
Keesokan harinya...
Laura sudah berada didepan pintu ruang perawatan Sofia, ia yakin jika ia menjelaskan semuanya Sofia akan mengerti.
Toktoktok
Sebelum masuk tak lupa Laura mengetuk pintu terlebih dahulu bukan main nyelonong aja masuk tanpa permisi.
Ceklek
Pintu terbuka menampakan Agung yang berada dubalik pintu sedangkan Sofia berada diranjangnya, nampaknya mereka bersiap-siap ingin pulang setelah satu malam rawat inap.
Sofia sempat menatap Laura sekilas, setelah itu ia memandang kearah lain, Laura pun sadar jika sahabatnya itu masih marah kepadanya.
Agung yang mengerti jika istri dan sahabatnya ini sedang ada masalah dan untuk menyelesaikannya mereka perlu bicara berdua saja, maka dari itu Agung pamit dengan alasan menemui dokter.
"Sofia kamu salah faham, apa yang kamu lihat dan kamu baca itu semua benar, tapi itu sudah bertahun-tahun berlalu, dan sekarang aku enggak punya perasaan lagi kepada Agung, " Laura langsung saja menjelaskan maksud kedatangannya, ia tak ingin berbelit-belit lagi.
"Bahkan rasaku sudah kukubur dalam-dalam sejak kalian mengumumkan telah resmi berpacaran, lagian aku hanya sekedar suka, mengagumi Agung aja dulu itu, belum sampai ke tahap jatuh cinta jadi mudah untukku melupakan perasaanku padanya, " meskipun tak ada respon dari Sofia, Laura terus bercerita seraya berharap ceritanya akan membuat Sofia mengerti, jika ia memang tak berniat merebut Agung dari Sofia.
"Sofia pliss maafin aku ya, aku kesepian karena gak ada kamu, kamu tenang aja gak ada yang bakal ambil suami kamu apalagi aku, gak deh gak ada niat sama sekali jadi pelakor, jangan cemburu kepadaku karena juga pasti Agung sangat mencintai kamu, jadi kamu harus percaya sama aku dan percaya juga sama suami kamu kalau dia gak akan macam-macam," Laura duduk dikursi samping ranjang Sofia, beruntung keadaan tak seperti kemarin sepertinya Sofia mulai menerimanya pasalnya Sofia yak menjauh ataupun menarik tangannya saat Laura menggenggam tangan sahabatnya itu.
Pokoknya apapun akan ia lakukan agar supaya sahabatnya itu balik lagi seperti semula, gak salah faham lagi dan mau memaafkannya.
__ADS_1
"Maafin aku juga, aku bukan marah sama kamu hanya kaget aja dan lebih kek merasa bersalah karena secara tidak langsung akulah orang yang sudah menghancurkan impian kamu, impian sahabatku yang ingin menikah muda, andai aku tau sejak dulu aku gak akan ... " ucapan Sofia teepotong begitu saja oleh telunjuk Laura yang menempel dibibir tipis Sofia.
"Ssssttttt.... gak ada yang salah disini baik aku maupun kamu, karena cinta itu fitrahnya manusia jadi kita tidak bisa mencegah pada siapa ia ingin berlabuh, tetapi kita bisa menahan diri untuk tidak memaksakan perasaan cinta yang kita miliki agar terbalaskan oleh orang yang kita cintai, jangan malah menuruti obsesi untuk bisa memiliki orang yang kita cintai, karena dengan merelakan berarti kita menghargai cinta itu sendiri,"
"Lagi pula jika hari ini kamu bersama Agung itu berarti kalian berjodoh, seandainya pun dulu kamu yang mundur dan membiarkan perasaanku terus tumbuh terhadap Agung, mungkin kita tidak akan sejalan pasti akan banyak hal yang membuat aku dan Agung tidak cocok dan akhirnya berpisah, karena sejatinya jodoh tidak akan pernah tertukar, "
Benar apa yang Laura katakan, mau sekeras apapun kita berusaha untuk memiliki dia yang kita cintai untuk mencintai kita pula, jika bukan jodoh kita tidak akan bisa bersamanya.
