Reoni Pembawa Jodoh

Reoni Pembawa Jodoh
Jawaban Laura


__ADS_3

Bukan tak ingin menjawab tetapi Laura kembali teringat akan kenangannya dimasa lalu, jika selama ini para lelaki berteman dekat dengannya hanya karena ada maunya dan mereka hanya menganggap Laura sebagai teman atau adik tidak lebih dari itu.


Kini tiba-tiba ada lelaki yang dekat dengannya dan mengaku telah menyukainya, Laura meragukannya.


"Mmm......Maaf bukan aku menolak mas Dirga, hanya saja aku butuh waktu untuk menjawabnya, " ujar Laura jujur.


"Iya itu tadi waktu sebulan papa kasih, jika kalian nantinya benar-benar jatuh cinta dalam rentang waktu sebulan atau kurang datanglah lagi dan bawalah orang tuamu sekalian Dirga biar kita para orang tua yang mengurus pernikahan kalian, jodoh gak akan kemana," sepertinya pak Wahyu yakin banget jika diantara keduanya akan tumbuh perasaan cinta bukan hanya sekedar suka dalam kurun waktu sebulan.


Keduanya mengangguk faham, setelah itu mereka kembali melanjutkan obrolan ringan, tak lama setelah itu Dirga pamit undur diri, bahkan ia lupa dengan hal penting yang ingin ia bicarakan dengan Laura dan Laura pun tak ingin mengingatkan Dirga biarlah nanti saja fikirnya, karena mungkin waktunya tidak tepat, lagian masih ada hari esok.


Sejak makan malam itu Dirga mencoba untuk mendekati Laura dia ingin tau apakah hatinya benar-benar mencintai Laura atau tidak.


Sedangkan Laura ia biasa aja, karena rasa takutnya itu membuatnya membiarkan Dirga yang berjuang untuk mendapatkannya.


"Laura, aku lupa dengan hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu kemarin, " ujar Dirga, mereka sedang duduk dikursi taman beristirahat setelah lari pagi tadi.


" Ah ia sudah beberapa hari berlalu ya, akupun sudah lupa, memangnya kenapa? " tanya Laura penasaran.


"Orang tuaku lusa mau ke Jakarta, katanya mau nengokin aku, "


"Iya bagus dong, terus ? "


Dirga menghela nafas, "Orang tuaku ingin bertemu calon menantunya, tetapi yang ia tau selama ini kekasihku adalah Juli, "


"Jadi maksudnya kemarin tu aku mau minta bantuan kamu bertemu orang tuaku, eh malah papamu menodong kita dengan pernikahan, buyar deh semuanya aku jadi lupa sama niat awal aku datang, " ujar Dirga tersenyum.


Hening....


"Emmmm maaf mas Dirga aku mau bertanya boleh ? "


"Kalo aku bilang gak boleh ? "


"Ya aku gak jadi nanya, "


Mereka berdua terkekeh.


"Mau nanya apa? "

__ADS_1


"Omongan mas yang kemarin itu beneran? " Laura menanyakan perihal pengakuan Dirga dihadapan orang tuanya jika ia menyukai Laura.


"Omongan yang mana ya? " Dirga seolah berfikir, pura-pura tidak mengerti.


"Mass.. " Laura sedikit geram melihat tingkah Dirga.


Hahahaha..... Dirga kembali tertawa, ia hobi sekali menjahili Laura.


"Iya, aku berkata sesuai apa yang aku rasakan, aku memang menyukaimu, tetapi aku takut kau hanya sebagai pelarian semata, kamu tau kisahku kan ? tetapi aku belajar mencintaimu, " sekali lagi Dirga mengatakan kejujurannya pada Laura.


"Jika begitu, maka aku juga akan belajar mencintaimu, " ujar Laura yang malu-malu mengakuinya.


"Apa ini jawabannya? " bibir Dirga terangkat membentuk lengkungan dan menampakan gigi putihnya.


"Ya, kita jalani waktu satu bulan kedepan untuk memupuk rasa ini, "


Keduanya akhirnya memutuskan untuk memberi kesempatan pada hati mereka untuk merasakan cinta, entah cinta yang baru bertunas itu akan semakin besar atau malah mati perlahan.


*****


"Sayang ngapain? " tanya Agung melihat istrinya sibuk didapur.


