
Laura kembali dari kamar mandi dengan wajah basah, sekalian tadi ia mencuci muka agar lebih segar.
"Loh, kemana Sofia, " gumam Laura.
"Mungkin ia kedapur," lanjutnya lagi.
Laura pun mengganti bajunya yang memang belum ia ganti sejak bangun tidur, alias ia belum mandi.
Laura turun kebawah, namun tak menemukan Sofia, hanya ada sang mama diruang tengah.
"Mah Sofia mana? "
"Sudah pulang, katanya tadi ada keperluan mendadak, "
Laura pun kembali kekamarnya, untuk beristirahat.
Laura membaringkan tubuhnya dikasur berseprei pink muda tersebut, fikirannya jauh menerawang mengingat kejadian kemarin yang membuatnya jadi begini.
Bukan sebab kehujanan saat pulang bekerja, melainkan memang sengaja main hujan-hujanan bersama Dirga sepulang bekerja.
Dirga dan Laura memang mulai lebih dekat akhir-akhir ini, dan intens bertemu sejak pulang dari liburan kemarin.
Laura tak bisa pingkiri, jika kini perasaannya mulai luluh benteng yang ia bangun mulai goyah diguncang badai asmara yang dilancarkan Dirga.
Satu kelemahan Laura, mungkin bukan hanya terjadi pada Laura, tetapi pada wanita lain diluaran sana juga, jika lelaki terus menerus memberikan perhatian maka ia akan luluh juga entah cepat ataupun lambat, maka dari kitu kita perlu mengontrol diri sebisa mungkin menanamkan jika tidak semua perhatian lelaki itu mengartikan jika ia punya perasaan terhadap kita, mungkin saja ia hanya care sebagai seorang teman yang asyik diajak sharing, ataupun hanya menganggap kita saudaranya. So, jika tidak ingin sakit sendiri jangan buru-buru mengambil kesimpulan dan akhirnya baper.
Dan kali ini sepertinya Laura melakukan hal yang sama lagi terhadap hatinya, semoga saja endingnya tidak seperti yang sudah-sudah.
*****
Ternyata hari ini hujan kembali turun, belum puas rupanya kemarin langit meluapkan kesedihannya. Sama seperti halnya wanita yang saat ini tengah menumpahkan airmatanya dibawah guyuran hujan, wanita itu menyembunyikan tangisnya dibalik tangisan awan.
Entah apa yang ia tangisi, rasa bersalahkah atau kecewa pada sahabatnya.
__ADS_1
Sofia saat ini duduk dibangku taman dengan baju yang sudah basah kuyup, perasaannya saat ini terasa sangat sakit bagai ditusuk sembilu bahkan lebih perih lagi dari itu.
"Kenapa kamu membohongiku, "
Air matanya terus mengir, tak ia sangka ternyata selama ini Laura menyimpan sebuah rahasia besar darinya.
"Seandainya kamu katakan sejak awal maka aku rela melepasnya, "
Sofia terus saja bermonolog sendiri, ia merasa tak berguna sebagai seorang sahabat karena Laura tak pernah mau terbuka padanya, bahkan ternyata mereka menyukai lelaki yang sama.
Kecewa pada dirinya sendiri, menyayangkan ketidak jujuran Laura dan rasa cemburu melebur jadi satu.
Hari ini dikamar Laura tanpa sengaja ia menemukan foto bersama saat pertama kali mereka masuk bekerja diperusahaan Agung, dan ternyata dibalik foto itu ada curahan hati Laura yang mengatakan jika ia menyukai Agung namun ternyata orang yang Laura sukai memilih menjatuhkan hatinya pada Sofia, sahabatnya sendiri.
Sofia merasa bersalah telah membuat Laura sakit hati dan hal itu Laura pendam sendiri, Sofia tak bisa membayangkan betapa sakitnya Laura kala mereka sering jalan bertiga. Tawa Laura selama ini hanya sebagai tameng untuk menunjukan jika hatinya baik-baik saja, namun nyatanya hancur berkeping. Andai Sofia tau sejak awal maka ia memilih untuk mundur, ia rela kehilangan cintanya demi kebahagiaan sahabatnya, namun untuk saat ini Sofia tak bisa membantu Laura lagi dengan melepaskan Agung karena ia amat sangat mencintai suaminya, sekalipun ia menyakiti sahabatnya ia tak peduli, baginya kini suaminya adalah segalanya.