"Jadi kamu jangan merasa bersalah terhadap masalalu kita, selain bukan jodoh waktunya juga berarti belum tepat, makanya Allah belum mengirimkan dia jodohku, Allah masih ingin aku menikmati kesendirianku,masih bisa bebas kesana kesini, tidur masih bisa bangun siang, kamu gak marah lagi kan sama aku ? "
Sofia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang Laura lontarkan diakhir kalimatnya. Kedua sahabat itu saling tersenyum lalu berpelukan saling meluapakan kerinduan.
Lebay sih emang baru juga sehari berantem sudah rindu berat, ah dasar author.
"Hei nyonya sadarkah anda bahwa andalah yang memulai semua drama ini, " Laura mengingatkan Sofia jika ini semua terjadi karena ulahnya yang lari begitu saja dari rumah Laura, bukannya bertanya terlebih dahulu.
Kembali tawa bahagia menyelimuti kedua sahabat itu.
Ceklek
Keduanya menoleh kearah pintu setelah mendengar suara pintu yang dibuka menampakan Agung dengan senyum bahagianyakala melihat sang istri sudah berbaikan dengan sahabatnya.
"Nah gitu dong kan enak dilihatnya, adem gak menegangkan kek kemarin, " Agung masuk dengan membawa serta seorang temannya yang tak lain adalah Dirga.
__ADS_1
"Iya sekarang sudah baikan dan aku jamin gak akan ada salah faham lagi diantara kita berdua iyakan Ra ? "
"Iya Sof, tapi ingat bukan cuman sama aku saja, sama siapapun itu ketika ada sesuatu yang kamu rasa gak nyaman atau janggal atau kamu menemukan hal-hal yang aneh dan itu menyangkut diri kamu atau pun hubungan kalian sebaiknya bicarakan jangan malah lari dari masalah dan mendam sendirian, itu sangat tidak baik, ok "
"Iya iya ok aku ngerti kok, "
Mereka berempat terus mengobrol, Sofia dan Agung tak lupa memberikan kabar bahagia mereka tentang Sofia yang ternyata tengah berbadan dua, hal itu disambut suka cita oleh keempat orang itu, dan nanti malam pasangan suami istri itu mengundang Laura dan Dirga untuk makan malam dirumah orang tua Dirga syukuran kehamilan Sofia.
Saking asyiknya ngerumpi mereka sampai lupa jika seharusnya mereka sudah keluar dari rumah sakit, akhirnya keempat orang itupun meninggalkan kerumah sakit, Laura dan Dirga mengantarkan Sofia dan Agung terlebih dahulu baru ia mengantar Laura pulang.
Kamu harap kamu menemukan yang terbaik dan jauh lebih baik dari Agung, Amiin -- Batin Sofia.
Semoga Laura bisa mengobati luka hati lo dan semoga kalian berjodoh, Amiin -- Batin Agung.
Kini didalam mobil hanya menyisakan Laura dan Dirga entah kenapa mereka menampakkan kecanggungan, tak banyak kata yang keluar dari keduanya mereka hanya menjawab seperlunya jika salah satu dari mereka mengajukan pertanyaan.
Tak seperti biasanya Laura dan Dirga seperti dua orang yang baru pertama kali bertemu, terkadang mereka bicaranya pun barengan lalu dorong-dorongan siapa yang harus bicara lebih dulu.
Dirga ikut bahagia melihat Laura sudah bisa tersenyum lebar dan banyak bicara seperti Laura yang biasanya.
Tak terasa mobil yang dikendarai Dirga sudah sampai. "Entar malam aku jemput ya, " ujar Dirga sebelum ia berlalu pergi, sedangkan Laura hanya tersenyum seraya mengangguk.
Sepeninggal Dirga, Laura langsung balik kanan dan masuk kedalam rumah jangan lupakan wajah bahagianya yang sudah tiada terkira sambil menyandarkan belakangnya pada pintu.
__ADS_1