
Disebuah cafe diruangan VIV empat orang yang terdiri dari dua perempuan dan dua laki-laki itu sudah berkumpul sesuai janji mereka akan bertemu setelah pulang bekerja.
Hari ini agenda mereka adalah untuk Laura dan Dirga lebih mengenal satu sama lain, semua sudah dipersiapkan oleh Sofia dan Agung didalam sebuah buku catatan berukuran sedang, masing-masing dari mereka menyerahkan satu buku ke tangan calon pasangan itu.
Sofia yang notabanenya sahabat Laura bertugas menuliskan apapun itu tentang Laura, termasuk aib 🤣 dan ia menyerahkan itu kepada Dirga, begitu pula yang dilakukan Agung lalu menyerahkan buku itu pada Laura.
"Ini catatan tentang seorang Laura dengan segala kekurangan dan kelebihannya yang selama ini gue tau, " ujar Sofia, seraya menyodorkan buku yang bertuliskan nama Laura dengan tinta emas disampul hitam pekat itu. Sepertinya buku itu dipesan khusus oleh Sofia pasalnya yang berisi tentang Dirga yang saat ini dipegang Agung juga seperti itu, ada nama Dirga disampulnya.
"Dan ini milik Dirga, silahkan kalian baca masing-masing, " ujar Agung yang juga memberikan buku tentang Dirga yang ia tau.
Mereka meminta Laura dan Dirga membacanya didalam hati. Buku ini fungsinya ya agar ketika mereka berdua lupa bisa membuka dan membaca kembali hingga hafal kebiasaan masing-masing.
Jadi diharapkan ketika mereka menikah nanti tidak terlalu terkejut lagi dengan kebiasaan satu sama lain, ingat ya tidak terlalu bukan berarti tidak akan terkejut, pasalnya dari masing-masing isi buku itu banyak juga yang tak dijabarkan disana dan itu sengaja Agung dan Sofia lakukan demi memberi kejutan manis di pernikahan sahabatnya nanti.
"Jadi kamu suka minuman cokelat ? " tanya Dirga pada Laura setelah ia menemukan ada point itu didalam catatan. Laura hanya mengangguk mengiyakan.
"Dan kamu alergi kacang-kacangan ? " ujar Dirga lagi.
"Ya, aku tidak bisa makan kacang-kacangan wajah dan tubuhku bisa timbul bentol-bentol merah seperti jerawat dan rasanya gatal, " jelas Laura.
"Dan kamu gak suka Durian ? " Laura balik bertanya.
"Iya, bukan gak suka rasanya ya cuman benci aja gitu sama Durian, dia yang sudah menjatuhiku hingga bikin kepala aku robek, " keluh Dirga.
"Hah pernah dijatuhi durian ? "
" Hmmm.... Itu dulu sekitar usia aku sepuluh tahunan kalau gak salah, saat itu aku lagi seru-serunya ikut main kekebun sama abah niatnya mau bantu munggut durian-durian yang baru jatuh dari pohonnya eh malah ketiban duriannya, "
Hahhahaha malah ketiga orang itu menertawakan Dirga, menurut mereka kisah Dirga yang dijatuhi buah durian itu lucu, tapi kasihan juga sih untung gak papa.
"Itu baru namanya ketiban durian runtuh, " ujar Agung, kembali mengundang gelak tawa.
__ADS_1
Sementara itu orang yang ditertawakan matanya mendelik tajam terutama pada sahabatnya Agung.
"Tapi kita sama kok, aku juga gak suka durian, " Laura menginterupsi hingga menghentikan tawa mereka.
"Kenapa ? jangan bilang ketiban durian juga, haha" kelakar Dirga dan refleks Agung mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Dirga.
"Ya enggak lah, aku tu gak suka aja sama baunya, teksturnya apalagi bikin eneg, pernah makan tapi kek ditolak gitu sama tenggorokan aku, akhirnya dimuntahin, " jelas Laura panjang lebar.
Mereka terus melanjutkan obrolan mereka tentang hobi dan hal yang tidak disukai oleh keduanya.
