
Pagi ini Laura terbangun dengan perasaan lega, karena mereka tak lagi salah faham padanya, tidak lagi menyalahkannya atas kejadian sewaktu SMA dulu.
Hari ini mereka akan mengungjungi perkebunan teh, yang katanya perkebunan ini yang terbaik di sini sejak setahun terakhir.
Mereka juga memproduksi sendiri pucuk teh yang baru di petik itu. Mereka menjual teh kemasan umyang siap minum dengan berbagai macam ukuran, mulai yang cup hingga botolan. Mereka juga menyediakan teh bubuk kemasan.
Jadi intinya semua hasil kebun diolah sendiri dari perusahaan ini bukan menjual barang mentah ke pabrik lain, lalu di jadikan minuman.
****
Sesampainya diperkebunan teh nan hijau mereka pada sibuk berfoto ria.
"Lidya fotoin dong, " pinta Laura pada temannya itu.
Lidya pun langsung mengarahkan kamera hp nya pada Laura yang sedang berpose bak model. Mereka berfoto bergantian kadang juga selfi berdua.
Sedangkan Sogia jangan tanya lagi, sudah pacaran tu sama lakinya.
"Berasa lagi study tour, " ujar Laura.
Iya terus aja menyisiri kebun teh itu mencari dimana lagi tempat yang pas untuk dijadikan latar foto biar instragamable.
Setetlah beberapa saat berjalan Laura akhirnya menemukan tempat yang menurutnya bagus, tempatnya agak naik sedikit dari tempatnya berdiri saat ini dan dari sana bisa terlihat semua perkebunan teh ini membentang luas.
Laura mulai berfoto sendiri bak model, sedangkan Lidya berperan sebagai fotografer.
Namun tiba-tiba saja keseimbangannya goyah, Lauraterpeleset.
Bruukkk
__ADS_1
"Aauuhh, " Laura meringis kesakitan.
"Lauraa, aduh lo gak papa kan? " tanya Lidya.
"Gak papa darimana liat nih kaki gue keseleo, " ujar Laura ngomel sendiri.
"Sini gue bantuin, " ujar Lidya, kemudian ia membantu Laura berdiri.
"Auhhh, " keknya kaki gue terkilir nih.
"Lah terus lo gak bisa jalan gitu? " tanya Lidya lagi.
"Gak tau, tapi keknya iya, " ujar Laura yang masih saja meringis.
Karena fokus nyari view yang bagus jadinya Laura dan Lidya jalan cukup jauh dari teman-temannya yang lain.
Kedua gadis itu hanya diam tak berani meminta tolong karena takuta akan orang jahat.
"Oh maaf, saya Dirga salah satu karyawan dari perkebunan ini, " ucapnya lelaki itu memperkenalkan diri.
"Apa kalian salah satu rombongan dari sekolah yang reoni disini? " tanyanya lagi.
"Iya pak, kok bapak tau? " Lidya yang menjawab. Sedangkan Laura kini tengah menikmati pemandangan indah didepan matanya. Maklum kelamaan jomblo jadinya mupeng gitu kalo liat cowok ganteng.Terpesona dia sama si Dirga pada pandangan pertama.
Jadi pengen nyanyi dah, terpesona ku pada pandangan pertama.... 🤣🤣 maaf iklan.
"Ayo saya bantu, " ujar Dirga, lah si Laura manggut-manggut aja. Pokoknya Laura sudah jatuh pada pesonanya si Dirga.
"Maaf ya, " Dirga merasa sungkan harus menggendong gadis berkerudung ini karena fikir Dirga pasti ni cewek gak mau bersentuhan dengan lelaki.
__ADS_1
"Iya gak papa, " tapi si Laura bukanlah gadis jebolan pesantren yang agamis banget yang tak bersentuhan dengan lawan jenisnya. Tapi ia hanya manusia biasa yang sedang belajar menjadi lebih baik.
Dirga menggendong Laura di belakang biar lebih enteng karena perjalanan lumayan jauh.
Lidya merasa di abaikan oleh si Laura dan Dirga pasalnya mereka sibuk gendong-gendongan sedangkan Lidya mengekor dibelakang.
Hening
Tak ada percakapan lagi diantara mereka, yang ada hanya senyum Laura yang tak pernah pudar, tapi sayang Dirga tak bisa melihat senyuman itu.
Sementara itu di tempat lain, Sofia, Agung beserta teman-teman lainnya baru saja kembli ke titik awal tempat mereka berpisah tadi, karena jadwal mereka selanjutnya adalah makan siang, baru ke kebun stroberi dan terakhir makan malam bersama lalu kembali pulang.
"Ren kamu liat Laura gak..? soalnya dari tadi gak keliatan, " tanya Sofia pada sahabatnya kala SMA dulu.
"Tadi sempat papasan aja di jalan, gak tau lagi kemana habis itu, " jelas Reno.
"Kemana sih tu anak, " gumam Sofia seraya celingukan mencari keberadaan sahabatnya.
.
.
.
.
.
Maaf ya segini dulu, nyempatin up hari ini, alhamdulillah bisa up hari ini... Makasih sudah mampir 🤗
__ADS_1