Reoni Pembawa Jodoh

Reoni Pembawa Jodoh
Pengalaman Pertama


__ADS_3

Selesai makan malam mereka tak langsung balik ke kamar, tetapi menikmati sejenak suasana romantis dari atas sambil memandang laut. Pasangan pengantin baru itu mengabadikan momen-momen indah mereka sebagai kenangan ataupun akan mereka perlihatkan pada anak keturunan mereka nanti.


"Mas sejak kapan menyiapkan semuanya? " tanya Laura yang memiliki kekepoan tingkat tinggi.


"Mmm sejak kapan ya? " Dirga seolah-olah sedang berfikir.


"Ih mas aku serius, " rengek Laura.


"Udah gak usah difikirin, sudah malam kita balik kekamar aja ya, " ujar Dirga mengalihkan pembicaraan karena menurutnya itu tidak penting untuk diceritakan.


Wajah Laura tiba-tiba bersemu merah, mengingat malam ini mungkin saja Dirga meminta hak nya sebagai suami, beruntung suaminya itu sedang menatap kedepan jadi tidak bisa melihat wajah meronanya yang berada disamping Dirga.


Akhirnya keduanya meninggalkan tempat makan malam romantis mereka dan membiarkan para pelayan hotel membersihkannya. Tak lupa buket bunga yang tadi diberikan Dirga bertengger indah ditangan Laura.

__ADS_1


Sepanjang jalan menuju kamar mereka lalui dengan perasaan berbeda meski keduanya sama-sama memasang wajah ceria namun jauh dilubuk hati terdalamnya Laura merasa deg-degan nervuos, takut akan kewajibannya yang memang sudah seharusnya ia lakukan.


(namanya juga kewajiban ya harus dilakukan.) Author


Ting, pintu lift terbuka tanda mereka sudah tiba dilantai yang dimana salah satu kamar yang ada disana adalah kamar mereka. Langkah keduanya semakin mendekati kamar pengantin mereka hingga tiba didepan pintu kamar Laura baru tersadar dari fikirannya yang sudah berkelana kemana-mana.


Ceklek


Pintu dibuka oleh Dirga, namun ia tak langsung menyalakan lampunya, ia mempersilahkan istri cantiknya itu masuk terlebih dahulu baru ia menyusul belakangan, namun Dirga tak juga menyalakan lampu malah meminta istrinya yang menyalakan, Laura berdecak kesal dengan tingkah suaminya itu, padahal yang berada didekat saklar lampu itu Dirga dan kunci kamar pun masih ditangan Dirga.


Namun betapa terkejutnya Laura kala lampu telah dinyalakan, ternyata kamar yang tadinya biasa aja kini berubah menjadi kamar pengantin sungguhan, bahkan jauh lebih bagus daripada hiasan yang ada dikamar rumah Laura.


Bunga mawar bertebaran dimana-mana, terutama ditengah kasur berbentuk love besar, didinding bagian sandaran ranjang mereka bertuliskan happy honeymoon, tak lupa lilin aroma yang menenangkan menambah romantis suasana kamar ini, kembali Laura dibuat speacles oleh suaminya, ia tak menyangka suaminya mempersiapkan segalanya serinci ini, rasa takut akan pengalaman pertama yang sejak tadi membayanginya coba ia lawan agar suaminya mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang sudah ia persiapkan bersusah payah.

__ADS_1


Beruntung Dirga tak hilang akalnya, ia langsung mengajak istrinya untuk berwudhu dan melaksanakan sholat sunah terlebih dahulu, Laura pun menyetujuinya. Setelah selesai dengan sholat keduanya Dirga bertanya pada istrinya tentang kesiapan Laura memenuhi haknya sebagai suami.


"Sayang apa kamu siap memberikan aku hak ku sebagai seorang suami? " tanya Dirga, ia tak ingin memaksa istrinya jika Laura berkata tidak pun ia akan bersabar menanti hingga istrinya itu siap menjadi istri seutuhnya.


Jantung keduanya berdetak makin cepat lagi bahkan deru nafas merekapun tak beraturan menandakan betapa gugupnya mereka saat ini.


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Laura membuat Dirga cemas dan pasrah jika ia harus bersabar lagi. Namun ternyata Laura menganggukan kepalanya, karena malu maka ia tak berani mengeluarkan suaranya.


Wajah Dirga seketika berubah sumringah, berseri-seri ternyata tak salah ia menikahi istrinya yang sholeha ini, keduanya pun akhirnya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan sebagai pasangan suami istri, ini pengalaman pertama bagi keduanya dan nampak masih malu-malu melaksanakan tugas masing-masing.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2