Hingga waktu menunjukan pukul setengah tujuh malam, mereka berempat memutuskan untuk meninggalkan cafe berpindah tempat ke mall yang letaknya tak jauh darisana, mereka beribadah terlebih dahulu di masjid mall baru nanti makan ditempat favorit Laura dimana lagi kalau bukan kedai ayam tepung.
Karena di cafe tadi mereka hanya minum dan ngemil, makan malam ya sekalian aja di mall.
Setelah selesai sholat keempat sahabat itu langsung menuju kedai ayam tepung yang mereka maksud.
"Kenapa sih kita musti makan di mall, toh dipinggir jalan kan bisa, " protes Laura. Bukan tak ada uang, tapi menurutnya ya kan tadi sudah di cafe, atau sekalian makan malam dicafe aja lagian mushola di cafe tadi juga ada, ini malah makan malam di mall, ngapain perihal makan doang kudu ngemall gaya banget.
Laura memang seperti itu ia makan mah dimana aja selagi halal dan enak tentunya. Makan di mall jangan ditanya, ya pernah lah tapi itu disaat ia lagi mencari barang atau nonton bioskop di mall,pokoknya karena ada hal dulu baru ia makan di mall bukan karena sengaja ngemall hanya demi makan.
"Oh, kirain makan doang, hehe" Laura hanya bisa nyengir karena ia salah mengira.
Sedangkan yang lainnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Laura.
Laura sangat senang kala di ajak nonton bersama-sama seperti ini apalagi bareng seseorang yang sudah mampu menggetarkan hatinya, ini kali pertama Laura pergi dengan orang special.
Film yang mereka pilih adalah film action meski Laura bukan pecinta film action, sebenarnya Laura penyuka drama romantis, tapi ia juga gak mau nonoton drama romantis di bioskop karena ia orangnya baperan, ia lebih memilih nonton film favoritnya dikamarnya sendiri tanpa ada yang tau, karena kalau sampai ada yang liat kelakuannya kala nonton film romantis dia bakal malu sekali.
"Kamu bawa ini, aku bawa ini, " ujar Dirga memberikan popcorn yang tadi dibelinya sekalian beli tiket, ke tangan Laura sedangkan dirinya membawa dua buah minuman.
Laura menyambut popcorn dan langsung mencobanya, " Enak, " katanya berkomentar.
__ADS_1
Mereka menunggu dulu sebentar baru bisa masuk ke dalam bioskop.
Sekitar sepuluh menit berlalu merekapun dipersilakan masuk.
Mereka duduk barisan tengah namun diujung tepat empat kursi samping dinding, dengan posisi duduk Dirga, Laura, Sofia dan Agung mentok dinding.
Laura, Dirga, Sofia dan Agung nampak larut dalam adegan tiap adegan yang dimainkan difilm tersebut.
Deg
Tiba-tiba jantung Laura berdetak dengan kencangnya layaknya selesai lari marathon, begitupula yang dirasakan Dirga.
Mereka sama-sama terdiam seolah waktu berhenti ditempat, mereka saling menatap dalam kegelapan.
"Maaf, " kata Dirga setelah ia menyadari kesalahannya.
"Maaf juga, " saut Laura, karena ia juga tak sengaja.
Keduanya tak sengaja berpegangan tangan saat ingin mengambil popcorn dari tempatnya, mereka hanya saling melempar senyum salah tingkah meski terlihat samar karena gelap, andai terang mungkin rona merah diwajah Laura tampak nyata.
Sedangkan si pasutri itu tidak peduli dengan dua orang disamping mereka, pasutri itu sibuk dengan dunianya sendiri menonton film sambil saling menyuapi popcorn, Sofia yang menyandarkan kepalanya dipundak Agung dan sesekali Agung mengusap perutSofia yang masih rata. Entah mereka larut dalam film atau tidak..
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih sudah membaca jangan lupa like dan komennya, kasih bintang 5 nya juga ya, dantentu saja klik tombol favoritnya biar gak ketinggalan setiap episodenya.