
"Jangan terlalu difikirkan, beri Sofia waktu nanti jika hatinya sudah baik maka ia sendiri yang akan mendatangimu, "
Laura kaget mendapati ada seseorang berdiri dibelakangnya.
"Mas Dirga, kok disini? " Laura memaksakan senyumnya, karena hatinya masih terasa tidak enak.
"Agung bilang kamu butuh teman ngobrol dan sepertinya apa yang Agung katakan itu benar adanya, " Dirga tersenyum ramah.
Laura pun menceritakan tentang perlakuan Sofia yang tak mau memandangnya dan tak menyambutnya ketika tadi menjenguk Sofia.
"Entahlah mas, seingatku tadi siang kami baik-baik saja, " adu Laura.
"Apa ada sesuatu yang terjadi saat kalian bertemu tadi siang? "
Pertanyaan Dirga membuat Laura kembali memutar ulang memorinya tentang peertemuannya dengan Sofia tadi siang, sekelebat bayangan melintas dibenak Laura.
"Aku ingat mas, " ucap Laura antusias.
Dirga menyimak dengan serius apa yang akan Laura katakan.
"Sofia pulang dari rumahku tanpa pamit sama aku, hanya pamit ke mama dan bilangnya ada urusan mendadak tetapi nyatanya malah berakhir di ranjang rumah sakit, " ucap Laura sendu memikirkan sahabatnya itu.
Lama Laura terdiam mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
" Kalau begitu masalahnya bisa jadi ada dirumahmu, " ujar Dirga memberi pencerahan.
"Kamu benar, pasti telah terjadi sesuatu dengannya saat dirumahku tadi, yasudah aku pulang dulu ya mas, aku harus pastikan apa yang sebenarnya terjadi, " Laura berdiri meninggalkan bangku taman rumah sakit. Ya, rumah sakit ini memiliki taman hijau nan indah yang bisa menenangkan berguna juga untuk pasien agar cepat pulih karena udara yang sehat dan fikiran jadi rileks.
"Tunggu, yuk aku antar, " Dirga menyusul Laura ikut meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
****
Sesampaimya dirumah Laura langsung keluar dari mobil Dirga tanpa mengucapkan sepatah kata apalagi terimakasih, beruntung Dirga memahami keadaan Laura saat ini yang ingin tau apa sebab kemarahan Sofia kepadanya.
Bukan hanya Dirga orang tuanya yang sedang mengobrol diruang tengah pun dilalui Laura begitu saja.
"Laura kamu kenapa? " teriak bu Ambar dan ikut menyusul ke kamqr putrinya.
Brak
Suara pintu ditutup dengan keras menghentikan langkah ketiga orang yang tak lain orang tua Laura, dan Dirga.
"Kenapa dengan Laura? " tanya bu Ambar pada Dirga.
Dirga pun menceritakan apa yang telah terjadi pada Laura dan Sofia meski ia tak tau juga kebenarannya.
Orang tua Laura membiarkan Laura untuk sendiri dulu meski mereka khawatir akan keadaan Laura yang masih sakit, sedangkan Dirga pamit pulang.
Laura duduk diujung kasur memikirkan hubungannya dengan Sofia tapi ia tetap yakin jika Sofia hanya salah faham.
Matanya tertuju pada foto yang bersama di sudut meja kerjanya, Laura berjalan mendekati meja tempat dimana ia sering meluapkan perasaan cintanya dengan buku diary pink miliknya.
Seketika ia mengingat sesuatu, Laura langsung membalik foto tersebut setelah bingkai itu ada digenggamannya.
"Astaga kenapa aku seceroboh ini, " gumam Laura, ia merutuki kebodohannya mengapa foto itu tidak ditempatnya semula.
Selama ini bukan Sofia tak pernah melihat foto itu terpajang dikamar Laura, hanya saja biasanya bingkainya tergantung ditembok tapi kemarin foto itu ada diatas meja, entah siapa yang menaruhnya disana. Bahkan Laura pun sudah lupa jika ia pernah menulis kata-kata cinta dibalik foto tersebut.
"Maafin aku Sofia tapi ini adalah tentang perasaanku yang dulu, kini aku sudah tak lagi menyukai Agung, aku mengubur perasaanku sejak kalian resmi berpacaran, " ucap Laura seraya memandang foto mereka bersama karyawan lainnya.
__ADS_1
"Aku harus menjelaskan semuanya besok pada Sofia, " Laura tidak ingin terjadi kesalahfahaman dengan Sofia semakin berlarut-larut itu akan memperburuk keadaan persahabatan yang sudah mereka jalin jauh sebelum mereka kenal Agung.
Seandainya malam ini bisa pun Laura memilih akan pergi saat ini juga, namun rasanya ia tak sanggup lagi, maka dari itu ia lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya yang mulai kelelahan.
Laura tau pasti sangat sakit rasanya jika orang yang kita cintai itu juga dicintai orang lain apalagi itusahabatnya srndiri. Pasti itu yang saat ini dirasakan Sofia, fikir Laura.
****
Disisi lain seseorang tengah tersenyum bangga karena apa yang dia inginkan selama ini akhirnya tercapai, tidak mudah makukannya perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa membuat Sofia dan Laura renggang.
Siapa dia?
Sudah pasti dia adalah orang yang sangat membenci salah satu diantara keduanya atau memang orang itu membenci keduanya.
"Hubunganku hancur, maka hubunganmupun akan hancur, " ucapnya penuh tekad.
"Menjauhkanmu dari para pria mudah saja bagiku, namun menjauhkanmu dengan sahabat karibmu itu yang tidak mudah, tapi sekarang aku sudah mampu membuat jarak diantara kalian dan tidak lama lagi hubungan itu akan hancur lebur, "
Hahahhaha
Tawa orang itu pecah seketika kala ia membayangkan kemalangan nasib Laura, sudah tak ada lelaki yang mencintainya sahabatnya pun akan pergi meninggalkannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.