"Kenapa gak bilang kalau mau rujak, kan aku bisa beliin biar gak susah kamunya, jadi tinggal hap aja, " Agung merasa tak enak hati pada istrinya itu karena biasanya wanita hamil menyusahkan suaminya tapi berbeda dengan Sofia ia malah mandiri.


Ya benar Sofia kini tengah mengandung, bahkan penyebab pingsannya kemarin pun karena kehamilannya ini, Laura dan Dirga juga sudah mengetahui hal ini kala dirumah sakit.


"Gak papa aku bisa kok bikin sendiri, nanti kamu temenin aku makan aja ya, " ujar Sofia tersenyum lebar.


Tepat disaat rujak buatan Sofia jadi terdengar suara ketukan pintu.


Tok tok tok


"Siapa ya ? " tanya Agung pada Sofia dengan wajah bertanya-tanya.


"Liat aja deh Yang siapa tau itu Laura, " tebak. Sofia, Agung pun segera membukakan pintu untuk tamunya yang tak diundang itu.


Dan benar saja orang itu adalah Laura namun ia tak sendiri ada Dirga disampingnya.

__ADS_1


Agung langsung mengajak keduanya masuk kedalam, ia yakin pasti istrinya senang karena kedatangan sahabatnya.


"Hai bumil, " sapa Laura tersenyum bahagia.


"Hai beb, astaga tebakanku benar jika yang datang itu kamu, kebetulan aku habis bikin rujak kita makan bersama yuk, " ajak Sofia pada Laura, tanpa menghiraukan suaminya dan Dirga. Kedua perempuan itu berjalan menuju teras belakang, karena disinilah tempat favorit Sofia.


Setelah beberapa saat.....


"Eh tumben barengan, sudah cinta ya? " sontak saja pertanyaan Laura itu mereka anggap lelucon, ada-ada saja memang Sofia ini.


Sambil ngerujak mereka ngobrol, semua yang terjadi ketika makan malam itu mereka ceritakan, tentu saja Sofia dan Agung berada dipihak pak Wahyu karena sejak awal suami istri tersebut sudah menjodohkan keduanya namun gagal.


Nyatanya pak Wahyu lah yang mampu membuat mereka belajar membuka hati dan mencintai. Dukungan penuh diberikan Agung dan Sofia kala mereka tau kabar bahagia itu.


"Maka dari itu aku kesini karena ingin meminta bantuan kalian, " ujar Laura, menatap sepasang suami istri itu bergantian.


"Bantuan apa nih? " tanya Sofia.


"Kalian sebagai perantara kami berdua selama masa perkenalan satu bulan kedepan, " pinta Laura.


Memang Laura dulu ingin sekali memiliki seorang kekasih, pengen merasakan yang namanya pacaran itu bagaimana tapi belum juga kesampaian hingga ia terbiasa sendiri dan memutuskan untuk pacaran setelah menikah nanti, sebelum menikah maka ia ingin hanya perkenalan saja tanpa pacaran lalu menikah jika memang sudah klop.


Dan sekarang Laura melakukan sesuai apa yang ia inginkan dulu. Laura bersyukur pada tuhan mungkin ia tidak diberi kesempatan pacaran itu karena Allah sayang sama dia, itulah cara Allah menjaga Laura agar tidak terjerumus kelembah hitam yang dinamakan pacaran.


Sofia dan Agung menyetujui permintaan Laura dan Dirga, mereka akan ikut andil dalam hubungan sahabat mereka sebagai perantara, menurut Laura dengan begitu akan lebih mudah untuk saling mengenal satu sama lain karena pasti yang namanya sahabat tau banget baik buruknya sahabatnya.


Selain itu juga Laura tak ingin menodai hubungannya menuju halal dengan jalan pacaran. Agung dan Sofia tentu saja mengerti maksud Laura dan mendukung penuh keinginan Laura.


Kalau dari sisi Dirga ia sudah tak mau pacaran akibat pengkhianatan yang dilakukan Juli kemarin, menurutnya mungkin itu teguran dari Allah agar ia menjauhi hal yang bernama pacaran dan ia berkeinginan sama seperti Laura jika sudah ketemu yang pas langsung aja boyong ke KUA.


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir, semoga suka 🤗


__ADS_2