Reoni Pembawa Jodoh

Reoni Pembawa Jodoh
Laura Sakit


__ADS_3

Assalamualaikum wr wb.


Sebumnya author mau minta maaf kare a lamaaaaaaaaa banget gak update, bukan gak mau nulis ataupun gak niat bikin cerita ini, hanya saja seminggu kemarin aku healing 🀭 menikmati alam, merefresh otak dan gak mau berfikir dulu, nanti aja pas pulang, dan ketika liburan signyal gak ada jadi gak bisa buka aplikasi.


Eh pas sudajh pulang malah bawaannya ingin tiduuurr terus, walhasil nulis ini beberapa hari baru kelarπŸ™ˆ.


Semoga masih ada yang nungguin kelanjutannya ya, silahkan membaca selamat menikmati.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Hachuuu


Hachuuu


Laura menggosok hidungnya yang terasa gatal, mampet juga memerah. Sejak semalam ia sudah meriang, mungkin akibat hujan-hujanan saat pulang bekerja kemarin.


Hari ini ia izin tak masuk kerja karena sakit.


Tok tok tok


Pintu kamar Laura diketuk.


"Masuk" saut Laura dari dalam, masih menggulung dengan selimut tebalnya.


"Makan dulu, ini mama buatkan sup ayam kesukaan kamu, " bu Ambar membawa nampan yang berisikan semangkuk sup dengan nasi hangat dan segelas air putih.


Laura mencoba bangkit dibantu bu Ambar untuk menyandarkan dirinya pada headboard lalu bu Ambar membantu Laura menyuapkan makanan kemulutnya.


Tok tok tok


Saat Laura sedang makan, terdengar lagi suara pintu kamarnya diketuk.


"Masuk saja tidak dikunci, " bukan Laura yang menyaut melainkan bu Ambar.


"Eh Sofia, " ucap bu Ambar setelah melihat siapa yang datang.


Mereka bertiga pun berbicang-bincang mengenai banyak hal mulai dari sakitnya Laura hingga merembet kemana-mana. Dasar wanita tidak bisa bertemu yang satu spesies langsung mulutnya bergerak tak mau berhenti bicara.


Laura dan Sofia memang sangat dekat bak saudara padahal yang berteman dengan Laura sewaktu kecil adalah Heny, namun semua berubah setelah kesalahfahaman yang entah siapa yang membuatnya.

__ADS_1


Sejak kejadian terkurungnya Henny digudang itu ia membenci Laura, meski kesalahfahaman itu sudah diluruskan, entahlah apa sebabnya Heny tak kunjung memaafkan Laura.


Bu Ambar sudah keluar dari kamar putrinya sejak beberapa menit yang lalu kini hanya tinggal dua sahabat itu, mengenang kisah masalalu mereka.


"Kita sudah sahabatan kan sudah lama, tapi satu hal yang tak pernah kamu ceritakan ke aku hingga saat ini, " ujar Sofia.


"Apa? " alis Laura berkerut memikirkan.


"Soal asmara," nampak Sofia sangat ingin tau perihal seseorang yang disembunyikan Laura selama ini.


" Gak ada yang menarik dari kisah asmaraku Sofia, jomblo ini mana ada kisah asmaranya, kamu ini ada-ada aja, " Laura tergelak dengan kekepoan sahabatnya itu.


Memang selama ini Laura tak pernah terbuka soal asmara pada siapapun sekalipun Sofia itu sahabatnya. Ia paling hanya mengisahkan bahwa dirinya pun memiliki lelaki pujaan, jomblo bukan berarti ia tak normal, ia juga manusia yang punya perasaan dan hati.


"Plisslah kali ini aja kamu cerita siapa orang yang kamu cinta, siapa tau aku bisa bantu, " Sofia berharap kali ini Laura akan terbuka kepadanya, pasalnya kini ia sudah menikah takkan ada lagi yang bisa menemani Laura kemanapun ia pergi dan kapanpun ia perlukan.


"Aku hanya tidak ingin kamu kesepian kalau aku sibuk dengan keluargaku nanti, " lanjut Sofia.


