
"Huhh, akhirnya kelar juga, " Laura menepuk kedua tangannya, ia baru saja menyelesaikan kue buatannya sebagai ganti kue yang ia jatuhkan tadi.
"Akhirnya..., " ujar Lidya juga, yang sejak tdi menemani dan membantunya membuat kue.
"Wah tampilannya persis sama yang dimau sama custumer kami, semoga rasanya tidak mengecewakan ya mba, " ujar Mira, entahdia memuji atau apa itu namanya.
Laura mau tak mau mengganti kue yang tanpa sengaja ia jatuhkan itu, untung Laura sudah terbiasa dengan dunia perkuean jadi hal itu mudah saja bagi Laura.
"Eh mba jangan meragukan cita rasa kue buatan sahabat saya ini, sekali mencoba dijamin mba bakal ketagihan, " Lidya mulai tersulut emosi.
Laura memegang tangan sahabatnya agar tak melanjutkan amarahnya, Lidya yang mengertipun akhirnya diam.
"Ya sudah mba, tugas saya sudah selesai kan, kami pamit ya mba, sekali lagi maaf dan semoga custumer mba suka, " ujar Laura pamit.
"Tapi awas jika mereka komplen saya akan salahin kamu, " ujar Mira, "minta nomor hp mba nya, biar saya mudah menghubungi, " lanjut Mira, ia masih belum percaya pada Laura.
Wajar saja sih Mira gak percaya sama Laura ia takut pelanggannya lari nanti dan ia bisa saja kehilangan pekerjaan.
Laura dan Lidya meninggalkan toko kue, mereka memilih untuk makan siang diluar dan membatalkan niat awal mereka yang ingin memanjakan diri kesalon, karena waktunya mepet bagi Laura yang ingin membuat kue lagi.
"Apa gak bisa gitu lo bikin kuenya ditunda aja gitu, bukan pesanan orang juga kan ? " Lidya berusaha membujuk sahabatnya itu agar mau ikut nyalon dan batal membuat kue.
"Ya memang bukan pesanan orang, tapi ini keinginan gue sendiri dan gak bisa ditunda-tunda, " Laura juga bersikeras untuk membuat kue.
Yaiyalah ia bersikeras mau bikin kue kan buat irang spesial, calon mertua gak bisa ditunda-tunda.
"Lo kenapa sih ada yang lo sembunyiin ya dari gue, jujur lo, " ujar Lidya menelisik.
"Malam ini tu Dirga ngajak gue kerumahnya, ketemu sama orang tuanya, " Laura berkata nampak malu-malu.
"Yaelah mau ketemu camer ternyata, cie akhirnya sahabat ada yg bentar lagi sold out nih, " goda Lidya membuat wajah Laura nampak memerah.
"Cie salting cie, " Lidya malah semakin menggoda Laura.
Akhirnya Lidya yang tadinya ngotot mau ke salon pun ikut membatalkan niatnya dan lebih memilih untuk membantu Laura membuat kue untuk sang calon mertua.
__ADS_1
****
"Assalamualaikum, " ucap salam bu Rahma kala memasuki rumah putranya.
"Waalaikumsalam, " saut sang putra yang padahal sama-sama datang bersamanya..
"Wah rapi juga nih rumah anak ibu sama abah, " kentar pertama keluar dari mulut bu Rahma ketika sudah masuk kedalam.
"Iya nih, abah kira bakal berantakan, " pak Arman ikut berkomentar.
"Biar pun anak laki kan harus bisa bersih-bersih dan beres-beres bah, bu, " saut sang putra.
"Abah sama ibu bangga sama kamu nak, " ujar pak Arman, menepuk bahu sang putra.
Mereka baru pertama kali menginjakan kaki di Jakarta, itu pun karena sudah gak sabar pengen ketemu mantu.
Ya mereka adalah orang tua Dirga yang baru tiba dari Kalimantan.
Oleh sebab itu Dirga berencana makan malam bersama dengan orang tuanya beserta Laura sekalian, karena ia ingin memperkenalkan Laura sebagai calon istrinya.
Mereka melanjutkan mengombrol, lebih tepatnya berbagi cerita orang tua Dirga cerita perihal keadaan kampungnya sekarang setelah dua tahun Dirga merantau dan pulang kalau hanya disaat bulan suci Ramadhan, dan Dirga menceritakan perihal kisah asmaranya yang kandas dengan Juli.
