu juga kamu ya, semenjak akad wajah kamu merona terus, seneng ya punya suami kaya aku, " Dirga membanggakan dirinya.
Laura menggelengkan kepala tak habis fikir ternyata suaminya ini narsis juga.
"Mas ih narsis banget, geer lagi, " Laura menepuk dada suaminya pelan.
Kini posisi mereka sudah duduk dengan tegak dengan Dirga yang menyandarkan kepalanya dikepala ranjang sedangkan kepala Laura berseandar dibahu kokoh Dirga.
"Oh jadi gak seneng nikah sama aku? " ujar Dirga dengan mimik muka merengut seperti anak kecil yang minta permen tapi gak dikasih.
"Ihh gak gitu juga, " Laura geram merasa terjebak oleh perkataan suaminya.
__ADS_1
"Jadi senang apa enggak nih nikah sama aku? " kembali Dirga membawa Laura pada pertanyaan yang membuatnya kesal. Sedangkan Dirga malah tertawa dalam hati.
"Iya iya, seneng aku nikah sama mas, " gantian Laura yang wajahnya merengut, ia kesal sama suaminya itu, usil banget.
"Iya aku juga seneng kok nikah sama kamu, i love u, " puncaknya Dirga mengecup kening istri tercintanya itu.
"Kok diem, jawab dong, "
"I love u too suamiku, " cicit Laura, Dirga pun tersenyum bahagia, kembali ia mengecup kening Laura.
"Yuk kita ... " ucapan Dirga terpotong karena tiba-tiba Laura mengangkat kepalanya dari pundak Dirga menjadi tegak.
"Uuumm, maaf mas aku belum siap, " ucap Laura cepat, menurutnya lebih baik ia jujur saja tentang dirinya yang belum siap melakukan ritual suami istri.
"Hah.... maksudnya? " Dirga seketika menjadi loading.
"Iya mas maaf sekali lagi malam ini aku belum siap, nanti dulu ya mas tunggu aku siap, " Laura memohon pada suaminya.
Hening...
Mereka larut dalam fikiran masing-masing.
"Hahahahaha..... " tiba-tiba tawa Dirga pecah dan itu membuat Laura menjadi bingung.
Saking lamanya mereka ngobrol hingga pukul setengah dua belas akhirnya Dirga mengantuk, sedangkan Laura tak merasa ngantuk karena ia tegang takut Dirga meminta haknya.
Apa yang dilakukan Laura ?
Kini ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, karena malu banget ketahuan Dirga fikirannya berkelana kemana-mana.
Dirga lalu meraih kedua tangan Laura agar tak menutupi wajahnya lagi, " dengerin aku, " pinta Dirga.
Masih dengan wajah malu Laura memberanikan diri membalas tatapan mata suaminya.
"Aku tau kamu istri aku dan aku berhak meminta hak ku kapanpun itu, tetapi aku tau waktu, kamu pasti canggung, sama aku juga, kamu cape seharian ini karena acara akad dan resepsi kita, dan aku juga merasakan hal yang sama, terimakasih sudah ingat akan kewajiban kamu sebagai istri dan aku gak marah kok kalau kamunya belum siap, aku akan menunggu kamu siap, kita perlu penyesuaian diri masing-masing, " Dirga bicara panjang lebar sambil menatap bola mata indah milik sang istri seraya memegang tangannya.
"Udah yuk tidur, " Dirga membawa Laura kedalam pelukannya, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Laura saking ia malunya.
Laura tak menyangka jika suaminya ini begitu pengertian dan menghormatinya, bahkan Laura merasa bersalah karena ia telah menolak suaminya malam ini.
Laura menenggelamkan wajahnya didada bidang Dirga sedangkan tangan Dirga mengusap-usap kepala Laura agar ia merasa tenang hingga akhirnya keduanya terbuai mimpi.
__ADS_1
****
Sedangkan disisi lain,
Seseorang tengah menghancurkan seluruh barang-barangnya didalam kamar besar bernuansa putih tersebut.
"Kurang ajar, gue gak akan rela lo nikah Laura, gue akan hancurin rumah tangga lo, dengan apapun dan bagaimanapun caranya, " ucap wanita itu murka.
Entah apa yang membuatnya begitu sangat membenci Laura, ia kecolongan karena mengira Laura tidak akan pernah menikah selama hidupnya, tapi apa, kenyataannya sekarang Laura sudah sah menjadi seorang istri.
Padahal selama ini ia sudah melakukan berbagai cara agar Laura tidak pacaran dengan cara menghentikan langkah para laki-laki yang ingin mendekati Laura menggunakan hasutan-hasutannya.
"Liat aja, gue bakal kasih lo kejutan yang tak akan pernah terlupakan dalam hidup lo, " ujarnya tersenyum devil.
****
Dalam tidurnya Laura nampak anteng dalam dekapan hangat sang suami, sedangkan Dirga tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan tiba-tiba saja perasaannya tidak enak.
Perlahan Dirga memindahkan tangan Laura yang berada diatas tubuhnya dan menggantikan dirinya dengan guling sedangkan ia bangkit dan mencari air minum kedapur.
Sekembalinya dari mengambil minum Dirga duduk diatas sofa kecil yang menghadap jendela kamar, ia menerka-nerka tentang hatinya yang terasa tak enak.
"Mas, kok disana ? " tiba-tiba suara Laura mengagetkannya dari lamunan.
"Eh sayang kamu kebangun ya, gak papa kok mas cuman haus, " Dirga tersenyum, menunjukan gelas yang sudah kosong digenggamannya.
"Oh ya udah tidur lagi mas, belum subuh juga, "
Dirga melirik jam dinding dan benar saja sekarang baru pukul tiga dinihari, masih lumayan lama nunggu subuh, ia pun memutuskan untuk kembali tidur menemani Laura.
.
.
.
.
.
Gimana menurut kalian? Komen dong...
__ADS_1
Oh iya jangan lupa Likenya ya, 😊
Maafin typonya 🙏