"Tenanglah kan ada Lidya, lagian kita masih bisa bertemukan meski tak setiap hari, " Laura tersenyum ingin menunjukan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Lagian untuk saat ini belum ada lagi orang yang mampu menggoyahkan hatiku, mungkin memang belum saatnya, jika sudah masanya maka ia pasti akan datang dengan sendirinya, "


Maafkan aku telah berbohong, bukan tak ada yang menggoyahkan, hanya saja aku tak ingin kamu tau seberapa seringnya aku terluka karena cinta sendiri, batin Laura.


"Tak berguna apanya, orang kamu itu sering banget aku repotkan, inilah itulah, "


"Yasudah kamu istirahat ya biar cepat sembuh, "


"Iya tapi aku mau ketoilet dulu, " kata Laura.


"Oh iya mau aku bantu? " tawar Sofia.


"Gak usah aku kuat kok jalannya, ngoceh aja kuat masa jalan gak bisa, " Laura terkekeh akan kata-katanya sendiri, begitupula Sofia yang merasa lucu.


Namun entah kenapa Sofia mendadak kepo dengan meja belajar yang kini sudah menjadi meja kerja Laura. Sofia berjalan mendekati meja kerja itu, entah mengapa ia sangat tertarik dengan sebuah buku tebal yang tak lain adalah novel yang belum selesai Laura baca.


Sofia tau sahabatnya itu sangat hobi membaca, terutama novel romance ia sangat tertarik pada hal-hal romantis yang ada dicerita novel tersebut, padahal itu hanya semu tak nyata.


Sofia mengambil dan membaca judul novel yang dibaca Laura, Sofia hanya tersenyum setelah tau judulnya dan kembali meletakan buku itu ketempat semula.

__ADS_1


Sofia ingin berbalik meninggalkan meja kerja Laura untuk kembali ke sofa yang berada tak jauh dari kasur.


*****


Sementara itu, Dirga tengah makan siang bersama Agung dan Sapta. Dirga yang sekarang sudah menetap di Jakarta jadi sering kumpul dengan para sahabatnya entah itu makan siang ataupun diakhir pekan.


'Tumben lo gak balik kerumah, atau makan dikantor, " tanya Dirga, karena biasanya sahabatnya itu selalu pulang kerumah atau kalau tidak ia akan makan siang dikantor dengan istrinya yang datang membawa makanan.


"Oh gak papa, Sofia cuman lagi jalan aja kerumah Laura, " ujarnya sembari menyeruput jus jeruk yang tadi dipesannya.


"Memangnya Laura kenapa? " tanya Dirga.


"Cie kepo, kenapa emangnya lo mau ikut juga kerumah Laura? "


"Gak, cuman kok tumben aja gitu bini lo ketemu Laura di hari kerja, memangnya Laura gak kerja? "


"Iya, izin katanya sakit, " ujar Agung yang meman benar adanya.


"Sakit, Laura sakit apa? " seketika nampak kekhawatiran diwajah Dirga.


Dirga tak menyadari raut wajahnya sendiri, yang ketika siapapun melihatnya pasti sudah tau jika dia sedang khawatir hal itu membuat kedua sahabatnya menyunggingkan senyum.


"Kalian kenapa senyum-senyum sendiri, perasaan gak ada yang lucu, kita jiga lagi bahas orang sakit bukan bahas komedi, " Dirga dibuat bingung dengan tingkah sahabatnya.


"Ah gak papa kok lagi pengen senyum aja, " saut Sapta yang masih tersenyum membayangkan jika saat ini hati Dirga mulai tertarik pada Laura.


"Gak papa kok, emm tadi lo nanya soal Laura kan, dia cuman sakit biasa, demam akibat kemarin katanya pulang hujan-hujanan, " Agung menjelaskan info tentang sakitnya Laura, ia tau itu yang saat ini ingin didengar oleh Dirga.


Dirga hanya mengangguk saja mendengarkancerita Agung tentang sakitnya Laura.


Syukurlah dia baik-baik aja, batin Dirga


.


.


.


.

__ADS_1


.


Konflik akan dimulai di bab-bab selanjutnya, stay tune terus ya..


__ADS_2