Awalnya bu Rahma dan pak Arman kaget dan rasa tak percaya jima Juli seperti apa yang diceritakan oleh Dirga, namun setelah dijelaskan lebih rinci alhamdulillah Dirga berhasil meyakinkan orang tuanya.
"Tapi makan malam nanti jadi kan ? " tanya bu Rahma, "ibu sudah membawa oleh-oleh makanan khas kampung kita, " lanjutnya lagi.
"Jadi dong bu masa gak jadi, dan Dirga yakin ibu sama abah bakal suka sama Laura, " ujar Dirga yakin.
"Ibu akan kasih komentar nanti aja setelah bertemu dengan orangnya langsung, tapi awas aja kalau yang ini sama modelan mantan pacar kamu itu, ibu gak akan ngasih restu, " ancam bu Rahma.
Bu Rahma seketika naik darah mendengar cerita Dirga yang telah Juli khianati, bu Rahma jadi geram dengan kelakuan Juli padahal dulu dia orang yang dibangga-banggakan bu Rahma sebagai calon menantunya.
"Ya sudah, ibu mau masak dulu buat nyambut pacar kamu yang katanya bakal jadi istri, " ujar bu Rahma langsung melangkah menuju dapur.
"Do'a in ya bu, " teriak Dirga karena ibunya sudah menjauh.
__ADS_1
"Iya, " jawab bu Rahma.
"Do'a in ya bah, " pinta Dirga lagi pada sang ayah.
"Pasti nak, " ujar pak Arman tersenyum bahagia.
Dirga rasanya tak sabar menunggu malam tiba, hatinya sudah merindu, pasalnya mereka jarang bertemu dalam dua minggu ini baru tiga kali mereka bertatap muka, tak seperti orang pacaran pada umumnya karena ya status mereka juga gak dibilang pacaran sih, hanya perkenalan lebih dekat, jika pun mereka bertemu selalu bersama pasutri sahabat mereka itu.
Dirga sudah yakin akan perasaannya pada Laura itu bukan sekedar suka atau kagum semata tetapi ia jatuh cinta, ia hanya bisa berharap Laura memang benar jawaban yang dikirim Allah atas do'a-do'a nya selama ini.
Selagi sang ibu memasak didapur Dirga menceritakan tentang Laura dan permintaan ayahnya Laura, pak Wahyu, perihal perkenalan mereka yang hanya diberi tenggang waktu satu bulan.
"Bagus dong, itu berarti pak Wahyu itu tidak mau anaknya lama-lama pacaran takutnya khilaf, apalagi kan kalian sudah dewasa bukan lagi ABG yang sukanya hura-hura, mending menjalin hubungan serius sudah pasti halal mau kamu bawa kemana juga dia gak ada yang melarang kan istri sendiri, " ujar pak Arman sedikit memberi nasehat pada putranya, ia sangat mendukung keinginan calon besannya itu.
" Makasih loh bah, alhamdulillah abah setuju aja kalau aku nikah sama Laura, " kata Dirga tersenyum lebar.
"Selagi itu baik kenapa enggak, " saut pak Arman, " eh tapi ngomong-ngomong jika abah tak merestui kamu mau apa memangnya ? " lanjut pak Arman, ia bahkan menegakkan duduknya yang tadi bersandar disofa hanya demi mendengar jawaban putranya.
" Kalo abah sama ibu gak merestui ya aku ajak hura-hura dulu anak orang, biar mau-gak mau langsung dinikahin, " jawab Dirga enteng,
Hura-hura yang dimaksud Dirga ialah ia akan mengambil jalan pintas demi bisa menikah dengan Laura.
"Astaghfirullah Dirga..... " pak Arman tak habis fikir ternyata fikiran anaknya bisa menyimpang juga, pak Arman lalu melempar Dirga dengan bantal sofa namun ia sudah mempersiapkan langkah seribu untuk lari dari sang ayah jadi bantal itu tak mengenai tubuh Dirga malah mendarat dilantai begitu saja.
.
.
.
.
.
Maaf jika masih banyak typo.....
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir semoga suka dengan ceritanya... 🤗