Reoni Pembawa Jodoh

Reoni Pembawa Jodoh
Toko Kue


__ADS_3

Seperti biasa Laura menjalani hari dengan bekerja, tak terasa seminggu sudah berlalu dari tempo satu bulan yang diberikan ayahnya untuk lebih mengenal Dirga, pemuda yang diinginkan ayahnya menjadi menantu.


Alasan ayahnya ingin menjadikan Dirga menantu tentu saja tidak sembarangan, ayahnya menilai jika Dirga pemuda yang bertanggung jawab, pekerja keras, hormat pada orang tua dan terutama agamanya insyaallah baik. Dan hal pertama yang diliat pak Wahyu adalah karena Dirga adalah laki-laki pertama yang dibawa ke rumah oleh Laura.


Mumpung hari ini libur dikarenakan tanggal merah, Laura memanfaatkan hari ini untuk pergi berbelanja bahan-bahan untuk membuat kue.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Iya sebentar, " saut Laura, ia yang berada di ruang tengah langsung melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


Ceklek


"Hay, " seseorang langsung menyambutnya dengan tawa riang.


"Lidya, tumben kesini gak bilang-bilang, " ujar Laura, " yuk masuk, " ajaknya, Lidya pun mengikuti Laura kedalam.


"Gak papa gue cuman boring aja hari libur gak ngapa-ngapain, " kata Lidya sok rajinan.


"Elah lagak lo, biasanya juga kalo ketemu senin mager, " Laura ingatkan kembali kelakuan sahabat satunya ini, sedangkan orang yang dimaksud hanya yengir memperlihatkan gigi kurang rapi nya.


Menurutku bukan cuman Lidya sih yang gitu rata-rata orang mau anak sekolah ataupun yang siludah kerja klo ketemu hari senin agak gimana gitu, seketika kemalasan melanda. Tapi kalo ketemu hari jum'at apalagi kalau jum'atnya bertepatan dengan tanggal merah, beuhh semangatnya mengalahkan semangat para pejuang dimasa penjajahan.


"Eh btw mau kemana nih sudah rapi aja ? " Lidya baru menyadari tampilan Laura rapi setelah mendudukan diri di sofa.


"Mau pergi dong, " jawab Laura, " kebetulan lo kesini kuy kita pergi, " ajak Laura.


"Wah pas banget nih, nyalon yuk, " ajak Lidya semangat full.


"Nyalon ? " Laura nampak berfikir tatkala mendengar Lidya mengajaknya kesalon.


Melihat sahabatnya berfikir Lidya mengerutkan kening lalu bertanya, " Kenapa ? kan sudah lama juga gak memanjakan diri ini ", ujar Lidya dengan gaya sedikit lebay.

__ADS_1


" Iya sih, cuman masalahnya gue mau bikin kue kering, ini baru mau pergi beli bahan, keburu gak kalo kita nyalon dulu? " Laura mencemaskan kukernya takut gak keburu mateng kalo nyalon dulu.


" Pasti keburu kok, ini baru juga jam sepuluh lebih lima belas menit, kita nyalon dua atau tiga jam, ya jam tiga udah balik deh, " bujuk Lidya agar Laura mau ikut ke salon.


"Yaudah deh, " akhirnya Laura mau ikut ke salon karena memang badannya juga terasa pegal jadi perlu refleksi agar badan terasa rileks.


Seperti rencana, yang pertama mereka datangi adalah toko bahan kue, Laura memarkirkan motornya di depan toko strobery, toko bahan kue langganannya.


Sesampainya didalam tangan cekatannya langsung saja mengambil bahan-bahan yang ia perlukan, mulai dari tepung terigu, gula, telur, dan teman-temannya.


Laura memang pintar urusan dapur, mulai dari masakan sehari-hari hingga berbagai macam kue, hanya kue tradisional yang belum pernah ia buat.


"Lo ada orderan ?, tumben amat bikin kuker biasanya kan kuker lo keluar kalau lagi ada orderan arisan emak-emak atau pas lagi lebaran, ini gak ada angin gak ada hujan mau bikin kuker, " cerocos Lidya panjang lebar, sepanjang ia mengiringi langkah Laura memilih bahan kue.


Laura hanya menanggapi ocehan sahabatnya itu dengan senyuman.


"Yey ditanya bukannya jawab malah senyum-senyum, masih waraskan ? " ujar Lidya lagi, emang sekata-kata ni orang ngatain temannya gila.


" Ya mau dong pake nanya lagi, " jawab Lidya cengengesan.


"Ya udah kalo mau ya diam, jangan banyak nanya, " ujar Laura, akhirnya Lidya pun tak lagi nanya-nanya soal kue.


Setelah dirasa cukup Laura membayar belanjaannya dan segera meninggalkan toko kue, namun tanpa sengaja ia menyenggol sesuatu dan akhirnya jatuh kelantai.


Bukkk


"Aduhh, " Laura mengaduh bukan karena merasa sakit tapi karena merasa terkejut telah menjatuhkan kue ditoko tersebut.


"Aduh maaf mba, gak sengaja, " cicit Laura.


Tanpa sengaja siku Laura menyenggol kue yang ada di etalase, kebetulan itu kue mau dibungkus karena terlihat dari pelayan yang membawa kotak ditangannya berdiri didekat kue itu.


Sedangkan Lidya masih menganga melihat Laura menjatuhkan kue orang.

__ADS_1


"Aduh mba gimana sih gak liat-liat ini kuenya bentar lagi diambil sama yang punya, kalo sudah begini saya yang dimarahin, " omel salah satu pelayan ditoko tersebut.


"Maaf mba gak sengaja, saya akan tanggung jawab mba, "


"Gimana mba tanggung jawabnya, bikin baru masih keburu sih, tapi chef kami yang membuatnya sudah pulang, " tuturnya pelayan bernama Mira itu, benar-benar dibikin spot jantung sama Laura.


"Boleh saya bertemu pemilik toko ini? " Laura masih berusaha memperbaiki kesalahannya.


"Maaf mba pemilik toko ini iya sekaligus chef disini, dan beliau sudah pulang, " kembali Mira mengingatkan jika bos nya sudah pulang.


"Mmmm begini saja, mbabawa saya kedapur biar saya yang akan membuatnya, " pinta Laura.


"Jangan deh mba nanti saya semakin dimarahi sama atasan saya, " nampak sekali raut wajah kerakutan Mira.


"Sudah gak papa mba percaya sama saya, " Laura memohon agar boleh masuk kedapurnya langsung.


Pelayan itu berdiskusi dengan pelayan lainnya, menanyakan boleh tidaknya Laura kedapur untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Gak usah takut mba, percayakan aja sama teman saya ini dijamin mba'nya gak akan dimarahi, tapi malah disanjung, " Lidya ikut angkat bicara.


"Ya sudah kalau gitu, ikuti saya, " ajak Mira, Laura mengangguk dan langsung menyusul Mira kedapur, dan Lidya mengikuti di belakang.


.


.


.


.


Maaf belum bisa up tiap hari apagi banyak.


Terimakasih sudah mampir 🤗

__ADS_1


__ADS_2