Brukk
Tiba-tiba Sofia tumbang dan hal itu menyita perhatian beberapa orang yang tengah melewati taman ini untuk mencari tempat berteduh.
Sofia menatap sekelilingnya yang tak ada siapapun disana, hanya ia seorang diri.
"Sayang kamu sudah bangun? " ternyata Agung ada dikamar mandi sejak tadi
"Kamu haus, laper atau apa yang kamu rasain, sakitnya dibagian mana, mualkah? " Sofia tersenyum mendengar pertanyaan beruntun dari suaminya.
"Gak papa kok, mungkin aku hanya kelelahan, " Sofia menggenggam erat tangan Agung.
Agung merasa lain pada istrinya, dari tatapannya dan eratnya genggaman tangan Sofia membuatnya merasa jika Sofia tengah merasakan ketakutan.
"Sayang kamu jangan lagi ya lakuin hal seperti tadi, hujan-hujanan nanti kamu sakit dan aku akan sedih," Agung mengusap kepala istrinya dengan sayang.
" Kalau kamu punya masalah berbagilah dengaku, aku ini suami kamu tempat kamu mencurahkan segala perasaan kamu, baik senang maupun sedih, jangan kamu pendam sendiri oke, tapi aku gak maksa kamu cerita sekarang kok, kalau kamu sudah siap maka ceritakanlah, sekarang istirahat saja dulu, " Sofia hanya mengangguk sebagai tanda ia mengerti perkataan suaminya.
__ADS_1
Sementara itu, Laura bergegas kerumah sakit setelah mendapat kabar dari Agung jika Sofia tengah dirawat, meski ia pun belum sehat betul namun rasa sayangnya pasa Sofia melebihi rasa sayangnya pada dirinya sendiri.
Ceklek
Pintu ruang rawat Sofia terbuka setelah ia dan Agung mempersilahkan orang yang tadi mengetuk pintu agar masuk kedalam.
Laura yang datang membawakan buah-buahan untuk sahabatnya itu malah diberi pemandangan tak mengenakan. Bagaimana tidak mereka yang tadi siang baik-baik saja, kini Sofia malah memberikan punggungnya pada Laura. Tak ada kehangatan seperti biasanya kala mereka berjumpa, yang ada hanya hening dan canggung.
Laura terkejut sekaligus bingung dengan sikap Sofia, ini kali pertama Sofia memalingkan tubuhnya dari sahabat karibnya itu.
"Terimakasih sudah datang menjenguk, maaf merepotkan padahal kamu juga tengah sakit," ujar Agung tersenyum pada Laura, ia menyambut tamumya dengan baik meski ia tak kalah bingung dengan Laura saat melihat tingkah istrinya.
"Aku ngantuk Yang, " Sofia menginterupsi obrolan Laura dengan Agung.
Agung mengernyit heran dengan sikap istrinya yang dingin terhadap Laura padahal setahunya selama ini mereka sangat dekat bahkan sudah seperti saudara kembar yang kemana-mana selalu bersama.
"Sofia bagaimana.... "
"Aku bilang aku mengantuk ingin istirahat, " bentak Sofia, bahkan ia menyela ucapan Laura yang belum selesai sepenuhnya.
Mendengar Sofia membentaknya Laura terlonjak kaget, ia bertanya-tanya dalam benaknya apa yang sebenarnya terjadi pada Sofia, namun saatnya belum tepat untuk menanyakan masalah yang dialami Sofia.
Laura yakin jika ini mungkin berkaitan dengan dirinya, namun ia tak tau salah apa sebenarnya ia pada Sofia sekalipun mengingat perkataannya siang tadi, tak ada rasanya dari perkataannya menyakiti hati Sofia.
Laura termenung memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, ini kali pertama mereka bertengkar, karena selama ini hubungan mereka baik-baik aja.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir 🤗